Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Cinta Tak Pernah Salah


__ADS_3

Samantha mengernyit heran ketika Samudra menghentikan tiba-tiba kendaraannya ke bahu jalan.


"Ngapain berhenti?"


"Kakak mau bicara sebentar." Samudra menjawab ketus.


"Harusnya Sammy yang marah ya sama Kak Am, ngapain juga jemput paksa Sammy kayak tadi, hm?"


"Terpaksa."


"Terpaksa? Kak Am ini aneh. Lagian harusnya Kak Am dan Vero saat ini seneng-seneng di Bandung kan? Ngapain di Jakarta?" Samantha mendengus, membolakan kedua matanya tajam ke arah Samudra.


"Kakak gak bisa."


"Gak bisa gimana sih maksudnya? Kak... stop deh bikin aku bingung."


Samudra memandang lekat ke arah Samantha. Ingin sekali saat itu juga, Samudra meraih kedua pundak Samantha dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Kakak gak bisa berada di Bandung dan membayangkan kamu dengan Bryan..." Samudra memotong ucapannya.


"Aku dan Bryan apa?" tanya Samantha dengan mata yang sedikit menyipit.


"Kenapa kamu mau dicium Bryan, hm?!" tanya Samudra sembari mencengkeram lengan Samantha kuat.


"Aduh Kak, sakit tangan aku..." ringis Samantha.


Samudra bergeming, bahkan ringis-an kesakitan Samantha tidak begitu ia gubris.


"Kenapa kamu sekarang berubah jadi gadis nakal, hah?!" dengus Samudra lagi. Ia masih saja mencengkeram erat pergelangan tangan Samantha.


"Lepasin tangan aku....!"


"Gak akan kakak lepas, sebelum kamu jawab pertanyaan kakak!" gertak Samudra.


"Kak Am jahat!"


"Kenapa kamu bilang kakak jahat? Kakak sayang kamu, Sammy....!" seru Samudra dengan penekanan.


Samantha terkesikap tiba-tiba, entah harus senang atau marah ketika mendengar pengakuan perasaan Samudra.


Tidak-tidak...! Samudra bilang dia sayang padanya? Mungkin yang dimaksud pria itu adalah rasa sayang terhadap adik perempuan satu-satunya, gak lebih.


Oh c'mon lo jangan baper dulu, Samantha! batinnya.


"Kenapa kamu mau dicium Bryan? Jawab!" bentak Samudra lagi.


"Kenapa Kak Am yang marah? Bryan pacar aku dan Kak Am gak berhak ngelarang dan ngatur-ngatur aku harus ngapain!"


"Kakak berhak!"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena----" Samudra tidak langsung menjawab pertanyaan Samantha.


"Kak Am egois! Aku aja gak pernah protes ataupun ngelarang Kak Am mencium Veronika!"


Samudra tercengang, apa yang dikatakan Samantha benar. Adiknya itu bahkan tidak pernah mencampuri urusannya dengan Veronika.


Samantha menunduk, dan tanpa Samudra duga ia mendengar suara isak tangis Samantha.


"Aku marah liat Kak Am mencium Veronika...." cicit Samantha pelan di sela-sela tangisnya.


Samudra tidak percaya saat mendengar apa yang dikatakan Samantha barusan.


"A-appa--?" tanya Samudra.


"Aku gak suka liat Kak Am mencium cewek gatel itu!" Samantha mengulangi kembali ucapannya. Kali ini dengan nada yang sedikit lebih lantang.


"Kakak gak mencium Veronika."


"Hah...!" Samantha menyeringai kecil dan menarik keluar ponsel dari dalam tasnya.


"Lalu ini apa namanya kalo bukan mencium?!" Samantha memperlihatkan satu gambar unggahan foto yang ada dalam akun instagram Samudra.


"Itu bukan kemauan Kakak!"


"Tapi Kakak mau aja kan disosot nenek lampir itu, hah?!" Samantha melengus dan membuang muka ke arah luar jendela kaca mobil.


"Jadi kamu benar-benar cemburu?" tanya Samudra serius.


"Ngaku aja kalo kamu cemburu," ucap Samudra dengan ekspresi lucu.


Samantha mengerucutkan bibir ke arah Samudra. Memandang pria yang telah membuatnya selalu merasa gugup dan berbunga-bunga tiap ada di dekatnya.


"I'm sorry, dear...." Samudra tiba-tiba meraih pundak Samantha dan memeluknya erat.


"Kak...." cicit Samantha pelan. Sial....! Kenapa Samudra selalu memeluknya tanpa ada aba-aba terlebih dahulu? Membuat Samantha terkaget dan rasanya dada gadis itu hampir saja meledak dan terbang keluar ribuan kupu-kupu dari dalam sana.


