Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Gadis Gila


__ADS_3

Gadis yang kini duduk di samping pengemudi itu tengah mengemil kentang goreng setelah menghabiskan satu porsi nugget. Eskrim dengan toping oreo juga berada di dashboard, menunggu giliran untuk disantap.


"Pelan-pelan makannya Sammy, kakak nungguin kok." Samudra berucap gemas. Tangannya tak tahan untuk menepuk-nepuk puncak kepala gadis itu.


Samantha mengangguk mengerti. Gadis itu lalu memelankan tempo makannya.


"Kakak mau? Tinggal satu loh kentangnya. Nanti kalo aku makan, habis..." Samantha menawari sambil tangannya terjulur dengan seiris kentang goreng yang tersisa.


"Masa aku yang habisin semuanya, kan Kakak yang bayar." Ucapnya lagi membujuk Samudra.


"Nggak papa, kamu makan aja."


Melahap kentang terakhirnya, Samantha lalu meraih es krim yang Samudra letakkan di dashboard. Samantha lalu menatap Samudra yang juga menatapnya dan terkekeh geli.


"Boleh mam eskrimnya?"


Samudra terkekeh mengangguk, jemari nya mencubit pipi Samantha yang selama ini selalu ia cubit gemas. "Boleh, sayang."


Setelahnya suasana mobil menjadi hening, Samantha fokus pada eskrim nya sedangkan Samudra fokus pada Samantha yang tengah memakan eskrim.


Se-random dan bar-bar nya Samantha, tetap saja gadis itu seorang gadis SMA biasa. Yang terkadang ingin bermanja-manja dan memakan cemilan serta eskrim favoritnya bersama orang yang ia cintai.


Dan Samudra adalah seorang pria dewasa yang selalu bisa mengerti apa kemauan gadis itu. Samudra juga selalu bisa membuat Samantha merasa aman dan dicintai. Jangan lupakan jika bersama Samudra, Samantha tidak pernah canggung untuk bermanja-manja dengan pria yang dari kecil dulu selalu memanjakannya.


Berbeda dengan Bryan. Samantha seolah merasa ada sesuatu yang kurang ketika berdua dengan Bryan. Meski Samantha tahu jika kemarin-kemarin Bryan selalu ingin menyenangkan hatinya. Namun entah Kenapa Samantha tidak merasa klik dengan cowok yang dulu ia kira adalah cinta pertamanya.


"Kamu udah punya pandangan mo kuliah di mana?"


Samantha menggeleng pelan sembari menyuapkan sendok eskrim ke mulutnya. "Belum," geleng Samantha.


"Dad sih nyuruh aku ke London. Tapi aku gak mau."


Samudra mengedikkan bahunya sembari fokus dengan gadisnya yang tengah sibuk dengan cup eskrim di tangannya.


"Kenapa? Di sana banyak sekolah yang bagus lho."


Samantha tiba-tiba menghentikan suapan eskrim favoritnya dan menatap ke arah Samudra, bola matanya membulat lucu, dengan bibir yang semakin ia kerucutkan. "Mana bisa aku jauh-jauh sama kakak?" cemberut Samantha.


Samudra mendaratkan tangan besarnya di puncak kepala Samantha. Laki-laki dewasa itu menepuknya dua kali dengan gemas. "So sweet banget sih kesayangan aku ini, hehehehe...." kekeh Samudra.


"Apaan sih kakak nih? Hehehehe...."


Samudra semakin mengacak-acak gemas puncak kepala Samantha, lalu mendaratkan kecupan singkat di sana.


"Kita nikah yuk," ucap Samudra tiba-tiba.


"Heh?" Samantha melongo dengan sendok eskrim yang kini menempel di mulutnya.


"Nggak sekarang, nanti setelah kamu lulus SMA."


"Emang nggak kecepetan?"


"Emang kamu nggak mau?" Samudra balik bertanya.


Samantha menggeleng. "Bukan gitu."


"Terus...?"


Samantha diam tanpa menjawab. Menikah dengan Samudra adalah impiannya tapi apakah secepat itu?


"Setelah kita menikah, kamu masih bisa kuliah dan mengejar mimpi kamu." Samudra melanjutkan ucapannya.


"Benarkah?"


"Of course, honey...."


Sebuah senyuman kini tercipta dari kedua sudut bibir Samantha.


"Aku saat ini mengambil cuti untuk S2 ku di Boston, sampai kamu lulus SMA. Tapi nanti setelah kita nikah, kamu mau kan tinggal di sana?"


"Hem...?" Samantha kini kembali menatap ke arah Samudra.


"Hanya selama aku melanjutkan S2 ku, mungkin sekitar satu setengah tahun lagi. Setelah itu terserah kamu mau ambil kuliah atau pengen tinggal di mana." Samudra kembali melanjutkan ucapannya.


Samantha kembali mengangguk spontan dengan bola mata berbinar-binar.

