Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Tidak Jujur


__ADS_3

Suasana rumah masih sepi, hanya ada suara dentingan alat dapur. Ya karena saat ini adalah jam sibuk menyiapkan sarapan bagi Bibik, Mbak Pur dan Ida, cucu si Bibik yang baru beberapa minggu ikut bekerja di keluarga Perdana. Ah dari bau yang tercium di indera penciuman sepertinya sarapan pagi ini enak sekali. Samantha sebenarnya ada janji dengan Amel dan juga Jully, sebelum akhirnya ia menerima sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak ia kenal. Nomor yang sama dengan pengirim foto-foto Samudra dan Aisya.


^^^Hari ini temui gue di Harmoni Square Resto jam delapan pagi.^^^


Itu lah isi pesan singkat yang ia terima pagi tadi. Jadi akhirnya gadis itu berjanji dengan kedua sahabatnya untuk menemui si pengirim pesan kaleng yang mencurigakan itu. Samantha tidak ingin memberitahukan hal ini pada Samudra karena jika ia melakukannya, Samudra bakal melarang keras dirinya untuk menemui orang tersebut. Gadis itu penasaran. Ingin tahu apa maksud si pengirim pesan kaleng itu sebenarnya. Terlebih lagi, Samantha lebih dibuat penasaran tentang jati diri si pengirim chat itu.


"Eh Non, sarapan belum siap kok sudah turun?"


Samantha meringis sambil menempelkan telunjuknya ke atas bibir yang mengerucut.


"Sstt...! Sammy nggak mo sarapan bik," jawab gadis itu setengah berbisik.


"Lha terus?"


"Sammy mo pamit, ada janji sama temen," ucapnya lagi masih dengan nada setengah berbisik. Takut-takut kalau Samudra bangun dan mendengarnya.


"Pamit kemana, Non? Kan belum sarapan? Nanti dimarahi Aden, lho!" Bibik memperingatkan. "Lagian pamitnya kok sama Bibik? Sama Den Am udah belum?"


Samantha meneguk ludah. "Iya ini dadakan gitu. Bibik aja ntar yang bilangin sama Kak Am ya?" Samantha merengek, menggelayut manja di lengan wanita renta namun masih terkesan begitu sigap dengan segala pekerjaan di rumah besar itu.


"Bibik tidak berani, Non."


"Ah Bibik... nggak CS ah sama Sammy." Samantha mengerucut lucu.


"Please, please, please.... yah Bik? Makasih bibik... Dadah...!" Lanjut Samantha, meraih tangan kanan Bibik dan menciumnya. Dengan gerakan cepat pula ia berjalan dan mengambil roti sandwich siap santap di meja makan.


"Mau kemana?"


Suara itu menghentikan kegiatannya. Samantha menoleh ke arah sumber suara setelahnya. Presensi seorang pria yang sudah rapi dengan celana kain dan kemeja yang lengannya digulung sampai siku, tengah bersedekap dada dan bersandar di dinding dekat dapur, membuat Samantha praktis meneguk ludah.


"Kak Am? Sejak kapan--" Samantha tergagap kaget.


"Sejak kamu keluar kamar dan jalan kayak maling."


Samantha kembali mengeragap. Jadi pria itu mendengar saat ia berpamitan ke Bibik?


Sementara Bibik dan juga Mbak Pur yang saat itu tanpa sengaja lewat dan melihat Samudra memasang wajah jutek. Mbak Pur mengepalkan tangan seolah memberi semangat kepadanya.


"Jadi mau kemana kamu? Pagi-pagi yang mana sarapan aja belum siap begini?"


"Ma-mau--" Samantha merutuk dalam hati, kenapa jadi gagap begini? Samudra juga kenapa berubah jadi galak sejak kejadian ia meminum bir tanpa sengaja itu? Samantha berdehem pelan untuk menstabilkan suaranya.


"Mau pergi, Kak. Aku duluan ya." Samantha berpamitan tanpa berani menatap mata Samudra. Lalu ia berbalik bermaksud melanjutkan langkah.


"Sarapan dulu."


Samantha kembali menoleh. "Nggak usah, Kak. Ini aku bawa roti kok." Jawab gadis itu cepat.


Tapi ya memangnya siapa yang bisa melawan kehendak DEWA yang satu ini? Samudra kembali mengulang kalimatnya, namun kali ini dengan nada penuh perintah. Ditambah menyebut namanya pula, Samantha jadi ngeri untuk membatahnya lagi. "I said have your breakfast first Samantha Olivia Perdana. Put the bread back, now!"


