Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 57. Pembalasan Terbaik


__ADS_3

Tanpa kita sadari kadang waktu berganti seakan berlari. Baru saja mata terpejam, secepat kilat pagi sudah menjelang. Hari demi hari berganti begitu cepat seakan hanya berjarak sepelangkahan. Sang waktu sama sekali tidak memberi kita jeda untuk memperlambat langkah walau sejengkal.


Enam bulan sudah berlalu sejak acara peresmian Loqui Ent.. Agensi yang dibangun Senja itu berkembang pesat, sebanding dengan usaha keras dan tenaga yang dihabiskannya.


Loqui Ent. tidak lagi hanya membawahi pada MC profesional di Kota ini. Model dan talent yang pernah kursus public speaking di sana, juga mulai mempercayakan karir mereka pada Senja dan timnya. Dalam waktu setengah tahun, Loqui Ent. sudah merambah ke berbagai bidang.


Hari ini bahkan adalah hari pertama bagi Loqui Ent. merambah ke bidang wedding organizer. Pernikahan pertama yang ditangani oleh Senja dan timnya ini termasuk acara besar. Acara yang diadakan di gedung convention center sebuah kampus swasta ternama itu mengundang lebih dari tiga ribu orang tamu. Dan tentu saja juga menelan biaya yang tidak sedikit.


Tuan rumah acara pernikahan adalah kerabat dekat Bu Indah. Tentu mereka memakai jasa *wedding organizer *Loqui Ent. juga atas rekomendasi Bu Indah dan Pak Imam. Secara ajaib hubungan di antara Senja dan pasangan suami istri itu berkembang cukup jauh.


Awalnya mereka sangat terkesan dengan Senja yang masih menyempatkan diri memberikan privat public speaking untuk Sheira, anak mereka, di tengah kesibukannya yang padat.  Apalagi kemudian Sheira berhasil menjadi finalis kontes modeling yang diikutinya.


Dengan bantuan Senja, bahkan akhirnya Sheira memenangkan pemilihan Putri Daerah di Kota ini. Pasangan suami istri itu sangat berterima kasih atas bantuan Senja. Mereka menawarkan ruko milik mereka yang sedang kosong untuk menjadi kantor awal Loqui Ent..


Melihat kesungguhan Senja dalam membangun Loqui Ent. Pak Imam yang merupakan seorang pengusaha akhirnya menawarkan diri untuk menjadi pemodal. Pak Imam juga membantu mencarikan kantor yang lebih luas. Itulah yang kemudian menjadi cikal bakal semakin berkembangnya Loqui Ent..


“Makan dulu, Jha. Mumpung lagi gantian. Belum makan dari tadi, kan?” Bu Indah menyapa Senja yang baru saja turun dari panggung kecil khusus untuk MC.


Keluarga pengantin punya permintaan khusus. Mereka meminta Senja yang menjadi MC acara pernikahan. Senja menyanggupi meskipun sejak mulai merintis Loqui Ent. dia sudah jarang turun langsung sebagai MC.


“Iya, Bu. Ini mau ambil makanan dulu. Ibu udah makan?”


"Kita semua udah makan. Kamu buruan ambil makanan sana, ntar duduk di sini aja," jawab Bu Indah.


Mereka memang sudah seakrab itu. Ketimbang rekan bisnis atau guru privat anaknya, Bu Indah lebih menganggap Senja seperti adiknya sendiri. Dia sangat menyukai pribadi Senja yang periang, ramah dan bisa menyesuaikan diri dimanapun.


"Iya. Aku ambil makanan dulu, Bu," jawab Senja yang kemudian berjalan menuju meja prasmanan yang memanjang di dekat pintu masuk gedung convention center itu.

__ADS_1


Sembari antri mengambil makanan, Senja berkoordinasi dengan beberapa timnya tentang kelancaran acara. Begitu selesai gadis itu kembali melangkah menuju meja Bu Indah dan keluarganya.


Beberapa meter sebelum sampai di meja tujuannya, Senja menghentikan langkah. Tepat di sebelah meja yang ditempati Bu indah dan keluarga, duduk sebuah keluarga yang sangat ingin dihindarinya.


Meja di sebelah kursi yang akan diduduki oleh Senja nanti, ditempati oleh Nuta bersama kedua orang tuanya. Senja menghentikan langkah sejenak. Menimbang apakah akan meneruskan langkah menuju meja tujuan, atau memilih duduk di meja lain yang jauh dari pandangan keluarga itu.


Sebelum Senja sempat mengambil keputusan, sepasang mata yang sangat ingin dihindari justru menatapnya, tepat di manik coklat miliknya. Ada riak kaget pada sepasang mata itu. Mungkin tidak menyangka akan bertemu Senja di sini.


