
"Anjirlah, macet!"
Adalah umpatan yang kesekian kalinya keluar dari mulut Samudra. Kemacetan yang terjadi membuat mood-nya bertambah buruk. Sudah setengah jam sejak ia keluar dari gerbang rumah mewah kakek Baskoro. Harusnya lima belas menit yang lalu dia sudah sampai di tempat tujuan. Tapi karena macet, dia bahkan belum sampai setengah jalan.
Bicara soal pertemuannya tadi dengan Baskoro dan Elsi kakek-neneknya. Samudra telah memaafkan segala apa yang sudah terjadi. Termasuk soal ketidakpedulian Baskoro akan kehadirannya dulu. Kemarahan serta keras hatinya lelaki tua itu kini perlahan-lahan mereda. Begitupun dengan Samudra, dia berjanji akan kembali mengunjungi kedua kakek-neneknya, keluarga kandung yang masih tersisa saat ini. Dan persoalan perusahaan serta aset-aset mereka yang akan dipindah alihkan pada Samudra, pria itu belum memutuskan akan menerimanya atau tidak. Mengurus bisnis dan perusahaan bukanlah keahlian Samudra. Passion Samudra saat ini hanyalah di dunia kesehatan. Entah mengapa. Mungkin ini menurun dari Harris, sang ayah.
Samudra menghela napasnya kasar. Pria itu lalu meneguk sisa soda yang ia bawa dari rumah kakek Baskoro tadi. Kedua netra yang terbingkai kacamata bening itu lalu tidak sengaja menangkap presensi seseorang yang ia kenal dan berdiri di depan sebuah toko sebrang jalan. Matanya semakin menyipit guna memastikan orang itu.
"Ck!"
"Katanya ada acara di sekolah, malah pacaran di sini!"
Samudra mendengus kesal.
"Pantes aja gak jawab pesan gue!"
Lagi-lagi Samudra bermonolog pelan. Beberapa kali tangannya memukul-mukul kemudi sedan hitam yang ia kendarai.
"Wait... wait a minute...! Is that Bryan?!" gumam Samudra yang tambah kesal.
Iya orang di seberang itu adalah Samantha dan Bryan. Samudra yakin seratus persen. Yang membuatnya tambah kesal adalah Bryan dengan santainya memakaikan helm pada Samantha pula.
Samantha berbohong, itu yang ia simpulkan.
Mood-nya tambah ambles ke dasar lautan alias tambah hancur!
....
Beberapa saat sebelumnya
Samantha berdiri di depan gerbang sekolah sambil menunggu gelisah mobil jemputan Pak Heru, sopir pribadi keluarganya.
"Mau pulang bareng gue, Sam?"
"Gak usah Mel, bentar lagi gue dijemput kok."
"Siapa? Kak Samudra?"
Samantha menggeleng. "Bukan, dijemput Pak Heru sopir gue."
"Owh, yakin ni gak mau pulang bareng? udah jam setengah delapan lho."
"Iya," angguk Samantha. "Lo duluan aja gih, Jully juga baru aja pulang tadi."
"Oh-ya udah. Kalo gitu gue duluan ya, bye...." Amel melambaikan tangannya dan dibalas oleh Samantha. Kemudian tangan kanan Amel menarik gas motor matic miliknya dan mulai menjauh dari Samantha.
Tangan Samantha masih terlihat melambai ke arah Amel yang mulai menambah jarak dengannya.
Hingga tiba-tiba suara dering ponsel berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel-nya.
^^^Maaf Non, mobilnya tiba-tiba mogok. Saya masih jauh dari sekolahan Non. Non Samantha naik go car aja ya?^^^
^^^Pak Heru^^^
"Yah... mana udah pada pulang, lagi!" gumam Samantha.
"Apa gue nelfon kak Am aja ya?" Samantha kembali bergumam sendiri. Hampir saja ia mencari kontak nomor Samudra. Tiba-tiba saja....
"Hey, belum pulang?" sebuah suara yang terbilang sangat nge-bass untuk seumuran anak SMA tiba-tiba saja datang menyapanya.
__ADS_1
"Belum, mobil jemputan gue malah mogok," jawab Samantha membuang napas berat.
"Mana Amel dan Jully udah pulang duluan lagi," dengus Samantha.
"Benua?"
"Dia sih udah pulang dari tadi, bareng Lalis."
"Oh Lalisa? Gebetan Benua?"
"Hm," Samantha mengangguk.
"Ya udah bareng aku aja?"
"Nggak deh, makasih."
"Ayolah... aku janji gak bakal macem-macem lagi. Aku anter sampai rumah."
"Tapi---"
"Daripada kamu kemaleman nanti? Naik motor bisa menghemat waktu sampai setengah jam lho." Bryan terus saja membujuk gadis itu.
"Come on...." ucap Bryan lagi.
"Oke deh," angguk Samantha akhirnya.
Bryan tersenyum sembunyi dari balik helm full face miliknya.
"Nih pake helmnya." Bryan menyodorkan helm berwarna putih yang dulu selalu dipakai Samantha saat mereka masih pacaran.
