
“Bangun woy, ngebo mulu nih anak. Bangun, Jha.” Ariana berteriak di telinga Senja, berusaha membangunkan sahabatnya yang sudah tidur terlalu lama.
Senja menggeliat, menarik selimut untuk menutup kepalanya. Teriakan Ariana sedikit mengusik ketenangan tidurnya, tapi tidak membuat gadis itu berniat untuk bangun.
“Ya, ampun ini anak. Gue telpon emak lo aja kali, ya? Mana nih nomernya … Nah, ini dia nih, Tante Hanum. Kalo lo ga bangun dalam hitungan tiga gue telpon emak lo, nih. Biar lo dijemput, trus dijodohin sama siapa, kek, ga peduli gue.”
Ancaman Ariana sukses membuat Senja membuka selimut dan mengerjapkan matanya.
“Apaan sih, Ri. Ngantuk ni gue. Kasih gue tidur sejam lagi deh, ya.”
Ariana menarik nafas panjang. Sudah satu minggu sahabatnya berkelakuan seperti ini. Tidur, makan, lalu tidur lagi. Tanpa niat untuk melakukan hal lain.
Ariana paham, sahabatnya itu patah hati karena harus meninggalkan hobi, pekerjaan dan dunia yang sudah digelutinya semenjak masih kuliah. Gadis itu paham Senja sangat terpukul karena harus meninggalkan radio dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya sama sekali.
Sebagai teman terdekatnya, Ariana sangat paham itu. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Senja terlalu lama larut dalam keterpurukannya. Gadis itu harus bangkit, harus memulai kembali hidupnya. Life must go on.
“Halo, Tante Hanum, ini Ariana, Tante. Iya, Ari mau ngabarin …” Kalimat Ariana terputus karena ponsel di telinganya sudah berpindah tangan.
“Sia**n lo, ya. Ngerjain gue lagi,” sungut Senja sambil melemparkan ponsel yang baru direbutnya ke atas kasur. “Kenapa, sih, lo, ganggu gue tidur mulu. Biarin kek gue menikmati tidur yang biasanya cuma ala kadarnya ini, mumpung gue pengangguran.”
“Karena lo sekarang pengangguran makanya lo harus bangun. Cari kerja sono. Udah seminggu tidur makan doang kerjaannya.”
“Gue nikmatin dulu, lah, sebulan ini. Kapan lagi gue bisa ngerasain hidup cuma tidur, makan, tidur lagi. Atau gue cari sugar daddy aja, ya. Biar bisa tidur makan - tidur makan doang kerjaan gue.”
“Geblek ni anak. Bacot lo dijaga. Ucapan itu doa tau. Kalo cari sugar daddy sih rutinitas lo beda lagi. Jadi makan - tidur - buka selang*****n.”
“Serem amat.”
Obrolan dua sahabat itu akhirnya berakhir dengan tawa.
...****************...
Senja membuka pintu kamar, melepaskan sembarangan sepatu hak tinggi yang dipakainya, lalu berjalan menuju kasur dan merebahkan dirinya. Tubuhnya benar-benar lelah. Rasanya tidak ada kekuatan yang tersisa bahkan untuk sekedar menghapus riasan dan mengganti dress panjang berwarna marun yang melekat di tubuhnya.
Wangi bubur ayam memasuki indera penciuman Senja. Membuat perutnya keroncongan. Gadis itu membuka mata. Mencoba mengumpulkan kesadaran dan mengingat berapa lama dia tertidur.
__ADS_1
“Nih, makan dulu. Gue bawain bubur ayam langganan, lo.” Ariana meletakkan dua mangkuk berisi bubur ayam di atas meja bulat.
“Lo kapan masuk kamar gue? Ini jam berapa sih, Ri?” Senja duduk di karpet ungu menghadap bubur ayam di atas meja.
“Ini udah hampir jam sepuluh, Jha. Gue barusan nyampe, mampir abis siaran buat ngecek lo masih hidup apa kagak.” Ariana memang punya kunci kamar Senja, gadis itu sendiri yang memberikan. Senja juga punya kunci kamar kontrakan Ariana. Pertemanan mereka memang sudah seperti saudara.
“What?! Jam sepuluh pagi? Jadi maksud lo gue ketiduran semalaman dengan muka masih full make up gini? Udah gila kali gue!!” Senja berlari menuju kamar mandi, membanting pintu tapi kemudian membuka kembali dan menyambar handuk di gantungan dekat pintu kamar mandi.
Ariana hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya itu. Tapi dia bersyukur, Senja sudah tidak mengurung diri lagi. Sekarang malah gadis itu bekerja tanpa kenal waktu.
“Lo pulang jam berapa semalam?” tanya Ariana begitu Senja keluar dari kamar mandi.
“Jam dua belas kayaknya baru nyampe, deh. Cape banget gue, langsung ketiduran tanpa bebersih dulu. Untung ga jerawatan.” Senja duduk di atas karpet ungu, menyusul Ariana menghabiskan bubur ayam di hadapannya.
