Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Maaf


__ADS_3

Ddrrtt...


Ddrrtt...


Tiba-tiba ponsel Samantha bergetar. Dengan cepat ia meraih handphone pipih di atas meja dan membuka key lock layar. Netra Samantha membelalak, refleks berotasi ke sekitar restoran.


Pesan singkat itu sungguh menyita perhatiannya. Sebuah foto dirinya dengan Bryan serta kata-kata ancaman.



^^^Jauhi Samudra! Atau foto ini aku kirim ke dia, hah?! Samudra is mine! 08132525679^^^


Samantha berkali-kali mengedarkan pandangannya ke sekitar restoran. Tidak ada yang mencurigakan, semua tampak normal. Ada beberapa pengunjung restoran pria dan wanita. Namun mereka terlihat biasa-biasa saja, saling berbincang tanpa ada sesuatu yang mencurigakan.


"Sammy, kamu kenapa? Ada yang salah?" Tanya Bryan begitu ia melihat ekspresi gugup gadis di hadapannya.


"Nggak," geleng Samantha.


"Sorry, gue harus pergi. Bye Bryan..." Samantha berdiri cepat dari tempat ia duduk, mengambil tasnya dan melambaikan tangan ke arah Bryan.


Bryan masih menatap kepergian gadis itu, merasa bingung dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba.


....


Malam harinya, Samantha menunggu kedatangan Samudra. Jam di layar handphonenya tertulis pukul delapan malam. "Apa kak Am ada kerjaan mendadak ya Meo?"


Meong!


Meong!


"Sstt...!" Samantha menaruh telujuknya di atas bibir yang mengerucut, menyuruh makhluk berbulu yang tengah tiduran di sofa sampingnya untuk berhenti mengeluarkan suara meong-an.


"Apa aku harus ngomong terus terang sama kak Am? Tapi gimana nanti kalo dia malah marah sama aku? Meo, aku harus gimana?"


Samantha menghela napas, inilah yang mengganggu pikirannya sejak tadi. Dia takut jika foto-foto dirinya bersama Bryan sampai juga di tangan Samudra.


Tentu saja hal itu bukan salah Samantha, dia bahkan tidak merencanakan bertemu Bryan di restoran waktu itu. Tapi siapa yang bisa membuat Samudra percaya begitu saja? Pria itu terlalu posesif menerima segala macam alasan. Samantha takut jika ia mengatakan pertemuan dia dengan Bryan tadi, malah akan membuat Samudra salah paham.


Meo, kucing berbulu lebat itu menduselkan kepalanya di pangkuan Samantha. Peka, gadis itu mengelus kepala serta leher Meo. Binatang berbulu itu pun selalu terlihat menikmati akan usapan Samantha. "Apa aku terus terang aja ya sama kak Am?"


"What is for?"


Suara yang terdengar berat itu membuat Samantha terkesikap dari duduknya. Gadis itu langsung berdiri, memutar badannya hanya untuk mendapati sosok yang menjadi obyek pembicaraan dengan Meo ada di sana.


Samudra dengan pakaian kerja sedang berdiri di sana. Ia pun menggulung lengan kemeja sampai batas siku dan melepas dua kancing kemeja putihnya.


"Are you talked about me?"


Samantha menggeleng kikuk. Tangan kanannya meremas ujung piyama yang ia pakai lantaran gugup. "Enggak kok..." Samantha mencoba menjawab.


"Bohong!"


Satu kata yang terucap dari bibir Samudra membuat Samantha reflek menggigit bibir lantaran ingin menangis. Kenapa sih Samudra sekarang terkadang menjadi galak begitu? Namun di sisi lain, terkadang pria itu begitu manis dan penuh kasih sayang jika berhadapan dengannya. Apakah Samudra mempunyai kepribadian ganda?


Mulut Samantha sudah hampir terbuka, ingin kembali menjawab tapi urung saat pria itu berjalan mendekatinya.


"Apa ada yang kamu sembunyikan?"


Samudra kini sudah berada dalam jarak sejengkal darinya. Samantha bahkan bisa mencium aroma parfum yang bercampur dengan bau rokok dan bau aneh lainnya yang Samantha tidak suka.

__ADS_1


"A-ak-uu--"


"Aku, aku apa? hm gadis kecil?"


Samudra semakin mendekatkan diri dengan Samantha, jemarinya mengelus pipi yang kini sudah bersemu merah. Entah karena takut atau grogi. Tangan gadis itu semakin meremat ujung piyamanya yang mulai kusut. Giginya juga semakin menggigit bibirnya kuat.


"Sammy minta maaf, kak." Cicitnya lagi dengan suara yang hampir bergetar, memberanikan untuk melirik Samudra yang sudah berdiri menjulang di hadapannya. Dengan cepat gadis itu menundukkan kepala saat Samudra menatapnya tajam.


"What you did?" Samudra bertanya.


"Maaf udah nggak jujur."


Samudra terkekeh pelan, terdengar sinis. "Nggak jujur soal apa?"


