Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 1 Pertemuan


__ADS_3

"Mentari Senja."


Senja mematung sesaat mendengar namanya dipanggil. Suara itu. Suara yang begitu familiar. Suara yang mengisi hari-harinya selama bertahun-tahun.


Suara dari orang yang membawa banyak perubahan dalam hidupnya. Suara dari orang yang menghadirkan kecewa terlalu dalam di hatinya.


Senja memilih berlalu begitu saja setelah tertegun sejenak. Memilih untuk mengabaikan panggilan di belakangnya. Berlagak seolah tidak mendengar seseorang memanggil namanya.


Senja berharap orang itu tidak mengejarnya, seperti dia berharap tidak pernah bertemu lagi dengan si pemilik suara. Tapi terkadang, hidup memang suka bercanda. Mengahadirkan lagi orang yang benar-benar ingin dilupakan.


"Mentari Senja." Sebuah tangan memegang pundak Senja dari belakang, membuat langkahnya terhenti. Hangat. Kehangatan yang sama, yang begitu dia kenal.


"Bang Kai." Senja menoleh seraya menggeser pundaknya agar terlepas dari tangan yang menggenggamnya. Senja berusaha tersenyum senatural mungkin.


"Kamu apa kabar? Sehat? Kerjaan lancar? Ngapain disini?" Kai mengajukan pertanyaan beruntun seraya tersenyum sumringah.

__ADS_1


Laki-laki itu begitu senang sepertinya bertemu dengan Senja. Senjanya. Senja yang dulu mengisi hati dan hidupnya. Bahkan sampai detik ini, Senja masih jadi pemilik hatinya.


"Aku baik, sehat. Kerjaan juga baik. Disini lagi kerja, eventnya EO kita yang hendel." Senja menjawab semua pertanyaan Kai sekaligus. Sama sekali tidak berniat bertanya balik, berharap pertemuan ini segera usai.


"Kamu sibuk? Kita cari tempat duduk dulu ya? Abang kangen sama kamu, kita ngobrol dulu." Kai mengajak Senja dengan tatapan berbinar yang dulu sama sekali tidak bisa dia tolak. Tapi tidak lagi untuk saat ini.


"Maaf nggak bisa, Bang. Aku lagi sibuk."


Tangan Kai memegang pergelangan tangan Senja ketika dia berbalik hendak segera meninggalkan Kai.


"Nomor kamu yang masih lama kan? Abang hubungi nanti, ya?" Senyum sumringah masih belum meninggalkan wajah Kai.


"Masih banyak hal yang pengen Abang omongin sama kamu, Jha." Wajah Kai terlihat berubah muram mendengar jawabaan Senja barusan.


"Mau ngomongin apa sih? Kenangan masa lalu, gitu? Mau ngobrolin kisah kita dulu? Aku rasa nggak perlu dan aku sama sekali nggak mau. Aku sudah kubur dalam-dalam semua cerita tentang kita, dan aku sama sekali nggak berniat buat ngungkit lagi semuanya. Aku pergi dulu, lagi sibuk." Senja berlalu meninggalkan Kai yang termangu mendengar ucapannya barusan.

__ADS_1


Kai menatap punggung Senja yang berjalan menjauh menuju rekan-rekannya yang memang terlihat sedang sibuk. Hatinya terlalu merindukan gadis itu. Gadis yang membawa begitu banyak perubahan dalam hidupnya. Senja adalah mata angin yang hadir dalam hidupnya yang tak tentu arah.


Satu tahun lalu mereka masih sama-sama. Masih menikmati hidup dengan cara mereka. Berjuang bersama untuk karir masing-masing, saling support satu sama lain. Tapi satu kesalahan Kai membuat Senja memutuskan untuk pergi dari hidupnya. Kesalahan yang tidak kecil memang. Tapi bagi Kai, kesalahannya, rahasia yang dia simpan juga tidak mudah untuk dibagi dengan orang lain, bahkan dengan Senja sekalipun.


Sering dia berniat untuk mengungkap rahasianya pada Senja, tapi entah kenapa lidahnya selalu kelu. Keberaniannya seakan terbang entah kemana. Sampai hubungan mereka menginjak tahun ketiga, Kai masih tidak mampu mengungkapkan rahasianya pada Senja.


Pada akhirnya, Senja malah mengetahui rahasia yang disimpan Kai rapat-rapat dari mulut orang lain. Itulah yang membuat Senja akhirnya memutuskan untuk pergi, meninggalkan hidup Kai, meninggal semua cerita tentang mereka. Bukan karena Senja tidak lagi mencintai Kai, tapi karena kecewanya teramat besar.


Satu tahun ini, Kai sengaja menghilang dari hidup Senja. Hanya mengamatinya dari jauh. Menghindar saat mereka hampir berpapasan. Tidak mudah memang, tapi Kai tetap melakukannya. Bukan karena dia ingin Senja benar-benar melupakannya. Bukan karena perasaan dan hatinya telah berubah.


Kai melakukannya agar Senja menenangkan hati dan pikirannya. Kai melakukannya untuk memberi Senja ruang. Berharap waktu akan mampu mengikis sedikit demi sedikit kecewa di hatinya. Berharap, setelah waktu berlalu sekian lama, akhirnya Senja akan berlapang hati mendengar penjelasannya, memandang dari sudut dirinya. Lalu mereka bisa berbaikan lagi, menjalani lagi hari-hari mereka seperti biasa.


Ternyata Kai salah. Waktu tidak membuat luka di hati Senja sembuh. Malah membuat kecewanya semakin menumpuk. Membuat Senja semakin tidak ingin bertemu lagi dengan Kai. Waktu yang telah berlalu membuat Senja semakin ingin melupakan Kai.


Tidak lagi. Kai tidak akan menghindari Senja lagi. Sudah cukup dia memberi waktu untuk Senja. Dia akan mulai berjuang lagi untuk cintanya.

__ADS_1


Kai memutuskan akan kembali memperjuangkan apa yang pernah dimilikinya. Hati Senja, hati Senjanya.


...****************...


__ADS_2