
“Sekian dulu rapat kali ini. Jangan lupa eksekusinya sesuai list yang udah kita bikin. Rapat saya tutup, terima kasih semuanya.” Nuta, General Manager radio Arshinta FM tersenyum setelah menyampaikan kata-kata penutup rapat evalusi bulanan hari ini.
Seluruh penyiar dan staff yang hadir mulai berdiri dan membubarkan diri. Menyisakan dua orang di ruangan itu. Senja yang masih sibuk dengan ketikan di laptop, menyelesaikan tugasnya sebagai notulen rapat. Serta Nuta yang sedang menungguinya.
“Ah, akhirnya kelar juga.” Senja mengangkat kedua tangannya ke atas, melemaskan otot-otot yang terasa kaku.
“Segitu aja capek, gimana kalo harus banting-banting barang,” ledek Nuta.
“Ya ngapain juga banting-banting barang, Mas. Rugi dong.”
“Dari pada banting tulang, bagusan mana coba?”
“Ya ampun, gaje banget sih, Mas.” Senja tertawa sambil geleng-geleng kepala.
Nuta tersenyum menatap wajah Senja. Tawa renyah gadis itu begitu indah terdengar di telinganya. Senja sudah mencuri perhatian Nuta sejak lama. Jauh sebelum dia kembali dari Bandung dan menjadi GM di radio Arshinta.
“Makan, yuk, Jha. Laper, nih,” ajak Nuta sambil mengelus-elus perutnya seperti orang hamil.
“Kok de javu, ya?” Senja tertawa lagi.
“Bawaannya kalo dekat kamu tuh laper mulu. Kamu nyerap energi orang kali, ya?”
“Emang aku apaan, Pak GM?”
Lagi-lagi Nuta dan Senja tertawa bersama. Sepertinya selera humor mereka sangat cocok. Mungkin karena kepribadian keduanya yang mirip, selalu ceria, hangat dan friendly.
“Makan dimana kita? Laper banget, nih. Beneran, deh,” tanya Nuta lagi. Jejak tawa belum sempurna meninggalkan garis bibirnya.
“Kita berdua aja nih, Mas?”
“Ya iya. Masa mau ngajak orang sekampung.”
“Temen-temen yang lain nggak diajak, nih?”
“Nggak usah, kita berdua aja.”
“Kok gitu, Mas?” Kali ini Senja serius bertanya.
__ADS_1
“Kalo ngajak yang lain ribet. Milih tempat makan aja bisa sejam lebih. Kalo sama kamu mah enak. Makan di mana aja oke, kamu kan pemakan segala. Lagian kan lebih hemat kalo berdua aja,” jawab Nuta dengan wajah yang dibuat seserius mungkin.
Senja hanya tertawa menanggapi jawaban Nuta. Padahal status mereka adalah atasan dan bawahan, tapi jarak itu sudah terkikis sempurna.
...****************...
Nuta baru saja turun dari taski online dengan sebuah koper kecil di tangan. Dia baru saja kembali dari Bandung, dan rencananya akan pulang ke kota kelahirannya ini selama satu minggu. Menikmati liburan semester.
Baru saja akan melangkahkan kaki memasuki gerbang rumah, netranya menangkap sosok gadis yang berjalan keluar dari gerbang Radio Arshinta FM. Rumahnya yang terletak di pinggir jalan raya memang bersebelahan dengan kantor radio Arshinta FM. Radio itu milik ayahnya.
Gadis itu mencuri perhatian Nuta. Posturnya mungil dengan wajah manis dan mata bulat bagai purnama. Style gadis itu sedikit tomboi. Memakai skinny jeans warna abu-abu tua dengan atasan kemeja flanel kotak-kotak berwarna abu-abu hitam yang tidak dikancingkan. Gadis itu memakai kaos berwarna putih polos di bawah kemejanya. Kakinya memakai sepatu kets berwarna putih maroon serta tas punggung yang juga berwarna maroon. Rambut setengah punggungnya dengan model cincang pendek sempurna melengkapi penampilan gadis itu. Terlihat tomboi memang, tapi sangat cocok dengan wajah manisnya.
Nuta tersenyum menatap punggung gadis yang sudah pergi menjauh itu, berboncengan dengan teman laki-lakinya. Dilihat dari map yang tadi dipegang dan wajahnya yang terlihat sangat muda, sepertinya dia adalah mahasiswa yang mencoba peruntungan memasukkan lamaran ke radio Arshinta. Kalau begitu, akan ada lagi nanti kesempatan Nuta bertemu dengannya.
...****************...
