
Udah selesai siaran, Jha?
Senja menatap ponsel pintarnya. Membaca pesan dari Kai yang baru saja dia terima. Terlihat berpikir sejenak, kemudian mengetik untuk membalas pesan itu.
Baru aja clossing. Kenapa, Bang?
Senja meletakkan kembali ponselnya. Kembali sibuk dengan kertas-kertas di atas meja, sebelum ponselnya kembali berdenting, menandakan ada pesan masuk.
Udah bisa keluar, kan? Abang jemput, ya. Lima belas menit lagi nyampe.
Helaan nafas dalam kembali terdengar dari mulut Senja. Mempertimbangkan apa yang harus dilakukannya. Sepertinya kali ini dia harus menemui Kai. Dia ingin semuanya selesai.
Kali ini Senja bertekat akan mendengar penjelasan Kai. Apapun nanti yang akan dia dengar, dia sudah siap. Semua perkara dengan Kai harus segera tuntas. Agar dia bisa memutuskan langkah selanjutnya.
Entah apakah nanti hatinya akan memilih memaafkan Kai, lalu merajut kembali kisah mereka yang sempat kusut. Atau mungkin dia harus memberi kesempatan pada dirinya untuk merasakan cinta yang lain.
...****************...
Senja turun dari boncengan motor Kai. Tanpa menunggu laki-laki itu, dia mengayunkan langkahnya menuju bebatuan besar dan menatap pemandangan di depan sana.
Ini adalah tempat favorit mereka dulu. Sebuah batu besar di tepian jurang yang dalam. Di bawah sana terlihat lautan membentang. Dengan pulau-pulau, kapal dan perahu nelayan yang melengkapi keindahannya.
Dulu, mereka sering menghabiskan waktu di tempat ini. Menunggu matahari terbenam yang sangat menakjubkan. Apalagi di lihat dari atas tebing ini, menghasilkan senja berwarna jingga yang sempurna keindahannya.
"Mau pesen apa, Jha?"
Suara Kai terdengar dari arah belakang Senja, memecah lamunannya. Senja menoleh dan menjawab, "Air mineral aja, Bang."
"Nggak pesen makanan?"
"Nggak usah, itu aja."
Kai berbalik lagi meninggalkan Senja. Menuju rumah sederhana dari kayu tempat memesan makanan. Tempat dengan spot indah ini juga difungsikan oleh pemilik tanah sebagai tempat makan. Tidak terlihat seperti itu memang, karena pemilik tempat ini tidak meletakkan meja dan kursi seperti tempat-tempat makan pada umumnya.
Hanya ada rumah kayu sederhana tempat pemilik menyiapkan pesanan, serta beberapa pondok kecil dengan kursi kayu panjang di area yang tidak berbatu. Selebihnya dibiarkan apa adanya. Batu-batu besar yang datar bagian atasnya dan berada persis di tepian jurang menjadi tempat duduk sekaligus meja bagi pengunjung.
Kai menghampiri Senja dengan membawa nampan di tangannya. Kemudian meletakkan nampan itu di ujung batu besar dan ikut mendudukkan dirinya di sana.
__ADS_1
"Minum dulu, Jha." Kai menyerahkan secangkir cokelat panas ke tangan Senja.
Hangat dari cangkir di tangannya membuat Senja menoleh menatap Kai. Laki-laki itu memang selalu tahu keinginannya. Kai ternyata ingat, Senja selalu suka menyeruput cokelat panas sambil menikmati pemandangan matahari terbenam.
"Kamu tahu, Jha. Aku akan selalu ingat kesukaan dan kebiasaan kamu. Dulu, empat tahun lalu, satu tahun lalu, atau bahkan beberapa tahun lagi. Karena sesuatu di dalam sini, masih sama. Belum berubah sama sekali," ujar Kai sambil menunjuk dadanya.
"Trus kenapa kamu nggak pernah jujur sama aku?" Senja bertanya sambil menatap mata Kai, berharap menemukan sesuatu di sana.
"Sejujurnya aku takut. Aku salah karena dari awal nggak jujur sama kamu. Tapi aku punya alasan untuk itu. Begitu hubungan kita makin dekat, perasaan aku ke kamu jatuh terlalu dalam. Sampai aku takut untuk jujur. Aku takut setelah aku cerita, itu akan jadi alasan kamu buat ninggalin aku. Aku sangat paham gimana kamu, Jha." Kai mengalihkan tatapannya jauh ke depan. Ingatannya kembali melayang ke masa lalu.
...****************...
"Kamu nggak pernah cerita soal orangtua dan keluarga kamu sama aku loh, Bang. Kenapa? Ada yang kamu rahasiain, ya?"
Kai terdiam mendengar pertanyaan Senja. Saat itu mereka sudah berpacaran selama enam bulan. Sangat wajar Senja mulai mempertanyakan tentang orangtua dan keluarganya. Apakah ini saatnya dia jujur pada gadis itu?
