Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 29 Hari Radio Nasional


__ADS_3

Suasana malam di Landasan Udara Kota ini tidak seperti malam-malam biasanya. Kali ini Landasan Udara itu ramai pengunjung. Area luas di dalam gerbang juga dipenuhi dengan stand-stand yang berjajar rapi membentuk huruf U dengan panggung besar di ujungnya.


Landasan Udara ini dulunya adalah Bandara yang melayani penerbangan-penerbangan domestik di Kota ini. Kemudian beberapa tahun lalu bandara dipindahkan ke lokasi baru yang lebih luas. Sedangkan tempat ini dialihfungsikan menjadi Pangkalan Militer, yang sering digunakan sebagai lokasi untuk mengadakan acara-acara yang membutuhkan tempat yang luas, seperti konser, festival dan lain sebagainya.


Kali ini acara yang sedang diadakan adalah Festival Musik dalam rangka memperingati Hari Radio Nasional. Malam ini adalah malam puncak dari sederetan rangkaian acara yang sudah berlangsung selama tiga hari. Acara yang sangat ditunggu-tunggu oleh pengunjung malam ini adalah Festival Musik Band Indie Kota ini yang ditutup dengan penampilan dari band ternama ibukota.


Kai memasuki gerbang Lanud bersama rekan-rekannya setelah menunjukkan tanda pengenal di pos penjagaan paling depan. Rombongan jurnalis itu datang kesana tentu saja untuk bertugas, meliput acara yang sedang berlangsung.


Begitu sampai di bagian dalam, mata Kai menyapu sekeliling area, mencari keberadaan Senja. Matanya berhenti di salah satu stand dengan plang nama Radio Arshinta FM di atasnya. Dilihatnya sosok yang sangat dirindukannya itu sedang siaran live.


“Serius amat ngeliatinnya,” goda Angga sembari menyenggol lengan Kai yang berdiri di sebelahnya.


“Udah sebulan lebih gue nggak liat dia dari deket, Ngga. Terakhir ketemu pas gue kasih surprise ulang tahunnya waktu itu. Abis itu dia sibuk terus, nggak ada waktu buat ketemu sama gue,” jawab Kai dengan tatapan mata tidak beralih sedikitpun dari Senja yang belum menyadari kehadirannya.


“Yakin dia nggak mau ketemu karena sibuk, bukan karena dia emang nggak mau?”


“Maksud lo?” Kali ini kepala Kai menoleh pada Angga yang berdiri di sampingnya.


“Gue beberapa kali ketemu dia dan selalu lagi sama cowok yang sama. Akrab banget kelihatannya. Nah, itu cowoknya, yang duduk di ujung stand, lagi mandangin dia sama kayak lo. Lo liat tuh, tatapan matanya sama kayak tatapan mata lo,” jelas Angga sambil menunjuk laki-laki dengan dandanan rapi yang duduk tidak jauh dari Senja.


“Itu GM radionya. Dia emang deket sih sama cowok itu. Tapi gue rasa nggak ada apa-apa.” Kai berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


“Orang kalo udah cinta, rada beg* emang. Apalagi lo, beg*nya kebangetan.”


“Sial** lo, ya. Malah ngatain gue.”


“Gue doain lo lagi nggak ngabisin waktu mandangin pacar orang,” ujar Angga, kemudian berlalu meninggalkan Kai, sebelum temannya itu melakukan sesuatu padanya.


“Ta* nih anak.”

__ADS_1


...****************...


Setelah memandangi Senja sejenak di awal kedatangannya, Kai belum punya waktu lagi untuk menemui gadis itu. Karena pengunjung acara semakin ramai, dan dia pun sibuk dengan pekerjaannya. Sementara Senja juga pasti sibuk dengan segala rangkaian acara.


Begitu acara selesai pada jam tiga dini hari, Kai bergegas mendatangi stand milik radio Arshinta. Dia berniat mengantarkan Senja pulang.


Langkah kakinya berhenti beberapa meter dari stand yang dituju. Matanya menangkap pemandangan gadis yang dicarinya sedang berjalan beriringan keluar dari stand dengan laki-laki yang merupakan atasannya. Mereka terlihat begitu akrab, bahkan Senja memukul lembut lengan laki-laki itu saat menertawakan sesuatu.


Hati Kai berdenyut nyeri. Tatapan mata Senja pada laki-laki itu tidak lagi sekedar tatapan mata pada teman atau atasan. Apalagi tatapan mata laki-laki itu. Siapapun yang melihat akan paham isi hatinya. Tatapan mata lembut yang penuh pemujaan.


“Senja, udah mau pulang kan? Ayo Abang anterin.” Kai akhirnya memutuskan menghampiri Senja dan laki-laki itu.


