Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Good Night, My Little Girl


__ADS_3

"Bryan..."


"Hm?"


"Thank's ya udah anterin aku pulang." Samantha menyodorkan helm full face nya ke arah Bryan. "Ini helm kamu."


"Bawa aja, sayang. Bukankah besok kita bareng lagi?"


"Gak papa aku bawa? Helm ini kan mahal?" tanya Samantha mengernyit heran.


"Gak ada kata mahal buat kamu, Sammy."


Bryan memandang lembut wajah gadisnya.


"Thank's...." ucap Samantha lagi.


"Hm."


"Oh ya kamu mau masuk dulu?"


"Gak papa nih?" tanya Bryan memastikan tawaran gadis itu.


Samantha terkekeh sebentar. "Ya gak papa lah, kan aku yang nawarin."


"Owh oke kalo gitu," jawab Bryan penuh percaya diri.


"Tapi apa kamu gak takut? Daddy aku galak lho."


"Jadi cowok itu harus gantle, berani membawa anak gadis orang berarti berani ketemu sama orang tuanya dong," jawab Bryan tegas tanpa ada rasa segan sedikitpun.


Samantha memanyunkan bibirnya lucu. "Hm... sok gantleman ah, hehehe."


Bryan tersenyum kecil sembari menggaruk-garuk tengkuknya. Sebenarnya dalam hati Bryan, dia merasa gugup jika harus bertemu Samuel. Pemegang saham terbesar dari yayasan sekolah SMA Unggulan.


"Ya udah kita masuk sebentar yuk," ajak Samantha. Ia pun meraih punggung tangan Bryan dan menariknya masuk ke dalam rumah besar itu.


"Moms-Dad....! Sammy pulang! Liat deh siapa yang pengen ketemu sama Moms-Dad-ddy---" Samantha menghentikan langkahnya tiba-tiba. Netranya membola terkejut ketika melihat sosok pria tampan dengan tubuh atletis yang sedang duduk dan tertawa bersama kedua orang tuanya dan juga Benua.


Pria berhidung mancung dengan kedua iris mata yang sanggup membuat Samantha salah tingkah jika menatapnya.


Wajahnya tidak pernah bisa hilang dalam ingatan Samantha meskipun pria itu kini mengganti warna rambutnya menjadi pirang keperak-an.


"Kak Am...?" cicit Samantha dengan ekspresi terkejut.


"Sammy.... kok malah diem? emang siapa yang pengen ketemu Moms-Dad, hm?" tanya Maya begitu menoleh ke arah putrinya.


Samantha masih terdiam di tempat, matanya kini mendadak berkunang-kunang. Seolah ingin menjatuhkan dirinya tiba-tiba, lidahnya kelu tanpa tahu harus ngomong apa.


"Sammy.....?" ucap Maya lagi yang kali ini berhasil membuyarkan lamunan Samantha ketika ia melihat Samudra dan.....


Seorang cewek cantik? batin Samantha kesal.


"Saya Bryan, Tante-Om..." jawab Bryan tiba-tiba setelah ia melihat Samantha yang hanya diam melamun.


"Oh-i-iya.... ini Bryan, Moms-Dad." Samantha kini memperkenalkan Bryan kepada Maya dan juga Samuel. Ia menarik lengan Bryan dan mengajaknya mendekat ke arah anggota keluarganya yang kali ini terlihat lengkap. Orang tuanya, Benua dan juga Samudra. Bahkan kini ditambah lagi satu orang yang Samantha tidak mengenalnya, seseorang yang sangat cantik.


"Oh ini yang namanya Bryan?" tanya Maya dengan membulatkan bibirnya. Senyum ramahnya pun langsung menyambut uluran tangan Bryan. Begitu pun dengan Samuel, hanya saja wajah Samuel masih terlihat dingin dan berwibawa.


"Dan Bryan ini cowoknya Sammy," ucap Samantha dengan penekanan dan melirik ke arah Samudra yang kala itu ia hanya diam tanpa ekspresi apapun.

__ADS_1


"Dasar tukang pamer, si jenong." Benua angkat bicara, ia bersungut dan mencebik lucu ke arah saudari kembarnya.


"Biarin daripada lo jomblo seumur hidup."


"Hust udah jangan ribut, ada Veronika ni, kan malu kalo kalian berdua ribut mulu." Maya menengahi keributan dua anak kembarnya yang tak identik.


"Hehehe gak papa kok, Tant. Vero malah suka liatnya, jadi rame...."


"Oh jadi lo suka liat gue dan Benua berantem mulu? Gitu maksud lo?" Samantha mendengus sewot.


Namun kemudian dengan cepat Maya kembali menengahi keadaan. "Sammy....! gak boleh kasar gitu sama temen kakak kamu."


"Sammy, cepat kamu minta maaf!" kali ini Samuel ikut angkat biacara.


"Tapi, Dad...."


"Sammy...." potong Samuel cepat-cepat sebelum anak gadisnya melanjutkan aksi protesnya.


"Gak papa kok, Om." Ujar Veronika dengan wajah polosnya.


Samantha hanya bisa mendengus kesal kali ini, namun satu kata maaf akhirnya terlontar juga dari bibirnya. "Sorry...." cicit Samantha.


Entah kenapa hatinya kini menjadi panas ketika melihat Samudra pulang membawa seorang gadis yang keluarganya atau bahkan dia sendiri belum begitu mengenalnya. Atau apakah ini cemburu? Ah entahlah Samantha sendiri tidak mengerti perasaan apa ini.


