
Kota ini selalu disiram oleh cahaya matahari yang melimpah. Hampir setengah bagian Kota ini dipagari oleh bibir pantai. Membuat suasana siang sangat cerah dan panas. Acap kali suhu tengah hari mencapai angka di atas 33 derajat celcius.
Seperti siang ini, cuaca di luar sangat panas. Siapapun yang berada di luar ruangan tidak akan luput dari keringat yang menganak sungai. Belum lagi di jam makan siang seperti ini, dimana restoran dan rumah makan sedang ramai pengunjung. Ramai, sesak dan gerah kepanasan adalah situasi yang tidak bisa dihindari.
Sementara dalam sebuah ruangan luas yang terletak di lantai paling atas sebuah gedung bertingkat, ada seorang laki-laki yang tidak peduli dengan cuaca panas di luar sana. Bukan karena ruangannya yang memang nyaman berpendingin. Tapi karena tumpukan dokumen dan pekerjaan yang menggunung, membuat laki-laki itu mengabaikan segala hal, termasuk mengabaikan kebutuhan perutnya.
"Permisi, Pak. Mau saya pesankan apa untuk makan siang? Kurang sejam lagi Bapak ada meeting dengan tim pembangunan cabang mall yang baru. Jadi harus segera makan siang, Pak.”
Kai, laki-laki yang seolah tenggelam dalam kesibukan di ruangan kantornya yang luas itu mengangkat kepala. Fokusnya terbagi pada sekretaris yang baru saja masuk dan mengingatkan soal makan siang.
"Pesan yang praktis aja, yang bisa saya makan sambil kerja. Saya masih harus memeriksa proposal untuk meeting nanti."
“Baik, Pak. Saya permisi, dulu.”
“Lusi, hari ini sudah ada laporan dari Dion?” Kai kembali bertanya sebelum sekretarisnya keluar dari ruangan.
“Ada, Pak. Emailnya sudah saya forward ke Bapak.”
“Oke, kamu boleh keluar.”
“Permisi, Pak.”
Kai menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi begitu pintu sudah tertutup rapat. Meregangkan badan dengan mengangkat tangannya ke atas. Melepaskan lelah yang menggerogoti tubuhnya.
Semenjak mulai membenamkan diri dalam bisnis orangtuanya, Kai belum beristirahat sama sekali. Kesepakatan awal dia hanya akan menjalankan perusahaan media, dan hanya sebagai General Manager. Setelah berjalan beberapa bulan, ternyata ayahnya perlahan-lahan mulai memberikan tanggung jawab untuk ikut ambil bagian hampir di semua bidang bisnis mereka.
Kata ayahnya Kai harus mulai belajar, karena waktu yang sudah dibuangnya selama hidup di luar sudah teramat banyak. Nanti semuanya akan jadi tanggung jawab Kai, jadi dia harus belajar semuanya sedini mungkin.
__ADS_1
Kai bahkan hampir tidak punya waktu untuk bertemu dengan teman-temannya. Hanya saat weekend dia punya waktu yang sedikit longgar. Itupun kadang tetap diisi dengan pertemuan sana-sini. Hasilnya, begitu ada waktu kosong, Kai justru akan lebih memilih untuk menghabiskannya dengan tidur. Mengisi daya tubuhnya yang terkuras habis selama sepekan.
Setelah beristirahat, menyandarkan diri beberapa menit, Kai kembali meraih mouse di atas meja. Tangannya menggerakkan benda kecil itu dan terdengar bunyi klik beberapa kali, lalu komputer di hadapannya menampilkan email yang diteruskan oleh sekretarisnya. Email dengan subjek ‘Laporan’.
Email itu dikirim oleh Dion. Profesional di bidangnya yang dipekerjakan Kai untuk memantau dan mengawasi pergerakan seseorang. Seseorang yang selalu memiliki tempat istimewa di hatinya. Siapa lagi kalau bukan Senja.
Demi gadis itu, Kai akhirnya melakukan sesuatu yang dulu sangat dibencinya. Ketika dia meninggalkan rumah dan hidup sesuai dengan keinginan, dia tau orang tuanya mengirim seseorang untuk memantau semua pergerakannya dan memberi laporan secara berkala. Dulu, dia sangat membenci itu. Tapi sekarang, dia justru yang melakukan.
