
“Ke atas dikit yang sebelah kanan, Bhum! Dikit lagi! Oke, udah pas.” Senja memberi instruksi pada Bhumi yang tengah memasang plang nama di depan sebuah bangunan ruko lantai dua.
Hari ini dibantu Bhumi dan Ariana, serta beberapa orang pekerja, Senja sedang mempersiapkan ruko itu. Dia akan membuka kantor agensi di sana. Agensi yang nanti akan membawahi teman-teman yang bekerja sebagai Master of Ceremony atau MC di Kota ini. Teman-temannya itu sudah bersedia bergabung bersama agensi yang dirintis Senja.
Loqui Ent. itu adalah nama yang dipilih Senja untuk kantor agensinya. Loqui yang berarti berbicara dalam bahasa latin mewakili apa yang menjadi visi dan misi agensi yang dibangun Senja dengan keringatnya sendiri itu.
Selain membawahi para MC profesional, Loqui Ent. juga akan membuka kursus dan pelatihan Public Speaking. Tidak menutup kemungkinan juga nantinya Loqui Ent. akan merambah ke bidang Event dan Wedding Organizer juga. Senja sudah melihat jalan ke arah sana.
Semua berawal dari beberapa bulan lalu saat Senja menjadi pemandu acara gathering sebuah BUMN yang diadakan di resort sebuah pulau wisata. Saat acara makan siang, Senja harus makan dengan cepat karena harus bersiap lagi untuk memandu acara selanjutnya. Makanya gadis itu lebih memilih duduk di meja kosong yang terletak di sudut ruangan.
Dia yang tidak ingin menarik perhatian ternyata malah dihampiri oleh satu keluarga yang terdiri dari ibu, ayah dan dua orang anak , laki-laki dan perempuan. Keluarga itu memilih bergabung dengan meja yang ditempati oleh Senja.
“Kita gabung disini ya, Dek Senja. Meja lain udah penuh.” Sebelum keluarganya duduk, si Ibu menyapa Senja terlebih dahulu. Dia tahu nama Senja karena gadis itu mengenalkan dirinya di awal acara.
“Silahkan, Bu, Pak. Duduk aja.” Meskipun sedang ingin menikmati santap siangnya sendiri, Senja tetap bersikap ramah ketika keluarga itu bergabung di mejanya. Etika tetap harus dijaga.
“Adik-adik manis ini siapa namanya? Mirip banget dua-duanya,” tanya Senja pada kedua anak yang menarik perhatiannya. Paras mereka cantik dan tampan, mirip dengan ibunya yang masih cantik dan terlihat terawat di umur yang ditaksir Senja sudah melewati angka empat puluh tahun.
“Aku Sheira, Kak. Ini adik aku, namanya Brian,” jawab anak perempuan dengan berani dan suara yang lantang.
Senja tersenyum, artikulasi anak itu sangat jelas. “Pinter banget ngomongnya, Sheira. Udah kelas berapa?”
“Kelas empat SD kak.”
“Sebenarnya Sheira yang ngajak kami duduk di sini, Dek Senja. Katanya mau kenalan sama Kakak MC yang ngomongnya bagus banget. Bener kan, Kak?” Si ibu menjelaskan pada Senja, kemudian bertanya dan menatap anak sulungnya itu dengan bangga.
__ADS_1
“Iya, Kak Senja. Kakak bagus banget ngomongnya. Suara Kakak juga enak banget didengar. Aku jadi ngefans, loh, sama Kakak. Pengen kenalan dan ngobrol sama Kakak.” Sheira, gadis kecil itu berbicara dengan semangat yang berapi-api.
“Wah, Kakak terharu, loh, tiba-tiba dapat fans di sini. Makasih Sheira. Kamu juga bagus, loh, suaranya.”
“Eh, kita belum kenalan, loh. Kenalin Dek Senja, saya Indah. Ini suami saya Imam. Dan ini anak-anak saya.” Ibu yang bernama Indah itu mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Senja. Diikuti juga oleh suaminya yang sedari tadi hanya diam.
“Senang berkenalan sama Ibu sekeluarga. Saya Senja.” Senja tetap memperkenalkan diri meskipun mereka sudah tahu namanya.
“Saya panggil Senja aja nggak apa-apa, ya? Ribet banget kalo panggil Dek Senja, kepanjangan.” Bu Indah tertawa. Sepertinya dia memiliki selera humor yang baik.
“Nggak apa-apa, Bu. Saya malah suka kalo panggilan Dek-nya dibuang aja.” Senja membalas candaan Bu Indah. Membuat meja mereka ramai dengan tawa.
