
Dengan langkah kaki yang terasa berat, Senja memaksakan dirinya berjalan menuju Kai yang tengah menunggu di depan gerbang Radio Arshinta. Begitu sampai, gadis itu hanya diam menatap Kai yang tersenyum padanya.
“Ayo naik, Jha. Panas nih,” ajak Kai. Dia menggosok-gosok lengannya yang memang hanya memakai kaos berlengan pendek, padahal matahari jam dua siang masih sangat terik.
“Kenapa nggak telpon dulu sih, Bang?”
“Tadi kan udah Abang chat, Jha. Tapi kamu nggak bales, jadi Abang langsung ke sini,” jawab Kai sambil menghidupkan mesin motornya.
“Mau kemana?” tanya Senja setelah menarik nafas panjang.
“Makan, ya?”
“Aku udah makan barusan.”
“Ada tempat yang kamu mau kunjungi nggak hari ini? Hari ini kita bakal pergi kemana pun yang kamu mau.”
“Kalo ngikutin aku, maunya balik ke dalam lagi karena masih ada kerjaan. Boleh?"
"Jangan gitu dong, Jha." Kai memasang wajah memelas agar Senja mau ikut dengannya.
Ada heran terselip di hatinya. Terakhir mereka bertemu, sikap Senja sudah sedikit berubah. Bahkan gadis itu menunjukkan kalau dia cemburu.
Jadi kenapa sekarang berubah lagi? Kenapa Senja menunjukkan sikap dingin lagi? Apa lagi-lagi tanpa sadar dia melakukan kesalahan?
...****************...
Motor yang dikendarai Kai dengan Senja duduk di boncengan berhenti di depan Chimpago Cafe. Matahari sudah hampir terbenam, menampakkan warna jingga yang membayang.
Tadi akhirnya setelah berdebat beberapa kalimat lagi, Senja mengalah dan naik ke boncengan sepeda motor. Kai membawanya berputar-putar menyusuri jalan-jalan yang dulu sering mereka lewati. Seolah laki-laki itu ingin mengingatkan Senja akan tempat dan jalan yang menjadi saksi kisah dan perjalanan mereka menggapai mimpi masing-masing. Dimana mereka saling mendukung dan menguatkan
Akhirnya mereka berakhir di sini lagi, di tempat yang baru beberapa hari lalu mereka kunjungi.
"Kok kesini sih, Bang? Kayaknya aku jadi sering banget deh kesini. Nggak ada tempat lain apa?" Senja menatap Kai yang malah senyum-senyum tidak jelas.
"Abang mau ambil barang yang ketinggalan dulu sebentar, abis itu baru kita jalan lagi kemanapun yang kamu mau."
"Ya udah, buruan. Aku tunggu di sini aja."
"Ikut ke atas aja, Jha. Ngapain di sini, dikira tukang parkir, ntar." Kai tergelak pada lelucon yang dilontarkannya, sementara Senja hanya diam dengan wajah kecut.
__ADS_1
"Ayo, naik dulu, ya. Sebentar aja kok. Jangan nunggu di sini, ntar ada yang godain," ajak Kai sambil menarik tangan Senja, menuntunnya menaiki anak tangga menuju rooftop cafe itu.
Begitu sampai di anak tangga paling atas, gadis itu terkejut, tidak menyangka dengan apa yang ada di depan matanya. Rooftop cafe itu tidak terlihat seperti terakhir kali Senja melihatnya. Tempat itu menjelma bagai cafe-cafe yang sering ada dalam drama yang sering ditontonnya.
Meja dan kursi yang biasa berjejer sudah tidak ada lagi, digantikan oleh meja dan dua kursi yang saling berhadapan dengan dekorasi warna ungu muda. Kursi dan meja itu diletakkan tepat di samping pagar pengaman balkon. Beberapa meter dari meja ada sebuah panggung kecil dengan gitar, stand mic dan kursi saling melengkapi di atasnya.
Raungan itu di dekorasi dengan warna dominan ungu. Lampu-lampu hias berkerlap-kerlip melengkapi penerangan yang temaram.
Sementara di atas meja, ada kue kecil dengan dekorasi ungu muda dan lilin angka 25 yang menyala. Di sebelah kue terlihat sebuah kotak tipis selebar telapak tangan yang dibungkus kertas berwarna ungu tua dan pita emas sebagai pengikatnya.
Kai memegang bahu Senja yang masih berdiri terpaku di anak tangga paling atas. Laki-laki itu menuntunnya duduk di kursi, sementara dia sendiri menuju panggung dan mengambil gitar.
...Suasana...
...Indah dan ceria...
...Membawa suka cita...
...Bersama gembira...
