Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 17 Pulang


__ADS_3

"Kenapa sih lo, Kai? Uring-uringan terus seharian. Pusing nih pala gue liat tingkah lo." Angga, sahabat Kai sekaligus teman seprofesinya itu akhirnya tidak tahan untuk tidak menegur kelakuan Kai.


Saat ini mereka berada di sebuah cafe yang terletak di tepi pantai. Sepanjang garis yang membentang di pinggiran Kota ini, memang ada banyak sekali bangunan berupa cafe berdiri. Menjadi pilihan lain bagi wisatawan untuk menikmati keindahan laut, selain melihat langsung di tepian pantai.


Cafe dengan plang nama Chimpago di depannya ini, sudah menjadi langganan bagi Kai dan teman-temannya sesama wartawan. Selain kantor, cafe ini menjadi salah satu pilihan tempat untuk mereka mengolah data, mengedit dan menerbitkan berita tentang kejadian yang mereka liput hari itu.


Seharian ini, Kai membuat pusing teman-temannya karena tingkahnya yang uring-uringan tidak jelas. Sebentar berjalan kesana-kemari, sebentar duduk, lalu menghembuskan nafas keras-keras.  Rambut sebahunya  sebentar-sebentar diikat, lalu kemudian digerai lagi, sesekali laki-laki itu menyugar rambutnya, mengacak-ngacak dengan kasar seperti orang yang tengah banyak pikiran.


Kai sendiri bingung dengan tingkah lakunya hari ini. Suasana hatinya sangat buruk. Kemarahan dan emosi semalam masih belum hilang sepenuhnya.


Sebenarnya dia sangat ingin menemui Senja hari ini. Kai sangat merindukan gadis itu. Tapi kata-kata Senja tadi malam masih menancap di hatinya, menyisakan emosi dan amarah yang tidak kunjung hilang.


Drrrttt


Drrrttt


Drrrttt


Getar smartphone yang tergeletak di atas meja mengalihkan pikiran laki-laki itu sejenak. Setelah mengambil benda hitam yang terus bergetar di atas meja itu, Kai melihat siapa yang meneleponnya. Menghela nafas panjang, kemudian meletakkan benda itu di telinga.


"Halo, Assalamualaikum, Ma," salam Kai pada seseorang di seberang sana.


"Lagi dimana, Nak?" Terdengar suara perempuan menjawab.


"Kai lagi kerja, Ma."


"Kamu nggak di kantor kan, ya?"


"Nggak, Ma. Kai lagi di cafe pinggir pantai. Lagi ngerjain berita yang Kai liput seharian ini."

__ADS_1


"Pulang sebentar ya, Nak. Mama sama Papa nunggu kamu di rumah sekarang." Perempuan di seberang sana terdengar menjawab dengan suara lembut.


Kai menghirup nafas lagi dalam-dalam sebelum menjawab, "Iya, Ma. Kai pulang sekarang."


Begitu telepon terputus, Kai menyimpan smartphonenya ke dalam saku celana. Kemudian mulai mengemasi laptop dan barang-barangnya yang berserakan di atas meja.


Yang barusan menelepon adalah mamanya. Biasanya Kai akan langsung menolak kalau orang tuanya menelepon dan memintanya pulang. Tapi kali ini, entah kenapa tidak dilakukannya hal yang sama. Mungkin karena teringat kata-kata Senja yang memintanya untuk kembali menjalin hubungan baik dengan orang tuanya.


"Woy, mau kemana lo, Nyet? Main pergi aja." Angga meneriakinya begitu melihat Kai sudah menyandang tas ranselnya dan berjalan menuju pintu keluar cafe.


"Gue jalan dulu, kalo ada yang nanyain gue, orangnya suruh telpon gue aja." Kai menjawab tanpa berbalik, hanya tangannya yang melambai ke atas menandakan dia sedang berbicara dengan Angga di belakangnya.


...****************...


Kendaraan roda dua yang dikendarai Kai memasuki halaman rumah mewah yang terletak di kawasan perumahan elit di kota ini. Setelah memarkir motornya di depan garasi yang terbuka, Kai mengayunkan langkah menuju pintu yang tertutup.


Sudah dua tahun dia tidak pulang ke rumah ini. Bukan sama sekali tidak pulang, saat lebaran Kai masih menemui orang tuanya, meminta maaf, kemudian tanpa makan dan minum langsung pergi lagi. Entah kenapa hari ini tiba-tiba dia jadi patuh, langsung bergegas memacu kendaraannya menuju rumah ini begitu diminta oleh mamanya. Mungkin kata-kata Senja sudah merasukinya, membuatnya mengikuti segala ucapan gadis itu.


Setelah menyalami mama dan papanya, Kai mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu rumah itu. Tidak ada yang berubah, semuanya masih sama, masih serba mewah. Benda-benda yang ada di ruangan itu tidak ada yang diganti, bahkan tidak ada yang bergeser satu senti pun dari tempat yang diingat Kai dalam kepalanya.


