
Semilir angin dari pendingin ruangan dalam kamar itu menerpa kulit, membuat bulu kuduk gadis itu merinding karena kedinginan. Refleks ia merapatkan selimut tebal yang membalut tubuh kecilnya. Kepalanya semakin menunduk, membuat dia seperti bayi yang tertidur meringkuk.
Kenyamanan dari kasur yang super duper empuk dan kehangatan dari selimut tebal yang menimpa tubuhnya membuatnya semakin berat untuk membuka kedua matanya. Lalu sebelah tangan gadis itu terangkat guna meraih guling yang biasanya ia peluk ketika tidur.
Wangi.
Gulingnya wangi sekali. Tapi wanginya bukan seperti wangi guling yang biasanya ada di atas kasurnya. Apa mbak Pur mengganti merk pewangi? Bisa jadi, kan? Karena wanginya sangat memanjakan indera penciumannya. Samantha semakin menyusrukkan kepalanya dan memeluk gulingnya itu. Tapi hal itu yang malah membuatnya bingung. Keningnya mengernyit saat wajahnya merasa geli. Dirabanya guling itu dan semakin membuatnya bingung. Sejak kapan gulingnya bertekstur seperti ini? Seperti ada rambut-rambutnya. Sarung guling model baru kah?
Tunggu! rambut?!
"Hah????!" Samantha terkejut saat membuka matanya. Tubuhnya reflek bangkit dan mundur menjauhkan diri dari sosok yang ia temui pagi ini. Sumpah! benar-benar di luar dugaan. Bagaimana bisa Samudra berada di sini? Jadi sedari tadi yang ia peluk adalah kepala Samudra?
Astaga!
"Kakak!!! Ngapain di sini?"
Teriakan gadis itu menggema ke seluruh penjuru ruangan. Kedua matanya menatap horor sosok manusia yang masih terbungkus selimut tebal di atas kasur itu. Samudra membuka sedikit mata dan mendongak menatap gadis yang pagi-pagi buta seperti ini sudah bikin keributan. Samantha berdiri di samping kasur sembari melotot tak percaya.
"Ngapain sih teriak-teriak? Masih pagi Sammy, sini tidur lagi!" Kata Samudra sambil menepuk-nepuk kasur, menyuruh gadis itu untuk kembali berbaring.
Sedangkan Samantha semakin melotot merespon. Mulutnya bahkan terbuka membentuk huruf 'O'. Enteng sekali pria itu berbicara!
Apa yang sudah Samudra lakukan? Kenapa? Padahal selama ia menginap di apartemen pria itu, Samudra tidak pernah sedikit pun berlaku kurang ajar padanya. Setidaknya sebelum mereka benar-benar resmi. Samantha panik.
"Kak Am ngapain di situ sih?"
"Tidurlah!"
"Ngapain tidur di sini?"
Samudra mengernyitkan keningnya, kedua matanya lalu memicing. Menatap Samantha seolah-olah gadis itu adalah alien yang tersesat di bumi. Samudra mengusap wajahnya lalu beranjak duduk, membuat selimutnya jatuh menjuntai dan mengekspos dada telanjang pria itu. Hal yang membuat wajah Samantha memerah karena malu.
"Ya emangnya salah kakak tidur di kamar sendiri?"
What? Kamar sendiri katanya?
Mencoba acuh dengan dada bidang dan perut sixpack Samudra yang terpampang nyata di hadapanya itu, Samantha menatap ke sekeliling kamar. Kedua matanya menatap bergantian dari kasur, gorden, dinding, meja belajar, lampu kamar, sofa hingga tempat sampah yang terletak di pojok kamar.
Oh my God!
Ini memang bukan penampakan dari kamarnya. Dinding kamarnya dominan bercat pink pastel bukan abu-abu seperti ini. Kasurnya juga berwarna cerah, bukan hitam seperti itu. Astaga kenapa dia bisa tidur di kamar Samudra begini?
__ADS_1
"Kenapa? Mau tanya kenapa kamu bisa tidur di sini?" Pertanyaan Samudra menyela Samantha yang mulutnya sudah terbuka. Tuh kan pria itu bahkan tau apa yang hendak ia tanyakan.
"Kenapa? Kenapa bis--"
"Kamu beneran nggak inget semalam?"
"Semalam?" Cicit Samantha. Kedua matanya mengerjap berulang-ulang. Otaknya langsung ia perintah untuk memutar memori yang ia alami semalam. Tapi apa? Semalam ia berbuat apa? Kenapa dia bisa tidur di kamar Samudra? Ya ampun... kenapa tiba-tiba otaknya kini berkapasitas kecil seperti ini?
"Emang semalam aku ngapain?"
"Beneran ngga inget?" Samudra semakin memasang seringai melihat wajah bingung Samantha. Lalu tangannya kembali menepuk sisi kasur yang kosong. "Sini kakak kasih tau!"
"Nggak mau!" Tolak Samantha langsung. Kakinya spontan menarik langkah mundur.
"Aku nggak ngapa-ngapain semalem."