Senja pun luput memperhitungkan kemungkinan bertemu keluarga Nuta di resepsi pernikahan pertama yang ditanganinya ini. Tentu saja kemungkinan itu sangat besar, karena keluarga Bu Indah juga merupakan keluarga pengusaha yang cukup terkenal. Tentunya keluarga Nuta yang juga pengusaha akan ada dalam daftar tamu undangan.


Senja tidak bisa menarik langkah mundur. Dia tidak salah, jadi tidak harus menghindar dari mereka. Penampilannya saat ini juga tidak akan bisa menjadi bahan celaan siapapun.


Tampil dengan dress panjang model A-line warna hijau tua membuat Senja terlihat anggun. Bahan lace membuat dress itu melekat sempurna di tubuhnya. Lengan panjang sampai siku dan kerah V membuat penampilan Senja terlihat elegan dan tetap sopan.


Riasan natural dengan pilihan warna nude menjadikan gadis itu terlihat cantik dan lebih muda dari umur sesungguhnya. Sepatu high heels warna abu-abu dengan aksen tali berwarna gold melengkapi penampilan. Ditambah dengan clutch bag warna gold yang tergenggam di tangan sebelah kiri sebagai penyempurna.


Dengan percaya diri akhirnya Senja membawa langkahnya menuju meja yang ditempati Bu Indah dan keluarganya. Sebelum duduk Senja menyapa Nuta dan keluarganya dengan anggukan sopan, tanpa berniat mengeluarkan suara sedikitpun.


“Mami apaan, sih. Nggak usah cari gara-gara, Mi. Ini lagi rame,” jawab Nuta dengan suara pelan tapi masih bisa didengar oleh Senja.


“Cari gara-gara gimana, Mami itu cuma ngomong faktanya aja, kok.”


“Udahlah, Mi. Senjanya diem aja, kenapa Mami sentil-sentil terus, sih?” Nuta terdengar berusaha membuat Safira diam.


“Kamu ini selalu ngebela gadis kampungan itu. Apa sih yang kamu lihat dari dia? Liat aja, tuh, style-nya yang kampungan itu. Nggak ada cantik-cantiknya. Sombong banget lagi, nggak negur mantan bosnya. Baru juga duduk di meja orang kaya lagaknya udah kayak dia yang kaya.” Safira semakin menjadi, tamu undangan yang menempati meja-meja di sekitar mereka mulai melirik ingin tahu.


“Jeng Safira lagi ngomongin siapa? Adik saya ini, ya?” Bu Indah yang menyimak dari awal semua kata-kata Safira tidak bisa menahan diri lagi untuk ikut berbicara.

__ADS_1


Bu Indah dan suaminya sudah mendengar gosip yang dulu beredar tentang anak pasangan Safira-Andika dengan gadis bernama Senja. Tapi dia sama sekali tidak pernah bertanya langsung pada Senja. Karena tidak ingin ikut campur.


“Nggak lah, Jeng. Buat apa saya ngomongin adik Jeng Indah,” jawab Safira dengan senyum lebar.


“Jeng Safira lagi ngomongin Senja, kan? Senja ini sudah saya anggap adik saya sendiri.” Bu Indah menjawab dengan penuh penekanan.


“Oh iya? Saya baru tau loh. Eh, hati-hati loh, Jeng Indah. Jaman sekarang banyak orang-orang licik bermuka dua. Katanya udah nganggap saudara, tapi suaminya diembat juga. Hati-hati, Jeng. Orang-orang yang pinter memanfaatkan kita juga banyak, loh. Ntar kalo udah diporotin, abis banyak, baru deh nyesel.” Safira berkata dengan berapi-api, seolah menemukan celah untuk menjatuhkan Senja.


“Masa sih, Jeng? Jeng Safira udah pengalaman, ya? Kalo saya sih lumayan pintar menilai orang, Jeng. Jadi insyaallah orang-orang yang saya bawa ke keluarga saya adalah orang baik semua.” Bu Indah memberi penekanan pada kata-kata orang baik.


“Ah, Jeng Indah nggak tahu, ya. Orang yang kelihatan baik, belum tentu dalamnya juga baik, loh, Jeng. Apalagi orang yang nggak selevel sama kita ….”


Sebelum Safira sempat melanjutkan ucapannya, Senja berdiri dan menghampiri meja yang ditempati oleh Safira beserta suami dan anaknya. Dia tidak akan membiarkan kata-kata penghinaan terus dilontarkan oleh wanita itu di depan para tamu undangan yang semakin ramai.


...****************...


...Waah, Senja ketemu lagi sama Maminya Nuta nih, Guys....


...Dihina dan direndahkan lagi kaan.. 😢...


...Sabar ya, Senja.. ...


...Peluk Senja dulu.. 🤗🤗...


...Jangan lupa like dan komennya, yaa.....


...Makasih dukungannya.....

__ADS_1


...Love you, Guys......


❤️❤️


__ADS_2