"Lo masih bawa-bawa helm ini? Gak ribet apa?"
"Oh C'mon.... stop bahas soal itu lagi." Samantha rupanya tahu arah pembicaraan Bryan.
"Hehehe oke-oke..." Bryan akhirnya menarik gas motor sportnya dalam-dalam. Hingga membuat Samantha mau tak mau berpegangan pada sisi kanan-kiri hoodie hitam yang Bryan kenakan.
"Pelan-pelan bawa motornya!" Protes Samantha dengan sedikit berteriak karena suara deru angin yang begitu kencang.
....
Ketika Samantha dan Bryan melewati kawasan pertokoan, Samantha teringat harus membeli salah satu perlengkapan untuk rekapan tugasnya.
"Bryan, berhenti di toko buku itu sebentar. Ada yang harus gue beli!"
Bryan mengangguk dan menghentikan laju motor besarnya. Samantha turun dari motor dan melepas helm full face yang ia kenakan. "Tunggu sebentar ya, gak lama kok." Samantha mengulurkan helm berwarna putih itu ke Bryan. Dan cowok itu hanya mengangguk pelan tanpa ada perasaan keberatan atau bantahan sama sekali.
....
Hingga akhirnya Samudra melihat sesuatu yang begitu menyakitkan, dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan mereka saat mobilnya melewati daerah pertokoan tersebut. Memergoki Samantha keluar dari salah satu toko buku dan berjalan ke arah seorang laki-laki yang mengenakan outfit khas anak motor.
Motor sport besar empat silinder keluaran produsen asal Italia tersebut terlihat begitu angkuh saat membawa Samantha di atas jok boncengan.
Kemarahan Samudra semakin memuncak tatkala melihat laki-laki itu memakaikan Samantha helm yang juga berbentuk full face. Dan Samudra sadar jika laki-laki ber-helm full face dan ber-hoodie hitam itu adalah Bryan.
"Brengsek!" umpat Samudra.
...
"Thank's ya." Samantha melepas helm sport yang ia kenakan dan mengulurkannya ke arah Bryan.
__ADS_1
"Dengan senang hati, gorgeous."
Samantha tidak merespon. Dia tau jika Bryan tengah berusaha meluluhkan hatinya kembali. Tapi bagi Samantha, hanya ada Samudra seorang. Sejak dulu hanya ada dia.
...
"Udah ya, gue masih ada tugas yang harus selesai." Samantha berdalih.
"Oh-okey. Aku pulang dulu."
"Hm, sekali lagi makasih."
Bryan mengangguk, tanpa melepas helm yang menutupi seluruh wajahnya, dia pun berbalik arah dan memacu motor sport nya keluar dari halaman luas mansion Samantha.
Samantha memasuki rumah dengan langkah gontai. Malam ini dia pikir lebih baik dia tidur di rumah kedua orang tuanya saja. Besok pagi-pagi baru ke apartemen Samudra. Padahal sesuai perjanjian mereka, tiap jumat malam Samantha harus menginap dua hari di apartemen, dikarenakan SMA Unggulan hanya aktif lima hari pembelajaran. Jadi sabtu dan minggu adalah waktu dimana Samudra dan Samantha biasa hangout bersama.
"Kamu pulang sama siapa, Sammy? Tadi Pak Heru telfon Moms katanya mobil mogok?" tanya Maya begitu melihat sosok anak perempuannya memasuki mansion.
"Iya, Sammy pulang sama Bryan."
"Gak dijemput Kak Am?"
"Kak Am ada urusan, katanya."
"Owh...."
"Moms, aku ke kamar dulu ya. Sammy capek banget."
"Iya udah istirahat dulu gih."
"Iya," angguk Samantha. Dia pun mencium kedua pipi Maya dan lanjut berjalan ke lantai dua kamarnya.
...
Samantha menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk. Ah mandi bisa menunggu, pikirnya.
Hingga tiba-tiba ia teringat akan pesan teks yang Samudra kirimkan beberapa jam yang lalu belum sempat ia balas.
Buru-buru ia menuliskan kalimat di layar ponselnya.
^^^Kak, maaf baru balas. Tadi Pak Heru WA aku kalo mobilnya mogok. Terus aku balik sama temen aku.^^^
^^^Malam ini aku tidur di rumah dulu ya? Besok pagi-pagi aja aku nginep ke apartemen kakak^^^
^^^Nggak apa-apa kan kak? Aku capek banget. Udahan dulu ya. Bye. Love you...^^^
Samantha menarik napas panjang sembari berdiri dari rebahnya. Meninggalkan ponsel-nya begitu saja di atas kasur. Ia pun beranjak ke dalam kamar mandi.
...
Sementara di apartemen, Samudra berkali-kali meninju samsak yang bergelantungan di balkon apartemen. "Sial! Damn!" umpatnya berkali-kali.
Mengingat kejadian waktu tadi, semakin membuat darahnya mendidih.
Ponsel pipihnya yang tergelatak di atas nakas depan televisi, membuatnya tidak mengetahui pesan dari Samantha.
"Brengsek!" Dengus Samudra kesal.
to be continue....
__ADS_1