Memilih menurut apa yang menjadi perintah Samudra, ia meletakkan kembali dua roti sandwich ke piringnya semula dan duduk di salah satu kursi. Gadis itu menarik kursinya pelan dan mendaratkan pantatnya di sana bebarengan dengan Samudra yang melakukan hal yang sama.


Samudra seperti biasa saat tidak ada Samuel di rumah. Mengambil tempat duduk di kursi kepala keluarga, sedangkan Samantha pagi itu mengambil jarak satu kursi dari Samudra.


"Ngapain duduk di situ?" kata Samudra tidak suka. "Duduk di tempat kamu biasanya."


"Nggak apa-apa, aku di sini aja."


Ya ampun, pagi-pagi udah marah-marah, batin Samantha.


"Oke kalo gitu kakak aja yang pindah." Ucap Samudra final seraya berdiri dan sukses membuat Samantha panik dan berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Iya, iya aku yang pindah..."


Samantha kemudian duduk di kursi sebelah Samudra. Melirik sebentar ke arah pria yang sudah rapi dan begitu tampan namun terlihat menakutkan. Kedua matanya yang tajam bagai mata pisau tengah mengamatinya lekat.


"Jadi mau kemana sepagi ini?" Pertanyaan itu dilontarkan setelah suasana mereka menjadi hening, bertepatan dengan bibik dan Mbak Pur yang menyiapkan sarapan di atas meja besar berbahan kayu jati.


"Main," jawab Samantha pelan, melirik ke arah Samudra sekilas lalu kembali menunduk.


"Sepagi ini? Mall bahkan belum ada yang buka. I don't respect lies."


"I'm not lie!" Sergah Samantha, kepalanya langsung mendongak, membuat matanya bertatapan langsung dengan mata tajam Samudra. "Beneran aku mau main kok."


"Sama siapa?"


"Amel dan Jully."


"Kamu tau kan selama Moms-Dad tidak ada di rumah, kamu tanggung jawab kakak?"


"Iya," angguk gadis itu.


Samudra menganggukkan kepala membalas jawaban Samantha, ia lalu menghisap kopi hitam yang sudah disediakan oleh Bibik.


"Kakak antar nan---"


"Nggak usah!" Samantha mengerjapkan mata, kembali gugup saat kedua mata Samudra menatapnya tajam.


"M-mmaksudnya--- nggak usah, makasih tapi Sammy bisa sendiri kok."


"Kakak antar nanti, nggak ada bantahan lagi!" Ucap Samudra kali ini dengan penekanan. Terdengar tidak bisa dibantah lagi, karena memang Samantha tidak bisa membatahnya. Terkadang sikap dominan Samudra memang sengaja pria itu tunjukkan, hal itu bertujuan untuk melindungi gadis itu.


Suasana sarapan berlangsung dengan hening, hanya terdengar suara dentingan dari peralatan makan. Samantha berusaha fokus. Bagaimana caranya agar Samudra tidak mengetahui rencananya untuk menemui si pengirim surat misterius itu. Karena demi apapun jika diperhatikan, Samudra selalu mengamatinya dengan tatapan tajam mengintimidasi. Selalu saja bisa membuat gadis itu menjadi salah tingkah seorang diri.


"I'll take my key upstairs. Don't run away! Habiskan susunya, ngerti?"


Ia menghembuskan napas lega setelah Samudra hilang dari pandangannya. Kenapa sih Samudra jadi menyeramkan begini? Kenapa pula ia jadi lebih deg-degan setengah mati berada di dekat pria itu?


Sepanjang jalan, sejak mobil yang mereka tumpangi keluar dari mansion hampir sepuluh menit yang lalu, mereka diliputi keheningan. Audio mobil tidak dinyalakan, sehingga yang terdengar hanya suara klakson dan bisingnya kendaraan yang menemani keheningan mereka.


"Sama siapa aja mainnya?"


"Sama Amel dan Jully. Tapi Jully nya langsung ke rumah Amel juga."


Kembali hening, Samudra bahkan hanya mengangguk pelan pertanda mengerti. Hingga sedan hitam itu berhenti tepat di depan sebuah rumah setelah Samantha memberikan share lokasi rumah Amel.


"Are you sure cuma pergi dengan mereka? Kemana?"


