
Indira menatap gadis manis bermata bulat di depannya. Dia tahu sebenarnya bahwa gadis itu adalah kekasih anaknya. Meskipun Kai sudah sangat lama tidak lagi pulang ke rumah, tapi Indira dan suaminya selalu tahu semua tentang anaknya itu. Ada orang suruhan mereka yang selalu memberi informasi secara berkala.
Indira sudah tahu dari orang suruhannya bahwa Senja selama ini sama sekali tidak tahu latar belakang keluarga Kai. gadis itu hanya tahu bahwa Kai seorang anak tunggal yang tidak tahan dengan temperamen orang tuanya, lalu memutuskan untuk keluar dari rumah dan hidup mandiri.
Beberapa hari lalu saat diberi tahu oleh sekretarisnya ada undangan untuk acara talkshow di radio Arshinta Fm, Indira langsung mengiyakan. Apalagi saat tahu bahwa penyiar yang nanti akan memandu acaranya adalah gadis bernama Senja. Dia ingin sekali bercakap-cakap langsung dengan kekasih anaknya itu, dan kesempatan itu datang pada akhirnya.
“Hah. Saya tuh selalu pusing dengan sikap Si Kai. Nggak mau kuliah di jurusan yang kami, orangtuanya, inginkan. Malah memilih kuliah di Jurusan Sastra yang tidak ada hubungannya dengan bisnis. Padahal dia anak tunggal yang harus dipersiapkan untuk mewarisi dan meneruskan usaha kami.” Indira menjelaskan dengan detail bagaimana kedudukan Kai dalam keluarganya. Sengaja, karena ingin melihat bagaimana reaksi Senja begitu tahu bahwa kekasihnya itu adalah calon pewaris bisnis keluarga yang bisa punya segalanya kalau dia mau.
Indira mengamati gadis di depannya yang hanya menanggapi dengan senyum. tidak begitu terlihat gambaran perasaaan di wajahnya. Hanya selintas tadi Indira melihat wajahnya memucat saat dia menyebutkan nama Kai Sakha Caniago sebagai anaknya. Selebihnya wajah itu hanya terlihat datar tanpa ekspresi.
“Katanya juga Si Kai punya pacar, ketemu di kampusnya. Saya rasa yang membuat Kai tidak lagi mau menemui kami orangtuanya, ya, pacarnya itu. Mungkin pacarnya itu sedang menjalankan rencana untuk memanfaatkan Kai. Jaman sekarang mana ada orang yang pacaran karena benar-benar cinta. Ya pasti ada apa-apanya, lah.” Kali ini Indira sengaja menekankan rasa tidak sukanya pada kekasih anaknya. karena sedari tadi gadis di depannya itu sama sekali tidak mengakui bahwa dia adalah orang yang sedang dibicarakan.
Gadis ini berbeda. Begitu pikir Indira.
Padahal biasanya orang-orang akan mengaku paling dekat dengan keluarga mereka begitu ada yang bertanya. tapi gadis di depannya ini berbeda. Dia justru sama sekali tidak mengakui bahwa dia adalah kekasih anaknya. Entah ada maksud apa di balik itu.
Mungkin karena dia adalah gadis yang baik, batin Indira.
Semenjak memutuskan keluar dari dari rumah, Kai sama sekali tidak memiliki tujuan. Terlihat kalau dia hanya ingin menunjukkan bahwa dia tidak suka dikekang dan diatur oleh orang tuanya. Hidup luntang -antung di luaran tetapi masih memakai uang yang selalu disediakan oleh Indira dan suaminya di rekening. Bahkan kuliah di jurusan yang dia pilih pun dijalani dengan asal-asalan, padahal sebenarnya Kai adalah anak yang sangat cerdas.
Semenjak dekat dan menjalin hubungan dengan Senja, Indira melihat perubahan dalam diri anaknya. Anak satu-satunya itu jadi lebih serius kuliah. Kemudian mulai kerja sebagai jurnalis, dan terlihat sangat menikmatinya. Indira melihat semangat hidup yang menggebu dari mata anaknya. Semangat yang sebelumnya tidak pernah terlihat.
Indira yakin perubahan yang terjadi pada diri Kai adalah pengaruh baik dari gadis di hadapannya ini. Dia sangat bersyukur untuk itu. Dia sangat bersyukur Kai bertemu dengan gadis yang membawa dampak yang sangat baik dalam hidup anaknya.
