Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 58. Pembalasan Terbaik (1)


__ADS_3

“Ah, Jeng Indah nggak tahu, ya. Orang yang kelihatan baik, belum tentu dalamnya juga baik, loh, Jeng. Apalagi orang yang nggak selevel sama kita ….”


Senja berdiri dan menghampiri meja yang ditempati oleh Safira beserta anak dan suaminya. Dia tidak bisa berdiam diri lagi. Dia tidak akan membiarkan kalimat hinaan kembali lolos dari bibir wanita itu.


"Ibu maaf, apa ada yang kurang berkenan dari pestanya? Mungkin soal makanan? Atau kenyamanan ruangan? Ibu bisa kasih tau saya," ucap Senja dengan nada sangat ramah, sangat terkesan basa-basi.


"Kenapa saya harus kasih tau kamu? Kamu siapa emangnya? Cuma MC aja belagak banget. Mentang-mentang duduk semeja sama keluarga pengantin, jadi kamu ngerasa jadi keluarga juga? Lucu banget."


Senja sudah memperkirakan bahwa jawaban seperti itulah yang akan dia dapatkan dari wanita di depannya itu. Tentu dia juga sudah menyiapkan kalimat balasan.


"Ibu bisa kasih tau saya karena acaranya WO saya yang handle. Ini kartu nama saya, mungkin nanti Ibu butuh WO buat nikahan Mas Nuta atau butuh EO, Ibu bisa hubungi saya."


Senja meletakkan di depan Safira sehelai kartu nama cantik dengan aksen gold yang diambilnya dari clutch bag yang dia pegang. Namanya sebagai Founder Loqui Ent. tercetak pada kartu nama itu.


"Oh, kantor saya juga bisa bantu tangani loh kalo Arshinta mungkin kewalahan buat pelatihan penyiar barunya, hubungi saya aja. Saya akan bantu." Senja kembali menambahkan.


Safira sudah akan membuka mulut untuk membalas semua ucapan Senja, tapi urung dia lakukan. Di meja sebelah baru saja datang keluarga Bachtiar Caniago. Mereka sedang bertukar sapa dengan keluarga pengantin. Safira tentu tidak ingin menodai image keluarganya di depan kolega yang disegani banyak orang itu.


"Jeng Indira apa kabar?" Safira meraih tangan Indira, istri konglomerat pemilik kerajaan bisnis di Kota ini. Secara sengaja Safira menyikut Senja agar bergeser ke belakang, seolah memberi isyarat bahwa dia tidak pantas berada di antara mereka.


"Loh, ini Nak Senja, kan ya? Apa kabar?" Indira menyapa sebelum Senja melangkah mundur dari sana.


"Kabar baik, Bu. Ibu apa kabar?. Saya terharu lo Ibu masih ingat sama saya." Mau tidak mau Senja menjawab sapaan dan uluran tangan Indira.


"Saya mana bisa lupa sama anak sebaik dan secantik kamu. Saya kabar baik. Lama nggak ketemu kamu makin cantik, ya?" Indira masih menggenggam tangan Senja, menarik gadis itu semakin dekat.

__ADS_1


"Ah, Ibu bisa aja. Saya sih masih kalah cantik dari Ibu."


"Bisa aja kamu nyenengin orang tua." Indira tertawa, kemudian menoleh ke arah anaknya. "Kamu inget Senja, Kai? Dia adik tingkat kamu dulu, loh, katanya."


Senja membalas tatapan mata elang yang dia tahu sudah menatapnya sedari tadi.  Mata itu seolah meluapkan kerinduan melalui tatapan.


"Bang Kai apa kabar?" sapa Senja pada si pemilik tatapan yang seolah mencoba menenggelamkannya di dalam manik hitam itu.


"Jeng Indira kenal sama gadis ini?" Safira menyerobot obrolan sebelum Kai sempat menjawab. Dia tidak rela gadis yang tidak selevel dengan mereka justru mendapat lebih banyak perhatian.


"Dulu waktu saya talkshow di Arshinta, Nak Senja penyiarnya, Jeng. Saya terkesan banget sama pribadinya. Mana cantik banget lagi, jadi saya nggak lupa. Nak Senja ini juga adik tingkatnya Kai waktu kuliah dulu."


"Oh, dia emang karyawan kita dulu. Eh, tapi Hati-hati loh, Jeng. Jaman sekarang anak-anak kita harus bener-bener diperhatiin. Diingetin terus. Mereka kadang nggak bisa menilai kualitas orang. Mana orang yang tulus, mana yang cuma sekedar mau memanfaatkan, mereka ga tau." Safira mulai mencari celah untuk menjatuhkan Senja lagi. Entah kenapa dia seperti punya dendam kesumat dengan gadis itu.


