
Matahari di atas lautan sudah terbenam setengahnya. Warna jingganya semakin pekat dan mulai berpadu dengan pekat. Begitu indah, seakan menunjukkan kesempurnaan itu benar-benar ada.
Tapi bagi Senja, matahari yang hampir sempurna hilang itu terlihat menakutkan. Seperti menjanjikan pekat yang tidak akan pernah berlalu. Jingga berpadu pekat itu seakan menarikan selamat datang pada gelap yang akan mendekapnya erat.
Senja menepuk dada-danya dengan kuat. mencoba menghilangkan sesak yang terasa begitu berat di sana. Lintasan ingatannya akan kejadian satu tahun lalu membawa sesak yang teramat sangat.
Dia pikir luka dari kejadian tahun lalu itu sudah mulai sembuh. Dia pikir hatinya sudah berangsur pulih dan mulai kembali ke bentuk semula. Ternyata Senja salah. Luka dari kejadian itu masih menganga dan berdarah. Hatinya masih hancur, dan remuk tak berbentuk.
Senja mulai memukul-mukul lagi dadanya. Tapi sepasang tangan kokoh memegangnya, mencoba menghentikan gerakan dan meraihnya ke dalam pelukan.
Senja mencoba melawan. Mendorong dan memukul dada Kai agar menjauh. Mencoba menggeliat agar pelukan kuat itu terlepas. Tapi semua usaha itu sia-sia. Kai memeluknya erat, mendekapnya dalam diam.
Seketika itu juga Senja luruh. Melabuhkan tangisannya di dada Kai. Meluapkan semua emosi yang terpendam.
Mungkin memang hanya itu yang dibutuhkannya. Pelukan hangat yang menenangkan. Dekapan erat yang mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Selama ini, itu yang tidak didapatkan oleh Senja. Kai seakan tidak mengerti. Dia hanya membujuk dengan kata-kata, kemudian benar-benar pergi begitu Senja menyuruhnya menghilang.
Ah, tapi mungkin dia juga salah. Senja memang tidak pernah menampakkan kesedihannya. Dia tidak pernah menceritakan pada Kai seberapa hancurnya hatinya. Dia tidak membiarkan Kai melihat seberapa terluka perasaan dan harga dirinya.
Selama ini yang ditunjukkan Senja pada Kai hanya amarah dan perasaan kecewanya. Setiap kali Kai mengajak berbicara, Senja akan menjawabnya dengan amarah. Setiap kali Kai berusaha membujuknya, Senja akan menunjukkan betapa kecewanya dia. Kai salah, tapi cara Senja menanggapinya selama ini juga mungkin salah.
...****************...
Kai menatap Senja yang terdiam dengan air mata berjatuhan di depannya. Gadis yang dicintainya itu terlihat begitu rapuh. Seakan dia tidak pernah menjadi sosok yang ceria. Sosok yang selalu bisa membuat orang-orang di sekelilingnya nyaman dan tertawa. Sosok yang membuat hati Kai jatuh sedalam-dalamnya.
Melihat Senja mulai memukul-mukul dadanya lagi, Kai memegang tangan itu dan meraihnya ke dalam pelukan. Gadis itu mencoba melawan, mendorong dan memukul dengan keras. Tapi Kai tetap bertahan, sama sekali tidak merenggangkan pelukan.
Akhirnya Senja menyerah. Luruh dalam pelukannya. Kemudian kekasihnya itu mulai menangis. Tergugu dalam isak. Seolah melepaskan semua luka dan kepedihan yang selama ini terpendam.
Kai tidak pernah tahu bahwa Senja begitu terluka. Selama ini yang dia tidak tahu Senja marah dan kecewa, dan memang hanya itu yang ditunjukkan oleh gadis yang sangat dicintainya itu.
Hati Kai begitu perih melihat Senja serapuh ini. Dia benci pada dirinya sendiri karena membuat Senja sakit dan menorehkan luka yang menganga di hatinya. Entah apakah dia akan mampu dan punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
“Maafin Abang, Jha. Maafin Abang.” Kai berbisik lirih sambil mencium puncak kepala Senja. Hanya itu yang bisa dilakukannya.