"Aku udah lama ngerasa familiar sama nama belakang kamu. Sekarang aku inget. Nama belakang kamu mirip sama Bachtiar Caniago, pengusaha yang punya banyak hotel, mall dan media itu loh. Ada hubungan keluarga sama Abang, nggak?"
Kai tersentak begitu nama itu disebut. Tiba-tiba dia tidak ingin Senja tahu kebenarannya.
Kai memutuskan untuk tidak menceritakan semuanya.
Bermacam kekhawatiran melintas di kepalanya. Mungkin nanti akan ada saatnya Kai menceritakan semuanya pada Senja.
...****************...
Kai menghela nafas panjang. Seharusnya dulu dia jujur pada Senja. Dan semuanya tidak akan jadi serumit sekarang.
"Tapi akhirnya aku malah tahu rahasia yang kamu simpan itu dari orang lain. Dan itu bikin aku sakit. Aku terlalu kecewa sama kamu."
Senja ikut mengalihkan tatapannya jauh ke depan. Bersiap, jika nanti kejujuran Kai memang akan melukai harga dirinya.
"Maafin Abang ya, Jha. Abang nggak pernah berniat sengaja nyakitin kamu. Nggak pernah sama sekali." Kai menatap wajah Senja. Hatinya perih melihat kesedihan menggantung di sana.
"Aku tahu."
"Dari dulu aku terbiasa hidup dikelilingi orang-orang yang hanya memandang harta. Teman-teman di sekelilingku, cewek-cewek yang ngejar-ngejar aku, satupun nggak ada yang tulus. Semuanya munafik. Semuanya mendekat karena ada yang mereka inginkan. Dengan embel-embel nama Caniago, sekali dengar aja semua orang tau siapa aku. Dan mereka akan mulai mendekat karena ingin memanfaatkan."
__ADS_1
Senja mendengarkan cerita Kai dengan seksama. Memandang wajah itu, ada kesedihan membayang di sana. Lalu menatap matanya, dan dia menemukan kejujuran di dalamnya.
"Begitu mulai kuliah, aku memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Aku kuliah di kampus dan jurusan yang tidak disukai orangtuaku. Lalu keluar dari rumah, mulai hidup mandiri di kosan sempit. Bahkan sebelum kenal kamu aku malah lebih sering tinggal di ruangan UKKES."
Kai menghentikan ceritanya sejenak. Menghela nafas dalam-dalam. Mengisi rongga dadanya yang terasa sesak.
"Aku berusaha tidak lagi memakai nama belakang, kecuali untuk kepentingan akademik. Aku berusaha meninggalkan semua yang berhubungan dengan orangtuaku, tapi ironisnya aku justru masih menggantungkan hidup dari uang mereka." Kai tersenyum getir. Menatap Senja untuk melihat reaksinya.
"Tapi kenapa nggak pernah jujur sama aku?" tanya Senja. Sejujurnya dia sudah bisa menebak apa jawaban yang akan diberikan oleh Kai.
"Awalnya, aku takut kamu akan ninggalin aku karena kamu akan berfikir kita terlalu berbeda. Tapi sejujurnya, dari hatiku yang paling dalam, yang paling aku takutkan adalah, begitu tahu latat belakang keluargaku kamu akan tetap bertahan. Tetap di sampingku karena ingin memanfaatkan." Kai menunduk, tidak sanggup menatap wajah Senja. Ini lah alasan dia tidak pernah bicara sejujurnya pada Senja, karena itu akan membuat gadis yang dicintainya itu terluka.
Sementara Senja hanya mampu terdiam. Meskipun sudah menyiapkan hati untuk mendengar kejujuran Kai, tapi harga dirinya tetap saja terluka.
"Sebegitu burukkah aku di mata kalian? Kenapa kalian semua berpikiran sama? Apa karena aku berasal dari kalangan bawah? Apa karena orangtuaku hanya seorang petani, jadi kalian bisa seenaknya merendahkan aku?" tanya Senja lirih.
Hati gadis itu begitu terluka. Tanpa bisa ditahan air matanya mulai berjatuhan. Dan kepalanya mulai memutar ingatan tentang kejadian tahun lalu. Kejadian yang membuatnya memutuskan untuk keluar dari hidup Kai.
...****************...
Catatan Istilah
UKKES : Kependekan dari Unit Kegiatan Kesenian.
...Haiii, hai semuanya.. 🤗...
Makasih, ya, udah baca cerita Samudera Kala Senja 🥰
Udah ketahuan kan rahasianya Kai apa? Kaget nggak tuh??
Hihi.. Jangan emosi dulu yaa. Jangan bilang "Ah, segitu doang rahasianya."
Sabar, Guys.. Di bab berikutnya ntar bakalan jelas kok gimana Senja bisa tahu rahasia itu, dan apa yang bikin Si Mbak Senja marah dan kecewa banget.
Baca terus yaa, Guys 🥰
dan jangan lupa pencet tombol like, komen dan sharenya 🤗🤗
__ADS_1