
"Balik yuk, udah sepi." Angga menepuk pundak Kai yang sempurna menjelma patung sejak kepergian Senja.
Kai menegakkan kepala, menatap sekeliling Landasan Udara yang ternyata memang sudah tidak ada pengunjung lagi. Hanya menyisakan stand-stand kosong tidak berpenghuni.
Lama Kai terpekur setelah kepergian Senja. Keputusan gadis itu untuk mengucapkan selamat tinggal, mematahkan sesuatu di dalam hatinya, membuat semangat hidupnya ikut hancur.
Otaknya seakan lumpuh, tidak bisa berpikir lagi. Entah apa yang harus dia lakukan setelah ini. Selama ini dia hidup untuk mengiringi langkah Senja. Pekerjaan yang dilakoni pun dipilih agar bisa selalu berdekatan dengan gadis itu.
Setelah ini aku gimana, Jha? Akan jadi apa aku tanpa kamu? Akan seperti apa hidupku tanpa kamu?
Tujuan hidupku selama ini adalah selalu bersama kamu. Lalu ketika kamu pergi, ketika kamu memohon untuk dilepaskan, aku harus bagaimana? Aku harus apa?
...****************...
"Apa Den Kai harus dibangunkan untuk sarapan, Buk?" tanya asisten rumah tangga pada pasangan suami istri Bachtiar Chaniago dan Indira Agustina yang sudah bersiap menyantap hidangan sarapan mereka.
"Kai? Bibik mimpi, ya? Mana ada Kai di rumah ini Bik." Indira menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Bik Irah, asisten rumah tangganya yang sudah berumur hampir enam puluh tahun itu.
"Den Kai pulang tadi abis subuh Buk, Pak. Bibik sendiri yang bukain pintu. Sekarang Den Kai tidur di kamarnya," jelas Bik Irah dengan raut wajah bahagia yang tidak bisa disembunyikan.
Perempuan yang sudah merawat Kai sedari baru lahir itu memang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dia teramat menyayangi Kai, menganggapnya sebagai anak yang tidak pernah dimilikinya.
"Bibik nggak mimpi kan? Kai pulang? Ke rumah ini?" tanya Indira tidak percaya.
"Benar, Buk. Den Kai sekarang tidur di kamarnya."
Indira tidak menunggu kalimat Bik Irah selesai, wanita itu langsung berlari menuju tangga, tujuannya adalah kamar Kai di lantai dua. Begitu sampai di depan kamar anaknya, Indira memutar knop pintu perlahan.
"Kai? Masih tidur, Nak? Mama masuk, ya?"
Tidak terdengar jawaban dari Kai. Indira masuk dan duduk di pinggir ranjang berukuran King itu. Kai terlihat tidur menelungkup dengan wajah dibenamkan di atas bantal.
Indira mengusap rambut sebahu Kai yang tidak diikat dan berantakan. Hatinya sangat merindukan anaknya itu. Rasanya ingin menghambur memeluk anak semata wayangnya itu, tapi dia takut mengganggu tidurnya.
Tiba-tiba Kai bergerak dari posisinya. Memeluk dan membenamkan wajah di pangkuan mama.
"Kenapa, Nak?" Indira bertanya lembut, naluri keibuannya mengatakan ada sesuatu yang terjadi.
"Kai kangen Mama, Papa, Bik Irah juga. Kai kangen rumah ini, Ma," jawab Kai dengan suara serak, masih belum mengangkat kepala dari pangkuan mamanya.
"Mama, Papa, Bik Irah, semua yang ada di rumah ini juga kangen sama kamu, Nak. Makasih ya, akhirnya kamu pulang, Mama bahagia, Kai."
Indira mengangkat kepala Kai dari pangkuannya. Menuntun anaknya itu untuk duduk lalu memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Maafin Kai ya, Ma. Maafin Kai. Maafin Kai udah nyakitin Mama dan Papa. Kai …."
"Sstt … Nggak apa-apa, Nak, nggak apa-apa." Indira menepuk pundak Kai yang tergugu dalam pelukannya.
Hatinya yakin ada yang sesuatu yang terjadi dengan anaknya itu. Sesuatu yang berat sampai membuat anak kesayangannya sekalut ini.
Lama Indira membiarkan Kai melepaskan resah dalam pelukannya. Tidak ada kata-kata yang terucap, Indira hanya mendekap erat, berusaha menenangkan. Wanita itu tidak bertanya, karena dia yakin, ketika sudah bisa menguasai hatinya, Kai akan menceritakan semuanya, tanpa diminta.
"Kita turun, ya? Sarapan dulu. Papa pasti udah kelaparan nungguin kita," ajak Indira begitu Kai mengurai pelukannya.