Kai melakukan semua itu karena rasa cintanya pada Senja yang belum juga hilang, bahkan tidak pernah berkurang sama sekali. Dia ingin selalu tau apa yang terjadi dengan gadis itu. Dan dia ingin jadi orang pertama yang datang dan mengulurkan bantuan ketika gadis itu sedang kesulitan.
Alasan lain Kai melakukan itu adalah agar dia tetap waras. Dunia baru yang dijalaninya ini terkadang terlalu menyesakkan dan melelahkan. Kadang dia merasa terhimpit dan tidak mampu bernafas. Dan mengetahui sesuatu tentang Senja seakan memberikan angin segar, seakan menjadi penawar bagi segala sesak itu.
“Akhirnya kamu bisa sukses dengan usaha kamu sendiri, Jha. Aku bangga banget sama kamu. Dari dulu aku tau kamu sehebat ini. Beruntung kamu cepat lepas dari si Nata de coco itu, jadi kamu lebih cepat menemukan jalan kamu sendiri.” Kai bermonolog dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
Membaca laporan tentang Senja yang sedang dalam proses membuka kantor agensinya sendiri, membuat Kai sangat bahagia. Seandainya dia bisa berada di sana, di samping gadis itu, membantu dan memberinya semangat. Tapi Kai yakin, Tuhan sedang menyiapkan rencana terbaik untuk mereka. Seandainya bahagia Senja memang bukan bersamanya, dia rela asalkan gadis itu hidup bahagia.
Tok!
Tok!
Tok!
“Lusi, mulai sekarang untuk setiap acara kita, entah acara apapun itu, untuk kebutuhan MC ambil dari Loqui Ent. Bahkan kalau kita butuh talent, kamu tanya kesana dulu, kalau mereka tidak bisa memenuhi, baru cari ke tempat lain.” Kai memberi perintah kepada sekretarisnya.
Loqui Ent adalah kantor agensi yang akan segera dibuka oleh Senja. Kai mungkin tidak bisa berada di sisi Senja, tapi dia punya cara lain untuk selalu membantu.
“Baik, Pak.”
__ADS_1
“Dan usahakan MC yang kita dapat adalah Senja. Kalau nggak bisa, boleh yang lain.”
“Baik, Pak. Saya permisi dulu.”
“Oh, satu lagi. Jangan lupa kasih tau ke penanggung jawab semua cabang lini kita. Mulai sekarang kebutuhan MC untuk semua acara kita arahkan ke Loqui Ent.”
“Baik, Pak. Segera saya kerjakan. Permisi.” Lusi akhirnya keluar dari ruangan Kai.
Kai mulai menyendok makanan dengan senyum puas sama sekali tidak meninggalkan bibirnya. laki-laki itu memakan makanannya dengan santai, terlihat sangat menikmati. Rencana sebelumnya untuk menyantap makanan sambil memeriksa proposal tidak jadi dia lakukan.
Laporan tentang Senja yang diterimanya seakan membawa semangat baru dan mengisi daya di tubuh Kai. Tubuh, otak dan hatinya seakan punya kekuatan baru untuk melakukan semua pekerjaan. Dia harus lebih semangat lagi, demi rencana besarnya yang sudah semakin dekat.
Ya, Kai punya rencana besar yang harus segera dia lakukan. Sesuatu yang harus dia wujudkan bagaimanapun caranya. Sesuatu yang sangat istimewa, untuk seseorang yang istimewa pula.
Kai sebenarnya tidak menerima perpisahan dengan Senja begitu saja. Selama mereka tidak bersama, banyak hal yang sudah dilakukannya untuk gadis itu. Dan hanya beberapa orang saja yang tahu. Tentu saja Senja sama sekali tidak tahu, dan Kai mungkin tidak akan pernah membuka cerita tentang semua itu.
Dan rencana besar yang disiapkan dan akan segera diwujudkannya itu tentu saja juga untuk Senja. Sesuatu yang masih dirahasiakannya. Dirahasiakan dari semua orang, terutama dari Senja.
Ah, sepertinya Kai memang sangat suka menyimpan rahasia. Semoga rahasia kali ini tidak mendatangkan malapetaka seperti terakhir kalinya. Semoga rahasia kali ini akan membawa bahagia, untuknya dan untuk Senja.
...****************...
...Waah, Bang Kai nggak ada kapok-kapoknya main rahasia-rahasiaan, ya.....
...Rahasia apalagi sih kali ini, Bang?...
...Yang penasaran., ikutin terus kisahnya yaa.....
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalin like dan komennya, yaa.....
...Love you, guys.. ❤️❤️...