Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Bianglala


__ADS_3

Samantha berjalan keluar dari kelas, berdampingan dengan Amel dan juga Jully. Hatinya mulai bimbang, bagaimana jika nanti Samudra benar-benar menjemputnya pulang? Seperti yang dikatakannya tadi pagi? Sementara ia belum memberitahu pada Bryan soal rencana kakaknya itu.


Bahkan ocehan Jully dan Amel pun sedari tadi tidak ia hiraukan, fokusnya kini hanya tertuju tentang Samudra.


"Sammy, liat deh si Lita yang sok kecakepan, apa lo gak cemburu liat dia dekat-dekat sama Bryan?" tanya Amel.


Samantha masih tidak menjawab apa yang jadi pertanyaan Amel barusan. Seluruh isi kepalanya saat ini hanya ada Samudra bukan yang lain.


"Sam...!"


Masih tidak ada jawaban.


"Sammy....!" pekik Amel.


"Apaan sih, Mel? Teriak-teriak gitu?" bibir Samantha berkerucut kesal.


"Hello gorgeous.... lo denger gue gak sih?" kini giliran Amel yang berekspresi kesal. Sementara Jully bertingkah seolah masa bodoh dan terus meng-hisap permen lolipop miliknya.


"Apaan sih Mel? Gue lagi pusing ni!"


"Pusing kenapa sih, Lo? Tuh kalo lo cuek-cuek gitu, ntar bisa-bisa cowok lo diembat juga sama Lita lampir." Amel merotasikan matanya ke arah Bryan dan Thalita yang saat itu tengah berbicara berdua di parkiran sekolah. Bryan yang sudah siap dengan helm full face miliknya tengah bertengger di atas motor sport keluaran terbarunya. Sedang Thalita entah ada urusan apa saat itu, yang terlihat berbicara bersama Bryan dengan ekspresi yang begitu bersemangat. Bahkan tangan kanannya ia gelayutkan di lengan Bryan.


"Noh liat, apa lo gak panas liat mereka?" ucap Amel memanas-manasi.


"Mungkin mereka membicarakan tugas Osis kali."


Amel berdecak tidak percaya akan sikap yang Samantha tunjukkan.


"Sammy, kenapa sih lo? Heran gue. Kalo gue jadi lo nih, gue pasti bakal cemburu liat mereka." Amel masih bersungut dengan sikap sahabatnya yang terkesan biasa aja dengan kedekatan Bryan dan Thalita.


"Udah deh Mel, yang pacarnya Bryan Sammy kok lo yang sewot," akhirnya Jully ikut nimbrung juga.


"Gue.... gue...." cicit Samantha.


Belum juga kalimat Samantha selesai, kini kedua sahabatnya kembali rame sendiri ketika melihat sosok yang keluar dari mobil sport berjenis SUV berwarna hitam mengkilat.


"Sammy....!! liat tuh siapa cogan yang baru aja turun dari mobil keren itu?" pekik Amel dan Jully bersamaan.


"Siapa sih?" Samantha ikut mendongak, mencoba mencari tahu sosok cowok yang sanggup membuat kedua sahabatnya itu bertingkah lebay.


"Duh.... gantengnya.... pangeran ganteng impian gue...." gumam Jully dengan ekspresi lebay.


"Enak aja, itu pangeran gue..." Amel menimpali.


"Kalian kenapa sih?" Samantha mendengus heran akan sikap Amel dan Jully.


Samantha pun mengedarkan pandangannya ke arah sosok yang dimaksudkan kedua sahabatnya.


"Kak Am....?" gumam Samantha pelan.


"Eh tunggu-tunggu, Sam! bukannya itu kakak lo ya? Kak Samudra? kakak alumni SMA Unggulan yang terkenal itu?" pekik Amel girang.


Tak ketinggalan Jully pun memasang wajah sok imut ketika dilihatnya pria tampan dengan tubuh atletis tadi berjalan mendekat ke arah mereka.


Spontan saja semua pasang mata siswi-siswi SMA Unggulan yang lain berpusat pada sosok Samudra yang bak artis Korea namun dengan body atletisnya.


