Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Ragu?


__ADS_3

"Samudra, kamu ada waktu?" ucap seorang laki-laki berusia enam puluh tahun begitu ia menyembulkan kepala-nya di ambang pintu ruangan Samudra.


Samudra mendongak lalu tersenyum simpul. "Kakek? Kapan waktu Samudra sibuk buat kakek? Tentu aja Am ada waktu." Samudra tersenyum, menghentikan sejenak kegiatannya saat itu.


"Sibuk?" Baskoro menempatkan posisi duduknya di sofa panjang yang berada di dekat jendela besar. Laki-laki itu duduk dengan menyilangkan kakinya sambil mengeluarkan kotak cerutu dan mematiknya.


"Lumayan, Kek."


Baskoro kembali tersenyum. "Kapan rencana S2 kamu lanjutkan lagi?" Kepulan asap tipis keluar dari mulut Baskoro. Dengan inisiatif cepat, Samudra menggeser asbak yang ada di ujung meja, mendekatkan ke arah Baskoro.


"Kalau urusan pasien di sini tidak terlalu sibuk, mungkin bulan depan."


Baskoro manggut-manggut mengerti. Membuang abu cerutu ke asbak kecil lalu kembali menghisap dalam-dalam ujung lintingan tembakau itu.


"Good..." Ucap Baskoro sambil kembali mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


"Nantinya setelah studi kamu selesai, rumah sakit ini juga akan menjadi milik kamu, Nak."


Samudra menyeringai sebentar. Dia tahu jika Baskoro sudah berucap, tidak akan ada yang bisa menghentikannya.


Lagipula sudah beberapa kali ia menolak untuk mengambil alih bisnis-bisnis laki-laki tua itu, Samudra tidak enak hati untuk kembali menolak rencana Baskoro kali ini. Toh rumah sakit dan Samudra adalah satu kesatuan. Ia lebih memilih menjadi seorang dokter daripada seorang pebisnis seperti kakeknya dan Samuel.


"Nanti malam nenek kamu berharap kamu bisa makan malam bersama kami. Kamu ada waktu kan, Nak?"


Samudra mengangguk cepat. "Tentu saja Am ada waktu buat kalian."


"Baguslah, nenek kamu pasti akan senang."


Kembali Baskoro menghisap dalam-dalam cerutu di sela-sela jemarinya, lalu menghembuskan asap tipis dari mulut dan hidungnya.


"Okey, Kakek tunggu kamu nanti malam." Baskoro mematikan cerutu ke dalam asbak lalu berdiri. Menepuk-nepuk sebentar jas formal mahal-nya, kemudian berjalan ke arah pintu ruangan Samudra.


Pria dengan tubuh tegap itu pun dengan sigap membukakan pintu buat Baskoro. "Kakek pergi dulu, jangan lupa acara makan malam nanti."


"Iya, Kek. Samudra pasti datang."


Baskoro menepuk-nepuk pelan lengan kekar Samudra dan tersenyum sebentar.


"Kek..."


Baskoro menoleh ke arah cucunya. "Ada apa lagi, Nak?"


"Tolong dikurangi sedikit rokok kakek. Okey?"


Baskoro terkekeh. "Hahaha kamu tahu, Nak? Kakek dan cerutu adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan."


Samudra kembali mendengus pelan. Ia kini sadar, sifat keras kepala-nya rupanya menurun dari sang kakek.


"Kamu tenang saja, Nak. Umur kakek masih panjang, hahaha!"


Samudra ikut menyeringai kecil. "Kakek hati-hati di jalan."


"Tentu! Kakek pergi dulu." Baskoro kembali berjalan meninggalkan ruangan Samudra. Meski laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun-an itu berjalan menggunakan tongkat, namun aura gagah dan kepemimpinan masih terlihat jelas.


....


Siang ini cuaca cerah, tapi syukur panasnya tidak sampai menyengat kulit. Ada beberapa awan putih yang menggantung di langit yang berwarna biru muda itu. Awannya bak kapas, kadang juga berbentuk sesuatu jika dilihat oleh manusia yang berimajinasi tinggi. Hingga dia melihat sebuah awan yang membentuk seperti dua orang yang tengah berpelukan. Netra Samantha mengerjap, ah kini jiwa melankolisnya meronta-ronta.

__ADS_1


"Awan aja uwu, hadeh!" pikir Samantha. Dia kini tiba-tiba jadi merindukan Samudra. Samantha perlahan menarik senyum kecil di sudut bibirnya.


Gadis itu saat ini tengah berada di sebuah taman kota. Kata Maya, ibunya. Taman ini adalah taman bersejarah bagi kedua orang tuanya. Di sinilah dahulu Maya dan Samuel bertemu secara pribadi untuk pertama kalinya.