"Tadi pagi, a-aku-bukan berniat main sama Amel dan Jully. E-em-maksudnya emang bener aku pengen maen sama mereka, **-ttapi--trus aku dapet chat---"


"Chat dari pengirim surat kaleng?" Samudra bertanya lagi, menyela ucapan Samantha.


"Dari mana kakak tau?" Mata Samantha mengerjap bingung.


"Kamu lupa siapa kakak? Kakak tinggal mendesak temen kamu, Jully buat ngaku."


Tentu saja pria itu bisa melakukan apapun yang ia mau.


"Maaf...."


Seringai kecil kembali terbentuk di bibir Samudra. "Cuma masalah itu kamu minta maaf?"


"Heh?" Netra Samantha kembali mengerjap bingung, sementara yang ditatap lalu bergerak menaruh tas kerjanya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. "Can you explain this?"


Samantha meneguk ludah, melihat beberapa foto yang ditujukan oleh Samudra. Kedua matanya mengerjap beberapa kali, ternyata apa yang ia takutkan terjadi.


"I am mad. For everything you've done. Kamu nggak seharusnya menyembunyikan chat itu ke kakak. Kalo ada apa-apa sama kamu, gimana kakak bisa bertanggung jawab sama Moms-Dad, hm?!"


"M-mmaaf..."


Samudra menghela napas pelan. Melihat wajah Samantha yang hampir saja menangis, membuatnya sedikit meredakan emosi.


"Jangan diulang lagi, okey?" lirih Samudra akhirnya. Tangan besarnya kini mengusap lembut pipi yang kini merona merah, mungkin karena takut.


"Kakak nggak bisa maafin diri kakak sendiri kalo kamu kenapa-napa. Kamu ngerti kan?"


"Iya," angguk gadis itu, kepalanya masih menunduk. Tidak berani menatap mata tajam Samudra.


"Look at me, Sammy."


Samudra mengangkat sedikit dagu Samantha supaya ia leluasa melihat iris kecoklatan gadisnya itu.


"I'm sorry, Kakak minta maaf beberapa hari ini suka sedikit marah-marah ke kamu." Cicit Samudra.


"Dan soal si pengirim chat kaleng itu--"


Samudra menjeda sebentar ucapannya.


"Kakak sudah tau siapa pelakunya."


Spontan mata gadis itu mendongak menatap Samudra dengan tatapan membelalak. "Benarkah? Siapa?" Tanya Samantha ingin tahu.


"Bela."

__ADS_1


Samantha melongo dengan mulut membulat. "Suster Bela? Dia kan suster yang kerja sama kakak?"


"Iya, Kakak sendiri nggak tau alasan yang pasti dari Bela. Tapi dia bilang kalo dia hanya orang suruhan."


"Siapa?"


"I don't know." Samudra menggeleng pelan.


"Dia nggak mau ngaku. Kakak juga nggak mau ambil pusing masalah ini."


Samantha mengangguk pelan. Dia masih merasa tidaj enak hati, menyembunyikan masalah ancaman chat itu ke Samudra.


"Terus...? Kakak nggak laporin ke polisi?"


"Tadinya kakak juga berfikir seperti itu, tapi ya sudahlah. Toh dia tidak sampai melukai kamu kan?"


"Hm," angguk Samantha.


"Makanya lain kali kalo ada apa-apa, nggak usah main sembunyi-sembunyi sama kakak, okey?"


"Iya, maaf."


Samantha kembali merasa bersalah.


"Kak..."


"Hm?"


"Soal pertemuan dengan Bryan waktu itu---"


"Kakak tau." Samudra memotong ucapan Samantha.


"Heh...?"


"Jadi ternyata Bela juga menjebak Bryan, mengirim pesan ke nomor Bryan dengan mengatas namakan teman pria itu."


"Tapi darimana dia tau nomor Bryan?"


Samudra mengedikkan bahunya. "Mungkin dari orang yang menyuruh dia."


"Aneh..." gumam Samantha.


"Terus sekarang, dia masih jadi suster-nya kakak?"


"Udah enggak lagi," geleng Samudra.


"Dipecat?"


"Hm," angguk Samudra kemudian.


Samantha membulatkan matanya. Tidak heran jika Samudra mempunyai kuasa untuk memecat seseorang yang bekerja di rumah sakit tersebut, mengingat jika dia juga jajaran direksi utama di salah satu rumah sakit swasta terbesar di Jakarta.


"Sekarang kamu tidur! Ini udah malem."


Lagi, sebuah titah dari pria itu yang wajib Samantha patuhi.


"Iya," gadis itu mengangguk pelan. Ia tiba-tiba saja melingkarkan kedua lengannya ke leher kokoh Samudra. Samantha berusaha berjinjit dan langsung mencium ujung bibir Samudra.


"Good night, Kak Am." Ucapnya pelan kemudian berlalu dari sana, meninggalkan Samudra yang tetap berdiri dengan sebuah senyuman kecilnya.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2