Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 50 Kebetulan


__ADS_3

Melakukan hal baru, rutinitas baru memang selalu butuh waktu untuk adaptasi. Kadang kala malah memakan waktu yang tidak sebentar untuk penyesuain. Menjalani rutinitas baru yang kita sukai sekalipun terkadang tetap memakan waktu untuk menyesuaikan diri. Apalagi ketika harus meleburkan diri dalam hal baru yang tidak terlalu disukai, bahkan cenderung dihindari selama ini.


Begitulah hari-hari yang dijalani Kai semenjak memutuskan untuk mengikuti keinginan orang tuanya. Meleburkan diri dalam aktifitas yang sebenarnya sangat jauh dengan hal yang dia sukai. Tapi sebagai laki-laki, dia harus bertanggung jawab atas keputusan yang sudah diambil.


Terkadang dia harus melakukan sesuatu yang sangat tidak ingin dilakukannya. Seperti hari ini, Kai tidak bisa menghindari pertemuan dengan salah satu teman SMA-nya dulu. Sebastian sudah membuat janji melalui sekretarisnya semenjak bulan lalu. Bahkan ayah Sebastian juga ikut meminta pertemuan ini lewat ayahnya, karena memang ayahnya dan ayah Sebastian adalah rekan bisnis.


Dengan sangat terpaksa, menjelang siang ini Kai berakhir duduk di sebuah coffee shop pinggir pantai dengan Sebastian di hadapannya. Sebenarnya Kai ingin pertemuan diadakan di kantor saja, agar tidak terlalu banyak basa-basi. Tapi Sebastian malah meminta pertemuan di coffee shop agar lebih santai atas nama pertemanan lama mereka.


“Jadi lo belum kontakan lagi sama anak-anak yang lain, Kai?”


Sudah lebih dari lima belas menit Sebastian berbasa-basi dengan membahas masa lalu. Padahal jelas-jelas Kai hanya menanggapi dengan asal, tapi sepertinya basa-basi itu masih belum akan usai.


“Nggak ada waktu gue. Sibuk banget.”


“Pasti sibuk lah, ya. Yang lo urusin sekarang kan bukan cuma perusahaan media. Udah ngurusin hotel sama resto juga.”


Kai hanya menjawab dengan anggukan tipis sambil menyeruputnya kopinya yang sudah dingin. Kalau beberapa menit lagi Sebastian masih berbasa-basi, laki-laki itu berniat segera mengakhiri pertemuan ini.


“Karena lo sibuk, jadi gue langsung ke intinya aja, ya. Jadi gini, Kai. Gue lagi mau buka usaha di bidang pariwisata. Ada pantai di dekat perbatasan kota yang kalo diolah, itu prospeknya bagus banget. Jadi nanti gue mau bikin semacam bungalow kecil-kecil gitu, tapi banyak, jadi kayak satu kompleks gitu, ini nanti buat penginapannya. Nah, penarik pengunjungnya mau gue bikin klub dan resto high class dengan pemandangan pantai. Gue udah punya desainnya.


“Masalahnya, gue kekurangan dana, Kai. Jadi, gue mau tanya lo tertarik nggak buat jadi investor di bisnis baru gue ini? Bokap gue juga udah ngomong ke bokap lo, kayaknya beliau tertarik. Cuma katanya sekarang semua keputusan ada di tangan lo. Proposalnya juga sekalian udah gue bawa, nih. Jadi, gimana Kai?”


Mata Kai membulat, terpaku. Bukan karena mendengar penjelasan Sebastian yang berbelit dan ujung-ujungnya menginginkan investasi. Tapi karena matanya menangkap sepasang manusia yang baru saja memasuki coffee shop itu dengan bergandengan tangan.


Kai mengikuti pergerakan pasangan itu dengan matanya. Ternyata mereka memilih meja tepat di belakang punggungnya. Mereka sama sekali tidak menyadari Kai ada di sana.


Bukannya mereka udah putus, ya? Kenapa masih gandengan tangan? Senja mau-maunya digandeng-gandeng gitu sama si Nata De Coco.

__ADS_1


Kai menahan geram melihat kedatangan Senja dan Nuta sambil bergandengan tangan. Kesalnya juga bertambah karena Senja sama sekali tidak menyadari kehadiran Kai yang sangat dekat dengannya.


“Jadi gimana, Kai? Lo tertarik kan buat investasi?” Sebastian mengulang pertanyaannya karena melihat Kai kehilangan fokus.


Dari awal sebenarnya laki-laki itu menyadari Kai tidak terlalu antusias dengan pertemuan ini. Tapi Sebastian terus membuka percakapan tentang masa lalu untuk membangun suasana. Bagaimanapun dia sangat membutuhkan investasi dari Kai dan perusahaannya.


“Gue nggak bisa ambil keputusan langsung, Bas. Gini aja, lo kirim dulu proposalnya ke kantor. Gue pelajari dulu, ntar gue kabarin keputusannya.” Kai ingin segera mengakhiri pertemuan dengan Sebastian, agar bisa menyimak semua percakapan dari meja di belakangnya.


