
Sudah tiga hari ini Samantha sibuk di sekolah. Gadis cantik itu mendaftarkan diri menjadi panitia event spesial HUT SMA Unggulan. Ia menjadi staf ksk kompetisi game online yang diadakan. Ini dilakukan karena corona belum sepenuhnya hilang. Untuk itu di malam sabtu ini Samantha merelakan waktu luangnya. Amel dan Jully meski tidak menjadi bagian dari panitia lomba tapi mereka selalu terlihat mendampingi Samantha selama kegiatan itu berlangsung.
Sementara Benua juga sibuk menjadi panitia kompetisi basket. Di sekolah, Benua beberapa kali membuang muka ketika bertemu dengan Bryan, padahal dulu dua cowok keren itu kemana-mana selalu bersama. Sejak kejadian yang menimpa saudari kembarnya dengan Bryan, Benua menjadi seperti musuh bagi Bryan. Adu jotos pun sempat terjadi ketika keduanya berada di lapangan basket indoor. Saat itu jam ekskul, sehingga hanya beberapa anak saja yang melihat perkelahian mereka.
Di hadapan Samantha terdapat laptop yang menyala. Ia duduk di meja khusus staf ksk. Total ada delapan staf dan satu koordinator termasuk Samantha. Sebagai staf ksk, Samantha bertugas untuk memandu empat tim. Sesuai arahan koordinator. Setiap kapten dari tim ia masukkan ke grup untuk memudahkan penyebaran informasi.
Melalui grup itu pula Samantha memastikan kesiapan tiap pemain dalam tim dan mencatat hasil dari setiap babak permainan di google spreadsheet.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Babak terakhir permainan sudah dimulai lima menit yang lalu. Memastikan semua tim yang ia pandu memasuki room. Samantha beralih merekap hasil permainan babak kedua.
"Sam, aku ke toilet dulu ya! titip hape sama laptop."
Samantha mengangguk pada salah satu teman staffnya. Ia mengacungkan jempol kanannya. Di meja ksk hanya tinggal ia sendiri. Temannya yang lain sedang istirahat karena sudah rampung merekap.
Samantha mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri. Mencari keberadaan Amel dan juga Jully yang sedari tadi tidak menampakkan batang hidungnya. Celotehan Amel dan Jully pun terasa senyap, tidak seperti biasa.
"Kemana dua anak itu?" gumam Samantha sembari mengedikkan kedua bahunya.
Ting!
Ada pesan di layar ponselnya.
Kak Am : Sammy, petang ini kakak...(3)
Samantha mengambil ponsel yang terletak di dekatnya setelah selesai merekap, ada tiga chat dari Samudra dan Samantha segera membukanya.
^^^Sammy, petang ini kakak ada sedikit urusan.^^^
^^^Kak Am^^^
^^^Nanti biar kamu dijemput Pak Heru, biar dianter ke apartemen kakak. Kuncinya kakak titipin ke resepsionis apartemen^^^
^^^Kak Am^^^
^^^Nggak apa-apa kan?^^^
^^^Kak Am^^^
"Sammy!"
"Hah?"
"Aku bawain kamu makanan, makan dulu. Belom makan kan?" cowok tampan yang berdiri di depan mejanya itu menaruh satu kotak nasi berlogo kakek ber-kacamata, ber-kumis dan ber-rambut putih serta satu cup es teh.
Samantha yang hendak membalas chat dari Samudra lantas menaruh ponselnya kembali dan menekan tombol layar kunci.
"Tumben lo baik ma gue."
Cowok yang sudah menarik kursi itu kini duduk di hadapan Samantha.
"Aku mo minta maaf atas kejadian waktu itu."
"Gue gak nyangka ya lo bisa se-jahat itu ke gue!" Samantha melengus dan mencebikkan bibirnya.
"Aku marah dan emosi."
"Jadi lo beneran jadiin gue bahan taruhan?"
Bryan tidak menjawab, dia hanya menatap Samantha dengan tatapan menyesal.
"Iya," akhirnya Bryan mengangguk lemah.
__ADS_1
"Fu*ck you Bryan!" Samantha melotot ke arah Bryan dengan sorot mata tajam.
"I'm sorry.... awalnya kamu adalah sebuah tantangan. Tapi setelah itu aku benar-benar cinta sama kamu."
"Udah deh, jangan bahas soal cinta lagi. Lo tau sendiri kan gue udah memilih dia!" Jawab Samantha dengan penekanan.
"But... Can we be destined to be together right? one day for, maybe...?" Ucap Bryan.
"I don't think so!" Samantha menggeleng menanggapi apa yang menjadi ucapan Bryan barusan.
Bryan membuang napas panjang dan mengalihkan perhatiannya ke arah kotak makanan yang ia bawa tadi.
"Dimakan dulu, ntar keburu dingin." Bryan mendekatkan box nasi ayam goreng ke arah Samantha.
"Kenapa gue harus makan itu?"
"Please... maafin aku Sam."
"Sebenernya untuk urusan taruhan itu, gue udah maafin lo. Tapi untuk sikap lo yang kurang ajar ke gue waktu itu--- jujur gue masih marah sama lo!"
"Bisa aja gue nyuruh bokap buat penjara-in lo. Tapi gue mikir, disini gue juga salah. Gue udah mainin perasaan lo, meskipun gak ada maksud gue melakukan itu."
