Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 32 Titik Balik


__ADS_3

"Kai gimana, Ma?"


"Masih gitu, Pa. Belum keluar kamar sama sekali. Sejak hari pertama itu, belum ngomong lagi sama Mama."


Indira menghela nafas dalam. Ini sudah hari ketujuh sejak Kai pulang ke rumah dalam keadaan kalut dan berantakan. Sejak percakapan pagi itu, sampai hari ini anak itu belum membuka mulutnya sama sekali.


Kai hanya mengurung diri di kamarnya. Makanan yang selalu diantar oleh Bik Irah tiga kali sehari, lebih sering tidak disentuh. Hanya sesekali makanan itu berkurang sedikit, ketika perutnya benar-benar meronta meminta hak.


"Nggak bisa gitu, Ma. Ini udah satu minggu. Udah cukup waktu buat dia merenung dan berfikir. Mama harus temui dia dan tanya apa yang terjadi, tanya dia maunya apa ke depannya," ucap Bachtiar tegas.


"Tapi, Pa, …."


"Kalo Mama nggak mau, biar Papa yang ke kamar Kai sekarang," tegas Bachtiar sambil berdiri.


"Mama aja, Pa. Papa lanjut aja ngopinya." Indira segera berdiri, melangkahkan kaki menuju kamar anak tunggalnya.


Dia tidak bisa membiarkan suaminya yang turun tangan berbicara dengan Kai. Bukannya mendapat jawaban atas kondisi anaknya saat ini, justru akan menambah masalah baru lagi.


"Kai? Tidur, Nak?" Indira masuk kamar dan duduk di pinggir ranjang.


Indira memperhatikan anaknya. Dia tahu anak itu tidak tidur. Anak kesayangannya itu hanya tidak ingin membuka mulut untuk menjawab pertanyaannya.


"Ya ampun, ini kamar udah kayak goa Kai. Bentar lagi kelelawar datang nginep di sini nih." Indira bergerak membuka tirai kamar.


Selama satu minggu Kai mengurung diri di kamar ini, tirai jendela sama sekali tidak pernah dibuka. Bahkan lampu hanya sesekali dinyalakan. Untungnya anak itu tidak pernah mengunci pintu, mungkin karena tidak ingin repot-repot membuka bila Bik Irah datang mengantarkan makanan.


Indira menyibak tirai, kemudian membuka semua jendela kaca besar yang ada di kamar itu.


"Ma, tutup lagi jendelanya. Mata Kai perih," lirih Kai pada mamanya.


"Mata kamu perih pasti karena bahagia akhirnya bisa dapat cahaya. Udah satu minggu cuma disuguhi pemandangan kasur sama bantal gitu." Indira mencoba bercanda, agar suasana hati anak tunggalnya itu sedikit berubah.


"Kai ngantuk, Ma. Mau tidur lagi." Kai berusaha meminta mamanya keluar kamar secara halus.


"Kamu tau nggak Kai. Kelakuan kamu ini sama persis dengan kelakuan Papa kamu."


Indira menunggu jawaban dari anaknya, tapi yang didapatinya hanya sepi.

__ADS_1


"Dulu, Mama sama Papa pernah hampir nggak jadi nikah. Karena orang tua Mama nggak setuju Mama nikah sama Papa. Karena Papa bukan orang berpendidikan tinggi, walaupun saat itu Papa sudah mulai merintis usaha sendiri.


"Buat Kakek dan Nenek yang merupakan pendidik, jodoh Mama haruslah orang yang pendidikannya tinggi. Minimal harus sarjana. Kamu tau kan Papa bahkan nggak lulus SD, makanya orang tua Mama nggak setuju.


"Berhari-hari setelah ditolak oleh orang tua Mama, Papa hanya mengurung diri di kamar kosnya yang tidak luas. Tidak melakukan apapun, bahkan makan hanya di saat benar-benar lapar. Persis seperti kamu sekarang.


"Bedanya, kamu punya Mama dan Papa yang menunggu kamu yang khawatir sama kamu. Kamu punya Bik Irah yang selalu sayang dan perhatian sama kamu, yang selalu memasakkan makanan kesukaan kamu dan mengantarnya ke kamar tiga kali sehari, tidak pernah telat. Meskipun makanan itu lebih sering tidak kamu sentuh.


"Papa dulu benar-benar sendiri, Kai. Hanya ada Mama yang baru bisa datang beberapa hari kemudian, lalu membujuk Papa untuk kembali kuat, kembali berjuang untuk usaha yang sudah dirintis." Mata Indira menerawang, mengingat kembali kisah masa lalu dia dan suaminya.


"Kenapa Kai nggak pernah tau cerita itu, Ma?" tanya Kai sembari mendudukkan badannya, mulai tertarik pada cerita mamanya.


"Karena Papa nggak suka kalo cerita itu diungkit. Papa malu katanya kalo ingat kejadian itu. Malu karena sudah jadi laki-laki lemah selama berhari-hari, yang hanya meratapi nasib tanpa melakukan apapun."


Kai mengangguk dan tersenyum. "Papa banget emang, Ma."


Indira menarik nafas lega melihat anaknya sudah mau berinteraksi, bahkan sudah tersenyum.


"Trus Papa gimana, Ma, abis itu?" tanya Kai, hatinya sangat tertarik mendengar cerita tentang papanya yang tidak pernah dia dengar selama ini.


"Waktu Mama datang, keadaan Papa benar-benar kacau, persis kamu sekarang. Susah payah Mama membujuk Papa kamu agar bangkit lagi, dan akhirnya berhasil.