Samantha mengangguk. "Nanti aku mau ke mall. Sekalian nganter Amel beli sesuatu buat kado cowoknya." Jawab gadis itu beralasan.


"Terus kamu?"


"Heh?" Samantha menarik ujung alis tanda tidak mengerti akan ucapan Samudra.


"Terus kamu juga belanja? Kartu yang kakak kasih kemarin kamu bawa kan?"


Kartu? Samantha seketika menggigit bibir bagian dalamnya. Kartu kredit berwarna hitam pemberian Samudra tanpa sengaja tertinggal di atas nakas yang ada di kamarnya.


Samudra memicing, melepaskan seat-belt dan menatap ke arah gadis itu sepenuhnya. "Pasti tidak kamu bawa? Kakak kan udah bilang kamu masukkan ke dalam dompet kamu, itu kamu gunakan buat beli apapun yang kamu inginkan!"


"Jangan marah-marah..." cicit Samantha.


"Aku bawa kartu dari Daddy kok, isinya cukup lah buat beli makan atau sesuatu nanti."

__ADS_1


Samudra mendengus pelan, tatapannya meredup saat mendengar cicit Samantha yang bilang 'Jangan marah' kepadanya. Tentu saja Samudra tidak pernah biasa benar-benar marah pada gadis itu.


Samudra meraih dompet yang ada di atas dashboard dan mengeluarkan berlembar-lembar uang berwarna merah. Tanpa ia hitung terlebih dahulu, Samudra lalu menyerahkannya pada Samantha.


"Ambil ini untuk kamu beli sesuatu."


"Tapi ini kebanyakan, Kak. Lagian aku nggak ada niatan buat shop---"


"Take it! Kakak nggak mau lagi ada bantahan."


Dan sekali lagi, ucapan Samudra adalah titah yang harus gadis itu lakukan.


Samantha mengangguk dan meraih segepok uang yang Samudra sodorkan. "Makasih, Kak Am. Aku keluar dulu."


Samantha melambaikan tangan pamit, ia sudah hampir membuka pintu mobil sebelum lengannya kembali ditahan Samudra.


"You wear the necklace I gave you, right?"


"Kalungnya...." Samantha membuka tas harajuku dan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. "Ini kalungnya."


"Kenapa nggak kamu pakai Sammy?"


"Aku lupa, tadi mau aku pakai keburu...." Samantha meringis, memilih tidak melanjutkan kalimatnya. Malu sendiri mengingat acara kaburnya malah ketahuan Samudra.


"Give it to me."


"Hah...?"


Samudra mengedikkan bahu ke arah kalung yang ada di tangan Samantha. Mengerti maksud pria itu, Samantha kemudian memberikan kalung tersebut kepada Samudra.


"Sini."


"Hah....?"


"Deketan! Kakak pake-in." Samudra menarik lengan Samantha agar mendekat, gemas karena gadis itu banyak hah-heh-hoh nya.


Kedua tangan Samudra melingkar mendekati leher Samantha. Bersamaan dengan itu, Samantha bisa menghirup bau wangi parfum dari badan Samudra.


"Nanti kakak jemput?" Tanya Samudra begitu selesai memakaikan kalung berliontin sebuah inisial 'S' di leher putih Samantha.


"E-nggak usah. Kakak kan harus praktek kan ya? Aku bisa naik taksi atau---"


"Naik taksi? Sendirian? No...no... bahaya tau! Pokoknya nanti kakak jemput. Kamu hubungi kakak aja kalo udah selesai."


"Tapi Kak..."


"No more objection, okey baby?" Samudra memposisikan netranya tajam ke arah Samantha. Seperti biasa setiap ucapan pria itu adalah perintah yang wajib diiyakan oleh Samantha.


Tiba-tiba saja sebuah kecupan singkat mendarat di ujung bibir Samantha. Membuat ekspresi gadis itu kaget dan malu-malu.


"Hm," angguk Samantha pelan.


"Nanti aku hubungi kakak kalo udah selesai."


"Good."


"Aku keluar dulu, dadah..." gadis itu melambaikan tangan berpamitan.


Samudra memandang sesaat ke arah gadis kecilnya sebelum akhirnya gadis itu memasuki pintu gerbang rumah yang lumayan besar dengan arsitektur tahun delapan puluhan itu.


Maaf Kak, aku udah nggak jujur. Samantha membatin, ia menoleh sesaat ke arah mobil Samudra sebelum sedan hitam itu melaju meninggalkan halaman depan rumah Amel.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2