
-----
Samantha mengamati gadis berpakaian suster yang saat ini berdiri di hadapannya sembari meletakkan kaleng minuman soda di untuknya. "Silahkan diminum dulu. Dokter Samudra masih ada tugas kunjungan pasien." Suster muda dan cantik itu pun tersenyum ramah. Samantha tahu itu adalah senyum yang tulus.
"Makasih, Kak."
"Iya, sama-sama."
Hampir saja suster itu melangkah pergi meninggalkan Samantha. Namun dengan segera gadis itu mencegahnya. "Kak Aisya ngga dampingi Kak Am tugas kunjungan pasien?" tanya Samantha untuk mencegah kepergian Aisya.
Suster dengan surai hitam yang ia gelung kecil pun menoleh ke arahnya dan tersenyum. "Hari ini giliran suster Bela yang menemani dokter Samudra kunjungan ke kamar pasien."
"Ow...." Bibir Samantha membulat, ber-oh-ria.
"Duduk dulu kak, kita ngobrol-ngobrol sebentar. Boleh kan?" tanya Samantha.
Aisya terlihat sedikit berfikir ragu. Masih ada beberapa tugas yang harus ia kerjakan, pikirnya. Tapi melihat wajah polos dan bosan dari gadis SMA yang saat ini duduk di hadapannya, membuat Aisya akhirnya mengangguk kecil sembari tersenyum simpul. "Oke, aku temeni kamu sebentar ya." Aisya menggeret kursi untuk pasien yang tadinya terletak di depan kursi tugas dokter. Dan meletakkannya tepat di hadapan Samantha.
"Kamu mau aku ambilin makanan ringan?"
"Eh-enggak-ngga usah repot-repot kak." Samantha tersenyum ke arah Aisya.
"Kak Aisya udah lama jadi suster asistennya kak Am? Eh-maksud aku---dokter Samudra?"
"Belum lama sih, kan dokter Samudra praktek di sini baru sekitar lima atau enam bulan-an."
"Ow...."
"Mungkin---hampir lima bulan-an aku jadi asisten dokter Samudra." Aisya menjawab.
Suster itu terlihat sangat baik dan ramah. Tidak seperti beberapa suster lain di rumah sakit itu yang ia tahu selama ini. Suster-suster yang lain selalu memandang Samantha dengan sinis, mungkin mereka iri melihat kedekatan dirinya dengan Samudra yang notabene adalah dokter idola di rumah sakit Medika Center.
"Dokter Samudra kalo di rumah sakit itu kayak gimana sih kak?" tanya Samantha. Netra gadis itu lekat memandang wajah lembut Aisya. Iya sejak pertama bertemu Aisya, Samantha sudah bisa merasakan jika wanita yang berusia sekitar dua puluh dua tahun itu memiliki banyak aura positif. Aisya begitu sopan saat berbicara dengannya ataupun dengan pasien Samudra. Suster itu pun begitu santun ketika berada dekat dengan Samudra.
"Dokter Samudra baik kok orangnya. Berdedikasi tinggi dan selalu ramah sama pasien."
"Benarkah? Terus---dia suka godain dokter-dokter cewek atau suster-suster di sini nggak kak?" tanya Samantha antusias.
"Hehehe.... kenapa? Kamu cemburu ya...?"
Aisya terkekeh saat mendengar pertanyaan Samantha.
"Ngga! Cuma pengen tau aja."
Senyuman kecil pun masih tertarik dari sudut bibir Aisya. "Dokter Samudra itu---" Aisya menjeda sebentar ucapannya.
__ADS_1
"---Dokter yang paling dingin di rumah sakit ini. Gak pernah sekalipun aku liat dia godain dokter-dokter perempuan di sini ataupun suster-suster di rumah sakit ini." Lanjut Aisya.
"Bener?"
"Iya," angguk Aisya.
"Kalo kakak---? Suka ngga sama dokter Samudra?"
"Hahahaha!" Kali ini Aisya tertawa.
"Kok malah ketawa?"
"Denger ya anak manis---" Aisya kini memajukan wajahnya, sehingga jaraknya dengan Samantha begitu dekat.
"Aku ngga akan godain dokter Samudra. Karena yang aku tau hanya ada satu perempuan yang selalu ada di hati dia." Aisya berucap dengan ekspresi serius.
"Siapa?"
"Kamu. Tuh liat..." Netra Aisya memberi isyarat, dengan memajukan sedikit dagunya, suster itu menunjuk ke arah bingkai foto yang terletak di atas lemari besi dekat dengan gantungan jaket atau blazer dalam ruangan Samudra.
Wajah Samantha pun mengikuti arah dimana Aisya menunjukkan sesuatu tadi. Jelas, gadis itu melihat foto dirinya bersama Samudra ketika sedang berada di dalam kincir angin bianglala di Dufan saat itu. Saat dimana ciuman pertama mereka terjadi begitu saja.