"Dalam dua tahun saja usaha Papa sudah berkembang pesat, swalayan sudah berubah jadi pusat perbelanjaan lengkap, dan sudah membuka cabang di Kota lain. Bahkan Papa juga sudah memulai usaha yang lain.


"Kejadian penolakan itu justru jadi pemicu perubahan besar dalam hidup Papa, membuat Papa benar-benar berusaha sekuat-kuatnya. Dan memang membuahkan hasil yang sebanding."


Seulas senyum mengembang di bibir Indira. Ingatannya melayang, memutar kembali kenangan tentang perjuangan suaminya dulu.


"Papa hebat ya, Ma."


"Sangat hebat di mata Mama. Makanya Papa sangat marah dan sedih waktu kamu keluar dari rumah dan berusaha membuang semua yang kamu punya. Karena itu sama saja seperti kamu ingin membuang semua hasil kerja keras Papa selama ini. Kerja keras yang diperjuangkan dengan berdarah-darah dan air mata oleh Papa."


"Maafin Kai, Ma. Apa yang selama Kai anggap benar, apa yang terbaik menurut Kai, ternyata malah menyakiti Mama dan Papa." Susah payah kalimat itu keluar dari mulut Kai. Kerongkongannya tercekat, menahan rasa bersalah yang membuncah.


"Nggak apa-apa, Nak. Sekarang kamu sudah pulang, jadi nggak masalah. Mama sama Papa udah maafin kamu dari dulu."


Indira meraih anaknya, membawanya ke dalam pelukan. Hatinya teramat perih melihat kondisi anaknya.

__ADS_1


"Kai nggak tau lagi harus gimana. Kai nggak tau, Ma." Kai terisak dipelukan mamanya. Melepaskan sesak yang sudah ditahannya selama berhari-hari.


"Kamu mau cerita sama Mama?" tanya Indira, mengelus lembut kepala anaknya.


"Senja ninggalin Kai, Ma. Dia memohon agar Kai melepaskan dia. Apa Kai seburuk itu sampai dia memohon untuk lepas dari Kai? Apa Kai segitu nggak baiknya sampai dia nggak mau lagi ada Kai di dekatnya? Apa Kai seburuk itu, Ma?" Kai menatap mamanya dengan tatapan pilu.


"Ssttt …. Nggak ada yang buruk tentang kamu, Nak. Coba cerita dulu sama Mama ada apa, biar Mama paham."


"Mama tau kan Kai emang bohong sama Senja selama kita pacaran. Kai nggak pernah jujur tentang siapa Kai sebenarnya, dan itu salah, Kai tau itu.


"Satu tahun lalu setelah Mama ketemu sama dia, dia jadi tahu semuanya. Dia marah dan kecewa sama Kai, terus minta pisah. Waktu itu Kai pikir dia hanya butuh waktu untuk menyembuhkan luka dan kecewa di hatinya, Ma. Jadi Kai menjauh, Kai kasih dia ruang untuk itu.


"Satu tahun, Ma, Kai kasih dia waktu. Tapi ternyata dia masih marah dan kecewa. Kai udah minta maaf. Kai udah jelasin semuanya. Kai udah jelasin alasan dan apa yang Kai rasain selama ini. Dia bilang dia ngerti dan udah maafin Kai.


"Kai udah berusaha buat deketin dia lagi, buat memperbaiki hubungan kita. Kai lakuin apa yang nggak pernah Kai lakuin dan kasih buat dia selama tiga tahun kita sama-sama.


"Tapi Mama tau tanggapannya apa? Dia justru minta Kai untuk jangan temui dia lagi. Dia memohon agar Kai melepaskan dia, dia nggak mau lagi ada Kai di hidupnya."


Indira menganggukkan kepala mendengar cerita anaknya itu. Menepuk-nepuk pundaknya, agar emosi Kai tenang dan tidak meledak lagi.


"Apa benar apa yang Papa bilang dulu ya, Ma? Dia nggak mau sama orang bodoh yang berusaha membuang apa yang ada dalam hidupnya, yang orang lain bahkan sangat menginginkan itu. Apa karena itu dia justru lebih memilih dekat sama GM tempat dia kerja, yang pasti lebih secara materi dari pada Kai yang hanya jurnalis dengan gaji nggak seberapa ini?"


"Kai, ada kalanya untuk setiap apa yang terjadi, jangan selalu memikirkan alasan dibaliknya, Nak. Karena kalo kita mikirin alasan di balik sikap orang lain ke kita, itu sama dengan kita berusaha mencari tau isi hati orang, nggak akan bisa.


"Kamu cuma bisa lakuin satu hal Kai, berusaha memperbaiki diri. Berubah jadi lebih baik lagi. Dengan begitu apapun alasan di balik sikap dan tindakan seseorang ke kamu, nggak akan bikin kamu down. Justru menempa kamu buat lebih baik lagi. Bahkan kalo mungkin, buat mereka nyesel udah nolak kamu. Dengan cara apa? Dengan berubah jadi lebih baik. Jadikan momen ini sebagai titik balik dalam hidup kamu."


...****************...


...Bang Kai gitu galaunya, sampe seminggu nggak keluar kamar 🤭...


...Kira-kira abis ini Abang Kai gimana ya??...


...Bakalan tetep menggalau atau deketin Senja lagi, atau gimana??...


...Tunggu lanjutan kisahnya ya, Guys.....


...Jangan lupa tinggalin jejak....

__ADS_1


...Like, share dan komen yang banyak, yaaa......


...❤️❤️...


__ADS_2