Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Dia Kembali


__ADS_3

Baskoro hanya membalas pandangan kesal dari Samudra. Laki-laki itu tahu jika cucunya mungkin marah terhadapnya, dia juga tahu jika ucapannya tadi mungkin akan menyinggung gadis belia yang telah dipilih oleh Samudra. Entah kenapa Baskoro belum juga bisa berdamai dengan masa lalu. Menurutnya kematian serta nasib buruk yang mendiang putrinya alami dulu adalah salah Samuel, ayah dari gadis yang saat ini menjadi pilihan Samudra.


Padahal seandainya saja dahulu laki-laki tua itu bisa membuka hati dan bisa melihat jika Martha, putrinya benar-benar berbahagia dengan suaminya, dokter Harris Pratama, sahabat Baskoro. Dan apa yang terjadi dengan mendiang keduanya dulu bukanlah kesalahan Samuel.


Samudra menatap Samantha dengan perasaan bersalah, jika saja ia tahu akan terjadi hal seperti ini--tentu saja ia tidak akan mengajak Samantha menghadiri acara makan malam ini. Samudra bahkan tidak akan pernah mau menghadiri acara tersebut.


"Samantha, ikut nenek yuk. Kamu mau kan bantu nenek siapin makan malam?" Ucap Elsi yang bukan tanpa sengaja menghampiri suami serta seluruh tamunya, termasuk Samudra.


Elsi mengetahui jika ucapan suaminya tadi membuat Samudra tersinggung. Terlebih membuat gadis cantik yang tidak tahu apa-apa ini hampir saja menangis.


Setidaknya Elsi ingin Samantha tahu jika dirinya tetap menyayangi gadis itu.


"Iya, Nek." Angguk Samantha, senyum tulus pun ia kembangkan di seluruh sudut bibirnya.


"Samudra, Nenek pinjam Samantha sebentar ya?" Elsi tersenyum menggoda ke arah cucunya. Dengan hangat ia rangkul Samantha dan membawanya masuk lebih dalam lagi ke bagian-bagian luas mansion miliknya.


....


"Jadi dulu Nenek dan Nenek kamu itu adalah sahabat dari kami masih sangat muda, dan memang kami dulu berencana menjodohkan ayah kamu dengan putri kami Martha--ibu kandung Samudra, tapi yah.... sayangnya mereka tidak berjodoh." Ucap Elsi. Wanita anggun itu mengajak Samantha untuk duduk di sebuah sofa dekat dengan taman bunga. Sebelum acara makan malam dimulai, Elsi ingin menjelaskan sebab musabab kenapa Baskoro belum bisa menerima nasib yang dialami putri mereka satu-satunya.


"Jangan diambil hati ucapan kakek Baskoro, sebenarnya dia laki-laki yang baik dan penyayang. Hanya saja luka akibat kehilangan putri kami satu-satunya membuatnya jadi sinis seperti itu."


"Tapi kejadian di masa lalu bukan salah orang tua aku, Nek."


Elsi mengangguk dan tersenyum. Wanita itu membelai lembut wajah Samantha. "Nenek tahu, tidak ada yang benar atau salah dalam masalah itu. Yang Nenek tahu jika kedua orang tua Samudra memang saling mencintai. Martha dan Harris-- kisah mereka bahkan hampir mirip dengan kalian." Elsi menatap ke arah Samantha. Kali ini tangan wanita setengah abad itu menyentuh tangan Samantha. Keduanya bahkan saling menggenggam erat tangan masing-masing.


"Harris yang umurnya lebih dewasa dari Martha adalah sahabat dari kakek Baskoro dan Harris memang sangat mencintai Martha, anak Nenek. Seperti kamu dan Samudra." Elsi tersenyum, meski dengan mata yang selalu berkaca-kaca saat menceritakan kisah mendiang orang tua dari Samudra.


"Dan dengan menjodohkan dan menikahkan Martha dengan Sam, ayah kamu-- itu adalah sebuah kesalahan. Hingga akhirnya Martha membohongi ayah kamu dulu. Anak Nenek hamil dan mengandung Samudra bukan dengan Samuel, ayah kamu. Tapi dengan Harris."


"Samuel, ayah kamu sangat mencintai Maya, ibu kamu Samantha. Dan Martha tidak bisa menerima hal tersebut hingga akhirnya dia berbohong soal kehamilan itu." Elsi melanjutkan ceritanya.


