
Senja mengintip keluar dari kaca jendela kos. Ada mobil Nuta di depan pagar. Tidak terlihat laki-laki itu berdiri di samping mobil seperti kebiasaannya saat menunggu Senja selama ini. Mungkin dia memilih menunggu di dalam mobil karena tidak yakin gadis yang ditunggunya akan menemuinya atau tidak.
Senja menghampiri mobil Nuta dan mengetuk kaca pintu mobil sebelah kiri. Pintu itu terbuka begitu Senja mengakhiri ketukannya.
“Ngobrolnya di teras aja, yuk, Mas.”
“Masuk, Jha. Kita ngobrol di tempat lain aja.”
Akhirnya Senja masuk ke dalam mobil Nuta. Memang tidak akan kondusif membicarakan sesuatu yang serius di teras kosan, karena pasti penghuni lain akan berlalu-lalang.
Sepanjang perjalanan hanya sepi yang merajai di dalam mobil yang terus melaju. Baik Senja atau Nuta tidak ada yang berniat membuka percakapan. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
Mobil berhenti di depan sebuah coffee shop yang terletak di pinggir pantai. Masih dalam diam, Nuta keluar dari mobil, memutar kemudian membukakan pintu untuk Senja. Lalu menggandeng tangan gadis itu menuju lantai dua.
“Kamu apa kabar?” Nuta bertanya sambil menatap Senja dalam.
Nuta memilih meja dengan dua kursi di bagian pojok dekat jendela kaca besar yang menampakkan pemandangan pantai di bawah teriknya matahari menjelang tengah hari. Setelah duduk dan menyelesaikan pesanan, barulah laki-laki yang selalu stylish itu membuka percakapan.
“Kamu apa kabar, Jha?” Nuta mengulangi pertanyaan karena belum juga mendapat jawaban dari gadis yang duduk di depannya. Gadis yang sangat dirindukannya beberapa bulan ini.
“Kabar baik. Mas Nuta apa kabar?” Senja balik bertanya sebagai basa-basi. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia ingin segera mengakhiri pertemuan ini.
“Aku sekarat, Jha. Sekarat karena terlalu merindukan kamu.”
“Ha ha ha. Bisa aja, Mas. Masih jago ngelucu ternyata.”
“Kedengeran lucu, ya, buat kamu? Tapi aku serius, Jha. Aku kangen banget sama kamu. Setiap hari aku telpon kamu selama beberapa bulan terakhir ini, tapi kamu nggak pernah angkat. Apa kamu segitu bencinya sama aku? Kamu benci aku karena kata-kata Mami menyakiti kamu?” Nuta menatap mata bulat yang sama sekali tidak tersentuh oleh tawa berderai yang keluar dari mulut pemiliknya barusan.
__ADS_1
Mata bulat itu tidak menunjukkan emosi apapun. Hanya dingin yang seolah tidak akan berkesudahan.
“Aku sibuk, Mas. Udah nggak punya kerjaan tetap lagi, jadi harus banting tulang, dong, biar tetap makan.”
“Segitu sibuknya sampai nggak punya waktu lima menit aja buat angkat telpon aku?”
“Iya. Bahkan kadang aku nggak punya waktu buat makan, apalagi buat sekedar angkat telpon kamu. Orang selevel kamu dan keluarga kamu nggak akan ngerti rasanya.” Senja menggelengkan kepala setelah mengucapkan kata-kata yang dia tahu akan menyakiti Nuta.
Dia tidak berniat sama sekali untuk melampiaskan kemarahan atas kata-kata hinaan dari ibunya kepada Nuta. Tapi mendengar pertanyaaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut laki-laki itu, membuat kalimat panjang bernada sarkas itu akhirnya keluar dari mulutnya.
“Maaf, ya, Jha. Gara-gara aku kamu harus dengar semua kata-kata menyakitkan dari mulut Mami.” Nuta tertunduk sedih.
“Udahlah, Mas. Bukan kamu yang harusnya minta maaf. Makanya aku nggak pernah angkat telpon kamu setelah kejadian terakhir kali, karena aku nggak mau nambahin lagi penghinaan yang akan aku terima.