__ADS_1


"Iya, aku mau...." ucap Samantha dengan beberapa kali anggukan setuju.


Disambut oleh pelukan dari Samudra dan beberapa kali kecupan kecil di pipi dan ujung bibir Samantha.


"Thanks, sayang."


....


Setelah selesai makan cemilan yang mereka pesan secara drive thru di sebuah restoran cepat saji, Samudra mengajak Samantha ke apartemennya.


Samantha mengerjap beberapa kali ketika memasuki pintu apartemen. Tak henti-hentinya kata 'Wah' terlontar dari bibir yang berpoles lipgloss itu.


Ini pertama kalinya Samantha berkunjung ke apartemen Samudra. Dan dia tidak menyangka jika pemandangan di luar apartemen Samudra begitu mengagumkan. Apartemen itu juga sangat nyaman, bahkan bisa dibilang terkesan begitu mewah.


Sebenarnya Samantha tidak mengerti kenapa Samudra lebih memilih tinggal di sini, padahal rumah kedua orang tuanya pun begitu besar dan ada banyak kamar kosong untuk ditempati.


"Duduk dulu!" kata Samudra mengarahkan Samantha ke arah sofa panjang yang menghadap langsung ke arah jendela besar apartemen di lantai tiga puluh itu.


"Wah.... indahnya pemandangan di sini." Samantha berdecak kagum.


"Lebih indah lagi kalo malam hari. Banyak sorot lampu gedung-gedung tinggi itu yang terlihat gemerlap dari sini."


"Benarkah?" tanya Samantha dengan binar mata seolah tidak percaya.


"Hm," angguk Samudra.


"Malam ini nginep di sini? Mau kan?"


Samantha menelan ludahnya ragu. Hampir saja ia ingin mengangguk setuju namun niatnya ia urungkan dahulu.


"Tapi...."


"Tenang aja, aku gak mungkin ngapa-ngapa in kamu, sayang. Setidaknya sebelum kita nikah."


Pipi Samantha tiba-tiba merona. Apa-apaan Samudra ini, selalu saja membicarakan soal pernikahan. Ah jadi pengen cepet-cepet--- hehehe, lamun Samantha.


"Gimana sayang? Kamu mau kan? Nanti deh aku minta ijin sama Mommy-Daddy."


"Eh-mm-tapi-kalo Mom gak ngeboleh-in gimana?"


"Moms pasti kasih ijin, kamu tenang aja," jawab Samudra yakin.


"Makan lagi? tadi aja masih kenyang Kak."


Samudra menoleh sebentar ke arah Samantha sebelum ia memasuki kamar mandi.


"Kakak gak mau kamu kurus gitu kayak gak pernah dikasih makan," kekeh Samudra.


"Kakak ih.... jahat ngatain aku kurus." Samantha mengerucutkan bibirnya dengan kedua lengan yang ia lipat di atas dada.


"Hehehe... tapi Kakak tetep cinta kok." Samudra menyambung ucapannya.


"Ish-tukang gombal."


Hanya ada respon tawa Samudra dari dalam kamar mandi. Sepeninggal Samudra, Samantha kemudian asyik mengedarkan pandangannya. Apartemen Samudra ini cukup besar. Ruang tamu tempat ia berada saat ini saja dinilai lebih besar dari kamarnya. Padahal kamar Samantha di mansion orang tuannya adalah kamar paling besar di mansion itu.


Samantha menghembuskan napas pelan ketika dia menyadari jika sebagian besar ruangan apartemen itu didominasi oleh warna abu-abu gelap namun ada sedikit ruangan yang bercat putih. Samantha tidak suka, ruang apartemen itu terasa begitu dingin.


Harus ada sedikit sentuhan warna ceria, pikir Samantha. Mungkin kuning? Atau warna peach? gumam Samantha.


Ting! Tong!


"Ah delivery makanan," Samantha bermonolog. Ia lalu melangkah mendekati pintu. Dibukanya pintu itu. Netra Samantha membola ketika melihat sosok perempuan glamour di depannya.


Perempuan di depannya ini mengernyitkan kening. Lalu tanpa aba-aba, dia mendorong Samantha dan memasuki apartemen.


Samantha sedikit terkejut, tapi gadis itu buru-buru menyusul perempuan yang memakai lipstick warna merah darah. Samantha ingat, dia adalah Gaby. Mantan Samudra yang juga pernah datang ke mansion dengan marah-marah ketika bertanya soal Samudra.


Samantha semakin tidak mengerti akan maksud perempuan yang berusia sekitar dua puluh enam tahun itu. Enak saja main nyelonong masuk ke apartemen Samudra.


"Kamu cari siapa, hah?!"


"Eh anak kecil gak usah sok ikut campur ya! Mana Samudra?"


"Dia baru mandi."

__ADS_1


"Samudra kemarin bohong kan soal kalian? Kalian ini saudara kan? Gue inget kalo dulu pernah liat lo! saat itu lo masih ingusan," dengus Gaby sambil berkacak pinggang angkuh.


