
Kenapa ya waktu terasa begitu cepat berlalu? Perasaan kemarin Samantha baru saja lulus SMP dan menjadi siswa baru SMA Unggulan. Masa sekarang sudah mau ujian akhir. Agaknya ada yang salah dengan dunia ini. Yang sebagian besar hanyalah panggung sandiwara, namun sekarang ini sandiwaranya beda. Kalo dulu memang tampil di panggung-panggung dengan banyak penonton. Tapi sekarang ini sandiwaara-nya kebanyakan dengan konten-konten serta gimick gak jelas.
Samantha menghela napasnya, suara helaan napasnya terasa berat, seakan-akan sedang mengalami masalah yang serius. Tapi itu memang kenyataannya, Samantha baru menghadapi masalah serius. Super duper triper serius.
Besok adalah jadwal ujian Matematika, dan ia stres. Sangat stres.
Siapa bilang Matematika itu menyenangkan? Kalau ada yang jawab menyenangkan, maju sini by one lawan Samantha.
Dulu saat kelas satu aja Samantha sudah stres, apalagi ini. Dia bahkan sudah mau lulus SMA, dan memang dari dulu pelajaran satu ini adalah momok menakutkan bagi Samantha.
Samantha menyandarkan bahunya di sofa kamarnya. sudah sejak siang hingga malam ini dia duduk lesehan di kamar, berkutat dengan buku modul dan catatan mata pelajaran Matematika. Ia sudah membaca dan mempelajari rumus dasar beserta contoh soalnya, tetapi ketika ia mencoba menyelesaikan soal latihan, ia selalu menemui kesulitan.
Dari sepuluh soal di modul dia hanya menyelesaikan tiga soal, bahkan tidak ada setengahnya. Itu saja Samantha tidak tahu, ia menjawab dengan benar atau tidak.
Samantha pikir, setelah dia beristirahat sejenak dan mengisi ulang tenaga dan pikirannya dengan makan malam, ia bisa mengerjakan soal itu dengan mudah. At least, ia bisa mendapat ilham mendadak tentang cara pengerjaannya. Ternyata itu semua salah. Samantha masih saja bingung dan stuck di satu tempat.
"Sepertinya gue bukan anak Moms-Dad! shi*t!" Samantha bergumam kesal.
Dia memang kebalikan dari Benua. Jika otak Benua yang begitu encer di pelajaran hitung menghitung. Lain halnya dengan Samantha, di pelajaran Kimia, Matematika dan Fisika gadis itu begitu lemot. Banyak guru-guru les yang menyerah ketika mengajarnya. Meski begitu baik Samuel dan Maya tidak pernah memaksa Samantha untuk mendapat nilai sempurna di tiga pelajaran tersebut. Dari dulu Maya dan Sam memang tidak pernah memaksakan kehendak mereka terhadap anak-anaknya.
"Sumpah gue gak akan pernah masuk kuliah yang ada hitung-hitungan kek gini!" dengus Samantha kesal.
"Gimana sih?!!" Samantha memukul-mukul pelan kepalanya sendiri lantaran kesal. Dia pikir dengan memukul kepalanya, Samantha berharap akan mendapat mukjizat pemahaman akan soal-soal tersebut.
Sekali lagi, Samantha mencoba mengerjakan soal-soal itu dan berharap dia akan mendapat hidayah atau bahkan musibah? Entahlah. Samantha masih saja stuck. Gadis itu menelungkupkan kepalanya pada kedua lutut yang ia tekuk sejajar. Hingga sebuah ketukan dari luar pintu kamar pun terdengar.
"Sammy?" panggil pemilik suara yang sudah pasti Samantha hafal.
"Iya sebentar!" jawab Samantha. Ia pun bangkit dan membuka pintu kamar. Saking stresnya ia mengerjakan soal modul Matematika, Samantha bahkan lupa untuk membenarkan rambutnya yang acak-acakan.
"Kak Am?"
"Oh God, where have you been?!"
...
"Oh God, where have you been?!"
Samudra menghela napas lega ketika mendapati presensi gadis itu di depan matanya.
