Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 12 Rahasia Kai


__ADS_3

Ruangan radio Arshinta FM hari ini terlihat sedikit berbeda. Di luar ruangan terlihat dua orang laki-laki berbadan tegap dengan pakaian serba hitam berdiri di depan pintu. Berdiri membatu seperti tengah menjaga sesuatu. Nampaknya meraka adalah bodyguard seseorang yang berada di dalam.


Lalu di dalam ruangan, di sofa panjang dekat dinding duduk dua orang wanita berpakaian formal. Wanita di sebelah kanan sibuk dengan catatan di tangannya, sementara wanita di sebelah kiri terdengar sedang bercakap-cakap di telepon. Dua orang wanita itu jelas bukan penyiar atau staff radio Arshinta. Mereka adalah sekretaris seseorang yang sekarang sedang jadi bintang tamu di dalam ruang siaran.


Beberapa penyiar radio Arshinta juga terlihat duduk dan bercengkrama di atas karpet. Tidak biasanya mereka akan berkumpul seramai itu, kecuali ada meeting atau sedang ada event, atau ada orang penting yang jadi bintang tamu di dalam ruang siaran hari itu.


Suasana ruang siaran juga terlihat berbeda. Di dalam sana tidak hanya ada penyiar yang sedang bertugas. Di kursi seberang meja terlihat duduk seorang wanita dengan sanggul rapi dan dandanan tak bercela.


Wanita berumur pertengahan empat puluhan itu adalah Indira Agustina.


Meskipun umurnya sudah hampir mendekati setengah abad, wajahnya masih terlihat sangat muda dan kecantikan jelas terlihat di sana. Wanita itu adalah istri Bachtiar Caniago, seorang pengusaha yang merajai bisnis hotel, mall dan juga media.


“Nah, itu tadi, ya, beberapa tips ala Ibu Indira buat Arshinta Fam, terutama yang perempuan nih, yang ingin mulai terjun ke dunia bisnis. Nanti kita masih akan berbincang lagi dengan Ibu Indira, tapi kita ke lagu yang satu ini dulu. Stay tune.” Setelah mengakhiri VO dengan memutar lagu A Thousand Year Christina Perri, Senja yang bertugas sebagai penyiar saat itu meletakkan Headphonenya di atas meja.


“Minum dulu, Buk.” Senja mempersilahkan bintang tamunya hari itu untuk meminum minuman yang sudah terletak di atas meja.


“Nak Senja udah lama jadi penyiar di sini?” Indira memulai percakapan setelah minum beberapa teguk.


“Lumayan, Buk. Tahun ini udah jalan lima tahun.”


“Masih kuliah?”


“Udah wisuda, Buk.”


“Dulu kuliah dimana?” Indira terus bertanya pada gadis di depannya. Ada sesuatu yang ingin dia pastikan.

__ADS_1


“Di Universitas Negeri, Buk. Jurusan Sastra Indonesia.” Senja menyebutkan nama kampus serta jurusannya sekalian.


“Oh, iya? Anak saya juga kuliah di sana, loh. Tapi lebih tua dari kamu sih kayaknya.”


“Oh, ya? Namanya siapa, Buk? Mungkin saya kenal.” Senja balik bertanya, sekedar basa-basi untuk menjaga kesopanan.


“Nama anak saya Kai Sakha Caniago. Kamu kenal?”


Wajah Senja memucat mendengar nama yang disebutkan oleh Indira. Itu adalah nama kekasihnya. Tapi selama ini dia tidak pernah tahu kalau Kai adalah anak dari pasangan pengusaha sukses yang sangat terkenal di kota ini.


Pernah dulu Senja bertanya, karena nama belakangnya yang sama, tapi Kai menjawab tidak ada hubungan keluarga sama sekali dengan Bachtiar Caniago yang ternyata adalah ayahnya itu.


Tiga tahun mereka menjalin hubungan, Kai memang sangat jarang menyinggung soal keluarganya. Yang pernah diceritakan pada Senja hanyalah dia anak tunggal dan ayahnya sangat temperamen. Karena itu Kai tidak tahan tinggal satu atap dengan orangtuanya dan memutuskan untuk hidup mandiri. Hanya itu yang Senja tahu.


“Nak Senja kenal sama anak saya?” Indira kembali bertanya.


“Iya, kenal, Buk. Bang Kai senior saya.” Senja mencoba menghalau awan berat yang sudah menggelayuti hatinya. Suasana hatinya tidak boleh rusak, atau siarannya hari ini akan berakhir berantakan.


