
Apa-apaan Samudra ini? Mencium bibir adiknya sendiri? Entah apa yang ada dipikirannya saat itu. Meski itu semua ketidaksengajaan namun harusnya Samudra bisa lebih mengontrol hasrat dan nalurinya. Bagaimanapun juga Samantha adalah adiknya, meskipun Samudra selalu merasa jika mereka bukanlah saudara kandung.
Bukan tanpa alasan Samudra berfikir seperti itu. Nama keluarga yang mereka sandang pun berbeda. Jika Benua dan Samantha memiliki nama keluarga Perdana yang diambil dari nama belakang ayah mereka yaitu Samuel Perdana, tidak begitu dengan Samudra. Dia justru memilik nama belakang Pratama. Entah kenapa?
Dan hal ini yang harus ia pertanyakan kepada Samuel ataupun Maya.
Dia pun menarik napas panjang sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang bisa memantul itu.
Bayangan Samantha sekali lagi seakan tidak ingin berpindah dari ingatannya. Beberapa batang rokok pun tidak bisa menenangkan pikiran gelisah yang saat ini menggelutinya.
....
Sabtu pagi ini Samantha duduk di kursi dapur, matanya fokus ke arah buah-buahan yang sedang ia potong-potong menjadi beberapa bagian. Ada semangka, apel, kiwi hingga strowbery. Rencananya ia akan membuat es stik buah-buahan, karena dia hobi sekali ngemil. Khususnya setiap malam sebelum tidur, Samantha selalu memakan atau meminum sesuatu. Meskipun ini adalah kebiasaan buruk, namun cemilan sebelum tidur adalah sesuatu yang wajib untuknya.
Baru saja Samantha memasukan cetakan-cetakan es ke frezer lemari pendingin dan tinggal menunggu membeku, seseorang mengusap pundaknya. Samantha berbalik dan mendapati Samudra sang kakak yang hendak menyeduh kopi hitam.
"Kak Am? Pagi-pagi gini minum kopi?" Samantha bertanya sembari menata kembali kegugupannya jika berhadapan dengan Samudra.
"Hm, kamu sendiri lagi ngapain?" tanya Samudra yang kali ini memandang fokus ke arah buah-buahan yang telah Samantha potong-potong.
"Eh-mm-bikin es dari buah-buahan," jawab Samantha gugup.
"Hari ini kakak mau jalan sama Veronika, kamu mau ikut?"
Ekspresi Samantha kini semakin terlihat gugup, dia terdiam sebentar. Bagaimana bisa gue ikut mereka, jika nanti akan melihat adegan mesra mereka berdua? batin Samantha.
"Sammy?" ucap Samudra yang mengagetkan lamunannya.
"Eh-e-enggak deh kak."
"Owh...." Samudra menjeda apa yang akan menjadi kalimat jawabannya, dengan wajah lesu ia pun beranjak dari hadapan Samantha.
....
"Non, ada temen Non Sammy di luar," ucap Mbak Pur seraya mengetuk pintu kamar Samantha.
"Non....!" ketuk Mbak Pur lagi.
Setelah lima menit tidak ada jawaban apapun dari si pemilik kamar, kini Mbak Pur bisa bernapas lega karena sosok wajah kusut Samantha yang tiba-tiba saja menjulur dari pintu kamar yang akhirnya sedikit terbuka.
"Siapa, Mbak?" tanya Samantha malas, rambutnya acak-acakan dengan kedua mata sembab yang entah kenapa, tiba-tiba saja Samantha mengeluarkan air matanya dalam tidur.
"Cowoknya non Sammy," jawab Mbak Pur dengan wajah heran melihat kedua mata nona majikannya yang terlihat seperti mata ikan.
"Non Sammy mau nemuin gak? Kalo enggak nanti Mbak Pur bilang kalau Non Sammy lagi tidur."
Samantha terdiam sebentar, "Mommy sama Daddy di rumah, Mbak?" tanya Samantha.
"Tuan dan Nyonya lagi keluar, Non."
"Benua?"
"Den Benua juga keluar, tadi sih bilangnya ke rumah temennya."
"Kalo Kak Am?"
"Den Samudra sama non Veronika tadi baru aja keluar berdua."
Samantha terdiam sebentar. Jadi mereka udah berangkat? batin Samantha.
"Non..... gimana ini? Non Sammy mau nemuin Den Bryan gak?"
"Hm, suruh dia masuk dan bilang sepuluh menit lagi gue turun," jawab Samantha akhirnya.
"Baik Non," angguk Mbak Pur.
....
__ADS_1
Setelah mandi, Samantha memakai riasan untuk menutupi bengkak di kedua matanya. Dia pun berganti baju dengan celana pendek serta Tshirt longgar yang selalu jadi favoritnya jika sedang libur di rumah.
Samantha turun dari tangga melingkar dan melihat sosok Bryan yang duduk di salah satu sofa empuk di ruang tengah.
"Hai...." sapa Samantha begitu ia menuruni anak tangga terakhir.
"Baru bangun?" tanya Bryan heran.
"Hm," angguk Samantha.
"Kok sepi? pada kemana?"
"Keluar." Samantha menjawab singkat. Senyumnya pun sedikit ia paksakan namun dia berusaha sebiasa mungkin di hadapan Bryan.
"Aku mau ngajak kamu keluar, kamu mau?"
"Kemana?" tanya Samantha.
"Entahlah, kita jalan aja. Mau kan?"
Setelah beberapa saat Samantha berfikir, akhirnya ia mengangguk juga meng-iya-kan. "Baiklah, aku ganti baju dulu," ucap Samantha.