...Menyambut...
...Datang hari bahagia...
...Tuk berbagi rasa...
...Seiring waktu berjalan usiamu...
...Terucap untuknya selamat ulang tahun...
...Ooh......
...Semoga kita slalu bersama...
...Dalam canda dan tawa...
...Yang masih tersisa...
Petikan dawai gitar mengiringi alunan suara Kai melantunkan lagu Selamat Ulang Tahun milik band Gigi. Lagu yang sama dengan yang dikirimkan lewat pesan suara tadi malam.
__ADS_1
“Selamat ulang tahun, Mentari Senja. Semoga kamu diberkahi umur yang panjang, agar terus bisa mengubah mimpi menjadi kenyataan. Semoga waktu melimpahkan kamu kebijaksanaan hidup, agar bisa terus memberi makna bagi orang-orang di sekelilingmu.
“Senja, kamu tahu. Setiap kali kamu berulang tahun, aku selalu bersyukur atas kelahiran kamu. Aku begitu berterima kasih kamu sudah hadir dalam hidupku. Kalau aku tidak bertemu kamu, aku pasti tidak akan berada di sini, aku pasti tidak akan pernah jadi aku yang sekarang.
“Terimakasih sudah ada, dan sekali lagi, selamat ulang tahun, Mentari Senja.”
Kai mengakhiri petikan gitar dan lantunan lagunya dengan kalimat panjang yang sudah lama sekali ingin disampaikan. Ditatapnya Senja yang masih saja terdiam. Sekelebat dilihatnya ada binar haru melintas di manik matanya.
“Ini kado buat kamu, semoga kamu suka.” Kai menyerahkan kado di atas meja
“Kok jadi lebay sih, Bang? Nggak kamu banget deh pake surprise gini segala,” jawab Senja, berusaha menyembunyikan rasa haru yang menyelinap di hatinya.
“Aku cuma merasa selama ini terlalu cuek sama kamu. Setelah kita nggak sama-sama lagi, aku baru sadar ternyata kamu punya pengaruh besar banget di hidup aku. Aku baru sadar ternyata kamu begitu berharga buatku. Aku cuma ingin menebus apa yang selama ini luput aku kasih buat kamu.”
Senja tidak memberi jawaban. Selama ini buat mereka ulang tahun memang bukan sesuatu yang begitu spesial. Mereka hanya akan saling memberi ucapan saat momen itu tiba, lalu menghabiskan waktu berdua sebanyak yang mereka bisa. Bahkan tidak jarang, mereka melewati hari itu tanpa kue dan kado.
“Aku pikir kamu cuma bakal kasih ucapan lewat voice note tadi malam.” Hanya itu yang menjadi pilihan jawaban Senja pada akhirnya.
“Nggak lagi. Maaf ya untuk selama ini. Tahun-tahun berikutnya aku akan selalu berusaha kasih yang terbaik di hari ulang tahun kamu, seperti hari ini.”
Nggak ada lain kali, Kai. Nggak akan tahun-tahun berikutnya. Aku dan kamu nggak akan pernah bisa bersama. Jalan itu nggak akan pernah ada. Jawaban Senja hanya bergema di hatinya.
“Lilinnya meleleh, Jha. Ayo tiup lilinnya dulu, dong. Abis itu buka kadonya.”
Senja melakukan semua yang diminta Kai dalam diam. Satu sisi hatinya bahagia atas semua yang dilakukan Kai untuknya hari ini. Namun sisi hatinya yang lain, dipenuhi perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa sedih, marah, kesal dan rasa yang entah apa lagi namanya.
Kai mengambil isi kotak dari kado yang sudah dibuka oleh Senja. Melihat gadis itu hanya diam, Kai berinisiatif mengambil benda itu dan memasangkannya.
Kai berdiri di belakang Senja, memasangkan sebuah kalung di leher gadis itu. Kalung rantai tipis berwarna perak dengan liontin berbentuk hati dihiasi permata warna ungu menggantung indah di tengahnya.
“Kalungnya cantik, pas di leher kamu,” ucap Kai sambil tersenyum setelah kembali duduk di tempatnya.
Senja menyentuh kalung itu, merasakan liontin berbentuk hati yang menggantung di sana.
“Matching loh, Jha, kalung sama gelang yang kamu pake. Kamu baru beli gelangnya? Abang baru liat hari ini kayaknya.”
Kai menyentuh gelang yang ada di pergelangan tangan Senja. Gelang itu cocok dengan kalung yang baru dipasang di leher Senja. Seperti pasangan, saling melengkapi.
“Gelangnya kado dari Mas Nuta,” jawab Senja.
__ADS_1
“...”
...****************...