
Kai menyentuh gelang yang ada di pergelangan tangan Senja. Gelang itu dengan kalung yang baru dipasangnya di leher gadis itu, seperti pasangan, saling melengkapi.
“Gelangnya kado dari Mas Nuta,” jawab Senja untuk pertanyaan Kai sebelumnya.
Kai melepaskan genggamannya pada tangan Senja dengan gelang berhias huruf S itu di tengahnya. Ada badai perasaan yang datang tiba-tiba menyerbu hatinya.
Sedih. Karena ternyata ada orang lain yang sudah lebih dulu ingat, peduli dan memberikan sesuatu yang spesial di hari ulang tahun Senja.
Kesal. Laki-laki itu kesal pada dirinya yang sudah mengulur waktu untuk memberikan semua yang sudah disiapkannya hari ini. Mungkin harusnya tadi malam dia langsung mendatangi Senja, agar tidak ada yang mendahului langkahnya.
Kecewa. Kecewa pada Senja. Ya, Kai kecewa pada Senja. Kenapa gadis itu terlalu mudah menerima pemberian orang yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya?
Bukankah Senja yang selama ini dikenalnya bukan tipe orang seperti itu. Gadis itu bukan tipe yang akan menerima semua pemberian yang diulurkan padanya dengan tangan terbuka. Bahkan Kai membutuhkan waktu beberapa bulan pendekatan hanya untuk mentraktir Senja makan.
Lalu kenapa sekarang dia berubah? Ataukah memang ada hubungan spesial antara Senja dengan laki-laki bernama Nuta itu?
Kai menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak akan membiarkan pikiran buruk itu mampir di kepalanya. Lebih lagi, dia tidak akan pernah membiarkan hal itu menjadi kenyataan.
Senja adalah miliknya. Senjanya. Dan akan tetap seperti itu sampai kapanpun.
Tidak akan pernah dia izinkan siapapun merebut Senja, Senjanya.
...****************...
“Makasih, Bang. Makasih buat semuanya hari ini. Kadonya juga makasih,” ucap Senja begitu turun dari boncengan motor yang dikendarai oleh Kai. Motor itu bara saj berhenti di depan kosannya.
Kai mengangguk, mengiyakan.
“Aku masuk dulu, ya. Abang hati-hati di jalan.” Senja pamit dengan senyum tipis.
“Senja,” panggil Kai pada Senja yang sudah mulai melangkah memasuki gerbang kosannya.
“Kalungnya dipakai terus, ya. Aku harap kalung itu selalu mengingatkan. Apapun dan bagaimanapun situasi yang kamu hadapi, ada aku yang akan selalu siap berada di samping kamu. Ada aku yang masih berharap kisah kita tidak hanya akan sampai di sini.”
__ADS_1
Senja hanya mengangguk, tersenyum, kemudian melambaikan tangan. Lalu kembali berjalan, memasuki tempat tinggalnya tanpa menoleh lagi ke belakang.
Kai menatap punggung Senja sampai menghilang di balik pintu. Lalu menelungkupkan kepalanya di atas stang motor. Hatinya gamang.
Begitu tahu gelang yang ada di pergelangan tangan Senja adalah hadiah dari Nuta, Kai ingin bertanya langsung pada gadis itu.
Apa hubungan apa Senja dengan Nuta? Kenapa Senja mau menerima pemberiannya? Seberapa dekat hubungan mereka? Seberapa spesial tempat Nuta di hatinya?
Namun pertanyaan-pertanyaan itu hanya bergaung dalam diam. Kai ingin bertanya, tapi dia tidak ingin merusak hari spesial Senja. Pada akhirnya dia hanya diam. Menyimpan semua pertanyaan dalam hatinya, yang akhirnya menjadi dilema yang menghantui pikirannya.
Haruskah aku terus berjuang untuk kisah kita? Haruskah aku terus berjuang agar semua tentang kita kembali lagi seperti dulu? Atau haruskah aku melepaskan, merelakan kamu merasakan cinta yang lain, seperti yang kamu mau?
Berbagai pertanyaan terus berputar-putar di kepala Kai. Menciptakan badai yang menghantam hatinya teramat kuat.
Aku mencintai kamu, Mentari Senja. Dan aku ingin tetap seperti itu, selamanya.
