Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 5 Aku Ingin


__ADS_3

...Aku Ingin...


...Sapardi Djoko Damono...


...Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,...


...dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu...


...kepada api yang menjadikannya abu....


...Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,...


...dengan isyarat yang tak sempat disampaikan...


...awan kepada hujan yang menjadikannya tiada....


Senja membaca puisi di tengah lingkaran besar teman-teman dan kakak-kakak tingkatnya. Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang sarat akan pengorbanan dalam mencintai itu dibacakan dengan gaya sederhana. Tidak dengan mimik dan intonasi menggebu. Cukup dengan gaya dan intonasi sederhana. gerakan tangan pun hanya sekedarnya. Kemudian Senja menutup pembacaan puisinya dengan sedikit membungkuk dan tersenyum ke sekeliling lingkaran dan kembali duduk di tempatnya semula.


Semua gerak-gerik Senja tidak luput dari pandangan Kai. Bahkan dia lupa memberi tepuk tangan seperti yang lain saat Senja menyelesaikan pembacaan puisinya. Gadis itu telah menyita seluruh perhatiannya, dan mungkin juga sudah menyita hatinya.


Hari ini penampilan Senja terlihat lebih santai. Sebelumnya Senja tidak terlalu mencolok dengan pakaian kasualnya. Celana jins dengan kemeja yang tidak dikancingkan dan dalaman kaos warna hitam, lengkap dengan sepatu ketsnya. Tidak terlihat terlalu berbeda dengan teman-temannya. Hanya terlihat lebih tomboi dibanding yang lain.


Bagi Kai penampilan Senja hari ini terlihat sangat berbeda. Celana berbahan kaos tebal warna ungu dengan model aladin. Atasan kaos hitam bergambar peta kota Padang. Sedangkan kakinya hanya memakai sendal jepit sederhana warna ungu muda. Rambut dengan poni pendek yang sebelumnya dilihat Kai selalu terikat, hari ini dibiarkan tergerai. Warna rambut gadis itu tidak hitam, melainkan sedikit kecoklatan senada dengan warna matanya. Potongan rambut lurus dengan model cincang tidak beraturan yang panjangnya hanya setengah punggung juga terlihat sangat cocok dengan gadis itu.


“Bang, woy bengong aja niih,” panggil Doni seraya menyenggol lengan Kai.


“Ah, apaan, Don?” Kai gelagapan, akhirnya mengalihkan pandangan dari Senja.


“Itu, Abang dimintain komentarnya buat beberapa penampilan barusan,” jawab Doni.


“Oooh, oke.”


Kai berusaha konsentrasi, dia harus memberikan komentar untuk penampilan beberapa juniornya barusan, termasuk penampilan Senja. Kai berusaha untuk tidak melihat lagi ke arah Senja, karena itu akan membuyarkan konsentrasinya.


Kai tidak ingin salah berbicara dan malu di depan adik-adik tingkatnya. Selama ini dia dikenal sebagai senior gaek yang cool tapi juga ramah dan bersahabat ke semua orang. Kai tidak ingin imagenya tercoreng.


****


“Baik, Kak.” Senja hanya mengangguk dan menjawab singkat saat namanya dipilih untuk mewakili teman-teman sebagai pemeran dalam teater singkat yang akan ditampilkan saat acara Kemah Bakti Mahasiswa satu bulan lagi.


Sebenarnya Senja ingin berpartisipasi menampilkan deklarasi puisi saja, agar tidak usah terlalu sering berlatih. Karena jadwalnya saat ini sudah cukup padat. Senin sampai jumat jadwal kuliahnya penuh. Sabtu dan minggu Senja juga harus ikut pelatihan untuk kegiatan radio kampus yang diikutinya.

__ADS_1


Senior gondrong di depan masih memillih beberapa lagi nama-nama yang akan ikut andil jadi pemeran teater singkat nanti. Senja mengamati kakak tingkatnya itu. Pemuda itu berambut gondrong pasti, tapi Senja tidak bisa memperkirakan sepanjang apa rambutnya, karena rambut yang sepertinya lurus itu terikat di belakang. Dilihat dari gulungan rambutnya, sepertinya panjang rambut itu melebihi bahu.


Pemuda itu terlihat sedikit urakan, hanya memakai celana pendek jins belel, padahal mereka sedang berada di lingkungan kampus, meskipun ini hari minggu. Memakai atasan kaos hitam yang sudah tidak jelas gambarnya apa, warnanya pun sudah terlihat memudar. Dan kakinya, hanya memakai sendal jepit berwarna hitam.


“Jha, serius banget liatinnya. Naksir ya?” Megha berbisik di telinga Senja.


“Apaan sih, Gha. Kan abang itu lagi ngomong, ya gue liatin laah,” jawab Senja santai. Dia tidak ingin ketahuan sedang mengamati senior di depan. Karena memang tidak ada maksud apa-apa di hatinya. Hanya sekedar mengamati apa yang ada di depan mata.


“Yakin? Gue liat dari tadi serius amat tuh ngeliatin si abang, kalo naksir bilang aja kali, Jha. Cakep kok itu, walaupun jauh banget di atas kita.” Megha kembali berbisik di telinga Senja.