Chat-nya siang tadi tidak juga mendapat balasan sampai saat ini. Awalnya Samudra kira jika gadis itu sedang tidur siang. Ia mencoba bersabar untuk menunggu. Hingga tiga jam kemudian, pesannya tidak kunjung mendapatkan balasan.
Samudra memutuskan untuk bertanya pada Maya sebelum ia memasuki ruang praktek di rumah sakit swasta terbesar di Jakarta. Dalam hati ia juga berharap segera mendapat balasan dari gadis itu. Jika tidak, Samudra harus menemui Samantha setelah ia selesai menangani beberapa pasien yang sudah mengantre-nya.
Tapi betapa kesalnya ia ketika tidak mendapati apa yang ia inginkan. Selama tiga jam ia meninggalkan handphone di laci meja prakteknya. Samudra masih tak kunjung mendapatkan chat balasan dari Samantha. Sebaliknya pesan chat yang masuk dari Gaby telah memenuhi room chat ponsel-nya dan membuat Samudra mengumpat dan langsung bergegas meninggalkan rumah sakit setelah semua pasien-nya selesai ia tangani.
"Kenapa gak ngebales chat kakak dari siang tadi? Hape kamu nggak off, centang dua. Ditelepon gak dijawab. Kemana aja?"
"Kakak coba chat Moms-Dad tapi mereka sedang keluar dan kata Moms kamu di rumah sendirian. Benua juga gitu, dia sedang ada urusan sama temennya dan gak tahu menahu soal kamu. Kenapa selalu bikin kakak khawatir, hm?!"
Samantha menelan ludah. Kepalanya menunduk, tangannya memilin di depan tubuh. Samantha menggigit bibir bagian dalamnya ketika mendengar rentetan kata yang terlontar dari Samudra. Lagi-lagi Samantha merutuki kebodohannya karena lupa mengecek handphone.
"Maaf..." Cicit Samantha dengan kepala menunduk. Tidak berani menatap mata elang milik Samudra.
"Aku lupa kalo hape mode silent. Aku dari siang belajar buat persiapan ujian besok." Lanjut Samantha.
Samudra menghela napas, pandangannya beralih ke sofa dan ranjang Samantha yang penuh berserakan kertas dan beberapa buku modul dengan ketebalan dua kali buku ensiklopedia. Bahkan modul itu terkesan akan terasa menyakitkan jika terkena timpukan-nya.
Samudra mengatur emosinya. Ia memejamkan matanya sejenak.
__ADS_1
"Lain kali jangan diulang, okey?"
"Iya."
"Hape gak boleh mode silent lagi." Samudra menambahkan.
"Iya, maaf." Samantha mengangguk lamat-lamat.
"Kamu udah makan?"
"Udah."
"Boleh kakak masuk?"
"Hm, tapi berantakan."
"It's okay, no problem."
Samudra pun memasuki kamar Samantha dan benar saja, kamar gadis itu saat ini lebih mirip seperti kapal pecah. Bahkan ini lebih parah dari kamar apartemen-nya, pikir Samudra.
"Emang kamu belajar apa, hm?"
"Mathematics."
Samantha mendengus pelan. "Susah, aku gak ngerti sama sekali," gadis itu mengadu.
Samudra lalu mendekatkan diri, duduk pada sofa panjang dekat dengan kasur empuk Samantha.
Samudra mengamati soal di modul itu dengan seksama. Sesekali ia juga membolak-balikkan halamannya sambil mencatat di sebuah kertas kosong.
Samantha dengan mata memerah itu diam mengamati. Jujur ia sudah tidak punya tenaga. Ia begitu lelah baik tubuh maupun otaknya.
"Gini sayang, sampai di sini step kamu udah bener---" Samudra menjeda ucapannya dan mengalihkan pandangannya ke arah Samantha. Pria itu melanjutkan penjelasannya ketika mendapati Samantha mendengarkan penjelasannya.
"'a' itu basis atau bilangan pokok, dengan syarat a > dari 0 dan ≠ 1. Sedang x itu numerus, dengan syarat x > 0. Kalau n itu nilai logaritma." Samudra melanjutkan penjelasannya.
"Terus kalo persamaan logaritma, gimana kak?"