"Mama sama Papa sarapan aja duluan. Kai mau tidur lagi, belum tidur semalaman abis kerja, Ma." Kai kembali merebahkan badannya di ranjang.
"Ya udah, tidur aja. Kalo udah bangun nanti turun makan ya, Nak," jawab Indira sambil mengusap lembut kepala Kai sekali lagi sebelum berlalu keluar kamar.
Tadi malam setelah berkendara tidak tentu arah mengelilingi Kota yang sepi saat dini hari itu, Kai akhirnya memacu kendaraan roda duanya menuju rumah.
Ya, rumah. Bukan kontrakannya. Rumah yang ditempatinya sedari lahir. Rumah yang sudah bertahun-tahun tidak membuatnya rindu.
Setelah kepergian Senja yang mematahkan hatinya teramat sangat, tiba-tiba Kai merindukan rumah masa kecilnya. Tiba-tiba dia merindukan wanita yang sudah melahirkannya, merindukan ayah yang sejauh dia ingat sangat sedikit meluangkan waktu untuknya.
Mungkin dia hanya butuh tempat untuk pulang. Hatinya mencari tempat dimana dia merasa dibutuhkan.
Selama ini tempat itu adalah Senja. Begitu gadis itu memutuskan untuk keluar dari hidupnya, hati dan raganya membutuhkan tempat lain untuk pulang.
...****************...
"Katanya ngantuk, Pa, mau tidur lagi. Kayaknya ada sesuatu yang terjadi sama Kai, Pa. Tapi Mama belum tanya," jelas Indira sembari menyendokkan nasi goreng ke piring suaminya.
"Ada sesuatu gimana, Ma?"
"Kai kelihatan kalut dan berantakan banget, Pa. Belum tidur semalaman kayaknya."
"Kenapa nggak Mama tanya?"
"Anak kita itu udah gede, Pa. Kalo dia ngerasa perlu cerita, dia akan cerita nanti begitu dia tenang. Kita tunggu aja."
"Ya udah, Ma. Yang penting sekarang anak itu udah di rumah. Semoga kali ini dia benar-benar pulang ya, Ma."
"Iya, Pa. Tapi Papa jangan bahas soal ambil alih perusahaan dulu sama Kai, ya. Kita tunggu dia yang ngomong duluan."
"Iya, Ma. Papa paham."
Pasangan suami istri itu kemudian diam. Menikmati hidangan di piring dan larut dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Apa kondisi Kai ada hubungannya sama gadis itu ya, Ma?"
"Tebakan Mama sih iya, Pa. Apalagi yang akan bikin Kai kalut begitu kalo bukan soal pacarnya itu."
Bachtiar hanya mengangguk mendengar jawaban istrinya.
"Hari ini mama nggak berangkat ya, Pa. Urusan yayasan nggak ada yang urgent. Mama mau di rumah aja nemenin Kai. Mama nggak mau ntar kalo kita nggak ada di rumah, tiba-tiba Kai pergi lagi tanpa pamit. Rasanya hati Mama nggak akan kuat kalo Kai memutuskan tinggal di luar lagi, Pa."
"Iya, Mama di rumah aja. Papa harus tetap berangkat karena siang nanti ada meeting yang nggak bisa Papa wakilkan. Nanti Papa langsung pulang begitu meeting selesai."
Pasangan suami istri itu kembali melanjutkan sarapannya tanpa menyadari ada Kai di ujung tangga yang mendengar percakapan mereka.
Tadinya Kai keluar dari kamarnya dan turun ingin ikut sarapan bersama kedua orang tuanya. Perutnya melilit, dari siang kemarin belum ada makanan yang mampir. Begitu sampai di anak tangga paling bawah, telinganya menangkap percakapan orang tuanya.
Perlahan pemuda itu kembali membawa langkahnya mundur menuju kamar. Rasa lapar yang melilit di perutnya lenyap seketika.
Hatinya perih, ternyata kehadiran dengan segala tingkah polahnya selama ini, yang dia anggap benar, justru menyakiti orang-orang yang menyayanginya.
Orang tuanya, Senja, mereka tersakiti oleh sikap dan perilakunya.
Apa kehadiranku hanya beban?
...****************...
...Duuh.. Kasian banget siih Abang Kai 😢 ...
...Galau segalau-galaunya.....
...Kira-kira abis ini Kai gimana, Ya?...
...Ada yang bisa nebak nggak?...
...🥰...
...Jangan lupa ikutin terus kisahnya yaa, Guys.....
...Jangan lupa tinggalin jejak juga....
...Like, share dan komen yang banyak yaa... 🤗...
...Terima kasih udah baca yaa......
...Saranghae ❤️❤️...
__ADS_1