Tak terkecuali Thalita, kedua bola matanya bahkan seperti hendak terlepas ketika melihat sosok pria dengan ketampanan yang lebih dari maksimal. Hanya Bryan saja yang terlihat memutar jengah bola matanya, apalagi ketika melihat Samudra mulai mendekat ke arah Samantha.


"Kak Am?" cicit Samantha begitu Samudra mendekat.


"Hai Kak.... kenalin, aku Amel sahabatnya Sammy..." Amel menjulurkan tangannya bermaksud ingin bersalaman dengan Samudra.


Samudra tersenyum sebentar, dan berhasil membuat Amel maupun Jully menjerit histeris.


"Ih.... ganteng banget sih, Kakak udah punya cewek belum?" tanya Jully.


Amel mendengus dan melotot ke arah Jully, seolah protes dengan pertanyaan sahabatnya tadi barusan.


"Eh Kak Samudra gak usah dengerin si penjual cilok ini. Kak Samudra boleh dong minta nomor WA nya?" tanya Amel genit.

__ADS_1


"Ish-apaan sih lo Mel, gue dulu yang minta tadi."


"Jully diem! lo entar aja, gue duluan--- Kak Samudra boleh ya minta nomor WA nya?"


"Gue duluan Amel!"


"Gue...!"


"Gue...!"


Samantha melengus kesal melihat kelakuan norak dua sahabatnya. Sementara Samudra hanya senyum-senyum geli dengan tingkah dua remaja yang sedikit tengil itu.


"Kalian jangan berebut gitu dong, dua-duanya pasti dapat nomor kakak kok, hehehe..." jawab Samudra, spontan membuat kedua gadis berseragam putih abu-abu itu berteriak histeris.


"Aaahhh..... Thanks Kak...!" seru keduanya bersamaan.


Samantha kembali mendengus dan memutar bola mata jengah melihat kelakuan dua sahabatnya yang lebih absurd darinya.


...


"Bryan...." ucap Samantha pelan.


"Kenapa?"


"Sorry, hari ini aku dijemput kakak ku. Jadi kita...." Samantha menggantung ucapannya.


"It's ok, aku gak papa kok. Kan besok kita bisa pulang bareng lagi." Bryan tersenyum tanpa ada kemarahan dalam sorot matanya.


"Serius? Kamu gak marah?"


"Iya, ngapain aku marah? kan dia kakak kamu. Bukan orang lain." Bryan menjawab sambil tersenyum.


"Thank's ya, aku pulang dulu."


"Hm, take care honey..."


Samantha mengangguk pelan dan kembali berjalan ke arah kendaraan Samudra yang menunggunya.


"Emang kenapa? Kamu malu? Atau takut dimarahi Bryan?"


"Gak gitu, kan jadi heboh tuh temen-temen cewek aku."


Samudra tersenyum sembari memandang ke samping, ke arah Samantha.


"Hehehe, kenapa? Kamu cemburu?" goda Samudra. Kedua netranya masih menyorot lembut ke arah Samantha.


"Eh-e-enggak--- siapa yang cemburu?" gagap Samantha.


"Yah.... padahal Kakak berharap kamu cemburu, hahaha!" tawa Samudra.


"Ish-apaan sih Kak Am ini?" kerucut Samantha sembari memutar kedua bola matanya.


"Hehehe!" Samudra kembali terkekeh dan mengacak-acak puncak kepala Samantha.


Selang beberapa detik kemudian, Samudra mulai memacu mobil sport miliknya dan meninggalkan halaman gedung SMA Unggulan.


....


"Kenapa lebih suka rasa vanila?"


"I don't know..."


Samudra tersenyum sebentar, sembari memandang wajah yang selalu berhias senyuman lebar.


"Why you don't know? Bukankah lebih enak rasa coklat?" tanya Samudra lagi.


"Kak Am ini aneh, rasa suka itu datangnya dari hati dan cukup dirasakan bukan untuk dicari tahu kenapa-nya," jawab Samantha sembari terus men-jilat es cream yang sudah setengah lumer di tangannya.


"Hehehe kamu ini...." kekeh Samudra.

__ADS_1


"Kak....."


"Hm?"


