
"Ditemenin pacar nih ceritanya?" Indira menggoda Nuta yang dari tadi menatap gadis di sebelahnya dengan pandangan memuja yang terlihat jelas.
"Maunya gitu, sih. Doain ya Tante," jawab Nuta, menatap lembut Senja yang menunduk di sebelahnya.
Telinga Kai panas mendengar jawaban Nuta. Ini tidak bisa dibiarkan. Kai mengepalkan tangannya, kemudian melangkah menuju mamanya, Senja, dan laki-laki tidak jelas itu.
Sebelum langkahnya mencapai grup kecil itu, Valerie datang dari belakang dan menggamit lengan Kai.
“Main tinggal aja sih, Kai.”
Kai ingin menepis tangan Valerie, tapi mereka sudah bergabung dengan kelompok kecil itu, membentuk lingkaran kecil tanpa rencana. Kai berdiri tepat di sebelah Senja.
Matanya tertumbuk pada tangan Senja yang melingkari lengan laki-laki di sebelahnya. Kai menggertakkan giginya menahan geram. Tangan itu masih bertahan di sana. Bertahan menggamit lengan laki-laki bernama Nuta itu. Laki-laki yang pernah hampir di hajarnya sampai babak-belur, dan rasanya Kai ingin mengulanginya lagi saat ini.
“Nuta kenalin, ini anak Tante. Kai sini, kenalin ini Nuta, anaknya temen Papa.” Indira memperkenalkan mereka.
Kai hanya menatap Nuta sekilas. Jangankan mengulurkan tangan, senyum basa-basi saja enggan dia berikan. Pun dengan Nuta. Dia hanya balas menatap sekilas dalam diam.
“Kalo Senja udah kenal Kai kan, ya? Seniornya ya, katanya?” Indira mencoba mengalihkan pembicaraan. Menyadari ketegangan yang tercipta antara Nuta dan anaknya.
“Nuta apa kabar?” Valerie menyapa Nuta sebelum Senja sempat menjawab pertanyaan Indira.
“Loh, Valerie kenal Nuta juga?” Indira bertanya.
“Nuta itu mantan pacarnya Valerie, Jeng. Lumayan lama loh mereka pacaran. Katanya selera Nuta emang yang kayak Valerie gini, ….”
“Ikut aku.” Kai menarik tangan Senja agar mengikuti langkahnya menjauh dari sana. Dia tidak ingin Senja sampai mendengar kata-kata lanjutan yang akan dilontarkan teman mamanya itu. Sepertinya itu adalah kalimat yang sama seperti yang diucapkan anaknya sebelumnya. Kalimat mencela yang akan melukai perasaan Senja.
Senja tidak sempat menjawab. Pun Nuta tidak sempat menahan gadis itu. Semua mata dalam lingkaran kecil itu hanya menatap Senja yang menjauh mengikuti langkah Kai.
...****************...
“Apaan sih, Bang.” Senja menepis tangan Kai yang masih menggenggam pergelangan tangannya. Mereka sudah berada di taman yang berada tepat di samping Ballroom.
“Buat kamu aku kayak mainan ya, yang bisa ditarik-tarik sesuka hati kamu. Apa karena sekarang kamu udah kembali jadi diri kamu yang sesungguhnya, jadi kamu ngerasa punya kuasa buat ngelakuin apapun seenak jidat kamu?” amuk Senja akhirnya.
“Tadi itu lagi rame. Kamu nggak ngehargain perasaan aku. Kamu pikir aku nggak malu kamu tarik-tarik gitu? Di sana juga ada Mama kamu dan temannya, nggak sopan banget main tarik-tarik orang tanpa permisi gitu. Penampilan berubah, trus kelakuan juga ikutan berubah, ya?” Senja terus saja menyemburkan kata-kata pedas dari mulutnya. Hatinya teramat kesal.
“Lama nggak ketemu bukannya tanya kabar, malah main tarik gitu aja ...”
__ADS_1
“Kamu apa kabar?” tanya Kai, memotong kalimat amukan Senja yang kalau dibiarkan akan lama baru menemui ujung.
“Sekarang baru tanya,” sungut Senja.
“Kamu baik? Sehat? Kerjaan lancar?” Kai kembali bertanya.
Senja diam, menatap mata coklat terang di hadapannya. Ada sedikit haru menyelinap di hati, mendapati ternyata Kai belum berubah. Masih mempertanyakan kabarnya dengan cara yang sama. Ah, tidak. Hatinya tidak boleh lagi memberi celah untuk itu.
“Kamu jangan kebiasaan dong, udah main tarik orang, bikin malu. Terus seenaknya nanya kabar seolah nggak terjadi apa-apa. Kamu pikir …”
“Aku cuma nggak mau kamu terluka.”