“Emang iya, Gha? Bp berapa emangnya?”


“Ih, ketahuan nih nggak nyimak pas pertemuan sebelumnya. Kan pernah dikenalin. Itu senior 4 tahun di atas kita. Paling senior dari semua yang hadir waktu itu. senior-senior yang lain aja manggilnya senior gaek.” Megha menjelaskan dengan berapi-api.


“Masa sih, Gha? Kok gue nggak inget, ya?”


“Ya iya. Lo kan waktu itu sibuk balesin chat. Terus begitu senior itu selesai perkenalan, lo langsung pamit keluar duluan.”


“Ooh, waktu gue pamit mau ke pertemuan radio kampus, ya? Eh, tapi kalo empat tahun di atas kita, mustinya udah wisuda dong, ya. Betah amat di kampus.”


“Eeh, jangan julid-julid, buuk. Ntar cinta loh.” Megha tersenyum sambil menaik-turunkan alis matanya.


Senja tertawa melihat kelakuan temannya itu. Megha adalah teman pertama yang ditemuinya di kampus ini. Mereka berkenalan saat registrasi awal untuk mahasiswa yang diterima lewat jalur undangan.


“Nanti temui saya dulu setelah bertemuan berakhir, ya.”


“Siap, Bang.” Senja menjawab singkat.


“Gimana nih, Gha? Jangan-jangan gue mau dipelonco gara-gara kita ngobrol mulu dari tadi.” Senja kembali berbisik-bisik bertanya pada Megha.


“Udah sih, Jha. Santai aja, temuin aja dulu. Siapa tau si abang Cuma mau kenalan. Hihihi.” Senja menoyor kepala temannya itu. Diajak ngomong serius malah bercanda.


****


“Nama kamu Senja?” Kai mengajukan pertanyaan retoris. Padahal dia sudah tahu nama gadis itu.


“iya, Bang,” Senja menjawab singkat.


“Saya denger dari senior lain, katanya kamu juga ikut kegiatan radio kampus, ya?”


“iya, Bang.”

__ADS_1


“Udah mulai pelatihan? Hari apa aja pelatihannya?”


“Sabtu dan minggu pagi, Bang. Mulai jam 8 sampai jam 12 siang.” Senja tidak bisa menebak kemana arah pertanyaan seniornya ini.


“Kira-kira kalau kita latihan teater setelah kamu pelatihan radio, kamu sanggup nggak?”


“Hmm, sanggup sih sanggup aja, Bang. Udah biasa juga banyak kegiatan. Tapi takutnya nanti latihan buat teaternya nggak maksimal. Karena saya udah capek duluan.” Senja menjelaskan.


“Jadi kira-kira kapan kamu bisa latihannya? Kita sesuaikan sama jadwal kamu.”


Senja menatap seniornya itu. Tidak habis pikir. Kenapa harus disesuaikan dengan jadwal kegiatannya, padahal yang akan ikut latihan bukan hanya dia.


“Dari pada repot menyesuaikan sama jadwal saya, mending pemerannya ganti aja, Bang. Saya juga jadi nggak enak sama teman-teman yang lain. Saya nggak usah ikutan, atau saya diganti tampil buat baca puisi aja.”


“Tapi menurut saya kamu lebih cocok di teater, sih.”


“Kan jadi kasian sama temen-temen yang lain kalo harus ngikutin jadwal saya, Bang. Saya nggak usah ikut aja ngak apa-apa.” Senja mulai jengah. Seniornya itu terlihat mulai memaksakan Senja harus ikut latihan teater.


“Atau kamu tampil buat musikalisasi puisi aja? Biar saya yang iringi pake gitar. Latihannya bisa sesuai jadwal kamu aja. Karena jadwal kuliah saya longgar.”


“Boleh deh, Bang,” jawab Senja singkat. Dia hanya ingin cepat-cepat mengakhiri obrolan ini.


“Kasih saya nomor hp kamu, nanti saya kabarin kapan kita mulai latihan.” Kai mengeluarkan hpnya sendiri untuk menyimpan momor Senja.


“0852********”


“Nama lengkap kamu?”


“Mentari Senja.”


“Oke, segitu aja. Nanti saya kabari.”


“Iya. Saya duluan, Bang.” Senja berbalik hendak meninggalkan Kai.


“Btw, nama kamu bagus. Manis. Cocok sama kamu.”


Senja hanya menjawab dengan senyum kemudian berlalu dari sana.


Kai tersenyum puas menatap punggung Senja yang berjalan menjauh. Akhirnya dia punya cara untuk mulai mendekati Senja. Gadis itu sudah menyita perhatiannya sejak pertama kali bertatapan mata.


Tubuh mungil dengan wajah manis itu membuat Kai penasaran. Kai ingin mengenal gadis itu lebih jauh. Alunan suara Senja saat membacakan puisi tadi begitu indah terdengar di telinga Kai. Suara itu mengalun indah memasuki gendang telinga, menelisik menuju hatinya dan menghadirkan desiran halus disana. Membuat Kai seketika sadar, sepertinya hatinya sudah menemukan tempat untuk berlabuh.

__ADS_1


****


__ADS_2