Nuta menurunkan barang-barangnya yang lumayan banyak dari mobil. Kemudian dibantu sopir mengangkut barang-barang itu ke dalam rumah. Mengikuti keinginan ayahnya, hari ini dia benar-benar pulang ke kota kelahirannya ini. Meninggalkan kota Bandung tempat dia menuntut ilmu dan bekerja beberapa tahun belakangan. Ayahnya ingin Nuta membantu mengurus radio Arshinta FM, dan Nuta mengiyakannya.
Saat akan mengambil barang terakhir, Nuta melihat gadis manis bermata bulat berjalan keluar dari gerbang radio Arshinta. Asik tertawa dan bercengkrama dengan teman di sebelahnya. Sosok itu adalah gadis yang sama dengan gadis yang dilihatnya beberapa tahun lalu.
Entah bagaimana Nuta bisa langsung mengenali gadis itu, padahal penampilannya sudah jauh berbeda. Dilihat dari name tag yang tergantung di lehernya, Nuta yakin gadis itu adalah penyiar di Radio Arshinta.
...****************...
Nuta tersenyum menatap Senja di depannya yang terlihat sibuk dengan makanan. Mengingat kali pertama pertemuannya dengan Senja membuat Nuta menghela dafas dalam. Sudah enam bulan sejak dia menjadi GM di radio Arshinta. Selama itu pula dia berusaha membangun kedekatan dengan Senja.
Senja memang menyambut segala kedekatan yang dia tawarkan, mereka mudah sekali akrab. Tapi hanya sekedar itu. Senja seperti membangun dinding kokoh tidak terlihat di sekelilingnya. Dinding yang ternyata tidak mudah untuk ditembus oleh Nuta.
“Enak banget ya makanannya, sampe makannya belepotan, gitu?” ledek Nuta sambil tersenyum.
“Masa sih, Mas? Belepotan, ya?” Senja sibuk mengelap mulutnya dengan tissu.
“Becanda, ding.” Nuta tertawa melihat Senja yang memonyongkan bibir mendengar kata-katanya.
“Kamu banyak berubah ya, Jha. Dulu kayaknya tomboi banget, deh. Kalo sekarang udah jadi cewek beneran.”
“Mas Nuta tahu dari mana dulu aku tomboi?” Senja menatap Nuta heran.
__ADS_1
“Dulu banget aku pernah liat kamu. Kayaknya waktu itu kamu baru nganterin lamaran ke radio.” Nuta menjelaskan.
“Eh, seriusan? Kok aku waktu itu nggak liat Mas Nuta, ya?” Senja benar-benar tidak ingat pernah bertemu Nuta dulu.
“Iyalah, kamu pake kacamata kuda waktu itu. Cuma liat cowok di depan kamu aja.”
Senja tersenyum kecut. Cowok yang dimaksud Nuta adalah Kai. Dia menggelengkan kepala. Tidak ingin suasana hatinya rusak lagi karena mengingat laki-laki itu.
“Mana ada yang begitu, Mas. Mas Nuta aja yang invisible.”
Nuta tergelak. Senja memang selalu bisa mengimbangi candaannya. Seandainya mereka bisa lebih dekat lagi, Nuta akan sangat bahagia.
“By The Way, nama kamu unik ya, Jha. Aku udah lama loh penasaran sama nama kamu.”
“Penasaran kenapa?”
“Ada filofofi apa sih di balik nama Mentari Senja. Kok bisa orangtua kamu kasih nama kayak gitu?”
“Jelek ya namanya?”
“Cantik kok, secantik yang punya nama,” jawab Nuta serius.
“Bisa aja nih Si Masnya.” Senja menjawab dengan canda. Tidak ingin ketahuan tersipu karena kata-kata Nuta barusan.
“Kok berasa jadi tukang bakso, ya?” Nuta memasang wajah merenggut yang membuat Senja kembali tertawa.
“Jadi filosifi nama kamu, boleh diceritain, nggak?” Nuta kembali bertanya.
“Nggak ada filosofi-filosofian lah, Mas. Maknanya ya gitu aja, Mentari Senja. Untung aku warnanya nggak orange juga kayak warna sunset.” Senja menjawab dengan bercanda. Tidak ingin menjawab dengan jujur pertanyaan Nuta. Karena itu hanya akan membawa ingatannya kembali melayang ke masa lalu.
“Kalo nama Mas Nuta, dari bahasa sansekerta kan, ya? Artinya apa, Mas?” Senja balik bertanya.
Nuta menganggukkan kepala, mengiyakan ucapan Senja.
“Nuta artinya yang terpuji. Cocok loh kalo digabung sama nama kamu. Nuta Senja, artinya Senja yang terpuji atau bisa juga diartikan senja yang indah.”
“Itu sih dibisa-bisain kali, Mas.”
__ADS_1
Mereka berdua tertawa. Tawa dengan arti yang berbeda.
...****************...