Tapi entah kenapa, setelah bertatap muka langsung dengan gadis itu, Indira ingin mengujinya. Ingin memastikan langsung bahwa penilaiannya terhadap gadis itu tidak salah. Dia ingin memastikan bahwa Senja benar-benar orang yang tepat untuk Kai. Dia hanyalah seorang ibu yang menginginkan segala yang terbaik untuk anaknya.
...****************...
__ADS_1
Begitu siaran talkshow selesai, Senja mengiringi langkah Indira, guest starnya hari ini sampai keluar ruangan kantor radio Arshinta. Tentu saja setelah menyalami dan mengucapkan terima kasih sebelumnya. Dia sangat bersyukur siaran itu bisa selesai dengan baik.
Begitu sampai di luar ruangan, Indira tiba-tiba berbalik dan memeluk Senja yang berdiri di ambang pintu. Gadis itu kaget dengan pelukan tiba-tiba itu, begitu pula dengan teman-temannya yang masih berada dalam ruangan.
“Makasih untuk siaran yang menyenangkan hari ini, Nak Senja. Makasih, loh, udah dengerin cerita wanita tua ini yang sepanjang obrolan cuma ngeluh soalnya anaknya,” ujar Indiria begitu melepaskan pelukan dan menatap Senja.
“Kita yang makasih, Buk. Ibuk udah mau jadi bintang tamu talkshow kita hari ini padahal pasti sibuk banget.” Senja juga ikut tersenyum.
“Sampai ketemu lagi, Nak Senja.” Indira tersenyum sekali lagi, melambaikan tangan, kemudian berjalan menuju ke arah gerbang.
Begitu Indira diikuti rombongan bodyguard dan sekretarisnya menghilang dari pandangan, Senja berbalik masuk lagi ke dalam. Langkahnya gegas menuju ruang siaran. Ingin menyendiri sejenak, berharap semoga sesak di dadanya yang sedari tadi ditahan akan sedikit berkurang.
Baru beberapa langkah berjalan, Senja tiba-tiba jatuh, terduduk di lantai yang keras. Tubuhnya seperti kehilangan semua kekuatan, tanpa sisa. Sesaat gadis itu hanya diam, membatu dengan pandangan kosong. Lalu tiba-tiba tubuh itu luruh dalam sujud, dengan tangis kencang bagai semburan air hujan yang datang tanpa jeda.
Teman-temannya yang ada di ruangan itu begitu kaget dengan keadaan Senja yang berubah tiba-tiba. Mereka datang menghampiri. penasaran dengan apa yang terjadi.
“Lo kenapa sih, Jha? Tiba-tiba nangis gitu, kayak orang kesurupan. Bikin semua orang bingung. Cerita kek kalo ada apa-apa. Jangan cuma nangis-nangis nggak jelas.” Maria mulai bersuara. Dia mulai gerah melihat Senja yang hanya menangis sesenggukan, dan sudah berlangsung hampir tiga puluh menit lebih.
“Apaan sih, Lo, Mar?! Dari pada lo ngomel-ngomel nggak jelas disini, mending bantuin set lagu sono, udah mau habis tuh kayaknya.” Ariana menjawab Maria dengan ketus. Dia tahu Maria memang tidak terlalu suka pada Senja, entah ada masalah apa.
“Biar gue aja yang bantu set lagu di dalam, yang lain bubar dulu, deh. Cari makan atau pergi kemana kek, terserah.” Kali ini Nino yang bersuara. Sebagai yang paling tua dan laki-laki satu-satunya di ruangan itu dia merasa harus mengendalikan situasi. Terutama dia tahu mereka harus memberi Senja ruang, agar gadis itu bisa tenang.
Nino kemudian melangkah memasuki pintu bertanda On Air di atasnya. sementara yang lain, mulai membubarkan diri. Menyisakan Senja yang masih terisak di pelukan Ariana.
“Ternyata selama ini dia bohong sama gue, Ri. Gue selalu percaya sama dia, sampai gue nggak pernah curiga. Gue sama sekali nggak pernah berniat buat nyari tau latar belakang dia. Gue percaya aja sama cerita dia. Ternyata dia bohong. Semua cerita dia ke gue nggak ada yang bener. Gue bodoh banget ternyata. Hu hu hu.” Senja mulai bercerita pada Ariana, masih dengan tangis yang seakan tidak mau berhenti.
“Dia siapa, Jha? Kai? Udah bisa cerita?” Ariana bertanya hati-hati. Dia tahu sahabatnya itu tidak gampang untuk menceritakan apapun yang dialaminya. Kepada orang terdekat sekalipun.