“Lo nggak mau liat proposalnya sekarang? Gue yakin lo bakalan suka. Prospeknya bagus.” Sebastian masih berusaha menggaet Kai untuk segera menyetujui kerjasama mereka.


“Maunya gitu, sih. Tapi maaf, Bas. Gue punya janji lain hari ini. Bentar lagi juga orangnya nyampe sini.” Kai berbicara sambil melihat jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Memberi isyarat agar Sebastian segera pergi dari sana.


“Ya, udah. Langsung gue kirim proposalnya, ya. Gue tunggu kabar baik secepatnya.” Sebastian mengulurkan tangannya yang secepat kilat disambut oleh Kai. “Gue tinggal kalo gitu, ya. Permisi”


Begitu Sebastian berlalu, Kai langsung memfokuskan telinganya untuk mendengar percakapan di belakangnya.


Ah, si*l. Ponselnya malah berbunyi.


“Halo, Pa.” Kai terpaksa mengangkat ponsel ke telinga karena itu panggilan dari ayahnya.


“Udah, Pa. Ini barusan Sebastian pamit. …. Iya, Pa. Mau minta kita investasi di bisnis barunya. …. Belum, Kai minta proposalnya dikirim aja ke kantor.” Kai berusaha berbicara dengan ayahnya sambil menajamkan telinga agar tetap bisa menyimak percakapan di belakangnya.


“Kalo dengar dari penjelasannya tadi sih, Kai nggak terlalu tertarik, Pa. Tapi nanti Kai pelajari lagi proposalnya. Apa sekalian minta dikirimin ke Papa juga? …. Hmm. Jadi terserah Kai aja, nih? Oke. … Pa, ntar kita obrolin lagi di rumah, ya. Kai lagi ketemu temen, nih. …. Iya, Pa. Oke.” Kai mengakhiri percakapan secepat yang dia bisa.


Laki-laki itu benar-benar penasaran ingin mendengar percakapan di belakangnya. Karena yang dia tahu, berdasarkan informasi dari orang kepercayaanya, Senja sudah mengakhiri hubungan dengan Nuta karena orang tua laki-laki itu tidak setuju.


Lalu kenapa sekarang mereka malah datang sambil gandengan lagi? Apa mereka menjalin hubungan lagi? Kai benar-benar penasaran.

__ADS_1


“Maaf, Mas. Jawaban aku tetap enggak. Aku dengar semua percakapan kamu dengan orang tua kamu terakhir kali. Bukan sengaja nguping, aku cuma mau ambil handphone yang ketinggalan di mobil kamu. Tapi ternyata yang aku dengar malah kata-kata hinaan. Kalau sekedar aku yang dihina, nggak masalah. Tapi orang tua kamu sudah menghina orang tua aku, Mas. Sampai kapanpun aku nggak akan bisa terima itu.


“Kalau ngikutin perasaan, aku nggak akan mau ketemu kamu lagi. Hanya karena aku masih menghargai kamu, makanya aku masih mau menemui kamu, dan aku harap ini yang terakhir kalinya.”


Kai bergidik mendengar kalimat yang diucapkan Senja dari meja di belakangnya. Suara itu terlalu dingin dan datar. Kai bisa membayangkan wajah dingin gadis itu ketika mengucapkannya. Dia sendiri tidak akan sanggup menghadapi itu.


“Aku permisi dulu, Mas. Nggak ada lagi yang mau aku omongin.”


Yes. Akhirnya Senja mengakhiri pertemuan nggak penting itu. Kai tersenyum sendiri sambil menyeruput kopi dinginnya.


“Tunggu, Jha. Duduk dulu. Abisin dulu pesanannya. Mubazir, Jha.” Kai mengepalkan tangannya, kesal karena Nuta masih berusaha menahan gadisnya.


“Maaf, Mas. Aku ada janji lain, udah telat. Pesanannya Mas Nuta aja yang habisin, ya.” Kai juga bersiap meninggalkan meja, agar bisa berpapasan dengan Senja di luar.


“Duduk lagi, Jha. Ya? Aku mau ninggalin semuanya demi kamu, kasih aku kesempatan lagi untuk berjuang buat kamu. Aku nggak masalah kalo harus hidup jauh dari keluarga aku. Apapun aku akan lakuin demi kamu. Jangan pergi, ya?”


Kai kaget mendengar nada suara Nuta yang meninggi. Tanpa bisa dicegah kepalanya langsung menoleh ke belakang. Pemandangan yang dilihatnya justru membuat emosi mulai memenuhi dadanya.


...****************...


......**Ada yang kangen sama Bang Kai nggak, nih?......


...Akhirnya setelah sekian lama Bang Kai muncul lagi 🤭🤭...


...Jangan lupa like dan komen yang banyak, ya, Guys.....


...Love you all.. ❤️❤️**...

__ADS_1


__ADS_2