
Senja membuka kado yang diberikan oleh Nuta. Sebuah kotak persegi kecil yang dibungkus dengan kertas berwarna ungu muda dan pita warna ungu tua sebagai pengikatnya.
“Mas?” Senja menatap Nuta meminta jawaban. Ada keraguan menyergap begitu melihat apa yang terpampang saat kotak itu di buka.
Nuta tersenyum, mengambil gelang rantai serut tipis berwarna perak dengan ukiran huruf S berhias permata kecil-kecil warna ungu di tengahnya.
Nuta menarik tangan kiri Senja, memakaikan gelang dengan model sederhana namun terlihat sangat cantik itu.
“Ternyata pas banget di tangan kamu. Dipake, ya,” ucap Nuta dengan nada dan senyum lembut, menatap tepat ke mata bulat gadis itu.
“Mas, ini ….”
“Aku berharap gelang ini bisa jadi pengikat takdir kita. Aku yakin kamu ngerti arti semua sikap aku ke kamu selama ini. Tanpa harus aku ungkapkan dengan kata-kata, aku yakin kamu paham.”
“Makasih, Mas. Tapi …”
“Nggak usah pake tapi, Jha. Aku bukan lagi nembak kamu kok. Aku cuma ngungkapin apa yang aku rasa, jaga-jaga kalo kamu nggak paham selama ini. Selain itu, aku ungkapin ke kamu juga supaya aku lega. Terlalu dipendam, jadi seperti ada beban, di sini,” jelas Nuta sambil menunjuk dadanya.
Senja balas menatap mata Nuta. Jelas dia melihat ada ketulusan di dalam sana.
“Mas Nuta, aku …”
“Nggak usah dijawab sekarang, Jha. Aku tahu kamu butuh waktu. Kamu nggak pernah cerita, tapi aku yakin masih ada yang mengganjal di hati kamu. Aku akan tunggu kamu, berapa lama pun waktu yang kamu butuh, aku akan tunggu.”
Nuta menggenggam pergelangan tangan Senja dengan gelang yang baru saja dipakaikannya membingkai dengan indah di sana.
“Semoga gelang ini jadi pengingat, ada yang selalu menunggu kamu. Ada aku yang tulus mengharapkan kamu membalas perasaanku.”
“Aku nggak tau harus ngomong apa,” jawab Senja sambil menunduk, menghindari tatapan Nuta. Gadis itu benar-benar tidak tahu harus dengan kata-kata apa menjawab semua pernyataan Nuta.
“Tanpa kamu ngomong pun aku ngerti, kok. Aku akan tunggu kamu. Tapi jangan kelamaan, ya. Ntar aku jadi bujang lapuk.” Akhirnya Nuta kembali menjadi dirinya yang biasa. Menyelipkan canda di setiap kata-katanya, agar gadis itu nyaman dan tidak canggung bersamanya.
Senja tertawa. Lega karena tidak harus menolak Nuta secara langsung. Hal yang salah memang. Tapi dia benar-benar lega. Mungkin ada sedikit ruang di hatinya yang mulai terbuka untuk Nuta.
...****************...
“Lama amat di ruangan Ayang GM. Dapat kado apa tuh? Dapat kecupan sayang juga dong, ya?”
Pertanyaan-pertanyaan ledekan langsung menyergap gendang telinganya begitu Senja membuka ruangan kantor. Tangan kirinya menyelinap ke belakang punggung sebelum ada yang menyadari. Dia akan jadi bahan ledekan berminggu-minggu kalau ada yang tahu dia menerima hadiah gelang dari atasan mereka itu.
“Ih, udah nggak jaman lah sekarang kecupan sayang, yang ada tuh …”
__ADS_1
“Berisik, woy. Gosip mulu. Jadi mau makan di mana nih?” potong Senja sebelum pembicaraan rekan-rekannya jadi melantur kemana-mana.
“Warung bakso yang baru buka di jalan Sudirman aja.” Ulfa yang menjawab mewakili teman-temannya.
“Oke. Yuk, berangkat.”
“Woy, gue gimana nih? Tega banget ninggalin gue sendiri. Ntar aja dong, Jha, traktirannya sebelum magrib. Jadi kan gue bisa ikut.” Maria yang sedang bertugas melongokkan kepalanya dari pintu ruang siaran.
“Kalo magrib tuh ke masjid, Mar. Bukan ke warung bakso. Kualat, lo.” Kali ini Ariana yang bersuara meledek Maria habis-habisan.