"Oke." Bryan mengangguk.
Bryan masih memandang lekat ke arah gadis yang baru pertama kali ini meluluhkan hatinya. Senyum kecil pun tertarik di kedua sudut bibirnya.
....
"Dari mana kamu tau tempat ini?" tanya Samantha mengernyit heran.
Kedua netranya kini berotasi ke seluruh hamparan luas rerumputan hijau, di depannya menjulang bukit yang juga nampak hijau segar yang dihiasi sedikit awan putih menggelantung, seolah sedang memeluk puncak bukit.
Sesekali Samantha menghirup dalam-dalam udara segar meski jam di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
Senyum kecil Samantha mengembang. Ini bisa membuatnya sedikit melupakan segala pikirannya tentang Samudra. Ah Samudra.... kenapa lagi-lagi wajah kakaknya itu terus menggangunya. Dan ciuman itu....
Samantha tergeragap, sedikit tersenyum ke arah Bryan dan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Mungkin mencoba menyembunyikan kegugupannya.
"Hm, aku suka."
"Kamu lagi mikirin apa?"
Samantha menarik ujung alisnya. "Maksud kamu?" tanyanya memandang ke arah Bryan.
"Sejak kita berangkat tadi, aku lihat--- kamu selalu murung." Bryan menjeda sebentar kalimatnya.
"Padahal biasanya kamu itu rame, gokil dan selalu banyak pertanyaan soal ini-itu yang gak penting." Bryan terkekeh dan menatap ke arah gadis bersurai ikal panjang kemerahan.
Samantha mengambil napas sebentar sebelum akhirnya ia membalas senyuman Bryan. "Aku baik-baik aja kok. Cuma--- lagi pengen diem aja."
Kembali tarikan napas panjang Samantha menghiasi suasana siang itu.
"Bryan..." ucap Samantha.
"Iya?"
Bibir Samantha hampir saja mengeluarkan suara, namun setelah beberapa detik, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya.
"Kenapa, Sammy?"
"Ah-enggak--- bukan hal yang penting kok." Samantha menggeleng pelan.
"Kamu lapar?"
"Hm, lumayan hehehe...." Samantha meringis lucu.
Tawa kecil itu yang selalu bisa membuat Bryan untuk ikut mengembangkan semua sudut bibirnya.
__ADS_1
"Ya udah kita pesen makanan dulu, di sana ada restoran kecil. Kita kesana." Bryan berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Samantha untuk membantunya berdiri.
Tanpa menunggu lama pun Samantha meraih tanggan Bryan dan ia genggam erat.
"Thanks...." ucap Samantha.
Bryan mengangguk. Kemudian keduanya pun berjalan ke arah sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat mereka duduk tadi.
"Kamu udah ijin sama orang tua kamu kalo kita ke puncak kan?" tanya Bryan di sela-sela langkah mereka.
"Hm," angguk Samantha.
....
Samudra memasuki mansion dan mengedarkan pandangannya ke semua sudut rumah besar itu. Tumben rumah sepi di sabtu ini, batinnya.
"Sayang, aku mandi dulu ya? Gerah banget aku."
"Oke," jawab Samudra singkat sembari kedua netra yang terus berotasi ke seluruh penjuru rumah.
"Kamu gak mandi?" tanya Veronika yang menghentikan langkahnya tiba-tiba.
"Nanti aja."
"Atau kita mandi bareng? Kan mumpung rumah sepi, hehehe..." Veronika membulatkan kedua bola matanya nakal. Lengannya pun bergelayut manja di pinggang Samudra.
"Gak usah ngaco deh kamu, Ve." Samudra berdecak pelan.
"Ish-kamu kenapa jadi gak asik gini sih, sayang?" Veronika mengerucut kesal.
"Udah cepetan kamu mandi, habis itu kita makan siang," bujuk Samudra.
"Ya udah! Aku ke kamar dulu." Veronika dengan langkah kesalnya, berjalan ke arah tangga dan menaiki anak tangga melingkar yang ada di tengah ruangan.
Samudra menghembuskan napas berat dan kembali celingak-celinguk ke seluruh sudut rumah.
"Bik...."
"Iya, Den?" jawab Bibik yang menghentikan langkahnya seketika, begitu mendengar panggilan dari anak majikannya.
"Rumah kok sepi sih? Emang pada kemana, Bik?"
"Tuan sama nyonya pergi, Den. Dan den Benua juga pergi ke rumah temennya," jawab bibik.
"Terus Samantha?" tanya Samudra.
"Oh kalau non Samantha tadi dijemput Den Bryan, terus pergi berdua."
Samudra mengangkat kedua alisnya.
"Kemana, Bik? Dia bilang gak mau kemana?"
"Kata non Samantha tadi sih mau ke puncak, Den."
"Puncak?" tanya Samudra dengan nada agak tinggi.
Bibik mengangguk pelan, kemudian pamit kembali ke dapur. "Bibik permisi dulu, Den." Pamit bibik.
Tidak ada respon dari Samudra. Pria itu masih diam dan memikirkan sesuatu tentang Samantha. Bagaimana jika Bryan berlaku kurang ajar ke Samantha? Atau ada sesuatu yang lain yang akan membahayakan gadis itu?
Kini pikiran Samudra seolah kalut, membayangkan hal-hal buruk soal adiknya itu.
"Sayang....." seru Veronika dari lantai atas.
"Damn...!" seru Samudra lirih.
to be continue....
__ADS_1