Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 37 Kamu dan Dia


__ADS_3

20 menit lagi aku nyampe kosan kamu, ya. Dandan yang cantik. :)


Senja menatap ponselnya. Sebenarnya hari ini dia berencana menikmati hari libur dengan rebahan seharian, lazy time. Sudah terlalu lama dia tidak memberi waktu santai pada diri sendiri. Tapi sepertinya rencana itu akan buyar. Pesan singkat yang dikirim oleh Nuta barusan menjadi ancaman yang akan menggagalkan rencananya.


Senja berfikir sejenak. Kemudian memutuskan tidak akan menuruti keinginan Nuta. Dia tidak mau kemana-mana. Hatinya seakan tidak mengizinkan raganya untuk pergi kemanapun hari ini.


Drrrttt


Senja dikejutkan oleh getaran ponselnya, yang menandakan ada telpon masuk. Mas Nuta, nama itu terpampang sebagai penelepon.


"Halo."


"Aku udah nyampe depan kosan kamu."


"Oke."


Senja meletakkan ponsel di atas kasur. Tangannya meraih novel yang tadi sedang dibaca, meletakkan pembatas pada halaman yang tadi dibaca, kemudian meletakkan novel itu di atas meja.


Masih dengan pakaian rumahan yang dipakainya dua puluh menit yang lalu, Senja berjalan keluar menghampiri Nuta. Laki-laki itu berdiri di depan mobilnya. Memakai pakaian rapi, lengkap dengan jas dan sepatu pantofel.


"Loh, kamu nggak baca chat aku ya, Jha?" tanya Nuta begitu melihat Senja yang keluar dari pintu kosan hanya memakai celana pendek di atas lutut dengan atasan kaos oblong. Wajahnya tidak memakai riasan sedikit pun.


"Baca kok, Mas."


"Trus kenapa belum dandan? Ketiduran?"


"Mas Nuta nggak bilang kita mau kemana, jadi aku nggak tau mesti dandan kayak apa. Lagian aku juga mager nih, Mas. Maunya seharian ini tiduran aja di kamar."


"Temenin aku kondangan, ya? Anak relasi Papi ngadain resepsi hari ini. Papi sama Mami nggak bisa datang, jadi aku yang gantiin. Temenin ya, Jha?" jelas Nuta panjang lebar.


"Nggak ah, Mas. Aku beneran mager banget hari ini."


"Masa kamu tega biarin aku pergi sendiri sih, Jha. Ntar kalo aku jadi kambing congek di sana, emang nggak kasian?"


Senja tertawa melihat wajah Nuta yang dibuat memelas, dengan mata dikedipkan berkali-kali.


"Jangan pasang tampang kayak gitu, Mas. Malu sama otot."

__ADS_1


"Kalo nggak gitu, kamu nggak mau nemenin aku."


"Aku beneran mager, Mas. Lagian aku nggak punya baju buat dipake. Resepsinya pasti di hotel kan? Aku nggak tau mau pake apa." Senja menggelengkan kepala.


Nuta tidak menjawab. Laki-laki itu malah berbalik membuka pintu mobil dan mengambil kantong kertas di dalamnya, lalu menyodorkan pada Senja.


"Aku tau kamu pasti bakalan kasih alesan itu. Ini, aku udah siapin dress buat kamu. Tinggal pake, dandan, trus berangkat. Ya?"


Lama-lama Mas Nuta jadi mirip seseorang. Suka tiba-tiba datang, trus maksa buat ikutin kemauannya. Selalu punya senjata biar gue nggak bisa nolak.


...****************...


Pada akhirnya di sini lah Senja berada. Menjejakkan kaki memasuki ballroom hotel tempat resepsi pernikahan entah siapa.


Tubuhnya berbalut dress hitam panjang dengan potongan square neck sedikit di bawah tulang selangka. Lengan panjang dress itu menggelembung menyerupai balon di bagian bahu. Ada payet warna ungu menghias sabuk tipis di pinggang dan ujung lengan.


Senja mengulas wajah dengan make up minimalis. Sedangkan rambut yang sudah dicat dengan warna hitam pekat itu, digulung ke atas dengan model messy top knot yang simpel, memperlihatkan layer rambut bagian dalam yang diwarnai ungu pekat. Poninya dibiarkan jatuh ke samping dengan sedikit semprotan hairspray agar tidak mudah berantakan.


