Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Menginap di Apartemen Samudra


__ADS_3

"Jadi Gaby itu mantannya Kakak saat kuliah di UI?"


"Hm,"


"Mantan yang ke berapa?"


Mendengar pertanyaan itu, Samudra menjadi sedikit berfikir dan mengangkat sedikit bahunya. "I don't remember," jawab Samudra.


"Banyak banget ya mantannya? Kirain cuma Veronika doang."


Samudra menyeringai, seolah saat ini Samantha tengah menyindirnya.


"Mutusin apa diputusin?"


"Mutusin."


"Kenapa dulu putus? Cantik gitu kayak seleb."


"Cantik tapi kalo psycho buat apa?"


"Jadi--- dengan siapa aja kakak pernah tidur bareng?"


Samudra membolakan kedua matanya. Mulutnya terkunci dan seolah tidak bisa lagi untuk berucap sepatah kata pun.


"Dengan Veronika, tentu saja sering kan?" tanya Samantha lagi.


Kali ini Samudra benar-benar merasa terintimidasi oleh tatapan mata Samantha yang menatapnya lekat-lekat.


"Aku janji gak akan ngulang kejadian yang dulu." Jawab Samudra meyakinkan.


"Janji?"


"Janji!" Samudra mengangguk yakin.


"Dah buruan makan, nanti keburu dingin." Lanjut Samudra, pria itu mencoba mengalihkan topik pembicaraan yang Samudra tidak suka.


Kini di meja sudah terdapat hidangan sesuai dengan kesukaan Samantha. Ada satu kotak ayam pedas manis, dua porsi rice bowl, dan empat buah sosis gulung yang kesemuanya khusus Samudra pesan buat Samantha. Itung-itung untuk menebus rasa bersalahnya atas kejadian yang tidak mengenakan barusan.


"Kakak bisa aja nyogok aku dengan makanan," sindir Samantha lagi.


"Ini sebagai tanda permintaan maaf Kakak."


"Owh...." Samantha membulatkan bibirnya.


"Oke--- mari makan..." kata Samantha dengan senang, senyum sumringah pun menghiasi wajah cantiknya. Samantha berusaha memaklumi kericuhan tadi. Lagi pula gadis psycho itu yang salah. Sudah putus dari Samudra beberapa tahun lalu masih aja ngejar-ngejar pria itu.


Samantha juga berusaha berdamai dengan masa lalu Samudra.


Samantha menjulurkan rice bowl pada Samudra yang duduk di sampingnya.


Keadaan hening sesaat, tidak ada obrolan di antara mereka. Samudra menahan senyumnya melihat Samantha yang antusias memakan hidangannya. Kepalanya bergoyang ke kanan dan kiri. Tangannya juga bergerak-gerak dengan lucu.


"Kak."


"Hm?"


"Boleh dinyalain nggak tv-nya?"

__ADS_1


"Boleh. Mau nonton apa?" Samudra menjeda acara makannya dan menyalakan tv sesuai permintaan Samantha.


"Itu aja!"


"Ini?" Tanya Samudra memastikan. Mendapati Samantha mengangguk, ia kemudian meletakkan kembali remote di nakas.


Acara drama Taiwan yang sedang hits saat ini menjadi pilihan Samantha.


Keadaan menjadi hening, Samantha fokus dengan makanannya dan serial drama yang di perankan oleh artis beda usia, Jerry Yan dan Xu Rou Han.


Apa-apaan... cerita drama itu hampir mirip dengan kisah cintanya. Sama-sama mencintai pria dewasa. Hanya saja bedanya tokoh He Ran dan Xiao Han bukanlah saudara tiri.


Samantha begitu serius menonton alur cerita drama tersebut. Sampai-sampai ia tidak sadar akan senyum Samudra yang merekah saat melihatnya.


"Bagus ya filmnya?"


"Hm," angguk Samantha tanpa mengalihkan sedikit pun matanya dari layar televisi.


"Emang kisahnya soal apa sih?" Tanya Samudra lagi.


"Hem?" Samantha kali ini memandang Samudra.


"Ceritanya soal apa? Kok sampai serius gitu liatnya?"


"Owh-itu-tentang seorang cewek yang jatuh cinta sama pria yang lebih tua. Si cowoknya yang dingin dan cuek banget, tapi si ceweknya pantang nyerah buat ngejar si Xiao Han," terang Samantha dengan ekspresi yang penuh semangat.


"Seperti kita dong..." ucap Samudra.


"Bukan."


"Maksudnya?" Tanya Samudra mengernyit heran.


Samantha kini memandang Samudra dengan netra berkaca-kaca.


"Oh baby... of course we are not. Kita akan selalu bahagia, seperti Moms-Dad." Samudra meraih pundak Samantha dan membawanya ke pelukan.


"Tapi----" Samantha menjeda kalimatnya dengan sedikit menggantung kata 'tapi' tersebut.


"Tapi apa?"


"Gimana kalo kisah kita berakhir seperti Moms-Dad kakak?"


Samantha bertanya dengan suara tercekat berat.


"Kita berdo'a yang baik-baik aja, okey?" Jawab Samudra dengan nada bicara lembut.


Mungkin ucapan Samantha tadi sanggup mempengaruhi pikiran buruk Samudra. Ah tidak--tidak-- semuanya akan baik-baik saja. pikirannya.


....


"Jadi Moms setuju aku nginep sini?"