Samudra tersenyum sebentar dan kembali menuliskan sesuatu di selembar kertas putih.
"Bentuknya sama seperti logaritma umumnya. Tapi pada persamaan logaritma ini bentuk logaritmanya ada dua di ruas kiri kanan dan dihubungkan dengan tanda sama dengan. contohnya seperti ini nih..."
"³log(3x+6)\=³log9. Karena basis logaritmanya sama, maka nilai numerusnya juga sama. Sehingga kita bisa nulis seperti berikut...."
"³log(3x+6)\=³log9-->3x+6\=9.
--->3x\=9-6
--->3x\=3. Lalu x\=1."
Samudra menerangkan dengan begitu sabar. Sedangkan Samantha dengan sisa kewarasannya berusaha mencerna. Samudra sudah menjelaskan secara perlahan, bahkan begitu detil. Tapi Samantha sudah begitu lelah untuk mencerna dan memahami. Ibarat mesin, kepalanya kini sudah berasap. Kedua matanya yang sudah memerah kini tambah merah lantaran siap ingin menangis.
"Nggak paham...." cicit Samantha memotong penjelasan dari Samudra.
Menghentikan ucapannya, Samudra tertegun melihat gadis itu yang hampir saja menangis.
Samantha diam saja saat Samudra merengkuhnya ke dalam pelukan. Tangan besar Samudra mengelus punggung Samantha memberikan ketenangan.
"Capek ya?"
__ADS_1
Samantha mengangguk kecil menanggapi ucapan Samudra. Tangan pria itu lalu mengelus puncak kepala Samantha. "Kalo capek istirahat dulu. Nggak baik kalo diterusin belajarnya."
"Tapi kak..."
"Udah nurut aja, aku ke bawah dulu ya, minta mbak Pur bikin cemilan buat kamu."
"Hm," angguk Samantha.
....
Pagi ini Samantha bangun sembari mengerjapkan mata. Tubuhnya menggeliat khas ketika ia terbangun. Mulai meregangkan otot-ototnya sambil menguap lebar, bahkan mulutnya pun tanpa ia tutup.
Mata gadis itu membelalak mendapati sebatang coklat plus mawar merah telah tergeletak di atas kasurnya.
"Pasti dari kak Am," gumamnya. Belum sempat ia menghubungi Samudra. Tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"Hallo...." Samantha menyapa dengan suara khasnya ketika bangun tidur, melalui hape.
^^^"Baru bangun ya?"^^^
"He-em."
^^^"Udah mandi?"^^^
"Belum," geleng Samantha. Gadis itu tetap menggerakkan kepalanya meski Samudra tidak bisa melihatnya.
"Eh coklat dan mawar ini dari kakak?"
^^^"Tentu saja, dari siapa lagi emang?"^^^
^^^"Makasih," jawab Samantha sembari senyum-senyum sendiri.^^^
^^^"Hm, your welcome... Eh hari ini mulai ujiannya?"^^^
"Ini hari terakhir." Jawab Samantha.
^^^"Selesai jam berapa?"^^^
"Dua belas kurang dikit."
Samudra menganggukkan kepala dari seberang sana.
^^^"Jam dua belas kakak jemput."^^^
"Kemana? Kakak gak praktek, emang?"
^^^"Jam segitu pas kakak istirahat. Ada deh, nanti kamu juga akan tau kemana."^^^
"Eum, ya udah."
^^^"Oke, kamu sarapan dulu gih terus mandi dan siap-siap ke sekolah. Good luck, my little pie..."^^^
Samudra mengirimkan kecupan virtual melalui ponsel mereka.
"Hm, Thanks kak."
Dan Samudra pun memutuskan panggilannya.
Wajah Samantha berbinar, sepertinya telepon dari Samudra barusan memberikan semangat pagi buatnya sebelum melakukan aktivitas hari ini.
__ADS_1
Pandangan gadis itu akhirnya tertuju pada tumpukan modul Matematika dan beberapa coretan yang telah tertumpuk rapi di atas meja. Ujian Matematika... gumamnya. Membuat mood-nya kembali anjlok!
to be continue...