Entah bagaimana, dress yang diberikan oleh Nuta ini sangat pas di badan Senja. Seolah Nuta paham bagaimana dia, dress itu juga cocok dengan selera Senja yang selalu berusaha tampil dengan busana tidak terlalu terbuka.


“Kalo nggak gini ntar orang mikir aku bodyguard kamu,” bisik Nuta sembari mengambil tangan Senja dan mengaitkan di lengannya.


Di sana berdiri laki-laki berambut gondrong yang terikat rapi ke belakang. Memakai celana chino putih dengan atasan blazer berwarna abu-abu gelap dan kaos abu muda polos di dalamnya. Sneaker putih terlihat melengkapi penampilannya.


Hanya siluet bagian samping, tapi Senja yakin itu adalah sosok yang teramat dikenalnya. Orang yang sangat dikenalnya, tapi tampak berbeda. Jauh berbeda dengan sosok yang selama ini ada dalam ingatannya.


Laki-laki itu tiba-tiba memutar badan dan menatap ke arah Senja. Tepat ke arahnya. Senja mengalihkan tatapan. Sudut matanya sekilas melihat perempuan yang berada di sisi laki-laki itu. Senja kenal perempuan cantik itu. Dia adalah Valerie Agatha, model terkenal di kota ini yang karirnya sudah merancah ibukota juga.


“Tante apa kabar?”


Suara Nuta menyapa seseorang membuyarkan lamunan Senja. Sedari tadi kakinya mengikuti langkah Nuta dengan pikiran yang entah melayang kemana. Begitu sadar ternyata mereka sudah berdiri berhadapan dengan Indira Agustina.


Kenapa sekarang?  Batin Senja meratapi nasibnya. Entah bagaimana dia harus bersikap saat ini.


“Nuta. Udah lama nggak ketemu, ya. Tante kabar baik. Kamu apa kabar?” Indira terlihat antusias menjawab sapaan Nuta. Matanya beralih menatap Senja kemudian.


"Loh, ini Nak Senja kan ya? Kita pernah ketemu lo waktu di radio, kamu ingat?" Indira menyapa Senja yang terlihat canggung berdiri di sana.

__ADS_1


"Iya ingat, Bu. Ibu apa kabar?" jawab Senja.


"Jangan panggil Ibu, Ah. Panggil Tante aja. Samain sama Nuta."


"Iya, Tante. Tante apa kabar?" Meskipun hatinya tidak siap untuk menghadapi situasi ini, Senja tetap tersenyum dan mengikuti alur percakapan dengan ceria seperti biasa.


"Tante kabar baik. Kamu makin cantik, ya. Eh, iya, kok bisa kesini bareng sama Nuta?"


"Mami sama Papi lagi ada urusan yang nggak bisa ditinggal Tante, jadi saya yang gantiin. Senja nemenin, karena saya males datang sendiri." Nuta menjawab pertanyaan Indira, menyadari Senja yang tampak canggung.


"Ditemenin pacar nih ceritanya?"


"Maunya gitu, sih. Doain ya Tante."


Senja hanya tersenyum, jawaban Nuta rasanya seperti adukan semen yang menimbunnya, dalam dan tidak ada jalan keluar. Entah Indira tahu hubungannya dengan Kai selama ini atau tidak. Gadis itu hanya tidak ingin Indira berpikir macam-macam tentang kedekatannya dengan Nuta.


Senja sudah ingin mengajak Nuta berlalu dari sana. Menghindari bertemu dengan sosok yang tadi dilihatnya. Dia tidak ingin ada konfrontasi lagi setelah enam bulan mereka bisa menjalani hidup masing-masing.


Ternyata semua memang tidak akan selalu sesuai dengan keinginan kita. Belum sempat Senja berucap apapun, sosok itu sudah bergabung ke dalam kelompok kecil itu, dengan tatapan tajam ke arah tangan Senja yang menggamit lengan Nuta.


Di sampingnya ada Valerie Agatha, model cantik dengan pesona luar biasa. Tangannya melingkar di lengan Kai, terlihat sangat pas berada di sana.


...****************...


...Uwoo.. Kira-kira yang bakalan cemburu siapa nih?...


...Kai atau Senja?...


...Atau dua-duanya?...


...🤭🤭...


...Terimankasih semua udah baca, like dan komen....


...Jangan lupa terus kasih dukungan, ya. Biar Author makin semangat upnya....


...Like, share dan komen yang banyak, ya.. 🥰...

__ADS_1


...Love you, all. ❤️...


__ADS_2