Samudra mengangguk sembari sibuk menata kamarnya. Dia mengeluarkan selimut bersih serta kaus dan celana pendeknya dari lemari pakaian dan memberikannya ke Samantha.


"Sementara kamu pakai pakaian kakak dulu ya, nanti Mbak Pur yang antar seragam sekolah dan pakaian bersih kamu ke sini." Samudra mengulurkan selimut tebal dan juga pakaian ganti ke arah Samantha.


"Hm," angguk Samantha.

__ADS_1


"Aku ganti baju dulu, awas kakak jangan ngintip," kerucut Samantha lucu.


"Hehehe kamu berdo'a aja jangan sampai kakak khilaf," tawa Samudra menggoda.


"Kak Am....!! Pokoknya jangan ngintip!" Samantha menjawab seolah-olah sedang mengancam pria itu.


Mendengar hal tersebut, Samudra terkekeh dan menepuk-nepuk puncak kepala gadis itu.


Sembari menunggu Samantha berganti pakaian di kamar. Samudra duduk di depan televisi sembari sibuk menganti chanel berlangganan di televisi LED dengan layar 55 inch itu.


Hingga perhatian Samudra fokus ke arah Samantha saat gadis itu keluar dari kamar miliknya.


Tubuh mungil Samantha seolah tenggelam saat memakai kaus miliknya, hingga membuat celana pendeknya hanya terlihat beberapa inch saja. Gadis itu menyeringai lucu tatkala Samudra memperhatikannya dan terkekeh kecil.


"Kenapa kakak senyum-senyum gitu? Ada yang lucu?" Samantha mengerucut lucu.


"Enggak. Kamu keliatan cantik pakai baju milik kakak."


"Ish, gombal mulu ih..."


"Hehehe.... Sini duduk samping kakak."


Samantha mengangguk nurut dan berjalan ke arah Samudra lalu duduk di samping pria itu. Samantha mengambil alih kuasa akan remote televisi layar lebar itu. Menekan-nekan beberapa kali tombol remote dengan kepala yang ia senderkan di bahu kekar Samudra.


Samudra tersenyum sebentar kemudian menoleh ke arah gadis yang saat ini duduk di sampingnya dengan kepala yang menempel di bahu kanannya.


"Kak...."


"Hm?"


"Kakak kenapa bisa suka sama aku?" tanya Samantha. Netra gadis itu masih fokus ke arah televisi dan kepalanya pun masih bersandar di bahu kekar Samudra.


"Kata orang, cinta itu misterius."


"Iya tapi aku pengen tau kenapa kakak bisa suka sama aku? Kakak kan cakep dan jadi incaran banyak cewek-cewek cantik dan kaya raya." Ucap Samantha penuh rasa ingin tahu nya. Namun netra gadis itu tetap saja fokus dengan siaran televisi yang tengah ia tonton.


"Entahlah, kakak sendiri gak tau jawabannya apa. Cinta itu selalu mempunyai misteri sendiri, sayang."


"Yang pasti dengan bahasa sederhana, aku mencintaimu. Dalam bahasa duniawi, kau adalah hidupku. Dan dalam puisi kau kan jadi cahayaku, ruang dimana kuserap kebaikan dari kulit mu. Kekuatan dari diriku menggerakkan ku untuk selalu mencintaimu." Ucap Samudra, kedua matanya kini menyorot lembut ke arah Samantha. Entah kenapa saat itu dia bisa menjadi begitu puitis.


Kedua netra yang sama-sama menyorot lembut, kini tiba-tiba... entah dorongan dari mana, Keduanya saling mendekatkan dan memiringkannya wajah mereka. Hingga hanya berjarak beberapa inch saja.


Kepala Samudra tiba-tiba semakin mendekat dan wajahnya hanya berjarak satu inch dengan wajah Samantha.


Samudra akhirnya benar-benar mencium gadis itu, tangan kanannya terjulur dan menangkup pipi Samantha hingga terus bergerak ke ceruk leher gadis itu.


Bibirnya terus bergerak menguasai bibir Samantha. Samudra bahkan menahan dirinya untuk tidak menggerakkan liar tangan kirinya di tubuh Samantha. Dia berjanji tidak akan pernah menyentuh tubuh Samantha sebelum mereka menikah nantinya. Namun untuk mencium bibir gadis itu? Samudra bahkan tidak pernah bisa menahan hasrat. Bibir ranum Samantha terlalu menggoda untuk ia sia-sia begitu saja.


Bibir Samudra terus melakukan pergerakan, ciuman demi ciumannya selalu berbalas. Bahkan Samantha beberapa kali mengeluarkan suara-suara leguhan saat dia telah dikuasai sang kakak tiri.


Hingga beberapa menit, Samudra melepas pagutan bibirnya, memberikan kesempatan keduanya untuk mengambil oksigen. Mereka saling menempelkan kening masing-masing. "Aku pengen lebih dari ini, sayang." Samudra berbisik lembut.


"Namun aku tidak akan pernah tega menyentuh kamu lebih dari ini sebelum pernikahan kita," ucap Samudra lagi.


"Terima kasih kakak mau menunggu." Samantha menjawab dengan nada bicara yang begitu lembut dan melingkarkan kedua lengannya di leher Samudra.


"I love you my girl..." Bisik Samudra dengan ciuman kecil di ujung kening Samantha.

__ADS_1


to be continue....


__ADS_2