"Nggak ngapa-ngapain kok bisa tidur di kamar kakak?" Tanya Samudra menantang, sebelah alisnya pun ikut terangkat.
Samantha tentu saja merasa terpojok. Otaknya kembali ia paksa untuk bekerja lebih keras lagi, mengingat kejadian apa semalam sehingga membuatnya bisa tidur di kamar Samudra.
Pikirannya kalut, jika saja terjadi apa-apa, Maya dan Samuel pasti akan marah besar. Bisa-bisa namanya akan di coret dari daftar kartu keluarga.
Samudra terkekeh, ancaman dari gadis itu bagai gertakan anak kecil yang tidak dituruti membeli permen. Alias tidak berpengaruh apapun.
"Bilang aja, malah bagus dong."
"Kok gitu?"
"Iya malah bagus, jadi Moms-Dad akan langsung nikahin kita." Samudra terkekeh, memasang wajah geli saat melihat ekspresi Samantha semakin melongo.
"Baju kamu tuh dibenerin dulu, pusernya keliatan."
Samantha menundukkan kepala, Ia kembali dibuat kaget mendapati kancing piyamanya hanya tingga tiga yang mengait sempurna. Buru-buru ia menyilangkan tangannya di atas pinggang.
"Kakak pasti yang berulah kan semalam? Ngaku!" tuding Samantha sembari mengarahkan telujuk tangannya di depan Samudra.
Samantha memundurkan kembali kakinya saat Samudra beranjak dari atas kasur. Wajahnya kembali memerah saat tanpa sengaja melihat pria yang hanya mengenakan boxer berwarna hitam dengan dada telanjang. Menampilkan perut kotak-kotak bak roti sobek hangat yang pastinya akan nikmat jika ia memakannya.
Aish! Apa-apaan otak gue ini?! Rutuk Samantha dalam hati.
"Ngapain kamu mundur-mundur gitu?"
__ADS_1
"Ngapain kakak maju-maju gitu?"
Samudra tertawa tapi tidak menghentikan langkahnya, membuat Samantha semakin panik karena jarak mereka yang semakin dekat. Apalagi tubuh Samantha semakin terpojok ke dinding. Entah kenapa bulu kuduk gadis itu kini mendadak berdiri. Melihat aura dan ekspresi Samudra pagi ini sungguh tidak biasa.
Jangan-jangan...?!
Baru saja Samantha ingin beranjak kabur dari sana, namun tiba-tiba dengan cepat Samudra menangkap tangannya, mendorong pelan tubuhnya ke dinding. Samudra mengungkung tubuh kecil gadis itu.
"Jangan, Kak!" Samantha memohon.
"Gimana kalo Moms-Dad tau?"
Samudra mengabaikan ucapan gadisnya. Pria itu seolah menulikan pendengarannya.
"Sammy teriak nih...!" Ancam gadis itu.
"Teriak aja."
"Sammy bilang ke Moms-Dad kalo kakak nakal!"
"Bilang aja, kakak nggak takut tuh!" Ledek Samudra, terkekeh senang karena telah menjahili gadis itu pagi ini. Sedangkan Samantha merasa kesal karena tubuh kokoh Samudra tidak bergerak sedikitpun saat ia mendorongnya.
Detak jantung Samantha benar-benar berdetak kencang saat ini. Melihat Samudra bertelanjang dada dan menghimpitnya seperti ini membuatnya benar-benar ketakutan. Takut-takut jika pria itu melakukan kenekatan.
"Yang ngapa-ngapain semalam itu kamu, tiba-tiba aja datang ke kamar kakak pas kakak lagi tidur, trus ndusel. Pas mau kakak pindahin malah kayak reog."
"Bohong!" Samantha masih menyangkal. Tidak mungkin dirinya seperti itu. Sengaja mendatangi kamar laki-laki? Gini-gini juga gue masih punya moral dan harga diri! batin Samantha.
Seingatnya, setelah makan malam, ia scroll handphone sebentar lalu tidur. Terus ia terbangun karena haus, dan-- "Aku nggak ke kamar kakak, aku cuma ke dapur!"
Samudra mengedikkan bahunya. Pria itu lalu menunjukkan wajahnya. "Ada luka kan di wajah kakak? Itu karena kamu berontak, terus entah kena kuku kamu atau cincin pertunangan kita jadi gini deh." Samudra kembali menunjukkan lukanya.
Samantha mengamati wajah Samudra dengan seksama. Memang benar di wajah rupawan pria itu, ada bekas luka seperti cakaran. Samantha lalu menunduk, melihat kuku tangannya yang memang setengah panjang akibat lalai untuk ia potong.
"Kuku kakak pendek-pendek, kalo kamu tetep nggak percaya." Ucap Samudra sembari memperlihatkan kuku-kuku Samudra yang terpotong rapi.
Melihat Samantha yang terlihat masih shock dan hanya diam dengan ekspresi terkejut, Samudra menyeringai. Ia kemudian mendekatkan wajah dan memajukan bibirnya dekat dengan telinga Samantha.
"Kalo kakak bilang kamu yang nyosor duluan gimana? Percaya?"
to be continue...
__ADS_1