
Samantha benci perubahan. Terutama jika segala sesuatu dalam hidupnya berubah tiba-tiba. Contohnya? Apa lagi kalau bukan soal Samudra?
Sejak kejadian itu, ciuman kedua mereka. Samantha merasa lebih canggung tiap kali kedua matanya bertemu dengan iris kecoklatan milik Samudra. Yang selalu menatapnya tegas namun teduh. Seolah dalam iris coklat jernih itu, kakaknya berkomunikasi dengannya dan berkata jika dia benar-benar mencintainya.
Samantha benar-benar membencinya saat ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah Veronika bergelayut manja pada lengan dan pinggang Samudra.
Dia bahkan dinilai tidak mempunyai hak untuk marah dan protes dengan sikap Veronika yang begitu manja dan cari perhatian setiap kali Samudra dan Maya berbincang dengan gadis itu, di hadapan Samantha.
Lagi dan lagi rasa ingin melepas sosok Samudra terlintas dalam benaknya, ia seperti orang bodoh yang menganggap jika kisah dia dengan Samudra, sang kakak akan berakhir indah.
Jangan harap hubungan keduanya akan mendapat restu. Bahkan semesta pun akan marah jika hubungan sedarah mereka sampai terjalin lebih dalam lagi. Apalagi jika keduanya sampai melakukan hal-hal terlarang.
'Cinta itu buta', dan itu benar adanya. Semua hal bisa dilakukan karena sebuah cinta, meski akan berakhir menyakitkan dan terluka. Namun ketika cinta itu masih ada, kita bisa apa? Hanya bisa menunggu kapan cinta itu pudar. Apakah bisa? Samantha sendiri merasa tidak sanggup untuk memulai meredam perasaan ini. Entahlah....
....
"Sammy....." panggil Veronika yang mau tak mau menghentikan langkah Samantha.
"Ya, Kak?"
Veronika menatap Samantha lekat-lekat dari ujung rambut hingga kaki. Mengamati tiap inci tubuh Samantha tang berbalut seragam putih abu-abu.
"Kamu berangkat ke sekolah sama cowok kamu kan?" tanya Veronika.
"Iya, emang kenapa?"
"Terus pulangnya juga sama dia kan? Gak dijemput Samudra?" tanya Veronika lagi.
Samantha sedikit mengedikkan bahunya. "Gak tau, emang salah ya kalo Kak Am jemput gue?"
Veronika memutar bola matanya jengah. "Ya--- gak sih---" Veronika menjeda kalimatnya.
"Tapi ntar sore aku sama Samudra mo keluar, gimana dong? Atau.... lebih baik kamu pulang bareng cowok kamu aja, gimana?" ucap Veronika tanpa tedeng aleng-aleng.
Eh buset dah ni cewek.... gak nyadar diri banget, gerutu Samantha dalam hati.
"Emang mau kemana?"
"Ke Bandung, nginep di villa keluarga kamu."
Samantha mendengus kesal, ia kepalkan erat seluruh telapak tangannya. Menahan emosi menghadapi sosok perempuan tanpa malu di hadapannya.
Tanpa banyak bicara lagi, Samantha berbalik badan dan meninggalkan Veronika yang masih berdiri dengan wajah cemberut. "Eh ni anak, diajakin ngomong malah main lari gitu aja, brengsek!" gumam Veronika kesal.
Kebetulan, ada Bibik yang tiba-tiba saja datang dari arah belakangnya dan bisa melihat kelakuan Veronika terhadap anak majikannya. Bibik pun terlihat tidak suka akan perlakuan Veronika. Gadis itu tamu di rumah besar ini namun menurut bibik, Veronika berkelakuan seperti tuan putri di rumah ini.
"Ngapain Bibik liat-liat, hah?!" dengus Veronika ketika si bibik memandang wajahnya dengan tatapan aneh. Bibik hanya menggeleng takut dan berlalu dari hadapan gadis cantik berwajah malaikat jika ada Maya ataupun Samudra. Namun ketika sedang sendirian nampak sifat aslinya.
...
"Sayang.... ada Bryan tuh di depan." Maya menoleh ke arah Samantha ketika anak gadisnya menuruni anak tangga terakhir.
"Iya, Mom."
"Kamu gak sarapan dulu?"
Diliriknya Samudra yang sudah duduk di balik meja makan, dan pria itu pun melakukan hal yang sama. Memandang lembut ke arah Samantha.
__ADS_1
Samantha menggeleng pelan. "Nanti aja, Sammy makan di kantin," jawabnya pelan. Netra Samantha kembali melirik ke arah Samudra dengan perasaan canggung.
"Ya udah, hati-hati di jalan ya. Sekolah yang bener, kamu kan udah kelas dua belas, sayang."
"Iya, Mom...." Samantha mengangguk dan mencium punggung tangan Maya.
"Daddy udah berangkat?" tanya Samantha.
"Iya, Dad kamu udah dari pagi tadi ke kantornya."
"Oh-kalo gitu Sammy berangkat dulu, bye Mom... bye Kak...."
Samudra mengangguk pelan, hingga tiba-tiba ia berdiri dari duduknya. "Sammy....!" teriak Samudra, membuat Samantha spontan menghentikan langkahnya.
"Take care, my little girl..." bisik Samudra seraya tiba-tiba memeluk erat tubuh Samantha.