"Dan kakek Baskoro tidak bisa menerima jika Martha berselingkuh dengan Harris. Ini sebenarnya bukan salah mereka. Mereka hanya dipertemukan dalam situasi yang salah."


"Tapi Nenek tahu, sebelum kecelakaan yang merenggut kedua orang tua Samudra-- Martha dan juga Harris sudah menjadi sahabat baik ayah dan ibu kamu, Nak." Hampir saja Elsi menitikkan air mata saat mengingat mendiang putrinya.


Peka, Samantha merasakan apa yang wanita tua itu rasakan. Kehilangan orang yang sangat dicintai untuk selamanya merupakan cobaan terberat dari Tuhan. Gadis itu perlahan memeluk Nenek Samudra, memberikan energi positif untuk menguatkan.


"Nenek yang sabar ya, Nenek nggak sendiri. Masih ada kak Samudra yang mencintai kalian."


"Terima kasih, Nak." Senyum wanita tua itu.


"Kamu mau kan membujuk Samudra untuk bisa memaklumi sikap kakeknya?"


"Tentu saja, Nek. Samantha akan mencoba bicara sama kak Am nanti."


Wanita itu kembali mengelus wajah Samantha dan beberapa detik kemudian pelukan hangat Elsi memeluk erat Samantha.


....


Acara makan malam selesai dengan diselingi acara bincang-bincang sebentar. Baskoro terlihat begitu sibuk dengan Elano. Sementara Elsi kembali membawa Samantha ke suatu ruangan di salah satu bagian luas mansion miliknya. Mereka berdialog, membicarakan segala hal. Mulai dari cerita di masa lalu tentang ibu kandung Samudra hingga memperlihatkan foto-foto masa kecil Martha, serta ada juga foto masa kecil Samuel dan dokter Harris saat muda dulu, foto Harris memang ada beberapa yang tersimpan di album milik keluarga Baskoro. Mengingat dokter Harris adalah sahabat dari Baskoro dan juga wanita yang berumur sekitar enam puluh tahun itu.


....

__ADS_1


Sementara itu di sisi mansion yang lain. Samudra dan juga Veronika tengah berbincang di sekitar kolam renang out dor.


Jika saja bukan karena permintaan sang kakek untuk menemani Veronika, tentu saja Samudra merasa enggan untuk berbincang berdua dengan Veronika seperti ini.


"Aku nggak nyangka deh kalo cucu temennya papah aku itu kamu, Am."


Samudra tersenyum simpul merespon. Dia pandangi wajah Veronika yang saat ini duduk di hadapannya. Ada yang berbeda pada diri gadis itu. Veronika terlihat semakin dewasa, lebih tenang dan tidak lagi egois seperti beberapa waktu yang lalu. Untuk penampilan, tentu saja gadis itu semakin terlihat cantik.


"Bagaimana ceritanya kalo kamu adalah---"


"Anak dari Elano Wijaya?" Veronika segera memotong pertanyaan Samudra.


Gadis itu tersenyum sebentar, memandang ke sekeliling ruangan outdoor dengan pemandangan kolam renang dan beberapa pepohonan yang tertata rapi.


"Setelah kamu ninggalin aku--em, maksud aku setelah kita benar-benar putus. Aku kembali ke Boston dengan hati hancur. Hingga aku cerita semuanya ke Mama soal hubungan kita. Soal Tante Maya dan Om Samuel yang begitu baik ke aku."


Samudra menarik alisnya, semakin fokus memandang ke arah Veronika yang menjeda sebentar ceritanya.


"Lalu Mama cerita soal masa lalu dia. Dan ternyata-- Mama aku kenal sama Tante Maya dan Om Sam."


Veronika menyeringai sebentar, membuang napas panjang lalu berdiri dari duduknya. Gadis itu membelakangi Samudra sembari mendongak melihat gemerlap bintang yang malam ini begitu jelas penampakannya.


"Mereka bertiga mempunyai hubungan di masa lalu, Am. Cinta segitiga yang begitu rumit." Veronika menoleh ke arah Samudra lalu kembali menyeringai kecil.


"Lalu Mama bercerita soal laki-laki yang bernama Elano Wijaya. Dan kamu tau apa?" Gadis itu kembali menjeda kalimatnya.


"Ternyata Elano Wijaya, seorang pengusaha ternama dari Jakarta adalah ayah kandung ku. Laki-laki yang tadinya tidak mau mengakui aku sebagai anaknya. Hingga dia menyadari kesalahannya."


Veronika kembali menarik napas panjang, kemudian kembali duduk di hadapan Samudra.


