Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Pulang


__ADS_3

Namun menurut Bryan tidak seperti yang disangkakan oleh Samantha, dia begitu acuh oleh segala bentuk perhatian dan pandangan histeris para murid-murid perempuan SMA Unggulan.


Sorot mata Bryan hanya tertuju akan sosok cantik berwajah ke-bule-an dengan rambut ikal kemerahan. Siapa lagi kalau bukan Samantha.


Cewek paling unik yang pernah Bryan kenal. Dia tetap terlihat cantik meski Samantha tidak pernah menunjukkan eksistensinya. Gaya sederhana dan apa adanya selalu bisa membuat Bryan terpesona sejak mereka berada di kelas sepuluh. Hanya saja selama dua tahun terakhir, Bryan takut mengakuinya. Mendekati Samantha sama saja dengan percobaan bunuh diri.


Siapa yang tidak ciut nyalinya jika berhadapan dengan gadis dingin dan cuek yang jago karate? Ditambah Samantha bukan anak sembarangan, dia dan Benua terbilang murid yang paling disegani oleh anak-anak yang lain. Bahkan bukan hanya para siswa-siswi SMA Unggulan, para tenaga pengajar pun terlihat begitu segan jika berhadapan dengan keduanya.


Padahal menurut Bryan, Benua bukan termasuk anak arogan, sehinga ia dan Benua bisa bersahabat. Mungkin karena hobi mereka sama yaitu basket dan futsal.


Namun berbeda dengan Samantha, Bryan selalu berubah menjadi orang bodoh jika berhadapan dengannya. Hingga hari itu, ketika ia memberanikan diri mendekati Samantha.


Tanpa sengaja Bryan melihat kebaikan dan kelembutan hati gadis itu. Yang ketika itu Bryan melihat jika Samantha dengan tulus memberikan air mineral dan sedikit bantuan uang kepada seorang anak kecil berpakaian lusuh yang saat itu tengah me-ngamen di halte bis.


Bryan baru kali itu menyaksikan senyuman lembut Samantha yang melengkung tulus pada anak kecil dengan wajah begitu mengiba. Senyuman yang mampu meruntuhkan dinding yang ia buat setelah sekian lama.


Hingga ia pun memberanikan diri untuk memberikan botol mineral miliknya, menggantikan botol air mineral milik Samantha yang telah berpindah tangan ke anak kecil tersebut.


Bryan mengulum senyuman saat mengingat kejadian beberapa saat sebelum mereka jadian. Kini kedua mata Bryan terlihat hanya fokus pada satu gadis berpakaian Dogi berwarna putih dengan sabuk hitam "kebesaran"nya.


....


Samudra melangkahkan kaki pada lantai marmer putih bandara internasional Soeta, diikuti oleh Veronika yang kala itu mengenakan celana jeans slimfit casual berpadu atasan kaus oblong putih lengkap dengan jaket almamater warna merah yang bertuliskan Harvard University.


Sepatu heels maroon melengkapi penampilan Veronika kali ini. Lengan gadis itu pun menggelayut manja pada salah satu lengan Samudra. Mata Veronika membola berbinar-bibar ketika melihat bandara internasional di Jakarta yang ternyata menurut Veronika sangat bersih dan luas, tidak berbeda jauh dengan yang ada di Boston Amerika Serikat.


Terang saja Veronika terlihat takjub ketika pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Jakarta. Ini pertama kalinya ia terbang ke Jakarta setelah sekian lama. Entah kenapa ibunya tidak pernah memberinya ijin atau membawanya pulang ke Indonesia.


Senyum lebarnya bahkan tak pernah berhenti tertarik di kedua sudut bibir merahnya.

__ADS_1


"Sam... thank's ya udah bawa aku ke Jakarta,"


Samudra mengangguk dan tersenyum. "Kamu bilang sama mama kamu kan kalo perjalanan kita ke Jakarta?" tanya Samudra.


Veronika mengangguk pelan, namun kedua netranya kini berotasi gugup. "I-iya lah masa aku gak bilang," jawab Veronika gugup.


Sebenarnya gadis itu tidak pernah berterus terang pada orang tuannya, terutama kepada sang ibu. Veronika berdalih ikut perjalanan bersama Samudra ke Thailand bukan ke Indonesia.


"Bener?" Samudra seolah dapat merasakan bahwa gadisnya itu sedang tidak jujur.


"Iya, huns... udah ah jangan bahas ini lagi." Veronika memasang wajah cemberut. Sebenarnya ia hanya sedang berdalih agar Samudra tidak lagi menginterogasinya.


"Ya udah, kita langsung ke rumah aku dulu ya."


"Hm."


"Iya," dan lagi-lagi Veronika mengangguk.


...


"Sam."


"Hm?"


Veronika kali ini mengalihkan perhatiannya ke arah Samudra. Ia memandang pria yang saat ini tengah duduk di sampingnya dengan ekspresi datar.


"Tanggapan Mommy sama Daddy kamu gimana?"


"Tanggapan apa?"

__ADS_1


"Ya soal aku yang ikut kamu dan nginep di rumah kamu." Veronika sedikit gugup, jemarinya bahkan tanpa sengaja meremas lengan Samudra hingga ada bekas kemerahan pada lengan putih itu.


"It's ok, mereka welcome kok ama kamu."


"Serius?" tanya Veronika tak percaya.


"Iya."


Samudra meraih pipi tirus gadis itu dan mengusap lembut.


"Kamu tenang aja ya," senyuman Samudra kini ia perlihatkan di tengah kegugupan Veronika.


"Hm," angguk Veronika. Ia pun lalu kembali mengedarkan seluruh pandangannya ke arah luar kaca jendela taksi. Melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan keramaian kota yang seolah tidak pernah tidur. Jakarta ternyata sekarang seindah ini? batin Veronika.


....


Taksi putih itu pun berhenti di depan rumah megah dengan empat pilar dari beton yang begitu kokoh. Rumah bergaya Eropa modern, hampir mirip seperti castil yang ada di Inggris ataupun negara-negara kingdom lainnya.


Netra Veronika membola takjub, bibirnya pun membulat melonggo melihat rumah sebesar dan seindah itu. Bahkan baru kali ini ia menjumpai langsung rumah bak istana dan itu ada di Jakarta.


"Kita masuk?" ucapan Samudra membuyarkan lamunannya. Veronika mengangguk pelan, hatinya kini dag dig dug. Membayangkan bagaimana respon yang ditunjukkan oleh kedua orang tua Samudra nanti.


Semoga mereka menyukaiku, batin Veronika dengan dada bergemuruh.


Veronika pun mengikuti langkah kaki Samudra sembari mendorong kopor pakaian di tangan kirinya.


Dadanya semakin bergemuruh, kini.


to be continue....

__ADS_1


__ADS_2