"Sekarang udah remaja lo ya? Hm-lumayan cantik juga. Tapi tetep aja cantik-an gue!" Netra Gaby fokus ke arah Samantha dan memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


PLAK!


Samantha terkejut tentu saja, saat sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Rasanya begitu panas dan kebas.


"Atau lo cuman adik-adik-an si Samudra aja, hah?! Jangan-jangan lo gadis ABG yang suka jual diri? Iya?!" Ucap Gaby lagi.


PLAK!


Mendengar ucapan gadis hedon itu, Samantha mendaratkan tamparan balasan di pipi ber-blasson milik Gaby.


Kini giliran Gaby merasakan kebas di pipi kirinya.


"Aw!" Samantha menjerit saat tiba-tiba ia merasakan sakit pada kulit kepalanya. Dengan mendadak Gaby menyerangnya, menjambak rambut Samantha kuat.


Rupanya tenaga perempuan ini begitu besar.


"Sakit, lo gila ya? Lepasin tangan lo!" Samantha mencoba melepas jambakan perempuan itu. Kedua tangannya ia gunakan untuk menahan jambakan maut dari Gaby. Demi apapun tenaganya kuat sekali.


"WHAT THE FU*CK?!"


Samudra dengan langkah amarah berjalan cepat mendekati dua perempuan itu.


"WHAT THE HECK ARE YOU DOING HERE?!" Samudra dengan kasar melepas jambakan rambut dari perempuan ber-dress sepaha itu dan menghempaskannya.


Dengan sigap Samudra menarik Samantha ke belakang tubuhnya.


Melihat hal itu Gaby bertambah marah.


"Dia itu hanya ja*lang kamu, Samudra! Kenapa kamu bela-belain dia sih?!"


"How dare you! watch your mouth!" Samudra merapatkan rahangnya menahan emosi. "Get out, now!" Bentak Samudra.


Gaby menolak. Perempuan itu bahkan dengan seenaknya duduk di atas sofa yang ada di ruang itu.


"Samudra, kenapa kamu berubah gitu? Bukankah kita dulu juga pernah deket? Dan kita juga udah pernah gituan kan?" Gaby mencoba melakukan psyche war terhadap Samantha.


"Listen, Gaby! I am warning you! Don't you dare to show your fu*cking a*ss to me. Again!"


"But, Samudra... I still love you, please..."


"Kita gak ada urusan lagi. Hubungan kita bahkan udah lama berakhir. Don't you understand that? Jangan jadi gadis gila deh lo, Gab!"


"Keluar dari sini!" bentak Samudra.


"But...."


"Get out!" Samudra semakin menaikkan intonasi bicaranya. Jari telunjuknya pun menunjuk ke arah pintu apartemen, bermaksud agar Gaby segera keluar melalui pintu itu.


"I'm not done with you yet, Samudra! And with you bi*tch!" Gaby menyorot tajam ke arah Samantha.


Gaby kemudian berjalan dengan mengetuk-kan heels nya keluar dari apartemen Samudra. Wajahnya ditekuk dan bibirnya mengerucut mengerikan.


"BRENGSEK!"


Samudra memejamkan matanya meredam emosi sesaat setelah Gaby keluar dari apartemennya. Merasakan cengkraman di kedua sisi kaosnya, Samudra membalikkan badan.


"Sammy, kamu nggak papa?" tanya Samudra khawatir. Telunjuk dan ibu jarinya ia gunakan untuk mengapit dagu Samantha dan mendongakkannya.


"Mana yang sakit, hm?" lanjut Samudra. Tangannya ia gunakan untuk merapikan rambut panjang Samantha yang berantakan.


Samantha menggeleng. Meski ia merasakan sakit pada pipi dan kulit kepalanya, namun Samantha tidak ingin merengek di hadapan Samudra.


Setidaknya hari itu dia mengetahui fakta jika Samudra dulu pernah melakukan hal terlarang dengan Gaby, gadis sakit jiwa itu.


"I am sorry... Aku nggak tau kenapa dia tiba-tiba aja bisa berada di sini," ucap Samudra sembari mengelus pipi Samantha dan memandangnya lembut.


Samudra tiba-tiba menggertakkan giginya kala ia mendapati pipi kiri Samantha yang tampak memerah, kontras dengan kulit putih gadis itu. Ada dua goresan luka yang cukup panjang, sepertinya perempuan gila tadi sempat mencakar wajah Samantha dengan kuku panjangnya.


"Kurang ajar!" gumam Samudra.


Samudra menjulurkan tangannya ke wajah Samantha, kemudian mengelus pipi Samantha yang tampak memerah.

__ADS_1


"Maaf, Sammy." Kata Samudra, sebelum merengkuh Samantha ke dalam pelukan hangatnya.


to be continue....


__ADS_2