Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Tak Diduga


__ADS_3

Samantha sekali lagi mematut dirinya di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Kembali memulas bibirnya dengan lipstick berwarna pink dan merapihkan kembali gaun yang ia kenakan saat ini. Gaun panjang berbahan shiffon tanpa lengan menjadi pilihan Samantha kali ini. Rambutnya hanya ia gelung tinggi sehingga menampilkan leher jenjang dan putihnya. Pulasan make up flawless selalu menjadi pilihan Samantha setiap menghadiri acara makan malam. Membuatnya terlihat begitu cantik dan fresh.



"Perfect," gumamnya. Tak lupa senyum kecil kembali menghias wajahnya.


Tok...


Tok...


Tok...


Suara ketukan dari luar, membuat gadis itu menoleh ke arah pintu. Hampir saja ia keluar dan menemui Samudra, hingga suara ketukan itu menjeda.


Samantha berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamarnya perlahan. Senyumnya kembali mengembang ketika melihat sosok pria tegap dengan setelan kemeja garis-garis lengkap dengan celana kain berwarna coklat muda dengan kedua lengan yang ia gulung hingga siku.



Samudra berdiri dengan memasukkan satu tangannya ke saku celana. Memandang takjub Samantha.


Bibirnya tak pernah berhenti tersenyum melihat sosok gadis yang selalu mengisi hatinya.


"You look so beautiful, baby..." ucap Samudra.


Seperti biasa, gadis itu merona mendengar pujian yang terlontar dari mulut Samudra.


"Kak Am juga ganteng malam ini," jawab Samantha malu-malu.


"Berangkat sekarang?"


"Hm," angguk Samantha.


Keduanya kemudian berjalan bergandengan. Satu tangan Samudra menggenggam erat punggung tangan Samantha. Saling menautkan jemari mereka masing-masing.


...


Mobil berjenis SUV berwarna hitam milik Samudra berhenti tepat di depan sebuah rumah besar berarsitektur eropa kuno. Hampir mirip seperti castil istana yang ada di negeri dongeng.


Jantung Samantha kini berdegup kencang, antara takut dan juga grogi. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan kakek dan nenek kandung Samudra. Apalagi Samantha tahu cerita masa lalu antara Baskoro dan Samuel juga Maya.


Samudra membukakan pintu mobil untuk gadisnya, menjulurkan tangan kanannya ke arah Samantha. Bermaksud ingin menggandeng gadis itu dan membawanya masuk ke dalam rumah besar milik keluarga orang tua mendiang mama kandungnya.


"Kak...."


"Hm?"


"Aku takut..." cicit Samantha.


"Kenapa mesti takut? Kan ada kakak."


Satu usapan lembut Samudra daratkan di pipi Samantha, mungkin mencoba untuk menenangkan gadis itu.

__ADS_1


"Jangan takut, ada kakak." Ucap pria itu untuk memberi rasa tenang pada gadis cantik yang saat ini memang benar-benar ketakutan.


Jemari gadis itu bahkan terasa dingin. Padahal Samudra terus saja menggenggamnya erat.


"Mereka pasti menyukai kamu, sayang." Samudra kembali berbisik di sela-sela langkah mereka.


Samantha hanya bisa mengangguk pelan, sembari terus berjalan mengetuk-kan heels dengan warna broken white yang ia kenakan.


"Den Samudra... lama nggak kesini, bibik sampai kangen..." Seorang wanita yang sedikit tambun yang memakai pakaian adat Jawa langsung menyambut kedatangan Samudra dan Samantha.


"Wah... ini pasti Non Samantha ya? Putri dari Den Samuel dan Non Maya?" tebak si bibik.


Samantha mengangguk pelan, ia membalas senyum ramah wanita berkebaya tersebut. "Iya bik."


"Mari Den, Aden sudah ditunggu sama Tuan dan Nyonya." Bibik mempersilahkan keduanya masuk, badan wanita itu pun sedikit membungkuk, mempersilahkan keduanya untuk duluan memasuki rumah besar tersebut.


"Makasih, Bik!"


Hanya anggukan kepala hormat dari bibik yang merespon.


...


Keduanya berjalan lebih dalam lagi memasuki mansion milik Baskoro. Kegugupan yang Samantha rasakan bahkan belum juga menghilang. Heran, semakin ia mengeratkan tautan jemarinya di sela-sela jemari besar Samudra, rasa gugup itu semakin membuatnya tidak nyaman.


Padahal biasanya dengan menggenggam tangan Samudra, gadis itu selalu merasa tenang. Namun tidak dengan malam ini.


Hingga keduanya sampai pada satu ruangan dengan meja bundar besar. Di sana juga ada beberapa hiasan guci, lukisan dan juga vas bunga antik.


Netra Samudra tiba-tiba membola. Yang ada di ruangan itu bukan hanya kakek dan neneknya. Tapi ada seorang laki-laki berumur sekitar empat puluh tahun yang ia jumpai pada pesta peresmian hotel sang kakek. Tidak hanya itu, Samudra juga melihat seorang gadis muda dan cantik. Setidaknya itu yang ada dalam benak siapa pun yang melihatnya dari belakang. Ya... gadis yang ada di sana bersama kakek dan neneknya, saat itu memang tengah berdiri agak berjarak dan membelakangi Samudra dan juga Samantha.


"Nah ini dia yang ditunggu-tunggu...." ucap Baskoro menyambut cucunya. Satu pelukan dari Baskoro menyambut kedatangan Samudra. Begitu juga dengan Elsi, wanita dengan rambut yang sudah memutih itu pun kini memeluk erat sang cucu. "Nak, apa kabarnya kamu?" tanya Elsi sembari menepuk-nepuk pelan wajah tampan Samudra.