“Gue pikir udah nggak ada, lo. Nggak angkat telpon dari semalam.”
“Nggak sempat gue. Gila, seharian kemarin gue nge-MC tiga event. Lo bayangin tuh gimana remuknya badan gue. Untung suara gue nggak ilang hari ini.”
Dalam sekejap bubur ayam dalam mangkok Senja sudah tandas. Gadis itu benar-benar kelaparan. Seharian kemarin hanya sempat makan satu kali. Padahal ada tiga acara yang harus dia pandu.
Setelah berhenti bekerja sebagai penyiar radio, Senja mulai menghubungi teman-temannya sesama MC. Menawarkan diri menggantikan atau mendampingi sebagai partner untuk memandu acara.
Selama satu bulan Senja benar-benar mempromosikan dirinya sana-sini. Mengabarkan kalau dia bisa kapanpun memandu acara apapun. Semua tawaran acara disabetnya. Mulai dari acara ulang tahun, nikahan, festival, semuanya. Dan usahanya tidak sia-sia. Beberapa bulan ini dia malah kebanjiran job dan kesulitan mengatur jadwal.
“Hari ini ada job nggak?” Ariana kasihan sebenarnya melihat Senja yang agak kurusan. Tapi dia bisa melihat binar bahagia di wajah lelah sahabatnya itu.
“Hari ini free. Sengaja gue kosongin, sih. Besok dan beberapa hari ke depan gue nge-MC acara gathering BUMN. Lumayan pasti capeknya.”
“Kenapa lo nggak masukin lamaran ke radio lain aja, sih, Jha? Gue rasa nggak akan sulit. Radio saingan kan lagi buka lowongan, tuh.” Ariana menatap Senja yang sibuk dengan ponselnya.
“Gue nggak siap kalo harus berhadapan sama gosip yang beredar tentang gue, Ri. Selama ini gue nggak tanya bukan karena nggak tau atau nggak peduli, tapi karena nggak siap, takut gue down lagi.” Senja meletakkan ponselnya.
Radio-radio di kota ini, pemiliknya dan orang-orang yang berkecimpung di dalamnya adalah dunia kecil. Semuanya saling kenal, sering bertemu dan informasi di antara mereka sangat cepat beredar. Dengan kejadian Senja yang berpacaran dengan anak pemilik radio tempat dia bekerja, lalu hubungan mereka berakhir dengan cara tidak baik, pasti gosip yang beredar juga tidak akan baik.
Entah gosip apa saja yang beredar tentang dirinya sekarang. Senja tidak ingin tahu detailnya dan sama sekali tidak siap berhadapan dengan semua itu. Pada akhirnya dia memilih benar-benar meninggalkan pekerjaan yang sangat disukainya itu.
__ADS_1
Drrtt
Senja menatap ponselnya yang bergetar. Panggilan masuk dari Nuta. Gadis itu sama sekali tidak berniat mengangkatnya. Dia tidak ingin berurusan dengan Nuta dan segala yang ada di sekitarnya.
“Mas Nuta masih sering hubungin lo?” tanya Ariana, sekedar mengkonfirmasi. Karena Nuta juga masih sering menerornya dengan pertanyaan tentang Senja.
“Hampir setiap hari, dan nggak pernah gue angkat.”
“Apa nggak sebaiknya lo angkat aja? Tuntasin bener-bener urusan lo sama dia. Gue juga capek tiap ketemu diteror pertanyaan tentang lo terus. Alasannya mau minta tanda tangan buat slip gaji terakhir, bonus sama beberapa hak lo yang belum diambil.”
“Gue males, Ri. Kalo inget kata-kata emaknya, duh, pengen gue tabok anaknya.”
“Haha. Makanya ketemu, tabok aja sekalian biar hati lo puas. Lumayan loh itu duit yang nggak lo ambil. Bisa buat makan beberapa bulan.”
Ting
Aku di depan kosan kamu, Jha. Aku tau kamu di dalam. Aku nggak akan kemana-mana sampai kamu keluar.
Senja menatap pesan dari Nuta yang baru saja masuk ke ponselnya. Sepertinya hari ini dia memang harus bertemu dengan laki-laki itu dan menyelesaikan semua yang masih tertinggal di antara mereka.
Mirip seseorang yang suka maksa kalo ada maunya. Senja menggelengkan kepala agar pikiran tentang seseorang tidak menguasai hati dan pikirannya.
...****************...
...Hai semuanya…...
...Lama nggak muncul akhirnya Author kembali nih buat lanjutin kisah Senja - Kai - Nuta....
...Tapi maaf, ya, kalo episode kali ini rada gimana gitu....
...Kelamaan istirahat jadi ngelag otaknya....
...Semoga tetap suka, ya, Guys.....
...Jangan lupa like dan komennya yaa…...
__ADS_1
...Love you, all…...