
"Den Samudra? Sini-sini Den, kopornya biar bibik bawa masuk," ucap wanita tua yang selalu bersanggul kecil di atas kepala.
"Makasih Bik, oh ya mommy di rumah kan, Bik?" tanya Samudra sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah.
"Iya Den, Nyonya di rumah. Sedang ada di dapur sama Tuan."
Samudra mengernyit heran. "Daddy di rumah?"
"Iya, Den," angguk bibik.
Wanita tua itu pun mengalihkan perhatiannya ke arah Veronika, perempuan cantik yang berada di belakang Samudra.
"Ini---?"
"Oh ya ini Veronika, Bik." Samudra mengenalkan.
Bibik mengangguk sopan, tangan rentanya pun bermaksud meraih kopor Veronika, namun dengan refleks cepat Veronika menjauhkan kopor miliknya.
"Gak papa Ve, bibik cuma pengen bawa-in kopor kamu aja."
"Owh-oke..." angguk Veronika ber-ekspresi sedikit angkuh ke arah bibik.
Samudra menggandeng tangan Veronika dan memasuki rumah besar dengan perabot serta pernak-pernik yang terlihat sangat mahal.
Sementara Bibik berjalan mengikuti sembari mendorong dua kopor milik Samudra dan teman perempuannya.
...
"Moms-Dad...." ucap Samudra begitu ia melihat dua sosok yang begitu ia rindukan saat berada di Boston.
Samudra mengingat masa kecilnya dulu, selalu berhambur ke pelukan Maya dan Samuel ketika ia pulang ke rumah.
"Am....!" seru Maya begitu ia berbalik badan melihat sosok putranya yang satunya lagi. Sementara Samuel terlihat tersenyum senang ketika melihat kembali wajah Samudra kecilnya dulu.
"Kamu kok gak bilang kalo pulangnya hari ini? Kan bisa Daddy jemput." Maya memeluk tubuh Samudra begitu jarak keduanya semakin dekat.
"Kata kamu, sabtu besok pulangnya? Kok dimajukan?" tanya Maya kembali. Ia memandang lekat wajah putranya. Seolah tidak percaya jika Samudra kecil nya yang dulu kini menjelma menjadi sosok pria dewasa yang begitu tampan.
"Rambut kamu?" tanya Maya heran saat menyadari jika kini Samudra merubah penampilannya, terutama dengan warna rambutnya.
"Pengen buat surprise aja sama kalian," jawab Samudra sembari terkekeh kecil.
"Hai nak...." Kini giliran Samuel yang memeluknya erat.
"How are you?"
"I'm fine, Dad." Samudra membalas pelukan ayahnya selama beberapa detik. Hingga pelukan keduanya terhenti ketika Maya mengalihkan perhatiannya pada gadis cantik yang menemani Samudra dan berdiri di belakang putranya.
"Ini pasti Veronika?" tanya Maya lembut. Senyum hangatnya mengembang ketika melihat gadis dengan surai panjang kecoklatan. Maya seolah merasa jika pernah melihat seseorang yang mempunyai wajah yang mirip dengan teman perempuan Samudra.
"Iya, Tante. Saya Vero." Veronika menjawab dan membalas jabat tangan Maya. Ia pun mendaratkan cipika-cipiki di pipi Maya yang tetap terlihat chubby.
__ADS_1
"Kamu cantik sekali...." ucap Maya ramah.
"Sayang, suruh Am dan Vero istirahat dulu. Kasian kan mereka pasti capek."
"Oh-iya maaf Mommy terlalu bersemangat kamu datang Am. Habisnya sudah berapa tahun kamu gak pulang, hm?"
"Hehehe sorry, Mom."
"It's ok.... yuk kalian ke kamar dulu biar mommy anter."
Samudra mengangguk, namun kedua netranya kini berotasi melihat ke setiap sudut rumah. "Sammy dan Benua mana, Mom?"
"Kalo jam segini sih adek kamu masih di sekolah, Am. Nanti deh jam 5 sore mereka baru pulang." jawab Maya di sela-sela langkahnya.
Sementara Samuel berjalan dengan selalu menggandeng Maya erat.
"Nah ini kamar kamu, sayang. Deket sama kamarnya Am." Maya mengajak Veronika memasuki sebuah kamar yang berdekatan dengan kamar Samudra.
Gadis itu terlihat kagum dengan kamar tamu yang keluarga Samudra siapkan untuknya. Kamar luas dan bersih dengan ranjang berukuran kingsize. Sebuah sofa serta nakas melengkapi ruangan luas itu. Televisi dengan layar lebar serta vas bunga berisikan mawar kuning dan merah menjadi pengharum ruangan alami yang begitu menyegarkan.
Veronika senang, keluarga Samudra ternyata begitu terbuka menyambut kedatangannya.
"Kamu suka sama kamar kamu, sayang?" tanya Maya mengagetkan Veronika.
"Iya, Tante.... Vero suka sekali."
"Bagus deh kalo gitu. Nah sekarang kamu istirahat dulu ya. Sebentar lagi kita makan bareng-bareng, kamu pasti lapar kan? setelah perjalanan jauh?"
