
"Masih jauh ya kak?"
"Ngga, bentar lagi juga sampai."
"Capek?"
"Ngga," geleng Samantha pelan. Dengan semangat membara, gadis itu tetap mengikuti kemana arah langkah Samudra. Bohong jika Samantha tidak merasa lelah. Dirinya memang lelah, sangat lelah malahan. Namun demi ingin melihat pantai yang Samudra janjikan, apalagi pantai yang dulu pernah dikunjungi oleh kedua orang tuanya beberapa tahun yang lalu, sebelum ia lahir. Membuat gadis itu tidak sedikitpun merengek di hadapan Samudra.
"Kalo lelah, sini kakak gendong!" Samudra menghentikan langkahnya sebentar.
"Ngga, aku ngga lelah."
"Emang bagus banget ya pantainya?"
"I don't know! Tapi kalo liat dari foto yang dikirim Daddy sih bagus."
"Tapi ngga tau juga sih, kan waktu itu Dad udah lama ke sini nya. Sebelum kita lahir, hampir dua puluh tahun-an deh kayaknya." Ucap Samudra lagi.
"Owh....!" Samantha membulatkan bibirnya sambil manggut-manggut.
Dua puluh menit keduanya berjalan menyusuri jalan setapak yang lumayan terjal, sesekali keduanya berpapasan dengan beberapa motor yang juga melewati jalan tersebut.
"Kenapa ngga diperlebar sih jalannya? Biar mobil bisa masuk?!" Cemberut Samantha, jemari lentiknya sesekali mengusap peluh yang berseluncur jatuh dari keningnya.
"Sabar, bentar lagi juga sampai." Samudra tersenyum, tangan besarnya mengusap keringat di kening gadis itu. Bodohnya dia. Harusnya dia menyewa motor aja tadi, kalau gini kan kasihan Samantha, rutuk Samudra dalam hati.
"Jalan lagi kak?" Suara Samantha membuyarkan lamunannya. Samudra mengangguk pelan, lalu mereka pun kembali menyusuri jalanan tak beraspal itu.
Hingga beberapa menit kemudian...
"Kak....!" pekik Samantha girang.
"Itu pantainya....!" Samantha menunjuk girang ke arah hamparan air luas berwarna biru.
Di sana masih banyak rerimbunan pohon kelapa dan juga beberapa pohon lain yang seringkali mereka jumpai di sekitar pantai.
"Seperti yang ada di foto milik Dad." Samudra berguman sembari memandang takjub pantai yang masih nampak asri. Gelombang air yang tidak begitu tinggi serta pasir putih yang sangat halus, tidak seperti pasir putih pada umumnya. Pasir di pantai tanpa nama ini terlihat sungguh bersih. Air laut yang begitu jernih, sehingga nampak beberapa ikan kecil berenang meski berada di tepi-an pantai.
Samantha berteriak sembari tertawa kecil ketika jemari-jemari kakinya tersapu oleh ombak.
Samudra memasang wajah bahagia. Bahkan senyumnya pun selalu tertarik di kedua sudut bibirnya saat melihat tawa dari gadisnya itu.
Di sana benar-benar seperti surga. Samudra bahkan belum pernah menemukan pantai seindah ini. Benar kata Samuel, jika pantai ini adalah pantai rahasia milik Samuel dan Maya.
Meski ada beberapa orang yang juga berada di pantai tersebut, namun jika dilihat dari wajah dan pakaiannya, mereka bukan wisatawan dari luar pulau Bali, apalagi wisatawan dari negara lain.
Mungkin mereka adalah penduduk asli di sekitar pantai.
Samudra benar-benar menyukai tempat ini. Baginya dia seolah bisa merasakan bagaimana Samuel dan Maya dulu saat keduanya masih muda.
....
"Kakak ngapain diem di sini, kan pantainya udah ketemu?" Samantha berdiri tepat di depan wajah Samudra yang saat itu tengah duduk di bibir pantai.