Lama mereka terdiam dalam pelukan. Isak dan tangis Senja sudah tidak terdengar. Mereka seolah sedang menyelami perasaan masing-masing. Mengerti semua alasan dan penjelasan tanpa harus diungkapkan dengan kata-kata. Pelukan itu adalah pelukan penerimaan.
“Maafin Abang, Jha. Entah apa yang bisa Abang lakuin buat mengobati luka menganga di hati kamu.” Kai menarik nafas panjang. Menatap Senja yang sudah melepaskan diri dari dekapannya.
__ADS_1
Lagi-lagi mereka terdiam. Mengalihkan pandangan pada lautan yang menghitam. Senja jingga sudah sempurna berlalu. Digantikan gulita malam yang mulai pekat.
“Kenapa semenjak kita pacaran kamu nggak pernah pulang?” Senja memulai percakapan. Bagaimanapun semua masalah mereka harus dituntaskan.
“Karena berkat kamu aku seolah menemukan jalan. Melihat kamu yang begitu giat berjuang untuk bisa tembus radio swasta, membuat aku juga ingin punya impian. Dan akhirnya aku ketemu itu. Ternyata aku suka jadi jurnalis, aku suka semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan itu. Bersama kamu, aku jadi punya mimpi. Hal yang selama ini tidak pernah aku punya, karena semuanya sudah serba ada.”
Kai terdiam sejenak, menatap Senja yang masih menunggu lanjutan ucapannya.
“Semenjak keluar dari rumah aku masih pulang sesekali karena aku masih hidup dari uang mereka. Tapi begitu aku kerja, punya penghasilan, aku nggak pernah pulang lagi, karena memang nggak perlu. Mereka juga nggak pernah peduli aku ada di rumah atau nggak. Yang mereka pedulikan cuma kerja, bisnis dan uang.”
“Tapi gara-gara itu mama kamu mikir aku yang mempengaruhi kamu. Aku yang menghasut kamu karena punya niat lain.” Senja berkata dengan lirih. Hatinya masih sakit jika mengingat kata-kata ibu Kai hari itu.
“Aku nggak peduli kata-kata wanita itu, karena kau tau kamu nggak pernah seperti itu.”
“Mungkin kamu nggak peduli. Tapi aku peduli. Kata-kata mama kamu melukai harga diri aku.”
“Maafin aku, Jha. Gara-gara aku kamu harus dengar semua itu.” Kembali merasa bersalah.
“Seribu kali pun kamu minta maaf nggak akan bisa ngerubah apa yang udah aku dengar.” Senja kembali menatap jauh ke depan.
“Maaf,” jawab Kai lirih.
Kai hanya diam menatap Senja. Tidak mengerti kemana arah pembicaraannya.
“Kamu bisa jelasin ke mereka kalo kamu belum tertarik untuk terjun ke bisnis. Ingin mencoba hidup sesuai keinginan kamu dulu. Mungkin nanti akan ada saatnya kamu mengikuti kemauan mereka. Semua orangtua pasti sayang sama anaknya, Bang. Jadi aku yakin mereka bakal ngerti.”
“Trus abis itu?” tanya Kai, masih tetap menatap Senja dengan tatapan tidak mengerti.
“Abis itu apa?” Senja juga balik bertanya.
“Kalo aku ngikutin semua kata-kata kamu, kamu mau balik lagi sama aku? Kamu mau memperbaiki lagi hubungan kita?” cecar Kai dengan pertanyaan.
Senja tersenyum getir, kemudian menjawab, “Nggak. Aku cuma kasih saran biar nggak ada cewek berikutnya yang terluka karena kebohongan kamu dan tuduhan orang tua kamu nantinya.”
“Maksud kamu?” Kai merasa mulai melihat kemana arah percakapan itu, dan dia tidak siap untuk itu.