__ADS_1
“Iya, Kai, Ri. Ternyata selama ini dia bohongin kue. Tega banget. Apa dia nggak sayang gue ya, Ri?”
“Kenapa lo ngomong gitu? Coba deh cerita pelan-pelan.” Ariana menatap Senja yang sudah melepaskan pelukannya. Menatap mata sahabatnya itu.
“Tamu acara talkshow yang tadi, Indira Agustina istrinya Bachtiar Caniago, ternyata adalah ibunya Kai, Ri. Dia tadi ngomong sendiri ke gue. cerita banyak soal anaknya itu. Gue bego banget selama ini nggak pernah curiga, padahal jelas-jelas ada Caniago di belakang namanya. Gue percaya aja sama omongan dia. Katanya cuma kebetulan nama mereka sama.” Senja berussaha menjelaskan, walaupun ceritanya tidak berarutan. Masih dengan isakan yang sesekali menyela kata-katanya.
“Trus apa sih yang bikin lo nangis-nangis nggak jelas gitu? Harusnya lo bahagia dong karna pacar lo itu ternyata pangeran kaya-raya. Kayak Cinderella nggak tuh kisah hidup lo. Ngapain malah nangis-nangis nggak jelas. bikin pala gue pusing.” Maria yang ternyata dari tadi masih berada di dalam ruangan itu menyela cerita Senja.
Maria sudah dari lama tahu siapa sebenarnya kekasih Senja itu. Sejak dia tahu nama belakang Kai, dia mencari tahu latar belakang laki-laki itu, karena penasaran. Tapi dia memutuskan tidak memberitahu Senja, karena kesal. Dia iri pada gadis itu yang seakan selalu memperoleh perhatian dari semua orang.
“Trus menurut lo gimana? Gue harus ketawa gitu?” Senja berdiri tiba-tiba. Emosinya yang sedari tadi teredam oleh tangis meledak tiba-tiba mendengar kata-kata Maria.
“Kenapa nggak? Harusnya lo ketawa, bahagia. Secara kan pacar lo ternyata adalah pewaris kerajaan bisnis orangtuanya. Itu duitnya nggak bakalan abis dimakan tujuh turunan. Kalo lo jodoh dan nikah sama dia, kan lo bakal kecipratan. Jangan mikir nikah deh, sekarang aja lo minta apapun juga kayaknya bakal dikasih. Dia kan bucin banget sama lo.” Maria semakin memanas-manasi keadaan.
“Asal lo tau, Maria, gue sama sekali nggak bahagia. Gue nggak senang dengan kenyataan yang baru gue tau hari ini. Dia bohong sama gue selama ini. Dan gue benci itu.” Senja meluapkan emosinya pada Maria.
“Ya lagian lo bego banget, sih. Percaya aja omongan dia, padahal jelas-jelas nama belakangnya itu Caniago. Apa jangan-jangan dia sengaja ya nggak cerita sama lo, karena lo cuma mainan buat dia. Siapa tahu di belakang lo mungkin dia punya pacar yang sederajat sama dia. Mungkin lo cuma buat hiburan dan bahan candaan dia sama pacar kayanya itu.”
Senja membatu mendengar kata-kata Maria.
“Atau mungkin dia emang sengaja kali nggak mau kasih tau lo. Karena takut ntar lo cuma manfaatin dia. Mungkin dia mikir anak petani kampung kayak elo cuma bakal morotin kekayaannya aja.” Maria kembali melanjutnya kata-kata provokatifnya begitu tidak mendengar jawaban dari mulut Senja.
“Eh, Maria. Mending lo diem deh, nggak ada yang minta pendapat lo disini. Atau lo keluar aja sana, gue males denger omongan lo yang nggak mutu.” Ariana mencoba mengusir Maria, agar emosi Senja tidak semakin terprovokasi.
Sementara Senja hanya diam. Otaknya mencoba berpikiran positif. Kai selama ini sangat menyayanginya. Tidak mungkin Kai tega berbuat seperti tuduhan Maria. Memang benar selama ini Kai menyimpan rahasia soal latar belakang keluarganya. Tapi Senja yakin, di balik kebohongannya, kekasihnya itu pasti punya alasan yang kuat.
Sekuat apapun otaknya mencoba berfikir positif, tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam Senja juga memikirkan kemungkinan yang sama dengan ucapan Maria. Hatinya membisikkan berbagai skenario buruk yang dilakukan Kai di belakangnya. Dan sepertinya, hati gadis itu lebih berperan daripada logika.
__ADS_1
...****************...