“Kenal dekat?”


“Enggak juga, Buk. Cuma kenal sebagai senior-junior aja,” jawab Senja. Memutuskan untuk tidak berkata jujur, karena ternyata selama ini Kai juga tidak pernah jujur kepadanya.


“Kamu tahu nggak anak saya sedang dekat atau sedang pacaran dengan siapa?”


“Maaf, Buk. Saya nggak tahu.”

__ADS_1


“Hah. Saya tuh selalu pusing dengan sikap Si Kai. Nggak mau kuliah di jurusan yang kami, orangtuanya, inginkan. Malah memilih kuliah di Jurusan Sastra yang tidak ada hubungannya dengan bisnis. Padahal dia anak tunggal yang harus dipersiapkan untuk mewarisi dan meneruskan usaha kami.” Indira sengaja menjelaskan posisi Kai sedetail mungkin. Ingin melihat seperti apa reaksi gadis di depannya.


Sementara Senja hanya menjawab dengan senyuman.


“Dulu dia masih pulang ke rumah sesekali dan masih memakai uang yang kami kasih. Tapi dua tahun belakangan, udah nggak lagi. Anak itu sama sekali nggak pernah lagi pulang ke rumah. Bahkan uang yang ada di rekeningnya sama sekali tidak disentuh. Bangga sekali sepertinya karena sudah bisa cari uang sendiri. Bangga banget kayaknya bisa menghasilkan uang dari jadi jurnalis. Saya nggak ngerti sama jalan pikiran anak itu. Padahal dia tinggal pulang ke rumah, ikuti keinginan orangtuanya, dan dia akan punya segalanya, seperti dulu. Nggak perlu susah payah kerja dengan gaji yang nggak seberapa.”


Indira berhenti sejenak, ingin melihat reaksi dari gadis di hadapannya. Tapi gadis itu hanya diam. Menanggapi ceritanya hanya dengan senyum dan anggukan.


“Katanya juga Si Kai punya pacar, ketemu di kampusnya. Saya rasa yang membuat Kai tidak lagi mau menemui kami orangtuanya, ya, pacarnya itu. Mungkin pacarnya itu sedang menjalankan rencana untuk memanfaatkan Kai. Jaman sekarang mana ada orang yang pacaran karena benar-benar cinta. Ya pasti ada apa-apanya, lah.” Indira mengakhiri penjelasannya.


Wanita yang masih cantik sekali di usianya yang tidak lagi muda itu kembali menatap Senja untuk melihat reaksi atas kata-katanya. Tapi yang ditemukan Indira hanya wajah datar, tidak ada ekspresi apapun yang tergambar di sana.


“Tolong pakai lagi headphonenya, Buk. Kita mulai siaran lagi.” Senja berkata dengan senyum.


Untunglah lagu dan iklan habis di waktu yang tepat. Jadi Senja bisa terhindar dari obrolan wanita di depannya itu yang terdengar sangat tidak suka dengan siapapun itu yang jadi pacar anaknya.


Setengah jam waktu siaran yang tersisa terasa begitu berat bagi Senja. Dia harus berjuang sangat keras agar air matanya tidak tumpah. Dia harus berusaha keras agar suasana hatinya tidak merusak siaran yang masih lumayan lama.


Terutama, Senja berusaha keras agar tidak melampiaskan emosi pada wanita di depannya. Senja berusaha mengerti, bagaimanapun Indira tidak tahu bahwa dia gadis yang sedari tadi dibicarakannya. Dan wanita itu hanyalah seorang ibu yang khawatir pada anaknya.


Senja hanya ingin menyalahkan Kai atas segalanya. Kenapa semlama ini Kai tidak pernah jujur. Kenapa laki-laki itu tidak pernah memberitahu cerita sebenarnya. Kenapa Kai harus merahasiakan latar belakang keluarganya.


Perasaan Senja begitu terluka. Hatinya terus bertanya kenapa dan kenapa? Apakah karena Dia hanya berasal dari keluarga sederhana? Apa karena orangtuanya tidak kaya raya, tidak sama derajatnya dengan orangtua Kai, makanya laki-laki itu merahasiakannya? Karena takut Senja akan memanfaatkan status Kai untuk keuntungannya? Ataukah memang karena sebenarnya tidak pernah ada cinta di hati Kai untuknya?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2