
Nuta melajukan mobilnya menuju kosan Senja. Hatinya mengatakan ada sesuatu yang terjadi dengan kekasihnya itu.
Begitu sampai, laki-laki itu turun dari mobil dan gegas menghampiri beberapa penghuni kosan yang tengah duduk di kursi panjang di teras.
"Permisi, Mbak. Maaf ganggu. Bisa minta tolong panggilin Senja nggak, Mbak?"
Salah satu dari penghuni kosan itu mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam kosan.
"Senjanya nggak ada, Mas. Kata tetangga kamarnya belum pulang kerja," lapor gadis itu begitu keluar lagi beberapa saat kemudian.
"O gitu. Ya, udah. Makasih, ya, Mbak." Nuta mengangguk dengan senyum basa-basi di bibirnya.
Laki-laki itu masuk dan langsung mengendarai mobilnya meninggalkan kosan Senja. Entah kemana gadis itu pergi setelah meninggalkan kantor beberapa jam yang lalu. Nuta bingung harus mencari kemana.
Nuta sama sekali tidak tahu kebiasaan Senja. Kemana gadis itu pergi saat ada masalah. Kemana dia pergi untuk menenangkan diri. Ah, Nuta bahkan tidak tahu apakah saat ini Senja memang sedang ada masalah. Hanya firasatnya saja yang mengatakan gadis itu sedang menghadapi sesuatu.
Bisa jadi, Senja hanya pergi bertemu kenalannya. Bisa jadi, ada kerabat atau keluarganya yang sakit dan harus buru-buru dia tengok. Tapi kemana gadis itu pergi tanpa mengambil dulu ponselnya yang ketinggalan di mobil Nuta? Bagaimana pula dia akan pergi memenuhi janji temu atau mendapat kabar ada kerabat dan keluarga yang sakit sementara ponselnya saja tidak di tangan?
Brakk!
Nuta memukul kemudi mobil dengan kedua kepalan tangannya. Isi kepalanya benar-benar kacau. Semrawut, seperti jalanan di Kota ini yang padat merayap di sejumlah titik.
Setelah berputar-putar menyusuri jalanan di sekitar tempat-tempat yang biasa dia datangi bersama Senja beberapa bulan belakangan ini, Nuta mulai mengarahkan laju mobilnya menuju jalanan di sekitaran rumah sakit - rumah sakit yang ada di Kota ini.
__ADS_1
Karena tempat yang biasa dia datangi bersama Senja kebanyakan adalah restoran dan coffee shop, dan laki-laki itu sama sekali tidak menemukan jejak kekasihnya itu. Akhirnya dia memutuskan mencari di sekitaran beberapa rumah sakit. Siapa tahu mungkin dia akan menemukan Senja. Mungkin saja gadis itu memang pergi terburu-buru karena mendapat kabar ada kerabat atau keluarganya yang dilarikan ke rumah sakit.
Lelah berputar-putar tanpa hasil apapun, akhirnya Nuta menepikan mobilnya di jalanan pinggir pantai yang langsung berhadapan dengan matahari yang mulai terbenam.
Warna jingga yang berpendar di lautan. Lingkaran besar terang yang hanya tinggal setengah. Nuta menatap semua itu dalam diam.
Pemandangan yang begitu kamu sukai. Hal yang membuat kamu bisa berdiam lama tanpa terganggu oleh apapun. Kenapa menatap semua itu saat ini justru membuatku takut? Takut kamu akan segera pergi meninggalkan aku seperti pemandangan menakjubkan di depan sana yang akan segera digantikan kelam.
Kamu kemana?
...****************...
Sementara itu, di daerah dataran tinggi yang terkenal dengan hasil pertaniannya, senjapun mulai membayang, mengantarkan cahaya jingganya menyirami ladang yang dipenuhi tanaman. Daerah yang tidak akan terlintas dalam benak Nuta sebagai tujuan pencariannya. Daerah yang mungkin belum pernah dikunjunginya, bahkan mungkin tidak pernah dikenalnya.
"Mentari Senja. Apa selama ini kakak sudah bisa memenuhi harapan yang Ayah sematkan pada nama itu?" Senja menoleh menatap laki-laki berumur enam puluhan yang berdiri di sebelahnya.
Laki-laki yang masih tegap dan terlihat bugar itu menatap tanaman di depannya yang disinari cahaya matahari yang hampir kembali ke peraduannya. Warna merah buah cabe terlihat berpendar ditimpa cahaya matahari senja.