Samantha membolakan kedua mata, rasa kaget dan senang bercampur saat Samudra yang tiba-tiba memeluknya. Bahkan Maya tidak menaruh kecurigaan apa-apa ketika melihat Samudra memeluk anak gadisnya.
Satu kecupan Samudra pun mendarat di puncak kepala Samantha sebelum akhirnya gadis itu benar-benar keluar dari mansion mereka.
Samudra kembali ke arah meja makan dan mendapati Maya tersenyum kecil ke arahnya. "Kamu masih kangen ya sama adik kamu?" tanya Maya.
"Hehehe iya, Mom." Samudra tersenyum kecil dan mengangguk.
"Samantha itu kalo sama kamu penurut banget. Beda kalo sama Benua, kerjaannya berantem... mulu." Maya terkekeh sembari memasukan nasi goreng ke piring Samudra.
"Benarkah, Mom? Mereka masih suka berantem?" Samudra kembali tersenyum kecil.
"Iya, biasanya kalo pagi selalu ada perang dunia di meja makan."
"Perangnya siapa, Mom?" sambar Benua yang baru saja berjalan ke arah ruang makan.
"Tom dan Jerry kan film kartun, Mom."
"Hahaha! ish-kamu ini. Tom dan Jerry itu ya kamu sama Sammy," sahut Maya dengan senyum kecilnya.
"Ow-hehehe..." Benua ikut tersenyum mendengar ucapan Maya.
"Tumben belum berangkat, Ben?"
"Ntar Kak, orang ganteng itu berangkatnya selalu paling akhir," celetuk Benua narsis.
"Kamu ini ada-ada aja."
"Hehehehe.... aja ada-ada, Kak."
Benua terkekeh ke arah Samudra sembari menyendok nasi goreng lalu memakannya.
"Dasar, cogan gak da akhlak...!" ejek Samudra.
"Biarin sih, yang penting kan cogan. Iya gak Mom?" Benua menimpali ucapan Samudra.
"Hahaha!" tawa Samudra pun pecah diikuti dengan suara tawa Benua dan senyuman kecil Maya.
Maya merindukan saat-saat seperti ini, semua anak-anaknya yang kembali berkumpul.
....
__ADS_1
Samudra mendapati Maya yang sedang sibuk merangkai vas bunga dengan beberapa macam jenis bunga. Sementara Veronika, masih sibuk bersolek dan bersiap untuk ke puncak, seperti keinginannya semalam.
"Mom...." ucap Samudra yang berjalan mendekat ke arah Maya.
"Ya, Am?" Maya menoleh sejenak lalu kembali fokus dengan rangkaian bunga yang tengah ia buat.
"Am mo nanya, boleh?"
"Nanya apa sih? Serius gitu? Emang mo nanya apa?"
"Am--em---sebenernya---" Samudra menjeda kalimatnya, masih bingung dengan apa yang hendak ia bicarakan.
"Kenapa sih Am? Ngomong aja." Maya kali ini menghentikan kesibukannya dan fokus ke arah Samudra.
"Beberapa hari kemarin, Am sering mimpi buruk dan sakit kepala."
Maya terkesikap tiba-tiba. Kini perhatiannya lebih fokus ke arah putranya.
"Sakit kepala kamu kumat lagi? Udah minum obat? Coba deh kamu check lagi ke dokter Frans," ucap Maya khawatir.
"Mom...." Samudra mencoba menenangkan ibunya.
"Am baik-baik aja, lagipula Am udah minum obat."
"Tapi kamu jangan suka ngeremeh-in sakit kepala kamu, Am."
"Iya, aku tau." Samudra mengangguk dan menghentikan sebentar ucapannya.
"Am mo nanya tentang mimpi Am."
"Mimpi? Mimpi apa?" Maya mengernyit heran.
"Jadi, aku selalu mimpi sebuah kecelakaan mobil. Dan didalamnya seorang wanita dan lelaki seumuran Daddy." Samudra menjeda sebentar kalimatnya.
"No....no.... mungkin sedikit lebih tua dari Dad. Terus.... di dalam mobil juga ada seorang bocah laki-laki yang berusia sekitar empat atau lima tahun. Dan anak itu terlihat gak sadar diri dalam mobil," cerita Samudra.
Dan seketika itu juga wajah Maya terlihat pucat, dia bahkan bergeming, mematung dengan sorot mata bingung.
"Mom...?"
"Eh-i-ya Am?"
"Mommy tau siapa mereka? Kenapa mereka selalu saja datang dalam mimpi aku?" tanya Samudra dengan ekspresi bertanya-tanya.
"Dan aku juga mo nanya, kenapa nama belakang Am beda sama Benua dan Sammy? Mereka memakai nama belakang Dad, sedang aku?" lanjut Samudra.
"Eh-Mom--Mommy--" Maya menggantung ucapannya lalu berjalan meninggalkan Samudra tiba-tiba.
"Mom....?!"
"Maaf, Am. Mommy tiba-tiba pusing. Mom ke kamar dulu, okey?"
Maya tetap melangkah tanpa menoleh ke belakang.
Membuat Samudra merasa heran dengan perubahan sikap Maya begitu ia menceritakan tentang mimpinya.
Ada apa ini sebenarnya? batin Samudra.
__ADS_1
to be continue...