"Mungkin anak Tante yang begitu. Kalo saya, sih, sekali ketemu aja udah bisa menilai kualitas seseorang. Contohnya kayak Senja. Di pertemuan pertama aja dulu saya langsung tahu dia gadis yang tulus dan baik. Saya pura-pura miskin aja dulu dia tetap mau kok temenan sama saya. Sering traktir saya malah." Kai akhirnya bergabung dalam percakapan.


"Pak Bachtiar, Bu Indira, kami duluan, ya. Masih ada dua kondangan yang mau didatangi. Ayuk, Mi. Permisi semuanya." Andika, ayah Nuta, akhirnya turun tangan. Dia langsung menggandeng istrinya menuju pintu keluar.


Jika dibiarkan, Andika tahu istrinya itu akan meladeni Kai dan memancing keributan di sana. Andika tentu tidak ingin berseteru dengan keluarga Caniago. Dia masih membutuhkan kerja sama dengan perusahaan mereka.


Setelah Nuta dan kedua orang tuanya meninggalkan lokasi pesta, Senja melanjutkan obrolan dengan Kai dan orang tuanya. Tidak lama, hanya sekitar sepuluh menit, karena para tamu undangan yang hadir juga banyak yang ingin beramah tamah dengan mereka.


“Temenin ambil makanan, yuk, Jha. Kasih rekomendasi yang enak.” Kai menghampir Senja yang sudah bergabung dengan Bu Indah dan keluarganya.


“Sendiri aja gimana, Bang? Aku bentar lagi mau gantiin nge-MC lagi. Itu temanku juga mau makan,” jawab Senja. Dia tidak ingin terlihat bersama Kai di tengah keramaian tamu undangan yang bisa dipastikan sebagian besar kenal dengan laki-laki itu.

__ADS_1


“Ayolah, Jha. Sebentar aja. Aku bosen ngobrol sama orang-orang yang nggak abis-abis itu. Mau kabur dulu sebentar. Kalo aku sendiri ntar pasti ada yang nyamperin.” Kai mengucapkan kalimatnya dengan wajah memelas yang membuat Senja tertawa. Sepertinya kali ini Kai serius.


Akhirnya Senja setuju menemani Kai berjalan menuju meja prasmanan. Dia juga merekomendasikan makanan yang akan disukai oleh laki-laki itu. Obrolan mengalir seperti biasa, dinding yang sengaja dibangun Senja selama ini seolah membenamkan diri sejenak.


“Kantor lancar, Jha?” Setelah obrolan soal makanan, akhirnya Kai bertanya soal Loqui Ent., banyak sebenarnya yang ingin dia tanyakan.


“Alhamdulillah lancar. Makasih banyak ya, Bang.”


Kai mengernyitkan kening, tidak paham dengan maksud gadis di depannya. “Makasih buat apa, Jha?”


“Makasih udah bantu aku sejauh ini. Bunga waktu peresmian Loqui Ent. juga makasih.” Senja menatap Kai dengan senyum tulus tersungging di bibirnya.


“Maksudnya apa sih, Jha? Aku bantu apa? Aku …” Sebelum Kai sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah cubitan melayang ke lengan lelaki itu.


“Aduh, KDRT terus sih, Jha,” ringis Kai sambil mengusap lengannya.


“Abis, kelamaan sih pura-pura polosnya. Kan jadi kesel.” Senja menatap Kai dengan wajah kesal, tapi kemudian tertawa melihat wajah meringis laki-laki itu.


“Aku tau Abang yang kasih instruksi buat ambil MC dan talent dari Loqui Ent. buat semua acara kantor Abang kan? Bahkan ga cuma perusahaan media, tapi semua lini bisnis Batiago. Belakangan juga selalu pake jasa EO kita. Makasih banget buat semua itu.” Senja menatap dalam, ada ketulusan tergambar di balik mata bulatnya.


“Karena aku nggak bisa bantu dengan cara lain. Cuma itu yang bisa aku lakuin. Eh, tapi kamu nggak marah, Jha? Aku pikir kamu bakalan ngamuk.” Kai tersenyum menggoda.


“Udah dibantuin segitu banyak masa malah marah, sih. Lagian kamu kan cuma mengarahkan, buat dapat duitnya kan aku butuh usaha juga. Aku bener-bener harus cari MC dan talent yang bagus biar tim kamu puas. Aku kerja keras juga kok. Jadi nggak ada alasan buat marah, karena kamu nggak kasih secara cuma-cuma. Kalo kamu kirim-kirim makanan tiga kali sehari kayak penguntit, baru aku marah.”


Kai tersenyum menatap Senja yang menjelaskan dengan bersemangat. Setitik harapan kembali terbit di hatinya. Apakah takdir akan berbaik hati membukakan kembali jalan untuk mereka?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2