Senja menghentikan langkah, menoleh pada Kai yang sudah berdiri di sampingnya. Dia pikir Kai sudah meninggalkan lokasi acara, karena setelah menatapnya saat acara belum dimulai tadi, Kai sama sekali tidak menemuinya lagi.


“Maaf, Bang. Aku ikut mobil kantor aja. Soalnya tadi kesini bareng-bareng, jadi pulangnya juga bareng.”


Senja mencoba memberikan alasan yang akan diterima oleh Kai. Satu bulan ini dia sudah mencoba menghindar sebisa mungkin dari laki-laki itu. Kebetulan memang dia sibuk dengan persiapan acara ini, jadi tidak perlu banyak cari alasan.


Mata laki-laki itu menatap leher Senja, tidak ada lagi kalung yang dia hadiahkan menggantung di sana. Lalu matanya turun menatap tangan gadis itu yang teramat dekat dengan tangan laki-laki di sebelahnya. Gelang rantai tipis dengan huruf S berhiaskan permata-permata warna ungu tampak melingkar indah di sana.


Mendapati kenyataan itu, Kai seperti kehilangan kendali dirinya. Tanpa sadar tangannya sudah menarik pergelangan tangan Senja agar menjauh dari laki-laki di sebelahnya.


“Aku bilang, aku yang anterin kamu. Ini udah mau subuh, kamu jangan pulang sama sembarangan orang,” teriak Kai pada Senja yang hampir jatuh karena tarikan keras di tangannya.


“Santai, Bro. Dia kan udah bilang mau pulang ikut mobil kantor, jangan main paksa gitu. Jangan kasar sama cewek.” Nuta datang menengahi, dia tidak bisa diam saja melihat Senja yang mulai diperlakukan kasar.


“Sakit, Bang.” Senja meringis menahan sakit di pergelangan tangannya. Tangan Kai menggenggam terlalu erat di sana.


“Makanya ayo pulang.” Kai berusaha menarik Senja agar menjauh dari sana.

__ADS_1


“Lepas, Bang. Aku nggak mau pulang sama kamu, kamu lagi emosi, aku nggak mau.” Senja berusaha melawan, mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Kai, tapi sia-sia, genggaman itu terlalu kuat.


“Lepasin, Bro. Lo nyakitin Senja,” teriak Nuta, dia tidak bisa lagi tinggal diam melihat Senja dikasari oleh Kai.


“Jangan ikut campur lo. Ini urusan gue sama pacar gue. Orang luar nggak usah ikut campur.” Mata Kai menatap Nuta dengan amarah tergambar jelas.


“Gue akan ikut campur kalau itu berhubungan dengan Senja. Dan lo itu mantan pacar, bukan …”


Buuk!


Sebuah tinju melayang ke wajah Nuta sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. Laki-laki itu terhuyung. Belum sempat memperbaiki posisi berdirinya, sebuah tinju lagi menyusul memukul perutnya, membuat Nuta terjatuh ke belakang.


“Bang!! Apa-apaan, sih.” Senja bergegas menghampiri Nuta yang terduduk di tanah.


“Oh, malah bela dia, ya,” teriak Kai emosi melihat Senja malah menghampiri Nuta.


Dia menghampiri Nuta yang masih terduduk sambil memegang perutnya. Bersiap mengangkat kerah laki-laki itu dan melancarkan pukulan lagi. Tapi gerakannya didahului oleh Senja.


Sebelum tangan Kai sempat mencapai Nuta, Senja lebih dulu memeluk Kai dari depan. Mendorongnya agar menjauh ke belakang.


“Lepasin, Jha. Laki-laki sia**n itu harus dikasih pelajaran. Si breng**k ini harus diajari kapan boleh ikut campur urusan orang, dan kapan mulutnya itu lebih baik diam.”


Kai menatap nyalang pada laki-laki di depannya yang sudah berdiri lagi. Tangannya berusaha mendorong Senja agar melepaskan pelukannya. Tapi gadis itu tetap bertahan, memeluk Kai dengan erat, agar tidak mendekati Nuta lagi.


“Sia**n lo. Berani main kasar, ya. Ayo kita lakukan dengan cara jantan. Lepasin dia, Jha. Cowok breng**k kayak dia harus dikasih pelajaran, biar nggak kasar lagi sama cewek.” Nuta juga tidak kalah emosi. Dia siap melawan Kai demi mempertahankan harga diri dan membela gadis yang dicintainya.


“Nyali lo gede juga, ya. Sini, gue hajar lo sampai mam**s.”


“DIAM!! DIAM KALIAN BERDUA!! KALIAN SAMA AJA!!”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2