Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 15 Hari yang Kacau


__ADS_3

Kendaraan roda dua yang dikendarai Kai melaju dengan kencang. Mengubah semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi menjadi deru memekakkan yang tidak ramah di telinga. Lampu sorot kendaraan menyelinap di antara pekat seolah sedang mengejar sesuatu. Meliuk menyusuri jalan berkelok yang terus menurun menuju tepian pantai. Seperti terburu menuju kota yang sudah menjelma jadi lautan cahaya.


Dua insan yang berboncengan di atas kendaraan itu sama sekali tidak mengeluarkan suara. Larut dalam pikiran masing-masing. Hanya belitan erat di pinggang yang membuat si pengendara menyadari kehadiran gadis yang duduk di boncengan. Bukan, sama sekali bukan menunjukkan kemesraan, tapi mengisyaratkan ketakutan. Si gadis takut karena kendaraan terus melaju dan dipacu di atas ambang batas kecepatan.


Kai melajukan kendaraan roda duanya sekencang itu karena ingin melampiaskan amarah yang menumpuk di dadanya. Tidak peduli gadis yang membonceng di belakangnya memeluk begitu erat, ketakutan. Tidak peduli juga dengan pengendara lain yang mengumpat, menyumpahinya karena menyalip tanpa aturan.


Sementara Senja pun larut dalam lamunan. Pikirannya berputar-putar mencari alasan, kenapa Kai bisa semarah itu. Orang yang selama ini tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar, tidak pernah marah meskipun kesabarannya habis, tiba-tiba berubah seolah menjadi orang lain. Senja tidak mengerti, diakah yang selama ini belum benar-benar mengerti dan paham bagaimana Kai, ataukah laki-laki itu yang tiba-tiba berubah karena kesurupan sesuatu.


Begitu motor yang dikendarai Kai sampai di kosan Senja, gadis itu segera melompat turun meskipun motor belum benar-benar berhenti. Kemudian tanpa menoleh atau mengatakan sesuatu lagi, bergegas berlalu memasuki gerbang kosannya. Begitu sampai di depan pintu, diletakkan jempolnya di smart lock yang mengeluarkan bunyi tiiitt panjang menandakan pintu terbuka. Kemudian Senja gegas mengayunkan langkahnya masuk ke dalam.


Sementara Kai juga tidak mau kalah. Begitu dirasakannya Senja sudah turun dari boncengan motor, tanpa menunggu lagi dia langsung tancap gas dari sana. Tidak merasa perlu menoleh dan melihat Senja masuk ke dalam kosannya terlebih dahulu, seperti yang biasa dia lakukan.


Hatinya masih panas. Emosinya masih belum reda. Dicengkeramnya pegangan stang motor dengan sangat kuat.


Brakk


Kai meninju kaca spidometer motornya dengan kuat. Menyalurkan kemarahan yang masih menguasai hati dan pikirannya. Tidak dirasakannya darah yang kembali mengalir di tangannya. Tidak diperdulikannya spidometer yang hancur berderai.


Jangan harap kamu akan bisa dekat dengan laki-laki lain. Siapapun yang berusaha mendekati kamu, aku akan buat hidupnya tidak tenang. Tidak boleh ada yang memiliki kamu selain aku. Kai berjanji dalam hatinya.


...****************...


Hari ini Senja datang sangat terlambat. Jadwal siaran jam sembilan pagi, dia malah baru bangun jam delapan lewat empat puluh lima menit. Alhasil, gadis itu hanya sempat gosok gigi dan cuci muka lalu mengambil pakaian apapun yang terlihat dan segera memakai dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang smartphone untuk memesan ojek online.

__ADS_1


Benar-benar pagi yang kacau. Ini semua gara-gara Kai. Semalam ketika melihat kemarahan Kai, Senja hanya bisa terdiam. Begitu kaget karena tidak pernah menyaksikan hal itu sebelumnya.


Bahkan ketika Kai meninju bebatuan hingga tangannya berdarah, Senja semakin terpaku. Tidak pernah menyangka akan melihat Kai dalam kondisi emosi meluap-meluap seperti itu. Tapi saat merebahkan dirinya di atas kasur, bersiap memejamkan mata Senja baru teringat semuanya.