"Oh jadi kamu ya yang lagi deket sama anak gadis tante?"


"Iya, Tant." Bryan mengangguk pelan.


"Sini, Bro. Duduk sama gue." Benua menawarkan sofa kosong di dekatnya, agar Bryan bisa duduk rileks di sana.


Bryan pun berjalan ke arah kanan Benua dan ikuti Samantha yang duduk di sampingnya. Dilihatnya Maya dan Samuel yang terlihat begitu welcome padanya. Bryan menilai jika Samuel, ayah Samantha tidak begitu menyeramkan seperti gosip yang beredar di sekolah. Bryan bahkan menilai jika Samuel adalah sosok yang tegas namun sangat memahami jiwa anak muda seperti dirinya.


"Oh-iya Bryan, Tante titip Samantha ya. Dia itu emang rada-rada bandel dan keras kepala seperti Daddy-nya, hehehe," goda Maya.


Samantha hanya bisa cemberut mendengar ucapan Maya tentangnya.


"Mommy ih-- Sammy gak gitu kok."


"Hehehe iya kan mommy bilang rada-rada, jadi ya kadang bandel kadang jadi anak baik." Maya melanjutkan.


Samantha kembali terlihat cemberut dan membuat semua orang tertawa kecil melihat ekspresi gadis itu. Terutama Samudra.


...


"Sammy....." ucap Samudra yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Samantha.


Membuat gadis itu sedikit terkejut akan kehadiran sang kakak.


"Kamu apa kabar?" tanya Samudra yang kini duduk di pinggir ranjang berukuran queen.


"Baik," jawab Samantha terdengar dingin, dia bahkan tidak berpaling ke arah Samudra yang berada di belakangnya. Netra Samantha masih saja fokus pada laptop dan duduk di sofa kecil yang sekaligus menjadi tempat pelepas lelahnya.


"Bisa kamu melihat ke arah kakak, Sam?" tanya Samudra agar dia dapat melihat wajah adek perempuannya.


Samantha melengus dan berbalik menatap Samudra. "Apa?"


"Kamu marah sama kakak?"


"Gak, ngapain aku marah sama kak Am?" kerucut Samantha.

__ADS_1


"Bener?" Samudra kembali membujuk adek kecilnya itu, senyuman kecil kini melengkung di semua sudut bibir Samudra.


Ah sial! Kenapa setiap dia senyum semakin terlihat ganteng gitu sih? batin Samantha. Wajahnya kini pun terlihat bersemu kemerahan.


"Hahaha! kenapa kamu jadi malu gitu?" tawa Samudra pun membuat ketampanannya semakin maksimal.


"Siapa yang malu?" Samantha kini mencoba menyembunyikan perasaannya. Iya, kakaknya benar. Dia bahkan terlihat begitu grogi saat berada dalam jarak sedekat ini dengan kakaknya. Samantha jadi ingat akan ucapan Amel tempo hari, 'setiap deket sama cogan dia selalu grogi.'


Bahkan saat bersama Bryan, ia tidak merasakan hal yang seperti ini.


"Itu tadi bener cowok kamu?" Samudra kini memasang wajah serius.


"Siapa?"


"Itu yang tadi--- Bryan?"


"Ow-Bryan? I-iya, emang kenapa?"


"Hehehe Sammy--Sammy-- sama pacar sendiri kok lupa sih?" tawa Samudra kini sedikit mengejek.


"Sammy gak lupa." Samantha kembali mengerucut sebal. Namun bagi Samudra, gadis yang menginjak dewasa ini terlihat begitu cantik ketika sedang kesal begitu.


"Dasar Samantha!" Samudra mengacak-acak gemas puncak kepala Samantha.


"Kak Am! rusak kan rambut aku...."


"Kamu tetap cantik kok..." bisik Samudra yang kali itu memajukan wajahnya ke arah Samantha. Kini wajah keduanya hanya berjarak beberapa centi saja.


Samantha bahkan bisa merasakan hembusan napas hangat dari hidung dan bibir Samudra.


Samantha bisa melihat bibir Samudra yang seolah ingin sekali menempel di bibir tebal melengkungnya.


"Eh-kak-Veronika itu--- si-siapanya kak Am?" tanya Samantha terbata-bata.


Hingga akhirnya Samudra menarik kembali wajahnya menjauh dari sang adek. Namun tatapannya masih begitu dalam menyorot Samantha.


"Temen, dia temen kakak," jawab Samudra singkat.


"Emang Sammy anak kecil? Bisa dibohongi gitu?" Samantha memutar bola matanya kesal ke arah Samudra.


Hanya balasan senyuman kecil dari Samudra yang menjawab sindiran Samantha.


"Ya udah kamu istirahat," ucap Samudra akhirnya.


"Hm," angguk Samantha.


Tiba-tiba Samudra kembali mendekat ke arah Samantha dan tanpa aba-aba, satu kecupan singkat Samudra mendarat di salah satu pipi Samantha.


Cup.


"Good night, my little girl." Samudra berbisik.


Samantha hanya bisa terdiam dan mematung di tempat ia berdiri.


Dia bahkan masih merasakan hangatnya kecupan kecil Samudra di pipinya yang kini menyembul warna merah.


Dulu sewaktu ia kecil, Samudra memang sering melakukan hal itu. Namun kini ada perasaan lain saat kakaknya itu melakukan hal yang sama.


Ya Tuhan.... ini bahaya.... pekik Samantha dalam hati.

__ADS_1


to be continue....


__ADS_2