Samantha terkekeh kecil begitu mengingat cerita dari Maya. Ah rasanya, gadis itu saat ini mulai merindukan kedua orang tuanya. Apa kabarnya Maya dan juga Samuel di London?


Samantha menghembuskan napasnya kasar, hingga perhatiannya kini tertuju pada benda pipih yang baru saja berbunyi. Ia pun segera menggeser gambar telepon warna hijau hingga sebuah suara berat terdengar dari sana.


^^^Kamu di mana?^^^


Aku di taman kota, emang kenapa?


^^^Sama?^^^


Sendiri, Kak.


Samantha menjeda sebentar dan tersenyum kecil.


Kakak ini masih di rumah sakit?


^^^Nggak^^^


Em, terus di mana?


^^^Lagi liatin kamu yang senyum-senyum sendiri sambil liatin awan^^^


Hah?


Samantha spontan merotasikan kedua bola mata. Melihat ke sekeliling taman, mencari sosok pria bertubuh tegap dengan kumis dan jambang yang menghiasi wajah tampannya.


"Kak Am.... kok bisa ada di sini?"


"Bisa dong..."


Samantha tersenyum girang, melihat sosok pria yang selama ini selalu memenuhi isi kepalanya.


"Dari mana kakak tau kalo aku di sini?"


Samudra menyeringai kecil, ia lalu sibuk membuka ponsel miliknya dan menunjukkan sebuah gambar Samantha yang menjadi status whatsapp nya.


Oh tentu saja, pria itu bisa mengetahui dia ada di mana.


"Kamu udah makan siang?"


"Belum."


"Kita lunch bareng?"


"Hm," angguk Samantha antusias.


"Kali ini aku yang traktir, hehehe..." ucap Samantha sembari terkekeh.


"Udah kaya nih ceritanya?" kekeh Samudra.


"Ish, kakak nyindir aku?" Samantha mengerucut.


"Hahaha! iya maaf. Kakak becanda aja, kenapa marah?" Samudra terkekeh, tangan besarnya ia daratkan di puncak kepala Samantha dan mengelusnya lembut.

__ADS_1


"Mau kakak gendong sampai mobil?" goda Samudra.


"Nggak!" Jawab gadis itu masih dengan bibir mengerucut lucu.


....


"Kak..."


"Hm?"


"Kemarin Dad telepon, nanyain soal kuliah aku."


"Terus?"


"Aku mutusin ambil sekolah design."


"Bagus dong." Jawab Samudra enteng sambil menikmati makan siangnya.


"Di Paris." Ucap Samantha menambahkan.


Kali ini Samudra menghentikan acara makan siangnya. "Kenapa harus Paris?"


"Lha kan di sana emang pusat mode. Trus Dad juga ada apartemen di sana."


"Kapan?"


"Rencana sih bulan depan."


Ekspresi kaku kini Samudra tunjukkan.


"Nggak bisa di tunda dulu? Atau... kamu pilih sekolah mode lain? di Boston misalnya? Biar kita bisa barengan?"


"Heh?" Gadis itu melongo tidak mengerti.


"Bulan depan kakak juga harus balik ke Boston. Ngelanjutin S2 kakak." Samudra menjeda sejenak ucapannya. Sementara gadis cantik yang ada di depannya ini hanya bisa terdiam sambil mengaduk-aduk gelisah gelas minumnya.


Suasana hening sesaat.


"Atau sebelum kakak melanjutkan S2, kita nikah dulu?" Ucap Samudra tiba-tiba.


Netra Samantha membelalak, bibirnya bahkan sedikit terbuka. Tidak tahu harus menjawab apa. Secepat itukah?


"Lagi pula kita udah tunangan. Moms-Dad juga pasti setuju dengan pernikahan kita."


Gadis itu hanya mengangguk pelan. Meski wajahnya mendadak tersirat sedikit keraguan. Bukan ragu akan cintanya terhadap pria berusia dua puluh lima tahun di hadapannya saat ini. Namun, menjadi seorang istri di usia delapan belas tahun? Apakah dia bisa menjadi istri yang baik untuk kakak angkatnya nanti?


Padahal beberapa hari yang lalu dia sudah yakin dan tidak sabar ingin segera menikah dengan Samudra, kenapa sekarang ini mendadak ia bimbang?


"Sammy, are you ok?" Samudra bertanya, alis tebalnya sedikit terangkat ketika melihat gadis di hadapannya saat ini melamun.


"Hm, i'm ok," angguk Samantha.


"Ntar malam ikut kakak makan malam sama kakek dan nenek Baskoro. Kamu mau kan?"


Samantha mendongak pelan, kembali mengangguk ragu ke arah Samudra. "Iya," cicit Samantha.


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2