Membayangkan kemarahan yang menyelimuti wajah dan mata Kai, membuat gadis itu bergidik. Belum lagi ancamannya yang penuh penekanan, membuat mata Senja tidak mau terpejam. Sebelum adzan subuh berkumandang, barulah gadis itu tertidur. Dan akhirnya, malah terlambat untuk siaran hari ini.


Selesai memakai pakaian yang diambil serampangan, gadis itu menyambar tas yang semalam diletakkannya dekat kasur. Lalu mengambil sembarangan alas kaki yang terlihat, gegas mengunci pintu, dan melesat berlari ke arah luar. Beruntung ojek online yang dipesannya sudah menunggu di depan gerbang. Tanpa basa-basi Senja langsung menaiki boncengan motor itu.


“Yuk, jalan, Bang. Ngebut ya, saya telat kerja, nih,” perintah Senja pada Abang-abang pengemudi ojek online.


“Pakai helmnya dulu, Mbak,” jawab yang driver ojol itu dengan sopan.


Senja mengulurkan tangan untuk mengambil helm yang disodorkan padanya, tapi kaget sendiri karena tangannya penuh. Satu memegang tas dan smartphone, satunya lagi memegang sepatu yang tadi sambarnya.


Bergegas Senja memakai sepatu itu di kedua kakinya, lalu menyambar helm dan memakainya. Kemudian kembali memerintahkan driver ojol itu untuk jalan.


“Dua belas ribu ya, Bang? Nih duitnya.” Senja langsung melompat turun begitu motor ojol itu sampai di depan gerbang radio Arshinta. Menyodorkan uang lima puluh ribu kepada drivernya. Sepasang kaki menghentak-hentak tanah, jalan di tempat, menandakan yang punya kaki sedang tidak sabaran.


“Ada duit seribuan nggak, Mbak?” tanya driver ojol sambil menghitung uang pecahan sepuluh ribuan di tangannya.


“Udah kembaliannya segitu aja gapapa, Bang.” Tanpa menunggu jawaban, Senja segera berlari memasuki gerbang. Baru beberapa langkah berlari, Senja berbalik lagi. Ingat helm milik abang-abang ojol masih bertengger di kepalanya.


Aarrgghh … Mamp* Gue. Alamat kena teguran lagi ini*. Senja berteriak dalam hati sambil berlari dan melihat jam di pergelangan tangannya.

__ADS_1


Begitu masuk ke dalam ruang siaran, Senja mendapati Maria duduk di kursi belakang mic dengan wajah jutek.


“Kemana aja sih, Lo. Telat nggak kira-kira. Setengah jam lebih bayangin. Lo pikir gue nggak punya kerjaan lain apa?” Maria berdiri dari kursi sambil mengobel panjang lebar pada Senja.


“Berisik lo. Minggir sono. Makasih udah jagain ruang siaran sampai gue datang,” jawab Senja yang langsung mengambil alih kursi dan menggerakkan mouse untuk mengecek list lagu di komputer.


“Heh, kamp**t lo, ya. Bantuin kek set lagu agak banyak, udah tau gue telat juga. Emang breng**k lo ya, Maria, cari gara-gara terus sama gue.” Senja berteriak memaki Maria begitu mengecek program di komputer yang ternyata sudah memutar lagu terakhir di list dan sudah detik-detik terakhir lagu akan habis.


“Siapa suruh telat, lo. Ngabarin aja enggak. Masih untung gue set tuh lagunya sampe lo dateng. Kalo nggak, auto dipecat deh, lo.” Maria balas berteriak menanggapi teriakan Senja dan segera berlalu keluar.


Senja tidak lagi memperdulikan teriakan Maria. Tangan dan matanya fokus pada komputer di depannya. Memasukkan list lagu yang harus diputar, juga mencari informasi untuk bahan siarannya hari ini.


...****************...


Tok


Tok


Tok


Ada yang mengetuk pintu begitu Senja baru saja meletakkan headphonenya setelah closing.


“Mbak Senja dipanggil Pak GM, ditunggu di ruangannya sekarang.” Sebuah kepala muncul di ambang pintu tanpa diminta, dan langsung hilang lagi tanpa menunggu jawaban.

__ADS_1


De javu. Sepertinya Senja akan menerima teguran lagi. Ah, memang si*l sekali nasibnya hari ini. Dan semuanya gara-gara Kai sia**n itu.


...****************...


__ADS_2