“Hah?!”
“Kalo kamu tetap di sana, kamu akan denger kalimat yang akan membuat perasaan kamu terluka. Aku nggak mau itu. Aku nggak mau perasaan kamu terluka. Makanya aku ajak kamu menjauh dari sana.” Kai menatap mata bulat itu, mata yang dia rindukan tatapannya.
“Maksud kamu apa sih?”
“Temen Mama yang tadi lagi ngomong itu mamanya Valerie yang tadi berdiri di sebelah aku. Dan Valerie itu mantan pacarnya laki-laki yang datang sama kamu itu …”
“Namanya Nuta,” potong Senja.
“Namanya Nuta, Bang.”
“Terserah namanya siapa. Kalo kamu sebut nama dia sekali lagi aku akan hajar dia lagi. Aku pastiin kali ini dia berakhir di rumah sakit.” Kai menatap Senja kesal. Dia tidak rela nama laki-laki itu terus terucap dari bibir gadis itu.
“Lagian kamu ada hubungan apa sih sama dia? Ngapain datang kesini sama dia?”
“Aku nggak pantes ya ada di sini?” Senja mengalihkan pembicaraan. Dia paham maksud Kai. Gadis itu tahu kalimat celaan apa yang akan didengarnya jika terus berada di dalam ruangan resepsi tadi. Sejujurnya, dia bersyukur karena Kai menariknya dari sana.
“Bukan gitu maksud Abang, Jha.” Kai memelas, tidak ingin Senja salah paham dengan kata-katanya. Dia tahu bagaimana sensitifnya perasaan gadis itu.
“Valerie itu siapanya kamu? Pacar baru?” Akhirnya Senja tidak tahan untuk tidak mempertanyakan hal yang mengganggu pikirannya itu.
“Kenapa? Cemburu, ya?”
“Mimpi,” cebik Senja.
“Nggak apa-apa kok kalo kamu cemburu. Aku malah bahagia, loh. Jarang-jarang kan kamu cemburu sama aku.” Kai memasang senyum jahil, menggoda Senja yang mulai terlihat kesal.
__ADS_1
“Jawab aja sih, Kai,” rungut Senja.
“Woah, panggil nama aku aja nih sekarang? Gitu ya kalo lagi cemburu?”
Senja menatap Kai dengan tatapan tajam. Sementara yang ditatap hanya tertawa. Tawa renyah tanpa beban.
“Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Valerie, baru tadi ketemu dan dikenalin sama Mama. And, for your information, aku nggak ada niat buat deket sama dia kok.”
“Nggak nanya,” jawab Senja cepat.
“Kali aja kamu penasaran.”
Senja tertawa. Menatap laki-laki di depannya yang ternyata masih sama, masih Kai yang dulu dikenalnya. Hanya penampilannya yang berubah.
“Aku kangen kamu, Jha,” ucap Kai tiba-tiba. Menatap wajah manis dan mata bulat di depannya, membuat Kai tidak bisa membendung rindunya yang membuncah. Dia ingin gadis itu tahu perasaannya.
Senja terdiam. Entah bagaimana menggambarkan perasaan yang berkecamuk di hatinya saat ini.
Satu sisi dia senang Kai tidak berubah, masih punya rasa dan rindu yang sama untuknya. Tapi di sisi lain, dia tidak ingin Kai tetap menyimpan perasaan itu. Karena dia pun berusaha sekuat tenaga mengenyahkan perasaan yang tersisa untuk Kai dari hatinya.
Mereka akan selalu berada di jalan yang berseberangan. Mungkin tidak akan pernah menemukan titik untuk melangkah bersisian.
“Perasaan aku buat kamu masih sama, Jha. Aku ingin kamu tahu itu.” Lagi, Kai mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya. Dia ingin Senja tahu, berapa lama pun waktu yang terlewati, rasa di hatinya masih akan tetap sama.
“Akupun masih dengan permintaan yang sama, Bang.” Akhirnya hanya itu yang bisa diucapkan Senja.
Kai menatap Senja, terluka. Ternyata Senja juga masih sama. Masih dengan permintaan yang sama. Permintaan agar Kai menjauh dari hidupnya.
Mungkin ini belum saatnya takdir membukakan jalan untuk dia, dan cintanya. Atau apakah tidak akan pernah?
...****************...
...Ketemu lagi, dan terjadi perpisahan lagi. 💔...
...Kasian nggak sih, Guys?...
...Mohon dukungannya, ya.....
...Like, share dan komen jangan lupaa.. ❤️...
__ADS_1