"Makan, yuk. Papa udah lapar." Bachtiar Chaniago, yang merupakan Papa Kai itu beranjak menuju ke dalam tanpa menunggu jawaban dari anak dan istrinya.


"Haah … " Kai menghembuskan nafasnya keras. Bukan hanya rumah ini, penghuni di dalamnya pun sama sekali tidak berubah.


Sebuah tangan halus menarik pergelangan Kai yang hanya berdiri diam. Tangan itu menuntunnya duduk di sofa, di sebelah pemilik tangan, Indira Agustina, mamanya. Perempuan yang terlihat mirip dengan Kai itu meraup wajah anaknya, menelitinya seperti sedang memilih barang-barang mewah kesukaannya. Sangat berhati-hati, takut menyakiti.


"Apa kabar, Nak?" Bulir bening jatuh dari mata perempuan itu mengiringi pertanyaannya.


"Kai sehat, Ma. Mama sehat kan?" Kai menghapus air mata yang mengalir di wajah cantik ibunya.

__ADS_1


"Apa kamu nggak kangen sama mama Kai? Kenapa nggak pernah pulang?"


Kai memeluk mamanya. Hatinya tidak tega melihat tangis sedih wanita yang sudah melahirkannya itu. Memeluk sang ibu seperti ini membuat Kai menyadari bahwa rindunya juga menggunung. Hanya saja selama ini egonya melarang untuk mengakui.


Lama ibu dan anak itu berpelukan dalam diam. Sampai si ibu kemudian menyudahi, menyusut air matanya dan menarik tangan anaknya agar ikut berdiri.


"Ayo kita makan, Kai. Papa udah nunggu dari tadi."


"Tapi Ma … " Kai mencoba mencari alasan untuk menolak.


"Mama sendiri yang masak loh. Mama masak asam padeh kepala ikan kesukaan kamu. Ayo." Indira menarik tangan anaknya ke ruang makan sebelum Kai sempat mengucapkan apa-apa lagi.


...****************...


Indira melayani sendiri anak dan suaminya makan. Salah satu hal yang selalu dia jaga dari dulu. Meskipun mereka sibuk dan hanya makan bersama sesekali, tapi begitu kesempatan itu datang, dia akan melayani suami dan anaknya dengan tangannya sendiri.


Setelah mengisi piring suaminya dengan nasi dan gulai tambusu, Indira mengulurkan piring kepada kepala keluarga yang duduk di kepala meja makan itu. Lalu mulai mengisi nasi ke piring Kai, tidak lupa menyendokkan asam padeh kepala ikan kesukaan anaknya itu. Indira duduk di kursi sebelah kanan suaminya, sedangkan Kai sengaja disuruh duduk di sebelahnya, tidak di sisi kiri seperti bisa. Wanita itu ingin lebih leluasa menambahkan nasi atau lauk ke piring anaknya.


"Mau yang mana lagi, Nak? Biar mama ambilin."


"Udah, Ma, ini aja dulu. Nanti Kai ambil sendiri. Mama ambil buat mama sendiri, dong," jawab Kai sambil memegang tangan mamanya yang akan mengambil lauk lain lagi untuk disendokkan ke piringnya.


Ayah, ibu dan anak yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi makan satu meja itu melanjutkan makan dalam diam. Si ayah makan dalam diam sambil sesekali mencuri pandang pada anak tunggalnya. Si ibu juga makan dalam diam sambil sesekali menawarkan dan menambahkan lauk serta nasi ke piring suami dan anaknya. Sementara si anak juga makan dalam diam, menikmati rasa masakan yang sudah lama tidak mampir di lidahnya. Dan ternyata dia sangat merindukan itu, makanan kesukaan yang dimasak sendiri oleh mamanya.


Begitu ketiganya selesai makan, sang ayah berdehem, memberi isyarat bahwa dia akan memulai percakapan.


"Papa mau mulai sekarang kamu pulang ke rumah Kai. Ambil alih perusahaan media kita yang ada di kota ini. Kamu suka dunia media kan? Cukup sudah empat tahun merasakan karir di bawah sebagai jurnalis, pengalaman kamu papa rasa sudah cukup untuk mulai mengambil alih tanggung jawab menjalankan perusahaan itu." Papa Kai memulai percakapan dengan kalimat panjang yang membuat anaknya memandang dengan perasaan campur aduk. 


"Kai nggak mau, Pa. Kai bahagia dengan hidup Kai selama ini. Papa aja yang tangani perusahaan itu seperti biasa," jawab Kai sambil berdiri, bersiap meninggalkan meja makan.

__ADS_1


"DUDUK KAI SAKHA!! JANGAN TERUS-TERUSAN JADI ANAK DURHAKA KAMU. PAPA TIDAK PERNAH MENGAJARKAN SEPERTI ITU."


...****************...


__ADS_2