Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 55. Si Pengirim Makanan


__ADS_3

“Permisi, ada kiriman untuk Mbak Senja,” teriak pengantar paket dari depan teras ruko yang baru saja selesai dipel.


“Iya, Pak. Kiriman apa, ya?” Senja menghampiri pengirim paket.


“Ini kiriman bunga untuk Mbak Senja, dan ini makanan dari restoran Jepang di jalan Sudirman. Saya foto dulu, ya, Mbak. Sebagai tanda terima.” Kurir itu menyerahkan satu buket bunga baby breath berwarna putih serta satu kantong kertas besar berisi makanan.


“Makasih, Pak.”


Senja membawa kedua kiriman yang baru saja diterimanya ke dalam ruangan, kemudian meletakkan kantong kertas berisi makanan di atas meja.


“Bunga? Dari siapa, Jha?” Ariana yang telah selesai membantu Bhumi memasang pajangan dinding mendekat ke arah Senja yang sedang meneliti buket bunga di tangannya.


Senja tidak menjawab. Tangannya sibuk menarik sebuah kartu yang terselip di antara rangkaian bunga baby breath yang sangat segar dan mengeluarkan bau yang sangat wangi.


Selamat ya, untuk kantor barunya. Dari dulu aku tahu kamu akan sehebat ini. Sebaris kalimat tertulis di kartu itu.


“Nggak ada namanya, ya, Jha?” tanya Ariana yang ikut membaca dari balik bahu Senja.


“Nggak ada. Coba liat di dalam kantong makanannya.”


Ariana mengeluarkan kotak-kotak makanan dari dalam kantong kertas. Kemudian melihat ke dasar kantong dan menarik secarik kertas keluar, lalu memberikannya pada Senja.


Sesibuk apapun, harus tetap makan.


Hanya sebaris kalimat pendek yang tertulis pada secarik kertas itu. Sepertinya si pengirim paket memang tidak berniat menunjukkan identitasnya. Senja kemudian memilih untuk meneliti kotak makanan yang ada di atas meja.


Ada lima kotak yang tadi dikeluarkan oleh Ariana dari kantong kertas. Senja kemudian membuka satu-persatu. Kotak pertama berisi satu pori Katsu Roll. Kotak kedua berisi satu porsi Miso Soup. Sedangkan tiga kotak lainnya berisi Beef Teriyaki Bento. Kiriman makanan itu juga dilengkapi dengan tiga gelas Blackcurrant Tea sebagai minuman.


“Kira-kira siapa yang kirim ya, Jha? Apa Mas Nuta?” Ariana kembali bertanya.


“Kayaknya enggak, deh. Makan ajalah, Ri. Aman kok ini,” jawab Senja sembari mengangsurkan satu kotak bento ke depan Ariana yang sudah duduk di kursi di seberang meja.


“Kiriman makanan dari siapa, Kak?” tanya Bhumi yang baru saja bergabung setelah mencuci tangan.

__ADS_1


“Nggak tau, nggak ada namanya.”


Senja menyerahkan satu kotak bento ke tangan Bhumi.


“Aman nggak ni, Kak?” Bhumi masih terlihat belum yakin.


“Aman kok, makan aja,” jawab Senja yakin.


Melihat dari jenis menu yang dipilih, sepertinya Senja tahu siapa pengirim makanan itu. Hanya ada satu orang yang sangat hafal jenis makanan yang selalu dipesannya di restoran Jepang. Senja yakin orang itulah yang mengirim bunga dan makanan ini. Selintas senyum tipis terlukis di bibir gadis itu.


Ternyata kiriman makanan tanpa nama pengirim tidak berhenti sampai di situ. Hari itu Senja dan Ariana masih berada di ruko sampai magrib. Karena masih banyak yang harus dikerjakan membuat mereka lupa waktu. Sementara Bhumi sudah kembali ke kosan lebih dahulu, karena ada tugas kuliah yang harus dikerjakan.


Selepas shalat magrib, sebelum Senja sempat memesan makanan untuk dia dan Ariana, teriakan kurir sudah lebih dulu terdengar dari luar. Ada kiriman makanan, dan lagi-lagi tanpa nama pengirim.


Dua hari setelah itu, kejadian berulang juga selalu terjadi. Kurir selalu mendahului sebelum Senja sempat memesan makanan untuk mereka bertiga. Dia, Ariana dan Bhumi memang sibuk membereskan banyak hal di ruko untuk persiapan dan peresmian kantor Loqui Ent. nanti.