"Come on, kak... kita main di pantai." Ajak Samantha.
"Oke."
Samudra berdiri, meraih tangan Samantha yang terjulur ke arahnya.
__ADS_1
"Jadi ini pantai rahasia Moms-Dad?"
"Hm," angguk Samudra.
Samantha pun kini berlari kecil meninggalkan Samudra. Tawa riang-nya pun kembali tergelak tatkala ombak kembali menyapu jemari-jemari kakinya. Dan tawa gadis itu semakin nyaring tatkala melihat ikan-ikan kecil berenang di sekitar kakinya.
"Kak Am! aku mau nangkap ikan-ikan itu....!" teriak Samantha yang mirip seperti anak kecil.
....
Hingga mentari sudah semakin rendah dari posisi saat siang tadi, keduanya masih terlihat duduk di atas sebuah batang pohon yang telah tumbang di tepi-an pantai. Samantha yang saat itu memakai crop top yang mengekspos bahu dan perut ratanya, yang di padu dengan hotpants berbahan jeans. Sedang duduk dengan menyandarkan kepalanya di bahu milik Samudra.
"Yakin mau liat sunset di sini?"
"Hm," angguk Samantha.
"Tapi kita bisa kemaleman saat jalan kaki kembali ke mobil."
"Ngga papa."
"Ngga takut?"
Samantha kembali menggeleng pelan. "Kan ada kakak."
"Kalo kakak lari ninggalin kamu gimana?"
Perkataan Samudra spontan membuat gadis itu merubah posisinya yang semula bersandar, kini menjadi lebih tegak.
"Kakak mau ninggalin aku?"
"Eh-buka gitu maksud kakak!"
Sial! Samudra merutuki kebodohan-nya.
"Lama ya kak?"
"Apa-nya?"
"Sunset-nya lah!"
"Oh---" Samudra hanya ber-oh-ria. Netranya pun masih memandang mentari yang sore itu terlihat bulat penuh dan berwarna orange.
Hingga perlahan-lahan mentari sore itu mulai bergerak semakin turun, hingga menyisakan semburat warna jingga dan nila di langit sore yang cerah itu.
"Bagus nya...." gumam Samantha kagum.
"Kenapa kakak ngga ngajak kak Cameron dan William ke sini?"
"Bahaya kalo ada mereka."
"Emang kenapa?"
"Hahaha pokoknya bahaya! Kan besok juga mau ke pantai bareng mereka."
"Oh---" Samantha membulatkan bibirnya.
"Aku ikut?"
"Kamu mau ikut?" Samudra balik bertanya.
__ADS_1
Samantha memandang sejenak wajah Samudra.
"Kalo kakak ngijinin. Kalo engga juga ngga papa sih."
Beberapa detik tidak ada jawaban dari pria itu. Hingga akhirnya...
"Hm, tentu aja boleh. Tapi dengan satu syarat!"
"Apa syaratnya?"
"Kalo ada Cameron dan William, kamu ngga boleh pakai pakaian seperti ini." Jawab Samudra dengan tatapan penuh keserius-an.
....
Setibanya di hotel, Samantha menjatuhkan dirinya di atas ranjang empuk. Ia meraba bibirnya perlahan, hingga kini masih terasa bekas ciuman yang diberikan Samudra. Bukan yang pertama kali memang, namun selalu mampu membuat dadanya berdegup kencang dan tersenyum-senyum sendiri ketika tidak ada seorang pun di sampingnya. Seperti gadis gila? Ah Samantha tidak peduli jika ia dianggap demikian.
Memorinya berkelana mengingat kejadian di pantai sebelum matahari terbenam, tadi.
---- Flashback on
Entah kenapa setiap dekat dengan Samudra, jantungnya selalu berdebar-debar kencang dan selalu gugup.
Samantha terpaku selama beberapa detik. Baru pertama kalinya ia melihat senyum dan tawa lebar Samudra. Biasanya yang ia lihat selalu wajah penuh keseriusan dan tatapan mata tajam yang seolah mengharuskannya untuk selalu patuh dan menurut apa yang menjadi titah pria bertubuh tegap itu.