Sekilas sudut bibir Samantha tertarik membentuk senyuman.
"Setiap saat jika sedang tidak ada pasien. Aku selalu memergoki dokter Samudra memandangi foto kalian sambil senyum-senyum sendiri," ucap Aisya.
"Hm," angguk Aisya.
Ceklek!
Suara knop pintu tiba-tiba terdengar terbuka dan disusul sosok Samudra bersama suster cantik yang lainnya tengah memasuki ruangan serba berwarna putih itu.
Wajah suster yang baru saja datang itu sungguh berbeda dengan Aisya. Samantha bisa melihat tatapan mata tidak bersahabat dari perempuan tinggi dan berkulit putih bersih itu saat melihatnya.
"Suster Bela, tolong kamu tulis ulang catatan kesehatan pasien yang saya kasih ke kamu ya. Dirapihkan lagi setelah itu kamu kasihkan ke Aisya biar dia yang memasukkan data-datanya ke laptop saya." Samudra memberi perintah.
"Baik, Dok!" Suster yang bernama Bela itu pun mengangguk dengan seulas senyum di bibir berpoles lipstick pink pucat. Warna yang sangat lembut di bibir tipisnya.
"Oke kamu boleh keluar." Ucap Samudra ketika melihat suster yang memiliki wajah lumayan cantik itu masih berdiri di dalam ruangannya sambil terus melihat kagum ke arahnya.
"Eh-bbaik-dok!" Angguk Bela grogi.
Samantha bisa melihat bagaimana suster bernama Bela tadi mengamati wajah tampan Samudra, hingga terlihat pipi suster itu merona saat Samudra mengejutkannya dengan sebuah perintah.
"Aisya kamu boleh kembali, dan tolong setelah Bela menyerahkan datanya kamu masukan semua data ke dalam flashdisk saya. Okey?"
__ADS_1
"Baik, Dok!" Angguk Aisya sebelum ia berjalan keluar dari ruangan itu.
Aisya mengangguk sopan ke arah Samudra, begitupun sikap suster Aisya terhadap Samantha. Aisya bahkan meninggalkan seulas senyum sopan pada Samantha. Seperti sebuah senyum persahabatan? Mungkin.
...
"Kak...."
"Hm?"
"Kak Aisya cantik ya?"
"Iya lah, kan dia perempuan. Kalo ganteng jadi aneh kan?"
"Ish! Kakak ini becanda mulu ih!" decak Samantha.
"Hahaha! Lha bener kan? Coba kalo dia ganteng dan berkumis, kan jadi aneh. Hahaha!" Kembali Samudra tertawa. Membuat ekspresi Samantha semakin mengerucutkan bibir lucu.
Sebenarnya Samudra mengetahui arah pembicaraan Samantha kemana, dan Samudra tidak menyukainya. Namun melihat Samantha yang cemberut semakin membuat Samudra gemas dan ingin mencium gadis itu. Eh tapi ini masih di rumah sakit. Sabar...! pikir Samudra.
Selalu saja pria itu menanggapi dengan becanda saat ia menyebut nama Aisya. Sebenarnya gadis itu ingin mengetahui kesan yang Samudra rasakan terhadap suster asistennya itu. Namun sikap acuh dan tak menanggapi dari Samudra membuatnya semakin bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah ada percikan-percikan itu? Mengingat keduanya lebih banyak menghabiskan waktu bersama.
Kata orang, rasa suka itu bisa datang karena terbiasa dan sering bertemu. Sedangkan Samudra dan Aisya lebih sering bertemu, dibanding intensitas pertemuannya dengan Samudra. Apakah ia cemburu terhadap mereka?
...
"Suster Aisya!"
Mendengar namanya dipanggil oleh seseorang, Aisya dengan cepat menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara tadi.
"Ya suster Bela?" Kening Aisya berkerut saat melihat Bela berhenti dengan napas ngos-ngos-an saat mengejarnya.
"Biar aku aja yang masukin data-data pasien dokter Samudra ke flashdisk dia. Mana kasih ke aku flashdisk-nya?" Posisi tangan Bela menengadah di depan Aisya.
"Tapi suster Bela, kata dokter Samudra---"
"Ish! Udah deh nurut aja kenapa sih?! Lagian bukannya kamu malah enak ya?Tugas kamu aku selesai-in!" Pungkas Bela sedikit memaksa.
"Aku bilang dulu ke dokter Samudra."
"Tapi..."
Belum sempat Bela menyelesaikan kalimatnya, Aisya dengan cepat berlalu meninggalkan Bela yang masih berdiri sambil cemberut kesal.
__ADS_1
"Ish! Aisya! Kurang ajar!" geram Bela.
to be continue....