“Aku udah dengar semua penjelasan kamu, dan aku ngerti. Aku bisa memandang semua dari sudut pandang kamu sekarang. Aku juga lega karena udah ngungkapin semua ke kamu. Amarah, luka dan kecewa yang aku rasakan setahun belakangan juga sudah jauh berkurang.”
__ADS_1
Senja berhenti sejenak, menarik nafas dalam-dalam.
“Aku rasa, mulai sekarang kita udah bisa melangkah maju tanpa beban. Kita bisa mulai menjalani hari-hari tanpa ada lagi sesak yang membebani. Ini terutama buat aku.”
“Kamu mau kita benar-benar pisah sekarang?” tanya Kai memastikan.
Senja mengangguk, “Iya. Sekarang kita bisa pisah baik-baik. Suatu saat kalo kita ketemu, nggak sengaja berpapasan, kita bisa saling menyapa. Nggak harus saling menghindar seperti setahun belakangan.”
“Kenapa kita nggak mulai lagi semuanya dari awal, Jha. Kasih Abang kesempatan buat mengobati luka kamu. Kasih Abang kesempatan buat menebus kesalahan Abang, Jha.” Kai meraih tangan Senja, masih tidak siap jika harus benar-benar berpisah dengan gadis yang sangat dicintainya itu.
Senja menatap Kai dalam, membiarkan tangannya digenggam. Kemudian memeluk Kai erat.
“Mungkin ini saatnya kita kasih kesempatan hati kita untuk ketemu cinta yang lain,” bisik Senja di sela pelukan.
Kai terdiam mendengar ucapan Senja. Sejenak dia membatu. Tidak bersuara, hanya menatap mata bulat di depannya.
Kemudian perlahan kemarahan mulai tumbuh di hatinya. Seperti tertiup angin, api kemarahan yang semula kecil dengan cepat merubah menjadi besar, dan siap membakar apapun di sekitarnya.
Kai berdiri tiba-tiba. Menatap Senja dengan kemarahan tampak jelas di manik matanya.
"Jadi itu ya maksud kamu? Apa?! Kasih hati kita kesempatan buat ketemu cinta yang lain?! Itu hati kamu, bukan hati aku. Cinta yang lain?! mau pacaran sama siapa kamu?! Si bayu-bayu yang punya mobil itu, iya?! Atau si Nata de Coco yang anak pemilik radio itu?!" Kai meluapkan amarahnya yang tiba-tiba datang.
Dia merasa sudah merendah, menurunkan ego dan harga dirinya dengan menjelaskan semua pada Senja. Menjelaskan dengan kata-kata yang dipilih sedemikian rupa agar Senja mengerti dan memaafkannya. Bahkan dia sampai menceritakan apa yang dialami dan dirasakan dari dulu, hal yang tidak pernah diungkapkan pada orang lain, bahkan tidak orang tuanya sekalipun.
Tapi apa balasan dari gadis itu?! Meminta perpisahan karena ingin ketemu cinta yang lain?! Bu******!!
"Aarrgghh.. Da**!! Sh**! Sh**! Sh**!!!" Kai berteriak frustasi kemudian meninju-ninju bebatuan untuk melampiaskan emosinya.
Tidak ada kata umpatan yang dirasa bisa mewakili emosinya.
Sementara Senja hanya terdiam. Dia kaget, karena belum pernah melihat Kai semarah ini. Bahkan tidak ada reaksi dari gadis itu melihat tangan Kai yang mulai mengalirkan darah.
"Mentari Senja. Dengar ya, jangan pernah berpikir kamu bisa ngelakuin itu. Jangan harap kamu bisa dekat dengan laki-laki lain selain aku. Aku akan pastikan itu tidak akan pernah terjadi." Kai mengucapkan kata-katanya tepat di depan Senja dengan penuh penekanan dan tatapan tajam mengintimidasi.
"Kita pulang. Aku bayar pesanan dulu, kamu tunggu di parkiran," perintah Kai.
Laki-laki itu berlalu tanpa menunggu jawaban. Sementara Senja hanya diam. Masih membatu dalam kekagetannya.
__ADS_1
...****************...