"Thank's..." ucap Bryan.
"Hm,"
Tanpa diminta, Bryan mencoblos cup es teh Samantha dengan sedotan dan menggesernya ke hadapan gadis itu. "Minum dulu, kamu pasti haus kan?"
Byran juga membuka kotak nasi dan juga ayam yang ia belikan tadi lalu menggesernya juga ke hadapan Samantha. "Makan dulu, aku tau dari tadi kamu terlalu sibuk sampai lupa makan."
Samantha akhirnya mengangguk. "Untuk kali ini aja, gue makan. Next time... lo gak perlu repot-repot bawain gue makanan."
"Gue gak mau digosip-in yang enggak-enggak lagi kalo lo deket-deket sama gue."
"Maksud kamu?" Bryan bertanya dengan ekspresi bingung.
"Lita, cewek lo! Gue gak mau dia nyebar gosip lagi tentang gue."
"Dia bukan cewek ku." Bryan mencoba meluruskan apa yang Samantha pikir tentang dia dengan Thalita.
"Dan gosip yang beredar kemarin. Itu bukan dari aku, kamu harus tau itu," ucap Bryan lagi.
"Eh---Eh---Eh--- ngapain lo deket-deket temen gue lagi, hah?! dasar cowok piktor gak tau malu!" ucap Amel yang tiba-tiba mendekat. Mata bulat gadis itu pun melotot tajam ke arah Bryan.
"Gue cuma mo minta maaf, Mel!"
"Halah.....! Gue tau akal bang*sat lo! Lo pasti ada udang di balik peyek kan?"
Bryan mendengus mendengar ucapan Amel.
"Terserah lo! yang jelas, gue serius mo minta maaf sama Sammy."
"Gue gak percaya! Awas ya kalo gue liat lo kurang aja lagi sama temen gue---"
"Mel, udah deh." Samantha menyela omongan Amel.
"Gue maafin lo, sekarang mending lo pergi dari sini."
Bryan mengangguk lemah, dia begitu pasrah akan sikap dingin Samantha. "Okey," jawab Bryan tanpa semangat.
Cowok itu pun berjalan meninggalkan kedua gadis cantik berseragam SMA. Sabar Bryan... batin cowok itu.
__ADS_1
"Dia ngapain lo Sam?"
"Nggak ngapa-ngapa in!" Samantha menggeleng.
"Dia malah ngasih gue makanan. Tuh..." tunjuk Samantha dengan memajukan dagunya.
"Tumben."
"Tau tuh!"
"Betewe... kenapa gak lo makan?"
"Belom lapar gue." balas Samantha. Memang dari tadi makanan dari Bryan belum sedikit pun ia sentuh, meskipun Samantha bilang akan memakannya.
"Ya udah gue aja yang makan ya?" Amel meringis lucu.
"Ish, lo ini! Sama orangnya aja galak mamat. Giliran sama makanannya aja sok sweet banget lo."
"Hahaha! habisnya gue kalo udah ketemu ayam goreng model gini suka khilaf...." Amel tertawa kecil sembari mengambil kotak nasi dan juga cup es teh dari Bryan.
Sedang Samantha hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan konyol sahabat satunya ini.
....
Sementara di belahan bumi lain di Jakarta, Samudra mengerutkan keningnya menatap layar ponsel. Sudah dua jam sejak ia mengirim pesan pada Samantha, tapi ia tak kunjung menerima balasan. Padahal pesannya sudah dibaca.
"Why don't she text me back?"
"Why she left me on read only?"
"Did something happen?"
Samudra terus bermonolog pelan sedari tadi. Sedikit kesal Karena Samantha tidak kunjung membalas. Samudra mondar-mandir di dalam ruangan sebuah rumah besar dengan banyak perabot mahal.
Wajahnya nampak gelisah, hingga seorang pria dan wanita setengah baya yang tiba-tiba keluar dari bilik utama. Kedua pasangan suami istri itu menatap Samudra nanar. Seolah mereka melihat diri mendiang putri semata wayang mereka melekat di wajah pria muda gagah dan tampan itu.
"Cucu ku...." ucap laki-laki tua tersebut.
Samudra mengesampingkan rasa gelisah dan kesalnya lantaran Samantha tidak kunjung menjawab pesan singkatnya. Pria itu mendongak ke arah kedua pasangan suami istri yang mengundangnya berkunjung ke rumah mereka.
Samudra hanya bisa mematung saat itu. Ternyata mereka ini, kakek-nenek nya dari pihak sang ibu yang selama ini tidak pernah ia kenali.
"Maafkan kakek, Nak," ucap laki-laki tua itu dengan penuh penyesalan. Dia pun mendekat ke arah pria tampan yang saat ini tidak tahu harus berbuat apa.
Samudra bingung, haruskah dia memeluk mereka? Seperti ketika dia memeluk hangat Permana dan Anita saat ia berkunjung ke rumah mereka?
Selama ini yang Samudra tahu, Permana dan Anita lah kakek-nenek nya.
Ini adalah pertemuan kali pertamanya dengan kakek-nenek dari mendiang sang ibu kandung.
"Maaf, saya ingin tahu kenapa kalian mengundang saya ke sini?"
"Kami ingin sekali menebus kesalahan kami, Nak."
"Setelah sekian lama?" tanya Samudra dengan dahi berkerut.
"Maafkan kami, Samudra."
To be continue...
__ADS_1