“Lo siaran aja, Mar. Ntar kita bawain buat lo.”
Begitu mereka keluar dari ruangan, Nuta juga keluar dari ruangannya.
“Mau kemana nih rame-rame?” tanya Nuta.
“Mau makan bakso, Mas. Senja mau traktir kita, nih.”
“Saya nggak diajak?” Nuta kembali basa-basi bertanya. Padahal dia sudah tahu mereka akan pergi makan-makan. Tadi Senja sudah memberi tahu sebelum keluar dari ruangannya.
“Tanya sama yang ulang tahun, Mas. Kita sih ngikut aja.”
“Saya boleh ikut, Jha?” Nuta menatap gadis yang berulang tahun itu, bertanya dengan senyum formal ala atasan.
“Nggak masalah, udah biasa ini kok. Yuk, berangkat. Kita pake mobil aja. Sebagian ikut mobil saya, sebagian lagi ikut mobil kantor.” Nuta memberikan kunci mobil kantor pada Nino, hanya mereka berdua pria yang ada dalam rombongan itu.
“Ciee … Ada yang dompetnya aman, nih. Ada Ayang dong yang bayarin.”
Senja hanya menjawab ledekan rekan-rekannya itu dengan gelengan kepala. Sementara Nuta, malah senyum-senyum, entah apa maksud dari senyumannya.
...****************...
Ting!
Ponsel di dalam tas Senja berbunyi, menandakan ada pesan masuk.
Kalo acara sama teman-teman udah kelar, kabarin ya, Jha. Abang mau jemput.
Tanpa membalas pesan dari Kai itu, Senja kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Nggak dibalas chatnya?” tanya Nuta yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Senja.
__ADS_1
Mereka sedang berada di mobil Nuta, dalam perjalanan pulang kembali ke kantor setelah makan bakso sepuasnya. Senja duduk di kursi depan, di sebelah Nuta yang sedang menyetir.
“Nanti aja, Mas.” jawab Senja pendek.
“By the way, makasih loh, Mas, udah bayarin makanan kita tadi. Ntar aku ganti ya, aku transfer balik. Mas Nuta kirim nomor rekeningnya ntar, ya.”
“Nggak usah, Jha. Santai aja. Ada aku yang ikut, ngapain kamu yang bayarin.”
“Tapi kan aku yang ulang tahun, Mas. Aku jadi nggak enak. Aku ganti aja, ya.” Senja masih bersikukuh dengan keinginannya.
“Nggak usah, Jha. Aku sengaja ikut, niatnya emang mau traktir mereka kok. Kemaren ada iklan dengan budget besar baru tanda tangan. Kebetulan kamu hari ini lagi ulang tahun, jadi sekalian aja.” Nuta menjawab tanpa menoleh, fokus dengan jalanan di depannya.
“Aku nggak enak, loh, Mas.”
“Kalo kamu maksa, boleh ganti deh. Tapi gantinya traktir aku makan aja kapan-kapan. Oke?”
“Oke deh, Mas. Setuju.”
...****************...
Ting!
Kembali ada pesan masuk ke ponsel Senja begitu mobil Nuta berhenti di parkiran radio Arshinta.
Abang tunggu depan gerbang ya, Jha.
Senja memandang ponselnya. Membaca pesan dari Kai.
“Mas Nuta. Makasih ya traktirannya. Kue dan kadonya juga makasih. Aku izin nggak balik ke dalam ya, Mas, ada yang nungguin di luar. Laporan hari ini, aku kirim via email aja, ya?” Senja berbicara pada Nuta yang sudah akan berjalan ke arah dalam.
“Iya, sama-sama. Gelangnya dipake terus, ya. Laporannya besok aja juga nggak pa-pa.”
Nuta menjawab disertai senyum dan anggukan. Ditatapnya punggung Senja yang berjalan menuju gerbang.
Nuta tidak melihat siapa yang menunggu gadis itu di sana. Tapi dia yakin orang itu adalah ganjalan yang membuat Senja butuh waktu agar bisa membuka hati untuknya.
...****************...
...Uwu.. Ternyata kadonya gelang, guys. Bukan cincin. Gelang pengikat takdir katanya 🤭...
...Makasih semuanya udah baca....
__ADS_1
...Ditunggu ya kelanjutannya....
...Jangan lupa vote, like dan komen yang banyak 🤗🤗...