Maya mengangguk pelan dan kembali memeluk Veronika. "Iya sama-sama, sayang." Ucap Maya. Ia lalu berjalan keluar dari kamar dan meninggalkan Veronika sendiri, agar gadis itu bisa istirahat setelah perjalanan yang melelahkan.
....
"Kamu ini kenapa selama delapan tahun gak pernah pulang, hm?" tanya Maya begitu ia dan Samuel berada di kamar milik Samudra.
"Am sibuk, sorry Mom," jawab Samudra bersalah.
"It's ok, Am. Yang terpenting kamu selalu sehat di sana," jawab Maya sembari memeluk putranya.
Samuel menepuk pelan pundak Samudra sehingga membuat Samudra merenggangkan pelukan Maya dan beralih ke arah Samuel. "Kuliah dan kerjaan kamu di sana gimana, nak? Semua lancar?" tanya Samuel. Ia memandang hangat Samudra.
"Semua lancar, Dad. Gak ada masalah," angguk Samudra sembari tersenyum.
"Syukurlah...." ucap Samuel lega.
"Sam, kita biarkan Am istirahat dulu."
Samuel mengangguk pelan dengan kedua tangan yang ia masukan ke dalam saku celana jeans casualnya. "Baiklah," ucap Samuel.
"Kamu istirahat dulu Am, mommy siapin makan dulu trus kita makan bareng-bareng."
"Thank's, Mom."
__ADS_1
Maya mengangguk pelan, kemudian membawa Samuel untuk keluar dari kamar putranya.
....
Samudra melihat jam dinding dengan ekspresi gelisah, ia pun berkali-kali melirik ke arah arloji Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya. Wajah tampannya terlihat gusar, bahkan gelak tawa Maya maupun Veronika tidak membuatnya fokus sore itu.
Bahasa tubuh Samudra benar-benar seperti orang gelisah, selalu bergerak dalam duduknya. Bahkan beberapa kali ia duduk lalu berdiri mondar-mandir di ruang keluarga. Dan itu terjadi berulang-ulang hingga Maya menegur atas apa yang menjadi tingkahnya kali itu.
"Kamu kenapa sih Am? seperti orang gelisah gitu?" tanya Maya heran.
Samudra mengalihkan pandangannya ke arah Maya dan juga Samuel, lalu menggeleng pelan. "Sammy kenapa belum pulang juga ya Mom? Ini udah hampir pukul enam sore lho," tanyanya khawatir.
"Mungkin sebentar lagi, Am. Hari ini dia kan ada latihan ekskul karate, biasanya sih emang telat pulang pas ada ekskul itu."
Samudra membolakan matanya. "Samantha ikut ekskul karate?" tanyanya tak percaya.
"Iya, adek kamu itu emang menurun sifatnya Daddy." Maya melirikkan kedua bola matanya nakal ke arah Samuel. Seolah tau sedang disindir oleh istrinya, Samuel semakin mengeratkan pelukannya pada pundak Maya.
"Dia bahkan udah sabuk hitam lho, Am." Maya melanjutkan kembali ucapannya.
Netra Samudra dalam sekejap berbinar cerah, senyum kecilnya pun tertarik dari sudut bibir tipisnya. Ada-ada aja anak itu, batin Samudra geli.
Veronika dapat melihat bola mata Samudra tampak berseri-seri ketika membicarakan saudara perempuannya, Samantha.
Veronika selama ini belum terlalu mengenal sosok Samantha. Samudra bahkan tidak pernah bercerita apapun soal saudara perempuannya itu. Ketika di apartemen Samudra, Veronika memang pernah melihat foto gadis remaja yang begitu cantik bersama seorang cowok sepantaran dan juga kedua orang tua Samudra. Namun Veronika hanya melihatnya sambil lalu, tanpa ada niat untuk lebih fokus lagi pada sosok gadis itu.
....
"Sore, Moms-Dad....!"
Spontan Samudra mengalihkan perhatiannya ke arah sumber suara tadi. Ia menoleh dan melihat siapa yang datang. Senyumnya pun terlihat sedikit mengembang.
"Benua....? Kamu pulang sendirian? Samantha mana?" tanya Maya heran.
"Dia kan pulang sama Bryan, Mom," jawab Benua.
Ekspresi Benua kini tiba-tiba berubah, ketika melihat sosok sang kakak yang berdiri memandangnya.
"Kak Am....?" pekik Benua senang.
"Hai dude...." Samudra tersenyum.
Tak lama kemudian keduanya pun saling berpeluk hangat. Samudra memandang lekat-lekat sosok sang adek yang kini terlihat semakin dewasa dan tampan.
"Gue kangen sama lo, Kak..." ucap Benua di sela-sela pelukannya.
"Gue juga, Ben. Hahaha!" tawa Samudra pun pecah. Namun ada seseorang yang tengah ia rindukan. Dan keterlambatan orang itu tentu saja membuatnya cemas.
Dan siapa Bryan? batin Samudra.
to be continue....
__ADS_1