“Aku harap ini terakhir kalinya kamu datang dan ngajak aku keluar seperti ini. Lain kali kalo kita ketemu, cukup bertegur sapa sekedarnya. Atau mungkin kalo kamu lagi sama orang tua kamu, sekalian anggap kita nggak kenal aja. Biar aku nggak sampe dibikin malu di depan umum.” Entah kenapa malah kata-kata sinis lagi yang keluar dari mulut Senja.
Senja hanya diam. Tidak berniat menjawab ucapan Nuta. Semakin banyak dia berbicara, akan semakin banyak kata-kata tidak baik yang terlontar dari mulutnya.
“Aku mohon, Jha. Ya? Kita coba lagi, ya? Aku yakin bisa ngeyakinin Mami buat nerima kamu. Kasih aku waktu untuk itu.” Nuta mengambil tangan Senja yang terletak di atas meja. Entah kenapa hatinya masih mengatakan tidak jika harus melepaskan gadis yang dicintainya itu.
Senja menarik tangannya secepat yang dia bisa. “Maaf, Mas. Buat aku jalan di depan kita udah buntu. Kamu nggak usah ngelakuin apa-apa lagi.”
“Kasih aku kesempatan Jha. Aku yakin bisa, kok.” Nuta masih berusaha membujuk, berharap Senja akan luluh untuk kedua kalinya.
“Maaf, Mas. Jawaban aku tetap enggak. Aku dengar semua percakapan kamu dengan orang tua kamu terakhir kali. Bukan sengaja nguping, aku cuma mau ambil handphone yang ketinggalan di mobil kamu. Tapi ternyata yang aku dengar malah kata-kata hinaan. Kalau sekedar aku yang dihina, nggak masalah. Tapi orang tua kamu sudah menghina orang tua aku, Mas. Sampai kapanpun aku nggak akan bisa terima itu.
“Kalau aku ngikutin perasaan, aku nggak akan mau ketemu kamu lagi. Hanya karena aku masih menghargai kamu, makanya aku masih mau menemui kamu, dan aku harap ini yang terakhir kalinya.”
__ADS_1
Senja mengambil ponselnya di atas meja lalu berdiri. Bersiap untuk pergi dari sana. Pertemuan dengan Nuta kali ini sepertinya tidak akan menyelesaikan apa yang masih tertinggal di antara mereka.
Senja tidak ingin membuang waktu lagi di sana. Dia tidak ingin ada orang yang kenal dan melihatnya bersama Nuta. Dia tidak ingin menambahkan gosip tidak baik yang sudah tersebar.
“Aku permisi dulu, Mas. Nggak ada lagi yang mau aku omongin.”
“Tunggu, Jha. Duduk dulu. Abisin dulu pesanannya. Mubazir, Jha.”
Senja menatap pesanan yang masih utuh, belum tersentuh sama sekali. Bimbang, antara duduk lagi atau segera berlalu dari sana.
“Maaf, Mas. Aku ada janji lain, udah telat. Pesanannya Mas Nuta aja yang habisin, ya.”
Tangan Nuta menarik lengannya sebelum Senja sempat berbalik meninggalkan meja.
“Duduk lagi, Jha. Ya? Aku mau ninggalin semuanya demi kamu, kasih aku kesempatan lagi untuk berjuang buat kamu. Aku nggak masalah kalo harus hidup jauh dari keluarga aku. Apapun aku akan lakuin demi kamu. Jangan pergi, ya?”
Nada suara Nuta yang meninggi menarik beberapa mata pengunjung coffee shop untuk menatap ke arah mereka. Seolah mendapat tontonan seru untuk diikuti kelanjutannya.
Bahkan ada sepasang mata yang sudah menatap sedari mereka baru saja melangkahkan kaki memasuki tempat itu. Bahkan, si pemilik mata ikut menyimak semua percakapan. Tidak terlalu mengikuti memang, karena si pemilik mata juga sedang bercakap dengan seseorang di depannya. Tapi tetap saja, dia menangkap inti dari percakapan itu.
...****************...
...Kira-kira si pemilik mata siapa, ya??...
...Bakal ada keributan nggak, ya, kira-kira??...
...Jangan lupa like dan komennya ya, Guys, biar author makin semangat upnya.....
__ADS_1
😘😘