Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
I'm Jealous?


__ADS_3

^^^"Ya kak, ada apa?"^^^


"Kamu lagi dimana Sam?"


^^^"Aku lagi sama temen."^^^


"Cowok?"


^^^"Em-eh-b-bukan."^^^


"Sammy... kamu tau? Kamu gak bisa bohong sama kakak."


^^^"Terserah kak Am mau percaya ato gak, lagian kenapa sih kakak suka ngatur-ngatur hidup Sam?"^^^


"Kakak gak mo ngatur hidup kamu Sam, kakak cuma khawatir aja."


^^^"Bohong! Kak Am gak suka kan liat aku seneng? Moms-Dad aja gak pernah ikut campur urusan Sam."^^^


Samudra menarik napas sebentar. Mengapa adiknya itu tidak memahami jika ia memang sangat mengkhawatirkan dirinya.


"Sammy, denger dulu."


^^^"Apa lagi yang harus aku denger? Sam aja gak pernah ikut campur urusan kak Am. Di Boston Kak Am kencan sama cewek manapun, Sam gak pernah ikut campur."^^^


"Maafin kakak, Sam."


Samudra melirihkan suaranya.

__ADS_1


Dan ttuuuttt...ttuuuutt...ttuuttt...


Sambungan selulernya terputus secara sepihak.


Samantha begitu saja mematikan teleponnya.


"Kenapa, Sam? Ada masalah?" tanya Bryan khawatir.


Samantha menggeleng pelan. "Gak, lo tenang aja." Samantha menjawab dengan napas tersengal-sengal naik-turun. Mencoba menurunkan emosi yang merasukinya saat Samudra meneleponnya.


"Lo yakin gak ada masalah?" tanya Bryan lagi.


"Hm, santai aja." Samantha kembali mengangguk pelan. Ia pun tersenyum sekilas untuk menandakan jika dirinya baik-baik saja.


"Oh ya kata lo tadi mau ngajak gue ke tempat spesial ke dua?"


"Yes, of course.... Udah mulai gelap, ayo kita pergi dari sini." Bryan lalu menarik tangan Samantha dan menggandengnya menuruni beberapa anak tangga bangunan terbengkalai itu


....


"Lo suka?"


"Hm." Samantha mengangguk, kedua matanya masih memandang takjub ke arah sinar cahaya lampu yang terlihat dari atas rofftop. Saling berkerlap-kerlip indah.


"Eh anyway... ini bukan cafe milik nyokap lo kan?" tanya Bryan lagi.


Samantha menggeleng. "Bukan. Aku aja baru sekali ini ke sini."

__ADS_1


"Benarkah? Bagus dong."


"Kok gitu?" kening Samantha berkerut heran.


"Ya bagus, itu artinya gue orang pertama yang bawa lo ke sini." Bryan melirik ke arah Samantha dan tersenyum penuh arti.


"Hahaha tapi gue bukan cewek pertama yang lo bawa ke sini kan?" tawa Samantha pun melebar.


"Gak juga."


Keduanya kini saling berpandang untuk beberapa saat sebelum akhirnya pandangan mereka kembali fokus ke arah lautan lampu di bawah rofftop.


"Indah, bukan?" tanya Bryan.


Samantha mengangguk pelan sembari menatap ke arah seorang Bryan Viander Pradipta.


....


Boston


Samudra kembali merasa kepanikan yang luar biasa ketika adik perempuannya mematikan secara sepihak telepon darinya.


Karena tidak seperti biasa Samantha melakukan hal itu. Apakah gue terlalu ikut campur urusan pribadi dia? batinnya.


Cemburu? Apakah ia benar-benar telah cemburu ketika mendengar Samantha jalan dengan pria lain? Sesungguhnya Samudra benar-benar mengkhawatirkan keadaan adik kecilnya itu. Bagaimana pun juga, dulu ketika mereka masih kanak-kanak, Samantha tidak pernah bisa lepas dari Samudra. Gadis itu selalu merengek jika didapatinya Samudra menghilang dari pandangannya, sedetik pun.


Ikatan batin antara dia dengan Samantha terjalin begitu saja sejak mereka masih kanak-kanak. Samantha pernah menangis hebat, hingga membuat Maya dan Samuel waktu itu kebingungan akan sikap putri kecilnya. Seolah gadis kecil itu dapat merasakan bahaya yang mengancamnya ketika dirinya hampir celaka karena berkelahi dengan murid SMA lain. Untung saja saat itu Samudra hanya mengalami luka-luka ringan. Beruntung serangan senjata tajam dari sang lawan meleset satu centi saja dari tubuhnya.

__ADS_1


"Ah Sammy...." cicit Samudra.


to be continue...


__ADS_2