Memang beberapa kali Samudra memperlihatkan tawa dan gurauan-nya, namun hal itu selalu terjadi selama beberapa detik. Setelah itu kembali wajah dingin dan serius menghias wajah tampan itu.
Tapi, di sore itu berbeda.
Walau hanya mengenakan Tshirt berwarna putih polos dan celana jeans pendek, tetap tidak menutupi pesona dan ketampanan Samudra.
"Sudah puas menganggumi ketampanan kakak?" tanya Samudra yang tiba-tiba saja meloloskan lamunan Samantha. Senyum pria itu bahkan terlihat begitu imut dan memukau.
"Ish-Kakak ini ge-er!" Pipi Samantha merona, Damn! kenapa ketauan sih? batinnya. Ia benar-benar malu bahkan tidak berani memandang wajah Samudra sedikit pun. Karena ketahuan telah mengagumi makhluk ciptaan Tuhan yang maha sempurna itu.
Samudra yang mengetahui gadisnya salah tingkah, mengulurkan tangannya untuk membelai lembut pipi Samantha yang bersemu merah. Ia lebih mendekatkan tubuhnya dan menatap dalam-dalam kedua manik mata indah yang terlihat polos itu.
"Kamu terlihat cantik jika sedang malu-malu seperti ini Sammy," bisik Samudra lirih.
Samantha terdiam, seolah terhipnotis akan tatapan mata Samudra yang mematikan. Dadanya bergemuruh dengan sangat kencang. Selalu saja seperti ini, otot-otot tubuh Samantha bahkan terasa lemas saat berhadapan dengan pria itu.
Ini tidak bisa dibiarkan!
Samudra lalu memindahkan posisinya menghadap Samantha, tangannya membelai halus wajah Samantha hingga menyusur ke rambut Samantha yang tergerai. Kemudian tanpa penolakan, Samudra mendaratkan sebuah ciuman di bibir mungil itu. Samudra tidak bisa menahannya lagi.
Bibir Samantha bahkan bagai heroin yang selalu membuatnya kecanduan. Samudra dengan perlahan menyesap bibir Samantha dengan penuh perasaan.
Samantha memejamkan matanya dan tanpa sadar ia telah mengalungkan tangannya pada leher Samudra. Sentuhan bibir Samudra terasa sangat lembut, bukan ciuman penuh nafsu. Tapi ciuman yang menghantarkan desiran aneh dan menimbulkan sensasi yang membuat bulu di sekitar lehernya meremang. Tanpa disadari ia telah berada di pangkuan Samudra, Samantha bahkan mendesah disela ciuman mereka. Seperti suara deburan riak ombak yang bermain di bibir pantai senja itu.
Samudra yang mendengar itu makin memberanikan dirinya untuk membelai punggung Samantha, cumbuan mesranya beralih menuju leher putih mulus Samantha. Ia bahkan meninggalkan tanda merah, bukti kepemilikannya akan Samantha.
Samudra merasakan darahnya berdesir dan mengalihkan sensasi panas ke sekujur tubuhnya. Samudra memutuskan untuk segera menghentikan ciuman mereka, takut jika berkelanjutan dan ia tidak bisa menahan dirinya menguasai tubuh Samantha.
Tidak! Samudra tidak akan melakukan hal itu, menyakiti gadis kecilnya sebelum pernikahan mereka terjadi.
"Kakak takut tidak dapat mengendalikan diri jika kita melanjutkannya lagi." Ucap Samudra lembut.
Samantha yang mengatur napasnya hanya diam dan menunduk dengan wajah merah. Ia tidak tahu harus merespon apa atas ucapan Samudra tadi. Senja ini ia telah benar-benar berubah menjadi seorang ja*lang kecil.
"We are back to the hotel now?" tanya Samudra.
__ADS_1
Anggukan pelan dari Samantha yang meresponnya.
to be continue...