“Kak Senja masih kuliah?” Sheira yang kali ini bertanya.
“Nggak. Kakak udah wisuda, udah lama.”
“Ah, Ibu bisa aja. Ibu yang masih kelihatan muda, loh. padahal udah anak dua. Kalo tadi Ibu sendiri, mungkin saya pikir kita seumuran,” puji Senja, membalas pujian Bu Indah.
“Bisa aja kamu. Senja kerja di mana?”
“Saya kerjanya gini-gini aja, Bu. Nge-MC sana-sini. Kalo ada job, ya kerja. Kalo lagi sepi pengangguran.”
“Dek Senja penyiar radio, ya?” Kali ini Imam, suami Bu Indah yang ikut bergabung dalam percakapan.
“Dulu iya, Pak. Tapi udah berhenti beberapa bulan lalu.
__ADS_1
“Pantes saya familiar sama suaranya. Penyiar radio Arshinta bukan?”
“Iya, Pak.”
“Suami saya ini pencinta radio, loh. Jaman sekarang tuh, ya, orang-orang lebih suka nonton tv kan buat informasi. Tapi suami saya lebih suka dengerin radio. Bangun tidur yang pertama kali dilakukan adalah ngidupin radio tua kesayangannya.”
Senja masih terlibat obrolan dengan keluarga Bu Indah sampai makanan di piring masing-masing habis. Mereka cepat akrab karena memang Senja sudah terbiasa mengakrabkan diri dengan orang baru. Keluarga Bu Indah juga sangat bersahabat.
“Sheira ini mau ikut kontes pencarian bakat untuk model cilik. Dia memang minatnya kesana. Katanya nanti kalo udah gede mau jadi Putri Indonesia. Buat ikut acara semacam itu kan butuh kemampuan public speaking yang bagus, ya. Kita juga lagi cari-cari tempat kursus, tapi belum ketemu yang pas. Tadi begitu lihat Senja tampil, Sheira langsung bilang ke saya, katanya mau les sama Kakak MC-nya aja.” Bu Indah menjelaskan keinginan anaknya sebelum Senja pamit meninggalkan meja.
“Kira-kira gimana, Senja bisa nggak bantu Sheira? Kasih semacam les privat aja. Nanti peralatan yang dibutuhkan akan kami sediakan.”
“Bisa, sih, Bu. Tapi nanti saya cek jadwal saya dulu. Sebulan ini lumayan penuh soalnya.” Senja tidak langsung menyanggupi karena memang jadwalnya sudah hampir penuh untuk bulan ini.
Beberapa hari setelah acara itu, Senja yang sebelumnya sudah bertukar nomor ponsel dengan Bu Indah, bertemu dan sepakat soal pelatihan public speaking untuk Sheira. Dua kali pertemuan pertama hanya Sheira, tapi kemudian ada beberapa temannya yang juga ingin ikut pelatihan.
Secara kebetulan, teman-teman Senja sesama MC di Kota ini juga mulai sering menghubunginya. Entah untuk meminta Senja menggantikan job yang terlanjur mereka ambil tapi ternyata berbenturan dengan jadwal kerja. Atau menghubungi untuk meminta satu atau dua job Senja karena mereka sedang sepi tawaran.
Kebanyakan dari mereka memang hanya mengambil job MC sebagai sampingan. Hanya beberapa saja yang menjadikan MC sebagai pekerjaan utama, termasuk Senja. Sambil bercanda, Senja akhirnya menawarkan diri untuk menjadi semacam manager bagi mereka. Agar tidak kesusahan lagi mengatur dan mencari pengganti saat job MC berbenturan dengan pekerjaan utama mereka. Ternyata mereka malah menyetujui hal itu.
Berangkat dari situ akhirnya Senja memutuskan untuk memulai Loqui Ent., kantor agensi yang nanti akan membawahi para MC profesional di Kota ini. Ternyata benar, ketika kita ikhlas menjalani ujian, menjalani sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita, akan ada hikmah yang bisa kita petik pada saat terbaik.
Seperti Senja yang pada akhirnya mengikhlaskan pengunduran dirinya dari radio yang menjadi tempatnya bernaung selama bertahun-tahun. Merelakan hati menerima segala perlakuan buruk Nuta dan keluarganya. Memaafkan dan melanjutkan hidup sebaik-baiknya.
Semua itu, justru membawanya pada langkah terbaik dalam hidupnya. Akhirnya dia bisa memulai usahanya sendiri. Tuhan memang selalu memberikan balasan terbaik untuk orang-orang yang bersabar dengan ujianNya.
__ADS_1
...****************...