"Kak, ayah memberikan nama yang penuh dengan harapan itu bukan untuk dijadikan beban, bukan untuk dijadikan tanggungan. Ayah memberi kakak nama Mentari Senja karena Ayah dan Ibu bersyukur kamu hadir di tengah-tengah kami, menjadi harapan baru untuk hidup kami ke depannya. Syukur-syukur kamu juga bisa jadi pembawa harapan baru untuk orang-orang di sekitar kamu.
"Kalau ternyata nama yang Ayah berikan justru jadi beban buat Kakak, Ayah dan Ibu akan sedih sekali, Nak."
Chandra menatap anak gadisnya yang tengah larut dalam pikirannya. Matanya memandang lautan tanaman yang disiram cahaya matahari yang hampir terbenam, tapi Chandra tau, pikiran anaknya sedang tidak di sana.
__ADS_1
Mentari Senja, anak pertamanya itu tumbuh menjadi gadis yang berkemauan keras dan tidak pernah menunjukkan perasaan dan gejolak emosinya di hadapan siapapun, terutama orang tua dan adik-adiknya.
Terlahir sebagai anak pertama, perempuan, dengan dua adik laki-laki, menempa Senja menjadi gadis yang kuat. Karena dia harus bisa menjadi contoh untuk adik-adiknya, menjadi sandaran yang kuat kelak untuk keluarganya, membentuk anak itu menjadi pribadi yang berkemauan kuat.
"Apa Ayah pernah, sekali saja dalam hidup, menyesali nasib dan takdir yang Ayah jalani?" Senja menoleh, menatap tepat ke manik mata yang berwarna persis seperti matanya.
"Kenapa, Nak? Apa Kakak sedang berada di titik itu?" Lugas, Chandra menjawab pertanyaan anaknya dengan balik bertanya. Cara yang biasa dilakukannya untuk memancing anak perempuan satu-satunya itu mengungkapkan isi hatinya.
"Kakak merasa selama ini sudah bekerja keras. Selama ini Kakak sudah berusaha sekuat tenaga agar bisa sebanding dengan orang lain. Tapi kenapa masih saja ada orang yang merendahkan Kakak, Yah? Kenapa masih ada orang yang hanya memandang latar belakang, tanpa melihat kerja keras seseorang." Akhirnya Senja melepaskan sesak yang menggerogoti dadanya beberapa jam terakhir.
"Ayah rasa, bukan hanya Ayah, bukan hanya Kakak, bukan hanya orang-orang tertentu yang pernah berada di titik terendah dalam hidupnya, lalu mulai meratapi nasib. Semua orang pasti pernah dihampiri banyak kalimat yang diawali kata 'kenapa' dalam pikirannya. Lalu timbul banyak pemikiran berawalan 'seandainya' yang akan menggerogoti hati. Mengikis rasa syukur terhadap apa yang kita punya.
"Kenapa orang lain bisa begini? Sementara kita tidak. Kenapa Si A bisa gampang seperti itu? Sementara kita sangat sulit menggapainya. Lalu semua kecamuk pertanyaan itu akan bermuara pada pengandaian yang tidak akan ada ujungnya. Seandainya aku begini, seandainya keluargaku begitu. Tidak akan ada habisnya.
"Ketimbangkan kita mempertanyakan takdir, berandai-andai yang tidak terjadi, bukankah lebih baik kita berusaha lebih kuat lagi? Memang jalan yang kita tempuh tidak akan segampang jalan mereka yang sudah punya dasar, mereka yang punya privilege, ya, istilah hitsnya, ya, Kak?" Chandra menatap anaknya yang menanggapi dengan senyum dan anggukan.
"Dibandingkan mereka yang punya privilege mungkin memang tidak akan sama mulusnya, tapi bukan berarti tidak mungkin kita akan mencapai titik yang sama.
"Yang harus Kakak ingat, standar keberhasilan, standar sukses, standar bahagia kita, bukan dari orang lain, tapi dari diri kita sendiri. Jangan jadikan harapan orang tua dan keluarga, apalagi omongan orang-orang di luar sana menjadi patokan dalam hidup Kakak. Keberhasilan, sukses dan bahagia Kakak, harus Kakak sendiri yang tentukan standarnya.
"Kalo kita dengerin omongan orang tentang kita, nggak akan ada habisnya, Nak. Yang ada kita akan selalu dihantui 'kenapa' dan 'seandainya'. Membuat kita luput dari rasa syukur atas apa yang sudah kita punya."
"Seandainya semua orang punya pemikiran seperti Ayah," lirih Senja sembari menerawang. Kembali terngiang kalimat-kalimat yang didengarnya tadi siang.
__ADS_1
...****************...