"Baik, Nek. Nenek sendiri sehat?"


"Sehat, puji Tuhan!" jawab Elsi. Berbeda dengan Baskoro, senyum ramah Elsi masih terkembang begitu melihat Samantha yang datang bersama Samudra.


"Ini pasti Samantha Olivia Perdana? Cucu dari Anita?" tanya Elsi.


"Iya, Nek." Samantha mengangguk, gadis itu pun segera meraih punggung tangan wanita setengah baya itu dan menciumnya.


"Sudah besar ya kamu," ucap Elsi begitu Samantha selesai mencium punggung tangannya.


"Anita apa kabar?"


"Alhamdulilah, Nenek Anita baik-baik saja, Nek."


"Oh-syukurlah." Elsi menjawab lega.


"Samudra!" Ucap Baskoro menyela pembicaraan istrinya dengan gadis yang masih ia anggap anak dari keluarga yang ia benci.


"Kamu tentu masih ingat dengan Tuan Elano Wijaya, bukan?" Baskoro kembali memperkenalkan.

__ADS_1


Samudra mengangguk. "Tentu saja Kek, Am ingat Tuan Elano Wijaya." Samudra menjulurkan tangannya bermaksud hendak memberi salam.


"Wah, saya juga tidak akan lupa dengan dokter muda dan tampan ini. Apalagi dia adalah cucu Anda Tuan Baskoro." Laki-laki itu menerima jabat tangan Samudra lalu terkekeh pelan.


"Oh ya kakek juga mau mengenalkan kamu dengan putri Tuan Wijaya, dia juga seorang calon dokter juga dan siapa tahu putri Tuan Wijaya suatu saat bisa menjadi dokter di rumah sakit yang sebentar lagi akan kamu pimpin, bukan begitu Samudra?"


Samudra hanya tersenyum merespon, sedangkan Samantha yang sedari tadi berada di samping Samudra pun merotasikan kedua netranya mengikuti arah tangan Baskoro ketika hendak memperkenalkan putri dari kolega atau sahabat bisnis Baskoro tersebut.


"Alicia...." panggil Elano Wijaya, tak lama kemudian sosok gadis tinggi dengan rambut ikal berjalan mendekat.


Gadis cantik itu dengan perlahan berjalan mendekat ke arah mereka. Betapa terkejutnya Samudra saat gadis yang Baskoro dan Wijaya panggil ternyata adalah seseorang yang Samudra kenal. Begitu pun dengan Samantha, mata gadis itu bahkan membola ketika melihat sosok gadis itu.


Samudra bahkan tidak mengedipkan matanya, ia tidak menyangka jika gadis yang pernah menjadi seseorang yang berarti dalam hidupnya ternyata adalah putri kandung dari Elano Wijaya, patner bisnis sang kakek.


"Ve?" ucap Samudra tidak percaya.


Gadis itu ternyata adalah Veronika, mantan kekasih Samudra. Gadis yang ia tinggalkan demi Samantha.


"Hei, Am..." Veronika tersenyum


"Jadi kalian sudah kenal? Baguslah, bukan begitu Tuan Baskoro?" ucap Elano Wijaya sembari tersenyum.


"Iya, iya tentu saja bagus kalau kalian sudah saling mengenal." Baskoro pun tersenyum senang sambil manggut-manggut. Ia pun menepuk-nepuk pelan pundak Samudra.


"Kami teman lama, Pah. Bukan begitu Am?" Veronika kembali menarik senyum manisnya ke arah Samudra.


Sementara Samudra hanya mengangguk pelan, tidak ingin menjawab apapun selain mengangguk dan tersenyum simpul.


Beberapa detik kemudian pandangan Veronika kini beralih ke arah Samantha yang berdiri terpaku di samping Samudra. Meski sedari tadi tangan besar Samudra selalu memegangnya erat, namun ke-canggung-an masih terlihat jelas di raut wajah gadis itu.


"Hello Samantha, lama nggak jumpa ya?" Veronika menyapa sopan.


Atau berusaha sopan agar terlihat baik di mata Baskoro? Entahlah.


"Hai, Kak." Senyum yang sedikit canggung Samantha hadirkan untuk Veronika dan juga Baskoro, saat laki-laki tua itu memandang sinis ke arahnya.


"Oh baiklah sekarang waktunya kita makan malam, mari Tuan Wijaya. Ayo Veronika, anggap rumah sendiri."


"Tunggu sebentar," Elano Wijaya mengintrupsi Baskoro. Laki-laki itu pun memandang ke arah Samantha yang sedari tadi ia hanya berdiri terdiam di samping Samudra.


"Dan ini siapa? Keluarga Anda Tuan Baskoro?" Elano memandang Samantha dari ujung rambut ke ujung kaki. Membuat gadis itu merasa risih saat dilihat dengan cara seperti itu.


"Oh dia adalah putri dari keluarga Perdana." Jawab Baskoro.


Elano menarik sebagian alisnya, Perdana? Jangan-jangan yang dimaksud adalah Samuel Perdana? batin Elano.


Samantha hanya tersenyum sopan sambil menganggukkan kepala pelan ke arah Elano.


"Bukan sesuatu yang penting." Ucap Baskoro kemudian.


Ucapan laki-laki itu tentu saja membuat Samantha memasang wajah terkejut. Malam itu dia sadar. Jika Baskoro, kakek Samudra tidak menyukainya.

__ADS_1


"Samantha adalah tunangan saya, Tuan Wijaya." Samudra menyela pembicaraan yang tengah terjadi. Pria itu menatap tajam ke arah Baskoro, seolah berkata- Oh, ayolah Kek.


To be continue...


__ADS_2