Karena terlalu sibuk, mereka terkadang lupa waktu. Tidak ingat jam sudah memasuki waktu makan. Saat itulah kurir pengiriman makanan akan terdengar berteriak dari luar. Dan menu makanan yang dipilihkan selalu sesuai dengan selera Senja. Semuanya adalah makanan kesukaan Senja.


"Atau Kakak tau nggak siapa kira-kira yang kirim makanan ini? Biar besok aku temui orangnya?" tanya Bhumi lagi.


Melihat Senja yang terlalu santai menanggapi kiriman makanan yang datang bertubi-tubi, Bhumi yakin kakaknya itu tahu siapa pengirimnya. Hanya saja bagi pemuda itu, hal ini sudah meresahkan. Pengirim makanan itu sudah seperti penguntit. Dan Bhumi mengkhawatirkan keselamatan kakaknya.


"Iya, besok aja kamu urus. Sekarang kamu makan dulu trus balik ke kosan. Besok kuliah pagi jangan sampe telat." Senja menjawab kekhawatiran adiknya itu.


Dengan enggan akhirnya Bhumi tetap menyantap makanan yang dikirim oleh seseorang yang tidak menunjukkan identitasnya itu. Kali ini yang dikirim adalah makanan dari rumah makan khas daerah mereka. Pemuda dengan warna mata yang sama dengan Senja itu menyantap nasi dengan lauk rendangnya dalam diam.


"Lo tau kan, Jha, siapa yang selalu kirim makanan ini? Apa nggak lebih baik lo hubungi orangnya? Agak ngeri juga, sih. Bhumi bener, jadinya kita kayak selalu dimata-matai." Ariana bertanya setelah Bhumi selesai makan dan kembali ke kosannya.


"Kalo liat dari pilihan menunya, gue tau sih siapa yang ngirim, tapi ya nggak pasti juga," jawab Senja sambil membereskan sampah bungkusan makanan.


"Siapa sih, Jha? Kepo gue. Mas Nuta?" tanya Ariana dengan penasaran.


Senja hanya menjawab dengan gelengan. Dia yakin bukan Nuta pelakunya. Nuta bukan tipe orang yang akan melakukan sesuatu diam-diam, tanpa penjelasan.

__ADS_1


"Kai?" Mata Ariana membelalak, tidak percaya. "Tapi masuk akal juga, sih. Buat dia kirim makanan dua atau tiga kali sehari dari resto terkenal sih nggak masalah, ya. Nggak akan berkurang tuh duitnya."


"Apa gue hubungi aja, ya?"


"Bagusnya gitu, sih. Lo nggak liat tadi Bhumi udah mulai ga suka. Besok kalo dia marah-marah sama kurirnya, kan jadi nggak enak, Jha. Bisa-bisa Loqui Ent. Kena rumor buruk duluan sebelum peresmian." Ariana menjelaskan panjang lebar.


Sebagai jawaban, Senja meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Gadis itu mencari kontak Kai, kemudian menghubunginya. Panggilan itu langsung diangkat pada deringan pertama.


“Halo, Jha” Sapaan pertama Kai dari seberang sana terdengar sangat bersemangat.


“Halo, Bang. Lagi sibuk?”


“Nggak sibuk, kok. Kenapa, Jha? Kamu apa kabar?” Jawaban di seberang sana masih dengan semangat yang sama.


“Kabar baik. Aku mau tanya. Kamu kan yang kirim makanan setiap jam makan selama tiga hari ini?” Senja tahu nada suaranya terdengar tidak ramah. Dia hanya tidak ingin berbasa-basi dan membuat Kai salah paham.


“Kirim makanan apa, Jha? Aku nggak ngerti, loh, maksud kamu.” Jawaban Kai di seberang sana terdengar sangat santai.


Nada suara Kai menjawab pertanyaan Senja berbanding terbalik dengan pertanyaan yang balik diajukannya. Tidak terdengar kaget sama sekali. Hal itu membuat Senja semakin yakin Kai adalah orang yang selama tiga hari ini mengirim makanan secara berturut-turut.


Senja menarik nafas dalam-dalam. Mengisi rongga dadanya dengan udara hingga terasa penuh. Seakan hal itu bisa mengisi daya, mengisi kekuatan hatinya untuk melanjutkan percakapan. Karena kadang, interaksi dengan Kai selalu menguras emosi.


...****************...


...Siapa coba pengirim makanannya?...


...Beneran Bang Kai apa bukan yaa??...


...Jangan lupa like dan komen yang banyak ya, Guys.....


...Love you all.....


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2