Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 39 Cinta Yang Baru


__ADS_3

Jalanan di Kota ini saat weekend memang tidak pernah lengang. Apalagi mendekati sore, padatnya jalanan bahkan menyaingi kepadatan di pagi hari kerja. Perbedaannya, titik-titik macetnya berada di sekitaran lokasi wisata, bukan daerah perkantoran.


Senja menatap kemacetan dari kaca. Suasana dalam mobil begitu hening. Tidak ada suara musik yang mengalun, tidak juga suara percakapan.


Nuta sibuk dengan kemudi, fokus menatap jalanan yang disesaki kendaraan di depannya. Sedari melangkahkan kaki keluar dari ballroom tempat resepsi yang tadi mereka datangi, Nuta hanya diam. Tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Senja pun hanya diam. Gadis itu tidak tahu apa yang salah. Tidak tahu apa yang membuat mood laki-laki di sebelahnya memburuk. Diam mungkin adalah pilihan terbaik.


“Kamu lapar?” Akhirnya suara Nuta memecah keheningan.


“Nggak terlalu sih. Mas Nuta lapar?” Senja mengalihkan tatapannya pada Nuta.


“Nggak juga.”


Hanya itu. Lalu hening kembali mengambil alih.


Mobil menapaki jalanan kecil di samping gedung sebuah kampus universitas swasta terkenal di kota ini. Jalanan kecil itu diapit tembok tinggi pembatas gedung dengan kali buatan di sisi lain jalan. Jalan ini hanya bisa dilalui oleh satu buah mobil.


“Kita kemana, Mas?” Senja tahu jalanan ini menuju kemana, dia hanya sekedar bertanya untuk mengenyahkan kebisuan yang mulai membuat jengah.


Tidak ada jawaban dari mulut Nuta. Laki-laki itu hanya terus fokus pada kemudi. Sampai kemudian menepikan mobil di dekat batu grip, bebatuan pemecah ombak yang disusun di tepi pantai.


Ya, pantai. Pantai di belakang gedung kampus Universitas Swasta terkenal ini memang indah. Ombak pantai ini menggulung besar, tapi entah kenapa terasa tenang. Mungkin karena suasana sekeliling yang sejuk.


Tepian pantai ini tidak ditumbuhi pohon kelapa. Berganti pohon tanjung besar yang ditanam di sepanjang garis pangkal bebatuan. Seolah menjadi pagar pembatas area kampus dengan pantai di belakangnya.


Nuta memarkir mobil, kemudian keluar, dan membukakan pintu untuk Senja, masih dalam diam. Meskipun dalam mode diam, sikapnya pada Senja tidak berubah. Membukakan pintu mobil, melindungi kepala Senja agar tidak terbentur, kemudian menutup kembali pintu mobil setelah gadis itu beranjak berdiri di sebelahnya.


“Kita ngapain kesini, Mas?” tanya Senja.


Gadis itu  benar-benar penasaran kali ini. Tidak biasanya Nuta mengajaknya ke pantai. Laki-laki itu adalah tipe yang lebih suka mengajak jalan ke mall, nonton di bioskop atau menghabiskan waktu dengan mengobrol di coffee shop. Setidaknya itu yang Senja tangkap dari beberapa bulan kedekatan mereka.


Hening. Lagi, tidak ada jawaban dari mulut Nuta. Dia hanya mengambil tangan Senja, menggenggam, menuntut berjalan mengikuti langkahnya. Tujuannya adalah susunan bebatuan pemecah ombak di tepian pantai itu.


Nuta membantu Senja menaiki bebatuan yang disusun dengan ketinggian hampir dua meter itu. Begitu sampai di atas, Nuta melepaskan pegangannya di tangan Senja. Kemudian melangkahkan kakinya menuju bagian bebatuan yang disusun panjang menjorok ke laut.


“Aaarrrgghhh ….”


Senja dikejutkan dengan teriakan Nuta tiba-tiba. Tidak hanya sekali, teriakan itu terus berulang beberapa kali setelahnya. Seolah yang berteriak ingin melepaskan beban berat di dadanya. Untung saja pantai ini sepi pengunjung, jadi tidak menarik perhatian.

__ADS_1


Senja memutuskan untuk menghampiri Nuta yang berdiri diam setelah melepaskan teriakan. Menyentuh pundak laki-laki itu pelan.


“Mas Nuta kenapa?” tanya Senja dengan nada lembut.


Tiba-tiba Nuta berbalik, menarik Senja ke dalam dekapannya. Memeluk erat seolah akan kehilangan jika pelukannya melonggar.


Senja berusaha mendorong Nuta. Menggeliat agar pelukannya lepas. Dia tidak nyaman. Hubungan mereka masih hanya sebatas teman dekat. Gadis itu tidak ingin ada sentuhan fisik terlalu dekat seperti ini.


“Sebentar aja, Jha. Cuma sebentar.” Nuta berkata lirih.


“Lepasin, Mas.” Senja tetap berusaha mendorong Nuta agar pelukannya lepas.


Akhirnya Nuta mengurai pelukan. Melepas tangannya yang melingkari bahu Senja. Menatap gadis di depannya yang bergeser mundur dua langkah.