...****************...
“Ih, pulang-pulang langsung tiduran. Mandi, ganti baju dulu, sono. Usir dulu tuh kuma-kuman dan virus yang ikutan pulang dari luar.” Ariana menyenggol Senja dengan lengan.
“Gue harus gimana ya, Ri?”
“Ya, tinggal jalan ke kamar mandi, trus guyur tuh badan. Kok malah nanya gimana.” Ariana masih mengajak sahabatnya itu bercanda. Sebenarnya dia tahu ada yang sedang dipikirkan Senja. Terlihat jelas di wajahnya saat melangkah memasuki kamar tadi.
“Gue bingung banget, Ri. Hiks ….”
“Cerita dulu coba, ada apa?” tanya Ariana, mendudukkan badannya, bersiap mendengar semua keluh kesah di hati sahabatnya.
“Gue harus cerita dari mana? Gue bingung. Coba kasih gue pertanyaan dulu, deh”
Ariana menggelengkan kepala. Senja memang kadang bertingkah aneh saat ada yang membebani pikirannya.
“Itu gelang baru di tangan lo, dapat dari mana?” tanya Ariana. Matanya baru saja melihat gelang di tangan Senja. Padahal gadis itu setahunya tidak suka memakai aksesoris di tangan.
__ADS_1
“Kado dari Mas Nuta. Dikasih waktu gue dipanggil ke ruangannya tadi siang. Bagus, ya?” jawab Senja sambil mengangkat tangannya ke atas. Mengarahkan tangannya ke arah lampu, meneliti gelang yang melingkar di sana.
“Ya iya lah bagus, harganya juga pasti nggak kaleng-kaleng sih itu.”
“Masa sih, Ri? Emang ini mahal ya?”
“Ya ampun, Jha? Lo bego apa gimana? Lo liat dong, ini tuh kayaknya dari emas putih deh. Trus permata-permata ungu itu, lo pikir permata mainan? Lo pikir itu perhiasan imitasi apa? Ya pasti mahal lah harganya” Ariana misuh-misuh pada temannya yang entah polos atau pura-pura polos itu.
“Lah gue pikir ini tu gelang biasa aja, Ri. Bukan dari emas putih atau permata asli gitu. Gue pikir ini tu perhiasan biasa yang harganya beberapa ratus ribu lah.”
“Senja, lo mikir deh. Mas Nuta itu siapa? GM kita, atasan kita kan? Trus dia kasih kado ke elo, cewek yang dia suka. Lo pikir dia bakalan kasih perhiasan imitasi? Ya nggak mungkin lah, impossible.”
“Serius nih? Apa gue balikin lagi aja, ya? Gue nggak mau ah terima hadiahnya kalo ternyata semahal itu.” Senja mendudukkan badannya, meneliti lagi gelang di tangannya.
“Ya kali, udah diterima, trus mau lo balikin lagi. Sekalian aja lo lempar tuh gelang ke mukanya dia,” sewot Ariana. Dia sedikit kesal melihat kepolosan temannya itu.
“Trus itu, kalung, satu set ya sama gelangnya?” tanya Ariana begitu matanya melihat kalung dengan liontin hati kecil menggantung keluar dari baju Senja.
“Ini kado dari Kai,” jawab Senja sambil menyentuh kalung di lehernya.
“Wih, gila nih temen gue. Dalam sehari dapat dua kado mahal. Kalo lo jual banyak tuh duit lo. Bisa buat traktir gue makan berbulan-bulan.”
“Geblek ni anak, malah mikirin makanan. Temen lo nih, lagi galau perasaannya.”
“Ya abis, kan lo aneh banget. Dapat kado mahal bertubi-tubi gitu malah bingung plus galau segala.”
“Tadi gue dijemput Kai kan ke radio. Trus sampe sore diajakin muter keliling jalan-jalan yang dulu sering kita lewati. Sampe muter-muter kampus juga.”
“Kok lo mau aja, sih. Panas, ntar item lagi. Pake sunscreen kan lo?”
Kali ini Senja benar-benar menoyor kepala sahabatnya itu. Akhirnya mereka tertawa terbahak-bahak lumayan lama. Menertawakan entah apa.
...****************...
__ADS_1