Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Maaf


__ADS_3

Entah apa yang ada di pikiran Samantha kali ini. Dia bahkan tidak menolak ciuman itu. Ciuman dari Samudra, kakaknya sendiri. Dan tadi bukan ciuman seorang kakak ke adiknya, akan tetapi itu tadi ciuman seorang pria kepada gadis yang ia cintai. Samantha bisa merasakannya.


Bahkan ciuman pertama Samantha terjadi begitu saja dengan Samudra. Bukan dengan Bryan, cowok yang saat ini menjadi kekasihnya.


Oh Tuhan! bencana apa ini? batin Samantha dengan ketakutan yang mendalam.


Bukan, bukan takut akan ciuman tadi. Dia sama sekali tidak pernah menyesali apa yang Samudra perbuat tadi. Itu hanya ciuman kecil tanpa ada naf*su dari keduanya. Ciuman itu terjadi begitu saja, naluri yang mendorong mereka untuk melakukannya. Atau memang ada perasaan cinta? Ah entahlah, Samantha bahkan saat ini tidak bisa berfikir jernih. Dia hanya seorang gadis remaja yang terjerat oleh pesona kakaknya sendiri.


Gue masih waras kan? batin Samantha. Ah semoga saja, batinnya lagi.


....


Di sepanjang perjalanan, keduanya hanya duduk dengan saling berdiam diri. Mobil sport merk produsen asal Jepang ternama itu pun melaju stabil. Samudra mengendalikan mobil berjenis SUV itu dengan hati-hati karena ada Samantha di dalamnya.


"Kenapa diam?" tanya Samudra sembari sedikit melirik ke arah Samantha.


"Kamu marah?" tanya Samudra lagi.


Samantha menggeleng pelan. "Eee-ttaddi---" gagap Samantha.


"Kakak tau, kakak yang salah. Harusnya ciuman itu---" Samudra menjeda kalimatnya dan dengan tiba-tiba ia menepikan mobil ke bahu jalan.


"Kakak janji gak akan ngulangi lagi perbuatan tadi. Maafkan kakak."


Samudra menoleh ke arah Samantha yang tetap terdiam. Gadis itu terlihat hanya memandang ke arah luar kaca jendela mobil.


"Entah apa yang merasuki kakak. Tapi.... jujur bayangan kamu selalu hadir dalam kepala kakak, Sammy."


Samantha terkaget, dan kali ini tatapannya tertuju ke arah Samudra.


"Entah kenapa, kakak merasa jika kita---kita bukan saudara kandung," ucap Samudra lagi.

__ADS_1


Untuk beberapa saat keduanya saling terdiam. Hingga akhirnya Samudra kembali menekan gas mobil dan kembali membawa mobil besar itu ke jalanan di Jakarta petang itu.


....


Setelah sampai di depan halaman luas mansion mereka, Samantha keluar dari mobil masih dengan ekspresi canggung. Sementara Samudra terlihat memandang dengan perasaan menyesal ke arah Samantha.


Dia berharap jika Samantha tidak menganggapnya seorang psycho atau sebagai kriminal yang dengan sengaja melecehkan adiknya sendiri.


Karena Samudra sungguh tidak bermaksud seperti itu.


"Aku masuk duluan," ucap Samantha sembari melirik ke arah Samudra dan dengan terburu-buru berjalan lebih dahulu memasuki pintu mansion.


"Sammy, kenapa baru pulang? Kak Am sama kamu?" tanya Maya begitu dilihat anak gadisnya memasuki rumah.


"Maaf Mom, tadi sepulang sekolah, Am yang ngajak Samantha ke Dufan," jawab Samudra yang tiba-tiba saja masuk.


"Lain kali kasih kabar dulu kalo pulang terlambat!" ucap Maya dengan sedikit penekanan. Wajah perempuan itu pun begitu serius. Dan baru kali ini Samantha melihat ekspresi serius dari Maya, ibunya.


"Sammy...!"


Samantha menghentikan langkahnya ketika Maya kembali memanggil.


"Kamu mandi, sholat dan setelah itu makan malam."


"Iya, Mom." Samantha mengangguk patuh.


"Dan kamu Am! apa gak bisa nelpon dulu atau apa gitu, buat kasih kabar?" Maya menatap Samudra lekat-lekat.


"Iya, Am minta maaf."


"Ya sudah, sekarang kamu mandi juga terus kita makan malam sama-sama."

__ADS_1


Samudra mengangguk merespon.


"Oh-iya kamu temui Veronika dan minta maaf ke dia. Lebih dari lima jam dia nunggu kamu tadi di cafe." Maya melanjutkan omelannya.


Samudra baru tersadar akan Veronika setelah mendengar perkataan dari ibunya.


"Hm," angguk Samudra.


...


"Ve...?" ucap Samudra begitu ia mengetuk pintu kamar Veronika.


Hingga selang beberapa menit pintu kamar itu terbuka dan menampilkan sosok Veronika lengkap dengan kimono tidurnya dan mengerucut sebal.


"Sorry, aku lupa tadi."


"Lupa?" dengus Veronika. "Apa sih yang membuat kamu lupa, Am?" dengusnya lagi.


"Aku ngajak Samantha ke Dufan dan...."


"Oh bagus ya.... sementara aku nunggu kamu lima jam? Dan kamu enak-enakan ke Dufan sama adik kamu?" ucap Veronika bernada sinis.


"Iya, aku minta maaf."


"Kalo gak ada tante, entah gimana nasib aku, Am! Kamu kan tau aku lama gak pernah pulang ke Jakarta dan aku gak tau arag jalan di Jakarta!" ucap Veronika berapi-api.


Samudra diam karena merasa bersalah, selain itu dia juga sedang tidak dalam mood bagus untuk berdebat dengan Veronika. Karena jika dia membalas ucapan gadis itu, Samudra tahu Veronika tidak akan berhenti emosi.


"Aku akan tebus semua itu dengan membawa kamu ke Dufan juga. Atau kamu mau kemana? Aku turuti," jawab Samudra akhirnya.


"Oke bawa aku ke Dufan. Besok!" jawab Veronika ber-ekspresi marah.

__ADS_1


to be continue.....


__ADS_2