"Aku seneng deh, diajak ke sini lagi."


"Bener?"


"Hm," angguk Samantha.


"Bryan gak pernah ngajak ke sini?"


Samantha menggeleng pelan.


"Kakak seneng liat kamu senyum, Sammy."


Wajah Samantha kini memerah.


"Kak liat deh...." tunjuk Samantha.


Samudra pun lalu mengalihkan pandangannya ke arah matahari tenggelam yang dimaksudkan oleh adeknya.


"Indah banget kan?" gumam Samantha takjub.


"Iya, seperti kamu." Samudra kembali memandang lekat ke arah Samantha.


Dari atas bianglala dengan ketinggian yang mungkin mencapai tiga puluh meter dari permukaan tanah, keduanya bisa melihat dengan jelas matahari yang bulat penuh dan berwarna merah dengan perlahan tenggelam di balik langit biru.


Saat ini Samudra dan Samantha tengah berada di pusat permainan Dufan. Tempat yang dulu menjadi favorit Samantha saat kecil. Sebelum pulang ke rumah, Samudra memang mengajak Samantha mengunjungi wahana permainan itu sebentar.


Mereka duduk berdua di dalam satu ruang sempit yang kebetulan permainan itu tengah berhenti sejenak, dan keduanya tepat berada di tengah-tengah ketinggian.


Samantha masih memandang ke arah langit senja itu. Bahkan es cream di tangannya, ia abaikan untuk menikmati matahari yang lama kelamaan mulai turun dan bersembunyi di langit Jakarta petang ini.


"Dasar penikmat senja." Samudra menempelkan es cream miliknya ke arah ujung hidung mancung Samantha. Dan tak ayal lagi membuat Samantha terkaget dan cemberut lucu.


"Kak Am...!" pekik Samantha sembari membersihkan ujung hidungnya dari es cream rasa coklat milik Samudra.


"Hehehe habisnya kamu ini kalo udah liat sunset suka lupa sama yang ada di dekat kamu."


"Maaf...." cicit Samantha.


"Tuh es cream kamu sampai meleleh."


"Eh-iya.... hehehe" ringis Samantha.


"Aku habisin aja sekalian deh," ucapnya lagi. Lalu dengan buru-buru Samantha memakan es cream di tangannya hingga habis.


"Dasar Samantha, belepotan kan mulut kamu." Samudra menggeleng pelan melihat sikap kekanakan adeknya.


Entah, jika bersama Samudra, Samantha menjelma menjadi seperti anak kecil yang begitu polos. Tidak ada nada ketus dan pedas yang seperti biasanya.


Tanpa Samantha duga, tiba-tiba saja Samudra mendekatkan kembali wajahnya seperti saat malam itu.


Manik mata keduanya saling beradu pandang. Hingga keduanya larut dalam sorot mata masing-masing. Mereka terdiam, Samantha bisa merasakan kembali deru napas hangat Samudra yang menyapu seluruh wajahnya.


"Kamu cantik, Sammy." Samudra membelai lembut wajah Samantha dan mengusap bibir adeknya yang belepotan karena es cream vanilanya.


"Kak---mm---" cicit Samantha. Dia bahkan bisa merasakan napas Samudra yang perlahan mulai memburu.


Samantha bahkan tidak bisa berbuat apa-apa ketika Samudra memiringkan wajahnya dan dengan mendadak mulai menciumnya.


Kedua bibir mereka saling menyatu, hanya ciuman kecil di ujung bibir Samantha, tanpa ada pergerakan lebih atau pertukaran saliva di sana.


Hingga akhirnya Samudra menyadari dan menghentikan semua kegilaan ini, ia menarik diri menjauh dari Samantha. Meski jarak keduanya masih terlalu dekat karena ruang sempit dalam bianglala itu.


"Maaf, maafin kakak...." ucap lemah, Samudra.


Samantha masih terdiam mematung, kepalanya mendadak kembali berputar. Seolah ia akan terjatuh dari ketinggian tiga puluh meter. Dia kembali menata napasnya yang memburu cepat.

__ADS_1


"Maafin kakak, Sammy."


to be continue.....


__ADS_2