Samudra menyeringai, menatap Veronika seolah tidak percaya saat mendengar semua cerita dari gadis itu.


"Aku ikut senang kamu menemukan ayah kandung kamu, Ve."


"Thank's, Am." Veronika tersenyum ke arah Samudra, terlihat tulus.


Di mata Samudra kali ini, Veronika terlihat benar-benar berubah. Bukan lagi gadis egois dan manja seperti sebelumnya.


"Ternyata dunia ini sempit ya?" Ucap Veronika sembari menatap ke arah Samudra.


"Maksud kamu?"


"Iya, aku pikir setelah kita benar-benar putus-- aku nggak akan pernah bertemu kamu lagi tapi masa lalu kita ternyata saling berkaitan. Aku, kamu dan juga Samantha. Kita seperti lingkaran yang saling terhubung." Veronika menjeda ucapannya. Memandang ke arah Samudra yang saat itu hanya tersenyum kecil.


"Lucunya lagi, ayah kandung aku, Elano Wijaya dulu adalah mantan pacar dari Tante Maya, hehehe...." Veronika kembali menyeringai. "Kebetulan sekali ya, Am? Mungkin Tuhan sengaja mempertemukan kita bertiga, iya nggak sih?" Kedua alis Veronika kini terangkat.


"Jadi--- kalian udah tunangan?"


"Hem?" Samudra tergagap, tidak fokus dengan pertanyaan yang Veronika ajukan.


"Hehehe, sejak kapan kamu jadi nggak fokus gitu, Samudra?" kekeh Veronika. Senyum itu kembali menghias wajah cantik gadis itu.


"Jadi kamu dan Samantha sudah tunangan?" Veronika mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


"Iya," angguk Samudra.


"Kapan rencana kalian menikah?"


"Secepatnya," jawab Samudra singkat.


"Oh--- aku doain semoga kalian bahagia."


Ada nada berat dan kecewa Veronika yang berusaha ia sembunyikan.


"Thank's..."


"Hm," angguk Veronika sembari tersenyum manis.


"Bagaimana dengan kamu, Ve?"


"Aku? Kenapa aku?"


Samudra hanya bisa memandang Veronika penuh arti, tanpa bisa meneruskan maksud dari pertanyaannya tadi.


"Oh--aku masih sendiri saat ini, hehehe...."


"Kenapa?"


Veronika hanya bisa tersenyum kecut, lalu menggeleng pelan. "Nggak papa, masih pengen sendiri aja, Am!"


Saat menjawabnya ada rasa kecewa yang Veronika sembunyikan. Tidak kah kamu mengerti kalo aku masih berharap sama kamu, Samudra? Veronika membatin.


Tatapan teduh Samudra selalu membuat gadis itu salah tingkah. Keduanya hanya terlihat hening saat itu. Samudra hanya menatap ke arah langit. Heran, malam ini langit cerah tanpa awan sedikitpun. Bintang-bintang juga bergemerlap indah. Namun entah kenapa yang Samudra rasakan malah sebaliknya, ada rasa bersalah dalam hatinya.


Ah, harusnya malam ini adalah malam dia dan Samantha.


Ya Tuhan, Samudra hampir saja melupakan gadis itu. Kemana Samantha?


Ia pun menarik napas panjang, tidak ingin rasa bersalah dan kenangan masa lalu dia dengan Veronika kembali mengganggu pikirannya. Samudra pun berdiri dari duduknya. "Maaf Ve, aku harus kembali ke dalam." Ucap Samudra dengan suara berat.


"Baiklah." Veronika mengangguk pelan, senyum ramah pun terbentuk dari sudut bibirnya.


"E-Samudra...!"


Pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah gadis yang saat itu berdiri menatapnya.


"Iya?"


"Bolehkan aku masih menemui kamu kapan-kapan?"


"Hm," angguk Samudra pelan.


"Thank's." Veronika kembali mengulum senyum manis.


Samudra pun berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya. Hembusan napas berat berkali-kali terdengar darinya.


...

__ADS_1


Sementara itu dari kejauhan di ujung mansion yang lain, seorang gadis cantik memandang mereka dengan tatapan sayu. Rasanya ia ingin berjalan ke arah mereka, berteriak jika pria itu adalah miliknya. Tapi dia tidak seculas itu. Samantha hanya bisa menatap nanar keduanya. Berharap antara mereka hanya ada percakapan seorang sahabat, tidak lebih.


to be continue....


__ADS_2