
"Kamu dari mana aja sayang?" tanya Veronika begitu Samudra membuka knop pintu kamarnya.
Mata Samudra membelalak dan buru-buru menutup pintu kamar. "Kamu kenapa di sini?"
"Lho emang kenapa? Bukankah jika di apartemen kamu, gak ada yang ngelarang aku masuk ke kamar kamu?" Veronika memanyunkan bibirnya.
"Iya tapi ini kan di rumah orang tua aku, Ve"
"Terus?"
Samudra men-desah, membuang napasnya berat. "Iya kalo ketauan sama Mommy-Daddy aku gimana?" jawab Samudra sembari melepas jam tangan serta kemeja yang melekat di tubuhnya.
Ia pun meraih kaus oblong yang sudah bibik siapkan di dalam almari pakaian dan memakainya.
"Sayang...." Veronika mendekat dan memeluk tubuh Samudra dari belakang, kedua lengannya ia lingkarkan di pinggang Samudra, lalu jemari-jemari lentik itu mulai bermain di perut sixpack Samudra yang terbungkus kaus oblong putihnya.
"Ve.... gak sekarang. Please..." Samudra melepaskan lingkaran lengan Veronika di pinggangnya dan berbalik badan menghadap ke arah gadis itu.
"Why?"
"Please hargai kedua orang tua aku, ini rumah mereka."
Veronika cemberut dan akhirnya mengalah juga. "Oke," ucapnya kemudian.
Veronika pun berjalan menjauhi Samudra.
"Kamu gak marah kan?"
Veronika menggeleng pelan sebelum ia keluar dari pintu kamar Samudra.
"Aku tidur dulu," ucap Veronika.
"Hm, sweet dream Ve." Samudra menjawab singkat. Tanpa memberikan ciuman selamat malam seperti ketika keduanya berada di Boston.
"Oh ya tadi kamu belum jawab pertanyaan aku."
"Yang mana?" Samudra mengernyit heran.
"Kamu tadi habis dari mana?" tanya Veronika dengan wajah menyelidik.
"Dari kamar adek ku."
"Siapa? Benua?"
Samudra terdiam dan tidak langsung menjawab.
__ADS_1
"Samudra...."
"Hm?"
"Kamu tadi dari kamar Benua?" Veronika mengulangi kembali pertanyaannya.
"Eh-i-ya."
"Owh...." Veronika membulatkan bibirnya dan manggut-manggut pelan.
"Ya udah aku ke kamar dulu. Tapi besok kamu janji sama aku, harus bawa aku jalan-jalan."
"Hm-iya," angguk Samudra.
Veronika tersenyum mengembang. "Thank's honey...." ucapnya yang kemudian berjalan keluar dari kamar Samudra.
Samudra memandang kepergian Veronika, lalu membuang napas berat ketika gadis itu telah benar-benar keluar dari kamarnya.
Ia menjatuhkan tubuh atletisnya ke atas kasur berukuran kingsize, mencoba memejamkan matanya untuk mengusir bayangan seseorang yang selalu menggangunya.
Sialnya semakin ia memejamkan mata, bayangan itu semakin berputar-putar dalam isi kepalanya. Aarrggh! Damn! erang Samudra.
....
Sementara di kamar Samantha. Terlihat gadis itu masih terdiam mematung di tempatnya semula, saat Samudra menatap lembut matanya dan mendaratkan kecupan singkat di pipi putihnya.
Jantungnya masih berdegup kencang, perasaan hangat masih mengalir di nadinya. Tubuhnya meremang, seolah tak sanggup lagi berdiri dengan kedua kaki yang kini masih terasa lemas.
Ah gila! gue gak boleh seperti ini, batin Samantha. Dia kakak gue, saudara gue, seperti Benua dan gue gak boleh menjadi psycho girl seperti ini, batinnya lagi.
"I'm normal girl, right? I can't possibly love my own brother," gumam Samantha.
"Arrgghh! Sial!" dengusnya lagi.
Ddrrttt....!
Ponsel Samantha akhirnya berdering. Dengan cepat ia meraihnya di atas nakas dan melihat siapa nama penelpon barusan. Bryan...
....
Pagi ini seperti biasa, Maya sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan yang ditemani bibik. Sementara Samuel selalu duduk di kursi dekat dapur dan masih terlihat sibuk dengan layar laptop miliknya. Setelah beberapa tahun berlalu, perusahaan Samuel mengalami kemajuan yang cukup pesat sehingga menjadikannya menjelma menjadi sosok yang begitu workaholic.
"Sam, udah dulu dong ngurus kerjaannya. Teh kamu ntar keburu dingin lho," ucap Maya sembari meletakkan sepiring telur setengah matang serta roti bakar dan juga ikan tuna panggang kesukaan Samuel.
"Sarapan kamu, sayang." Ucap Maya seraya mendekat.
__ADS_1
"Hm, thanks sayang." Samuel mengangguk pelan dan mulai meninggalkan sebentar pekerjaan yang selalu memburu deadline.
"Sayang----"
"Iya?"
"Kamu perhatiin wajah Veronika gak?" tanya Maya dengan suara yang sedikit ia pelankan.
Samuel mengernyit heran sembari sedikit tersenyum. "Emang kenapa? Apa kamu gak cemburu kalo aku memperhatikan teman perempuannya Samudra, hm?" Samuel terkekeh kecil.
"Ih, apaan sih kamu, Sam?" Maya mencubit mesra pinggang Samuel sembari ikut tertawa pelan.
"Gak, maksud aku--- apa kamu gak ngerasa pernah liat seseorang yang wajahnya mirip sama dia?"
"Sama siapa?" tanya Samuel yang masih sibuk memasukan sarapan ke mulutnya.
"Ya mirip sama Veronika lah Sam, siapa lagi?" Maya mendengus kesal dengan sifat lemot Samuel yang terkadang suka tidak langsung menangkap maksud dari perkataannya.
"Owh....."
"Kok cuma owh.... aja sih?"
"Ya trus aku harus bilang apa?" Samuel mengangkat sedikit bahunya dan melihat ke arah Maya yang semakin cemberut.
"Sayang, udah deh gak usah dipikirin lagi. Mungkin itu hanya perasaan kamu aja."
"Hm-iya juga."
"Lagipula di dunia ini banyak orang yang wajahnya hampir sama, iya kan?" lanjut Samuel.
"Hm," angguk Maya perlahan.
"Ya udah, aku berangkat dulu ya." Samuel berdiri dan memeluk Maya, dan seperti biasa kecupan hangatnya mendarat di kedua pipi dan ujung bibir Maya.
"Kamu gak nunggu anak-anak dulu, Sam?"
"Sorry sayang, hari ini aku banyak dikejar deadline. Aku ketemu mereka nanti sore aja, are It's okey?"
"Hm, it's okey," angguk Maya.
Keduanya lalu berjalan keluar dari rumah mereka, Samuel kembali mencium kening sang istri sebelum akhirnya ia memasuki sedan hitam yang selalu terlihat mengkilat.
Maya memandang kepergian Samuel. Namun rasa penasaran masih saja menggangunya. Maya benar-benar seperti pernah melihat seseorang yang mirip dengan Veronika. Tapi siapa?
To be continue....
__ADS_1