"Kakak gak bisa menahan ini, Sammy...." Samudra merenggangkan sedikit pelukannya dan masih menatap dalam wajah Samantha. Kening keduanya kini saling menempel satu sama lain. Tangan kanan Samudra menyusur ceruk leher Samantha dan mengelusnya lembut.


"I love you, sweet heart...." bisik Samudra.


Samantha kini benar-benar tidak berdaya, hatinya membuncah bahagia. Gadis SMA itu bahkan memberanikan diri menatap Samudra, guna mencari kebenaran di iris coklat jernih pria itu.


Dalam sepersekian detik, entah mendapat keberanian dari mana, Samantha memajukan wajahnya. Keduanya semakin dekat, Samudra berdecak kagum melihat bibir Samantha yang melengkung sempurna. Samudra memang sudah dua kali mencium bibir peach itu dan selalu ada keinginannya untuk mencobanya lagi dan lagi.


Hingga akhirnya Samudra semakin memajukan wajahnya, salah satu lengannya menarik lembut ceruk leher Samantha agar jarak wajah keduanya semakin dekat.


Samantha bisa merasakan hembusan hangat napas Samudra, hingga akhirnya ciuman itu kembali terjadi.


Bibir Samudra semakin memberi tekanan, menciummya dan sesekali menggigit bibir bawah Samantha. Leguhan kecil yang keluar dari mulut Samantha pun seolah memberi angin segar bagi Samudra. Lagi-lagi tidak ada penolakan dari Samantha, membuat Samudra semakin memagut intens ciumannya.


"I love you, Sammy...." bisik Samudra di sela-sela ciumannya.

__ADS_1


Samantha mende*sah pelan, mengangguk dan semakin membalas ciuman Samudra.


Ada perasaan bersalah dan berdosa dari diri Samantha, namun gairah ini membuatnya lupa. Terlebih perasaan cintanya terhadap Samudra, kakaknya sendiri.


"K-kkaak-Am---" de*sah Samantha.


"Panggil aku Samudra...." bisik Samudra. Ia melepas sebentar pagutan bibirnya, mencoba memberi kesempatan buat Samantha untuk menghirup udara segar.


"Jika kita sedang berdua, jangan pernah memanggil aku dengan sebutan kakak."


Samantha mengangguk pelan, kembali menyatukan kedua kening mereka. Tangan Samudra kembali menyusur ke ceruk leher Samantha dan mengelusnya lembut.


Memberikan sensasi geli sekaligus nyaman dalam diri Samantha.


Samudra kembali memagut bibir Samantha, dari ciuman-ciuman kecil hingga berubah semakin panas dan liar. Beberapa kali Samantha terdengar men-desah pelan.


"Say my name, baby...." titah Samudra.


"Aaarrgghh....! Sa-m-mudraa---" desah Samantha.


Samudra tersenyum sekilas di sela-sela ciumannya.


"I love you, gadis kecilku," bisik Samudra yang perlahan melepas pagutan bibirnya.


Samantha mengangguk pelan, rona merah di pipinya kini menyembul sempurna. Samudra berhasil membuatnya salah tingkah.


"Aku masih pengen sama kamu terus, sayang." Samudra kembali mendekap tubuh gadis itu.


"Me too..." lirih Samantha.


"Tapi kita gak boleh bikin Mommy khawatir," ucap Samudra dengan penyesalan.


"Hm," angguk Samantha.


"Kita pulang dulu." Samudra memastikan dan menatap ke arah Samantha.


"Hm," angguk Samantha merespon.


Samudra kembali memajukan wajahnya dan mencium ujung kening Samantha. "Love you, sweet heart..." kecup Samudra.


Beberapa detik kemudian, Samudra kembali memacu kendaraan berjenis SUV mengkilat miliknya. Tangan kanan Samantha kini berpaut erat dalam genggaman tangan kiri Samudra yang bebas dari kemudi mobil.


Sesekali Samudra membawa punggung tangan gadis itu dan menciuminya lembut.


Fokus Samudra sesekali ke arah wajah Samantha lalu kembali ke arah jalanan Jakarta petang itu. Senyum lembutnya pun terkadang tertarik penuh di kedua sudut bibirnya. Dia benar-benar mencintai gadis yang masih duduk di kelas dua belas itu. Mungkin keduanya salah dengan hubungan ini. Namun.... sejak kapan cinta bisa memilih untuk siapa?


Samudra dan Samantha bahkan tidak kuasa menolak cinta yang semakin kuat itu.


Cinta tidak pernah salah, bukan?


to be continue....

__ADS_1


__ADS_2