“Kenapa begitu susah membuka hati buat aku, Jha? Aku kurang apa? Aku harus gimana biar bisa masuk ke dalam hidup kamu?” Akhirnya Nuta menyuarakan resah yang menggelayuti hatinya.


“Kenapa tiba-tiba, Mas? Ada apa?” Senja tidak mengerti alasan Nuta tiba-tiba mempertanyakan hal itu.


“Udah berbulan-bulan aku sabar nunggu kamu. Tapi sepertinya pemilik hati kamu masih orang lain. Apa begitu susah untuk memberi celah agar aku bisa masuk ke hati kamu? atau memang kamu yang nggak pernah berusaha untuk itu?”


“Mas, kamu ….”


“Kamu mau cerita ada apa? Kenapa tiba-tiba jadi bahas soal itu?” Senja bertanya hati-hati. Laki-laki di depannya ini terlihat sedang sangat emosional.


“Tadi begitu kamu ditarik mantan pacar kamu itu keluar, aku langsung susul. Aku dengar semua percakapan kamu sama dia.” Nuta menyugar rambutnya kasar. Membalik badan menatap gulungan ombak di depannya. Berusaha menyembunyikan emosi yang membayang jelas di matanya.


Senja terdiam. Tidak ada kata yang mampu dia ucapkan. Pernyataan Nuta adalah hal yang tidak pernah dia perkirakan.


“Mata kamu terlalu jujur, Jha. Mata kamu nggak pernah bisa bohong. Jelas terlihat di sana masih ada rasa buat mantan pacar kamu itu. Kamu menatap dia dengan tatapan yang nggak pernah kamu berikan buat aku. Apa usaha aku buat dapetin hati kamu selama ini nggak ada artinya? Apa emang nggak ada celah buat aku?” Nuta sudah kembali berbalik, dan menatap dalam mata bulat di depannya.


Entah kenapa perasaannya begitu terluka mendapati usaha selama berbulan-bulan ini sama sekali tidak membuahkan hasil. Gadis yang sangat diharapkan itu ternyata masih belum bisa melupakan masa lalunya.


“Aku berusaha, Mas. Aku berusaha lupain dia. Dan aku berusaha membuka hati buat kamu.”


“Tapi belum ada hasilnya? Perasaan kamu masih sama?”


“Aku berusaha, Mas,” lirih Senja, lebih berupa bisikan.


“Sedikit saja apa ada niat di hati kamu buat kasih kesempatan aku masuk ke hidup kamu?”

__ADS_1


“Aku udah berusaha, Mas. Aku udah coba. Nggak ada niat gimana? Selama ini aku nggak pernah menolak keberadaan kamu kan? Aku nggak pernah bilang enggak ketika kamu ngajak jalan, menghabiskan waktu berdua. Itu karena aku mencoba. Aku belajar untuk menerima kehadiran kamu dalam hidup aku.” Senja menatap Nuta tepat di matanya.


Laki-laki itu seperti menjadi orang lain saat ini. Nuta yang beberapa bulan belakangan dekat dengannya itu tidak pernah sekalipun memaksakan keinginannya. Tidak pernah sekalipun  menunjukkan emosinya.


“Kenapa nggak kamu coba dulu kasih tempat buat aku? Coba dulu kasih aku kesempatan buat jadi pacar kamu.”


“Tapi, Mas …”


“Kalo kamu emang punya niat, emang berusaha buat lupain dia, setidaknya kita coba dulu. Kasih aku kesempatan buat berada di sisi kamu sebagai pasangan. Coba kasih aku tempat dalam hidup kamu sebagai pacar.”


Senja diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Hatinya menolak ide yang dilontarkan oleh Nuta. Tapi mulutnya tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan penolakan.


“Setidaknya coba dulu, Jha. Kalo ternyata nanti emang nggak tersisa ruang di hati kamu buat aku. Kalo ternyata nanti kamu emang nggak bisa sayang sama aku, aku ikhlas kok. Walaupun berat, aku akan merelakan kamu kalo memang itu yang terjadi nanti.”


Senja menangkap ketulusan dalam kalimat panjang Nuta. Manik hitam pekat itu juga menyampaikan ketulusan yang sama besarnya. Harus bagaimana dia menolak tatapan tulus itu? Dengan kalimat seperti apa?


“Bisa, Jha? Bisa kasih aku kesempatan berharga itu?” Nuta mengambil kedua tangan Senja, menggenggamnya erat. Mata hitam pekat itu menatap penuh pengharapan.


Apa memang seperti ini jalan yang harus aku tempuh pada akhirnya? Apa memang ini saatnya? Apa memang kamu yang disiapkan takdir untuk menemani langkahku ke depannya?


Lama Senja terdiam dengan pergolakan batinnya. Jawaban untuk pertanyaan Nuta adalah hal pelik yang tidak kunjung ditemukan jawabannya.


Pada akhirnya hanya kesiur angin pantai yang menjadi jawaban. Biarlah takdir yang nanti menjawab kemana kisah mereka akan bermuara.


...****************...


...Gimana, Gimana??...


...Tim Senja-Nuta udah bahagia belum??...


...🥰...


...Terima kasih udah baca sejauh ini, Guys ......


...Jangan lupa terus baca kelanjutan kisahnya, ya .......


...Jangan lupa juga like, share dan komennya....


...Love you all .... ❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2